Berada di tengah-tengah generasi milenial dan Gen-Z membuat kita harus lebih cepat memahami banyak hal. Selain itu, banyak juga kegiatan atau berbagai aplikasi yang mudah diakses dan dimanfaatkan dengan baik sehingga kita perlu sekali memahami dunia digital. Baru baru ini, ada Kwikku, media sosial Karya Anak Bangsa yang memajukan dunia literasi berbasis internet. Di sana kita bisa berbagi konten, serta mengembangkan kreativitas baik melalui kolaborasi atau secara individu.
TENTANG KWIKKU
Kwikku adalah sebuah platform media sosial yang diinisiasi pada 26 September 2013 oleh para mahasiswa di Malang. Awalnya, Kwikku dirancang oleh Hamdi Musaad dan tim. Mereka nih awalnya bikin sebuah aplikasi digital yang bisa bersaing dan dibanggakan anak negeri. Mulai tahun 2019, aplikasi ini dikembangkan untuk memfasilitasi kebutuhan literasi para generasi milenial dan Gen-Z. Jadi memang sejak awal sudah ditargeting audience yang ingin mereka incar. Nah, apa saja fitur yang tersedia?
1. Media Sosial
Sebagai fitur awal dan bagian terpenting dari platform ini, Media Sosial Kwikku bisa menjadi tempat “pertemuan” generasi milenial dan Gen-Z. Lewat fitur ini, para pengguna bisa terhubung satu sama lain dan bisa berkomunikasi serta bertukar informasi.
2. Novel
Mereka yang sedang membutuhkan bacaan menarik bisa melihat fitur baru Kwikku ini. Bekerja sama dengan para penerbit besar, seperti Mizan Publishing, Noura Publishing, Bentang Pustaka, Melvana Group, dan Falcon Publishing, fitur ini dijamin bisa membunuh rasa bosan para pencinta novel.
Selain itu, melalui fitur Novel, Kwikku juga membuka peluang yang sangat besar kepada para penulis untuk menuangkan bakatnya dan mendapatkan penghasilan dari tulisan mereka. Untuk penulis baru
tidak perlu takut mengunggah naskahnya ke platform Kwikku, karena akan ada editor khusus yang membantu dalam proses penulisan novel baru.
3. Webtoon
Selain novel, ada juga cerita seru di fitur Webtoon. Ada banyak komik digital yang bisa diakses para pengguna setiap harinya, baik dari kreator lokal maupun luar negeri.
Sama seperti fitur Novel, Webtoon Kwikku juga menyediakan fasilitas bagi para kreator muda yang ingin menunjukkan karyanya dan menghasilkan uang.
4. KNOW (Kwikku Now)
Melalui fitur ini para pengguna bisa mendapatkan berbagai informasi menarik yang sedang viral. Tak perlu khawatir soal kebenaran atau validitas beritanya, karena setiap berita dan artikel bersumber dari official media partner yang telah bekerja sama dengan Kwikku.
Bacaan dalam fitur Novel dan Webtoon di Kwikku dapat diakses secara GRATIS, kecuali untuk judul dalam section pay for no delay dan premium. Pembelian judul-judul dalam section tersebut bisa dilakukan dengan sangat mudah. Cukup membayar dengan menggunakan dompet digital via Gopay, Ovo, Dana, dan Link Aja!
KOMPETISI #BERKARYADIRUMAHAJA
Selain melalui keempat fitur tersebut, Kwikku juga ingin memantik semangat para generasi muda untuk berkarya melalui KOMPETISI NOVEL DAN WEBTOON dengan mengusung tema #BERKARYADIRUMAHAJA. Total hadiah yang disediakan dalam kompetisi ini adalah Rp 500.000.000.
Kompetisi ini pun didukung oleh para juri yang sangat mumpuni. Ada para penulis bestseller— A.Fuadi, Dee Lestari, Faradita, Bayu Permana, Luluk Hf yang siap untuk memberikan penilaian dalam kompetisi novel. Sementara di kategori Webtoon kreator muda berbakat seperti Faza Meonk, Sweta Kartika, HelloDitta hingga para komikus legendaris seperti Gerdi WK dan Lan Kelana siap memberikan penilaian mereka. Dengan keempat fitur jagoannya dan kompetisi inilah, Kwikku berharap bisa membantu mewujudkan budaya membaca yang baru, sehingga mendorong kemajuan literasi negeri.
