• Nginap Bareng
  • Contact
  • Portofolio
Responsive image

Indonesian Beauty & Fashion Blogger.
Your personal stylist

Beauty Fashion Talks Lifestyle Event
Tampilkan postingan dengan label #BookReview. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #BookReview. Tampilkan semua postingan
#BookReview

Hasil Berburu di BBW 2019 ICE BSD : Book Haul Bulan Maret

Written by Uni Dzalika

Assalamualaikum, siapa di antara kamu yang datang ke pameran BBW di ICE BSD awal Maret ini?

Saya, tidak datang.
Saya mampu menahan diri untuk tidak membeli makeup, skincare, pakaian, sepatu, atau bahkan makanan, jika uang yang saya punya sangat terbatas atau jika ada uang tapi saya tahu itu tidak terlalu penting untuk dibeli. Namun, lain hal dengan buku.

Entah itu novel, buku puisi, kumcer, trilogy, komik, atau buku non fiksi, jika saya menginginkannya, saya akan beli. Apalagi kalau di pameran. Apalagi di pameran sebesar Big Bad Wolf (BBW) yang berlangsung di Hall B ICE BSD pada 01-11 Maret 2019 lalu.

Mockingjay review
Beberapa buku yang berhasil saya beli di BBW.


Yang dijual betulan buku bagus, bukan buku sisa atau cuci gudang atau buku lama yang tak laris. Bukan yang seperti itu. Isinya buku populer dari berbagai penerbit baik versi bahasa Inggris, versi terjemahan, dan buku Bahasa Indonesia.

Saya, tentu saja tidak datang.

Bukan soal jauh lokasinya -- itu tidak bisa dijadikan alasan karena aksesnya mudah ke sana. Tapi karena tahu jika saya ke sana akan membeli banyak tanpa berpikir panjang. Solusinya, saya titip pada Danis dan Mbak Dian yang dengn sukarela mau bantu membelikan tanpa perlu biaya jastip.

Niatnya membeli lima buku, tapi karena tidak ketemu yang dibeli malah lain dari daftar;

Review Air mata bulan ziggy z

1) KALA (Rp 15.000,-)2) AIR MATA BULAN (Rp 15.000,-) Ziggy Z


Ini novel bersambung; sepaket, jadi belinya harus dua. Sama sekali tidak ada dalam rencana tapi karena penulisnnya Ziggy jadi saya beli. Bergantung pada kepercayaan saya terhadap kualitas penulisnya, saya yakin buku ini berfaedah untuk dibaca.

Review to kill a Mockingbird


3) Go Set a Watchman (Rp 15.000,-)

Pada awalnya, niat saya membeli Novel To Kill a Mockingbird yang English Version, tetapi setelah dicari ke sana-sini katanya tidak ketemu, malah ketemu buku Harper Lee yang lainnya; Go Set a Watchman versi Bahasa Indonesia.

Karena kisaran harga normal buku ini sekitar Rp 80.000,- dan harga diskonnya adalah Rp 15.000,- ya kenapa tidak dibeli? Beli dulu, dibaca belakangan.


4) Mobil Bekas & Kisah Kisah dalam Putaran (Rp 25.000,-)

Membeli ini tanpa membaca referensi atau sinopsis di Goodreads lagi-lagi karena nama penulisnya; Bernard Batubara. Saya suka semua buku beliau. Belakangan saya tahu, novel ini hasil adaptasi dari sebuah film Ismail Basbeth.

Review novel kuntowijoyo

5) Persengkongkolan Ahli Makrifat - Kuntowijoyo (Rp 38.900,-)

Sekali lagi, karena nama penulisnya, saya memutuskan untuk membeli ini. Gaya penulisan Kuntowijoyo yang sederhana membuat saya kagum dan kalau baca review-nya di Goodreads, semua bilang ini bagus. Dan buku ini jadi yang saya baca pertama di bulan ini.

How to be a good parent

6) The Intuitive Parents (Rp 80.000,-)

Ini buku yang dibeli dengan modal nekat. Paling mahal, paling tidak ada gambarannya tentang apa dan  tidak tahu bagus atau tidaknya. Dibeli karena percaya dengan rekomendasi dari @nadhiraarini yang beli buku ini.

Semoga saya tidak sia-sia membelinya dan sanggup membaca buku non fiksi setebal ini. Hitung-hitung belajar mempersiapkan diri jadi orang tua yang baik. Kamu sudah pernah baca ini?

Review hunger games novel

7) Hunger Games Series (Rp 165.000,-)

Saya mengetahui cerita ini lebih dulu melalui tayangan ulang Hunger Games yang disiarkan di RCTI. Dan saya merasa sangat kagum dengan plot serta karakter utamanya.

Pada tayangan trology; Mockingjay, saya tengah menyelesaikan skripsi sehingga tidak bisa menonton di bioskop dan lagi-lagi hanya menonton tayangan ulang di saluran streaming.