Kwikku bisa diakses melalui website www.Kwikku.com atau dengan mengunduh aplikasi Kwikku di PlayStore :)
Saya mampu menahan diri untuk tidak membeli makeup, skincare, pakaian, sepatu, atau bahkan makanan, jika uang yang saya punya sangat terbatas atau jika ada uang tapi saya tahu itu tidak terlalu penting untuk dibeli. Namun, lain hal dengan buku.
Bukan soal jauh lokasinya -- itu tidak bisa dijadikan alasan karena aksesnya mudah ke sana. Tapi karena tahu jika saya ke sana akan membeli banyak tanpa berpikir panjang. Solusinya, saya titip pada Danis dan Mbak Dian yang dengn sukarela mau bantu membelikan tanpa perlu biaya jastip.
1) KALA (Rp 15.000,-)2) AIR MATA BULAN (Rp 15.000,-) Ziggy Z
Ini novel bersambung; sepaket, jadi belinya harus dua. Sama sekali tidak ada dalam rencana tapi karena penulisnnya Ziggy jadi saya beli. Bergantung pada kepercayaan saya terhadap kualitas penulisnya, saya yakin buku ini berfaedah untuk dibaca.
3) Go Set a Watchman (Rp 15.000,-)
Pada awalnya, niat saya membeli Novel To Kill a Mockingbird yang English Version, tetapi setelah dicari ke sana-sini katanya tidak ketemu, malah ketemu buku Harper Lee yang lainnya; Go Set a Watchman versi Bahasa Indonesia.4) Mobil Bekas & Kisah Kisah dalam Putaran (Rp 25.000,-)
Membeli ini tanpa membaca referensi atau sinopsis di Goodreads lagi-lagi karena nama penulisnya; Bernard Batubara. Saya suka semua buku beliau. Belakangan saya tahu, novel ini hasil adaptasi dari sebuah film Ismail Basbeth.5) Persengkongkolan Ahli Makrifat - Kuntowijoyo (Rp 38.900,-)
Sekali lagi, karena nama penulisnya, saya memutuskan untuk membeli ini. Gaya penulisan Kuntowijoyo yang sederhana membuat saya kagum dan kalau baca review-nya di Goodreads, semua bilang ini bagus. Dan buku ini jadi yang saya baca pertama di bulan ini.6) The Intuitive Parents (Rp 80.000,-)
7) Hunger Games Series (Rp 165.000,-)
Saya mengetahui cerita ini lebih dulu melalui tayangan ulang Hunger Games yang disiarkan di RCTI. Dan saya merasa sangat kagum dengan plot serta karakter utamanya.Saya beberapa kali mengunjungi Periplus, Gramedia, toko buku fisik lain di beberapa area di Jabodetabek, tidak ada juga. "Buku lama," kata mereka saat ditanya kenapa tidak ada.
Saya senang, karena berhasil membuat diri sendiri kembali haus bacaan.
; Yang sudah terbiasa sepi, lebih baik dibiarkan sendiri dalam sepinya. Sebab, aku tidak akan pernah mengada dalam ruangnya. Aku tidak akan bisa menggenapi impian-impian ganjilnya. Aku barangkali bukanlah perempuan yang Tuhan kehendaki untuknya.
Aku
Lebih baik pergi.
Lelaki berbadan tanggung yang sedang berkumpul di pub bersama kawannya, barangkali tahu bahwa Maria selalu mengamatinya dari kejauhan. Kelak, lelaki itu harus tahu bagaimana Maria mencintainya sebegini dalam. Ia menunggu lelaki itu berpisah dari kerumuman dan berjalan menuju arahnya.
![]() |
| Source |
Path : Diendi Pratama
Line : Diendi Pratama
Tumblr : diendipratama.t
Aba, Ama,
Dulu, sejak kecil aku selalu dihadapkan pada banyak hal yang membuatku jadi bertanya-tanya ; Apa itu boleh? Apa itu benar? Bukankah itu salah? Apa itu generalisasi? Apa itu toleransi? Apa itu kelahiran dan kematian? Apa itu tuhan?
Dan semasa kecil, aku, selalu sulit membedakan mana yang benar atau salah. Kadang, di rumah Aba dan Ama bilang itu benar, tapi orangtua temanku bilang, itu salah. Tentu saja batas benar dan salah itu abu-abu, karena persepsi tiap lingkungan pun pendidikan, berbeda. Begitu kata Aba, kan? Namun, satu hal yang pasti, sekarang ini, ketika aku beranjak dewasa, dunia telah menjelaskan sendiri mana yang benar, mana yang salah, mana yang dosa, mana yang tidak ; dunia sudah mengajarkan itu lewat ilmu yang kudapat. Dan ketika aku tahu bahwa aku dibesarkan dalam segala hal yang salah, aku tetap bersyukur memiliki kalian, karena Aba dan Ama selalu mengajarkan aku untuk tetap bersyukur, kan? Aba dan Ama tahu, apa yang salah dalam hidupku?
Ini terjadi dimulai ketika usiaku enam tahun.
***
Aku ingat sekali. Waktu itu umurku masih enam. Kejadiannya pada hari Kamis siang. Begitu sampai rumah sepulang sekolah, aku gegas membanting pintu depan dengan keras. Pun sengaja kulempar tas ke sofa ruang tamu, tergesa melepas dasi, membuka seragam dan melempar lagi, lalu sembarang saja meninggalkan sepatu dan kaus kaki. Masih belum puas, aku membuka pintu kamar, menutupnya dengan membanting seperti yang kulakukan pada pintu depan. Hari itu aku iri. Aku tahu Tuhan telah berlaku tidak adil. Makanya aku mengamuk biar Tuhan lihat. Aku mau menuntut Tuhan kalau Dia datang ke rumah. Tapi sebelum aku teriak kesetanan, Aba keluar dari kamar, masuk ke kamarku dengan tatapan melotot. Aku jelas melihat warna wajah Aba tiba-tiba memerah gelap. "Thalia! Apa-apaan kamu ini!"
"Let her go, dear. Thalia butuh waktu," dari belakang Ama menyahut -membelaku. Ama sepertinya masuk setelah aku keras membanting pintu. Sebetulnya, aku merasa sedikit bersalah karena sepanjang perjalanan saat Ama menjemput dari sekolah, aku diam seribu bahasa. "Tadi dia di sekolah ada masalah," Ama melanjutkan dan aku pura-pura tidak mendengarkan.
"Kenapa?"
"Bukan masalah besar."
"Lalu?"
Hening.
Aku tahu Ama pasti sulit menjelaskannya, ya? Aku juga. Aku takut Aba marah. Tapi mengingat kejadian tadi di sekolah, kejadian ketika mamanya Mia berbicara dengan orangtua teman-teman yang lain, dan dengan lantangnya mengatakan kalau aku patut dikasihani. Para orangtua itu sedang berkumpul untuk menjemput -Ama belum datang. Waktu aku bergandengan tangan dengan Mia dan Fani, mamanya Mia langsung memisahkan tangan kami.
Aba, Ama... Katanya, aku anak pendosa.
"Thalia? Lemme know. Kenapa tadi?" Suara Aba cukup membuyarkan lamunanku meski terdengar lebih melunak, mungkin karena melihat ada sesuatu yang membasahi mataku.
"Tadi, kata mamanya Mia, aku nggak akan pernah bisa masuk surga."
"Kenapa?"
"Karena, katanya, surga itu ada di telapak kaki ibu. Telapak kaki ibu yang kayak telapak kaki mamanya Mia, atau mamanya Fani, atau Lisda, tapi bukan telapak kaki Ama. Itu apa artinya, Aba? Kaki Ama memangnya kenapa? Thalia nggak ngerti."
Aku mengatakannya dengan jelas, lancar, tidak terbata, tapi di mukaku seperti hujan turun dengan deras. Basah. Yang ada di pikiranku saat itu hanyalah suara-suara orangtua tadi yang berdengung di kepala. Kenapa aku tidak bisa masuk surga? Kenapa? Kenapa sama telapak kaki Ama? Kenapa Ama seperti Aba, dan bukan berpakaian seperti mamanya teman-temanku? Lenih penting lagi, kenapa surga harus dtentukan oleh kaki-kaki terpilih? Bukannya surga ada di atas? Kenapa Aba jadi sedih? Kenapa aku tidak tahu apa pun? Aku merasa jadi orang bodoh sekali.
"Surga..." kata Aba terbata, "Seharusnya Surga bisa ditempuh lewat jalur manapun, termasuk lewat telapak kaki Aba, atau Ama, sekalipun kami keturunan anak Adam," Aba berkata dengan rangkaian kalimat yang saat itu sukar kupahami. Aku kembali bertanya bagaimana rupa Surga, apa yang dimaksud dengan telapak kaki anak Adam?
Alih-alih mendapatkan jawaban, Aba dan Ama hanya memelukku dengan erat.
Dan,
Semakin erat.
***
Mungkin Aba dan Ama lupa tentang masa kecilku yang penuh tanda tanya. Aku pun lupa bertanya. Sebab setelah kejadian itu, selepas kalian memelukku, setelah itu, hidupku berubah. Tak ada lagi kelemahlembutan dari Ama, tak ada pemakluman dari Aba. Kalian menjadi begitu keras mendidik, membabat semua tanda tanyaku, menebas ketakukanku. Menciptakan aku yang hanya perlu memandang dunia dari sisi kalian, harus tutup telinga dari segala gunjing, harus tutup mata dari segala hal yang menurut kalian salah. Aku jadi pribadi yang kaku. Kalian jadi semakin dingin. Aku bisa merasakan hati kalian membeku. Aku menggigil bertahun-tahun.
Ada yang tertinggal dari ingatanku. Dulu, aku juga masih ingat saat aku kali pertama belajar di rumah Mia, ketika kelas empat SD. Tapi pengetahuan baru ini tidak pernah aku cek kebenarannya pada Aba dan Ama. Aku terlalu sayang sama kalian. Aku takut mendapati kenyataan yang tidak sesuai mauku.
"Tadi kakaknya Mia ngasih lihat pelajaran Biologi," Aku ingin sekali mengucapkan itu dengan nada santai yang sebetulnya aku jantungan setengah mati ketika mengangkat topik ini di jam makan malam. Namun, pernyataan itu tidak pernah aku lontarkan. Hanya bermain-main saja di kepalaku.
Aku tahu, sebaiknya aku tidak perlu melanjutkan, bahwa ada penjelasan dari Kakaknya Mia, kalau Aba sama Ama tidak mungkin bisa punya anak. Jadi, sebenarnya, anak siapa aku?
(to be continue)
____
LeuwiPanjang, 2015.
Pa, mari kita berbagi rahasia. Jangan semuanya, sedikit saja rahasia yang perlu kita bagi kali ini, salah satunya tentang… Cinta. Kurasa aku sudah cukup umur untuk membahas ini, kan?
.
1/
Dulu semasa kau seusiaku, ada berapa banyak wanita yang kaucintai sebelum bertemu istrimu yang kupanggil ibu itu, Pa? Perempuan mana saja yang beruntung pernah mendapat perhatian dan kasih sayangmu? Ayolah, jujur saja, tak apa. Seperti yang sudah kubilang, ini rahasia. Tak akan kuceritakan pada siapa pun.
Kalau kau enggan bercerita, biar aku menduganya sendirian. Mungkin, ini baru kemungkinanku saja ya, melihat tampangmu yang penuh karisma dan wibawa seperti itu, mungkinkah ada sesosok perempuan cantik jelita yang tertambat hatinya padamu? Atau... Ada seorang wanita yang sangat berpengaruh dalam pekerjaannya, pernah mencintaimu? Oh! Mungkin, kawan lama semasa sekolah ada salah satunya yang diam-diam mengagumimu?
Dulu, Pa, aku selalu bertanya-tanya mengapa dari sekian banyak wanita yang kautemui, mengapa harus wanita sederhana ini yang menjadi istrimu? Dan, ya Tuhan, aku menemukan jawabannya dua puluh tahun kemudian setelah pertanyaan itu terbesit dalam benakku. Namun, tetap saja sampai kini aku penasaran, ada berapa banyak wanita yang pernah kaucintai sebelum ibu?
.
2/
Sekarang, kuberitahu sedikit rahasiaku. Aku tahu, hampir semua ayah di dunia ini mau tahu banyak hal mengenai anak gadisnya. Dan meski kautidak pernah bertanya, aku tetap ingin memberitahu. Aku sulit sekali jatuh cinta.
Tenang, Pa.
Aku tumbuh sebagai anak yang senang sekali bergaul dan menjadi kuat jika berada dalam sebuah kelpompok, menjadi lebih berkuasa ketika dikerumuni banyak orang, dan aku tidak akan pernah merasa kehilangan kepercayaan diri. Tetapi, aku terlalu apatis untuk jatuh cinta. Aku hanya mencintai segelintir orang yang sebenar-benarnya mencintaiku –istrimu, anak-anakmu yang lain, anak dari anak-anakmu, dan tentu saja dirimu, Pa. Sementara dengan yang lain? Hm. Mari kita persempit obrolan rahasia ini.
.
3/
Ini rahasia soal lelaki –yang pernah aku cintai. Kali pertama aku tahu apa itu pacaran dan urusan percintaan, saat kelas dua SD di tahun 1990-an. Aku tahu kata "cinta" dari tayangan telenovela Paula & Paulina yang gemar kutonton setiap sore. Lalu, seorang kawan lelaki berdarah campuran Belanda-Indo konon mengaku menyukaiku dan mengatakan cinta, walaupun kami tidak tahu apa itu cinta.
Tapi tenang, kami tidak pacaran. Aku seusia itu hanya memikirkan obsesiku untuk membeli apa saja yang kuinginkan. Hanya saja, itu merupakan asalmuasal aku tahu kata cinta.
Aku masih berteman baik dengan lelaki berdarah campuran ini, dia pernah beberapa kali memacari sahabatku dan sekarang ia berkerja di salah satu swalayan di kawasan Ibukota. Kami bertemu sesekali untuk bertukar pengalaman, tapi tidak untuk berbagi kenangan.
.
4/
Ketika SMA, ada seorang lelaki baik hati, kaya raya, cerdas, satu suku, agamis, tampan, dengan fisik yang baik, dan orang yang sesempurna itu hanya kukenal dua hari saja. Ben, namanya. Kami bertemu dalam sebuah acara.
Waktu itu semua peserta asyik bermain di dalam aula dan aku memilih duduk di tangga sebelum masuk ke aula, karena, aku suka sekali menyendiri tanpa alasan. Kau harus tahu, termenung adalah salah satu kegemaranku, Pa. Kemudian, lelaki itu datang dengan senyumanya yang ramah dan tak sedikitpun mengurangi kadar senyumannya –dia lantas ikut duduk di tangga, kami berkenalan, berbincang sebentar soal sekolah masing-masing, kegiatan, kegemaran, kesukaan, kebencian, dan tiba-tiba saja, perasaan.
Eh, aku masih tidak tahu apa itu cinta, tetapi sejak pertemuan itu –sampai lima tahun lamanya, hanya dia saja yang bermain-main di kepalaku meskipun kami telah kehilangan kontak sejak pertemuan itu. Terakhir yang kutahu, ia telah menjadi seorang dokter.
.
5/
Kalau kau tanyakan padaku, tahun mana yang paling kunikmati sepanjang hidupku, aku akan menjawab, yang pertama adalah tahun ketika kau masih ada, tahun ketika nantinya aku menikah, dan tahun 2012. Di tahun itu… Ah, mari ceritakan saja bagian pecintaannya.
Tahun inilah, aku tahu apa itu cinta. Aku pernah meyukai seorang kakak senior yang akhirnya berpacaran dengan sahabatku. Dia baik sekali dan beberapa kali kami berbagi cerita. Pertama, aku menyukainya karena perawakannya yang cakep sekali, dia benar-benar mirip salah seorang artis berinisial V bahkan dia lebih beraura cerah. Dan oh, otaknya yang cerdas, juga kebaikannya. Mungkin satu fakultas tahu bahwa aku menyukainya. Aku memang terang-terangan menyukainya meskipun tidak meminta lebih.
Entah apa kabar lelaki itu, tetapi kabarku, saat sedang suka-sukanya dengan orang itu, aku menemukan seseorang yang membawa cinta. Seseorang ini kemudian jadi lelaki pertama yang keberadaannya selalu kuceritakan pada anak keduamu, selalu kubahas dengan istrimu, selalu kuprioritaskan melebihi diriku sendiri. Namun, cinta yang dia bawakan rasanya aneh, Pa.
Darinya, cinta kadang terlihat melalui tetes-tetes air yang keluar dari mataku dan sesekali kukecap airnya.
Cinta darinya asin.
Cinta terasa ketika jantungku seperti dipukul berkali-kali dan aku jadi sulit bernapas karenanya.
Cinta darinya menyesakkan.
Cinta juga kuterjemahkan sebagai perjuangan. Harus berlari-lari mengejar sampai kakiku rasanya lumpuh, harus setiap kali menggapai hingga seolah tanganku berdarah-darah. Harus menyingkirkan paku, duri, jarum, dan segala yang tajam ; tetapi semakin disingkirkan, malah datang semakin banyak.
Cinta itu, menyakitkan.
Mencintainya membuat aku hancur. Tapi membuang cinta yang pernah dia berikan, justru membuatku ingin sekali menyusulmu, Pa.
Belakangan aku tahu, cinta ada banyak jenisnya, ada banyak rasanya, ada banyak bumbunya. Yang kurasakan darinya, hanya satu dari sekian juta rasa cinta.
Kami pun sepakat membunuh cinta dan bersikap seolah-olah cinta tidak pernah lahir di antara kami.
Walaupun begitu, aku tetap berteman baik setidaknya sampai saat ini. Kau mengajarkanku untk memaafkan dan tetap ramah pada siapa saja, kan, Pa? Begitulah yang kulakukan padanya -tetap ramah. Dia sedang bahagia dengan kesuksesan dan bahagianya yang baru, Pa. Sementara aku, masih tenggelam dalam rasa sakit.
.
6/
Kemudian aku bertemu lagi dengan cinta, melalui seorang lelaki yang kutahu ia baik sekali prilakunya. Ini terjadi di tahun 2014. Seperti yang kuceritakan di awal, betapa aku senang sekali bergaul,
Belakangan ini,
Aku jadi semakin senang menyendiri, membatasi pergaulan, dan berusaha memutuskan hubungan dengan siapa saja.
Bukan apa-apa, jangan khawatir. Aku hanya sedang menjaga perkataan dan perbuatanku.
Ketika aku menikmati duniaku yang sekarang, pelan-pelan aku jatuh cinta dengan lelaki yang porsi bicaranya lebih banyak dariku, Pa.
Berbeda dari aku yang dulu, yang lebih mau didengar, lebih menuntut banyak hal, aku yang sekarang jadinya suka sekali mendengar seseorang lebih banyak berbicara ketimbang aku, mau membagi kisahnya, bercerita dan mempercayakan ceritanya padaku, lalu aku mengomentari seadanya. Aku belajar dari cinta yang kutemui dulu, bahwa menjadi perempuan yang terlau mendominasi tidak banyak mendapat cinta yang rasanya enak. Kecintaanku yang sekarang ini, tidak ada yang tahu selain kau dan tentunya yang sedang bersamamu, Tuhan.
Dia tinggi, berkacamata, putih, sedikit kurus, kami senang sekali berdiskusi, dia juga perokok, dia pintar menggambar, dia baik, tapi dia tidak seperti Papa yang segala-galanya sempurna di mataku, tetapi, kautahu…
Ah, aku lupa berbagi satu rahasia lagi. Tapi biarlah, kusimpan saja sendiri rahasia itu.
.
7/
Pa, aku memang tidak mudah jatuh cinta kecuali ketika hatiku memilih untuk mencintainya.
.
8/
Setelah bercerita sejauh ini, aku yakin kau mau menertawakanku karena aku telihat sebagai perempuan yang sangat bodoh sekali.
Silakan tertawa, Pa.
Aku tidak akan menyalahkanmu yang pergi terlalu dini sehingga luput mengajariku tentang bagaimana menghadapi cinta. Aku tidak akan menyalahkanmu yang belum pernah memberikan contoh atau memberitahu apa-apa yang harus dipersiapkan untuk berdamai dengan cinta. Tidak akan kusalahkan apa pun padamu. Sebab, tanpamu, aku tetap tahu apa itu setia, apa itu pengorbanan, apa itu kasih sayang, dan apa pun yang berkaitan dengan cinta, aku sudah memelajarinya –melalui istrimu.
Itu sebabnya di awal kukatakan padamu, bahwa aku menemukan jawaban mengapa kau memilih menikah dengan wanita yang menjadi ibuku ini. Istrimu wanita sempurna –sungguhan sempurna dalam segala hal. Kita akan bicarakan soal ibu lain waktu.
Percakapan kita sejauh ini bukan rahasia yang ingin kubagi. Rahasia sebenarnya adalah, aku sampai sekarang masih apatis mengenai cinta dan sebangsanya, tetapi aku ingin sekali jadi seperti ibuku –dia yang terbaik dalam segala hal. Waktu kukatakan ini padanya, Pa, istrimu bilang, dia sudah mempersiapkan masa depanku jauh lebih sempurna dari dirinya, dia juga bilang jangan pernah (aku) mencoba untuk menjadi dirinya. Aku harus sempurna saat menjadi diri sendiri.
Perkataannya, kubalas dengan pelukan saja. Tidak membantah, tidak menyanggah.
Tapi,
Aku tetap ingin seperti istrimu. Dia hebat. Dia panutan. Dia segalanya buatku.
~
Kiaracondong – Bandung, 2015.
_____________________
1/ Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dan nulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis .
2/ 722 kata tanpa judul dan catatan kaki .