Lalu suatu hari selepas sidang sarjana saya buka laptop, menelusuri folder yang berisi PDF kumpulan cerpen dan novel terjemahan yang saya dapatkan secara cuma-cuma dari Danis dan Aam. Di sana ada PDF Hunger Games Series dalam Bahasa Indonesia. Ketika saya baca di bab pertama, saya sadar bahwa saya jatuh cinta pada gaya penulisan Suzanne Collins.

Saya hentikan sampai di bab 1 dan memutuskan untuk mencari novel dalam bahasa aslinya karena akan lebih mudah mencerna dan memahami dunia Katnis jika langsung membaca dari bahasa pertama. Namun, dicari ke mana-mana, tidak ketemu.

Saya beberapa kali mengunjungi Periplus, Gramedia, toko buku fisik lain di beberapa area di Jabodetabek, tidak ada juga. "Buku lama," kata mereka saat ditanya kenapa tidak ada.

Pencarian saya tidak berakhir. Pada teman yang berada di LN saya titip untuk membelinya. Satu saja, saya hanya minta titip Hunger Games yang buku pertama saja. Seharusnya tidak memberatkan bawaan, tetapi jawabannya sering kali "tidak bisa bantu." atau, terlalu mahal.
Dua tahun berlalu.

Dan selama dua tahun itu, tidak ada buku bacaan lain yang saya baca dengan niat atau penuh hasrat. Mendadak mogok baca karena apa yang sangat ingin dibaca belum bisa terealisasi.

Dan di bulan-bulan mogok itulah saya akhirnya menyibukan diri dengan menonton Drama Korea dan berhasil menonton sampai 90 drama! Ini pencapaian besar untuk saya yang tidak begitu suka menonton.

Saat mulai jenuh menonton terus, tepat di tahun kedua setelah mogok baca, muncul pameran buku Big Bad Wolf (BBW) and I asked my friends to helped me find out Hunger Games. "I'm gonna buy no matter how expensive it is," I say.

Dan ketemu!!! Dijualnya satu bundle tidak boleh beli satu saja dan harga satu bundle ini hanyalah Rp 165.000,-

Saya tanya lagi apakah harga segitu untuk tiga buku? Harganya terdengar tidak masuk akal. Tapi betul, harganya segitu. Masya Allah, Subhanallah. Niat beli satu malah dapat tiga :')

______________________

Total buku yang saya beli ada sembilan (9) dan uang saya keluarkan untuk itu sebesar Rp 400.000,- saja.

Setelah mendapat Hunger Games, mogok baca saya berakhir. Tiba-tiba jadi semangat membaca banyak dan terus membaca.
Dan hari ini juga, saat kamu selesai membaca postingan ini, saya sedang membaca Hunger Games.

Saya senang, karena berhasil membuat diri sendiri kembali haus bacaan.


Bagaimana dengan kamu, buku apa saja yang berhasil dibeli di BBW? :)

#BookReview

[Book Review 2015 – 05] Review HUJAN DAUN-DAUN - Gramedia Writing Project

Written by Uni Dzalika

Judul : HUJAN DAUN-DAUN
Pengarang : Lidya Renny Ch., Tsaki Daruchi, Putra Zaman.
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Kategori : Young Adult – (Romance, Friendship, Family)
Tebal : 248 halaman
Terbit : 3 April 2014
ISBN: 978-602-03-0376-5

~
Blurb :
Akhir-akhir ini, tidur Tania nyaris tak pernah nyenyak. Malam-malamnya diisi mimpi yang sama, tentang gadis kecil berbaju biru, pohon besar yang kokoh, dan dedaunan yang berguguran. Dan seiring ulang tahunnya yang semakin dekat, mimpi itu semakin sering mengganggu.
Di satu sisi, ia bersemangat menyambut ulang tahun yang hanya bisa dirayakannya empat tahun sekali, tepat pada tanggal 29 Februari. Tapi di sisi lain, mimpi itu juga membuat Tania waswas karena peristiwa besar yang mengejutkan terjadi tiap kali ulang tahunnya dirayakan.
Jadi, tahun ini diam-diam ia bersiap. Apalagi ketika satu persatu rahasia masa lalunya mulai terungkap. Tania harus mencari tahu, apakah mimpi-mimpi itu sekadar bunga tidur ataukah ada arti lain di baliknya?

~

            Sungguh sangat terlambat membaca buku ini, yaitu tepat setahun sejak buku ini di-launching. Padahal saya datang pas launching karena salah satu penulisnya –Putra Zaman, teman baik saya, (dan Utha juga saya kenal, sementara mbak Renny Cuma ketemu sekali) tetapi saya malah belum beli dan baca buku ini. Sahabat macam apa saya? :| Tapi akhirnya kesampaian punya bukunya (dan ini juga nggak beli, tapi dikasih sama Danis sebagai hadiah. Iya, anggap aja hadiah) plus di bukunya udah ada dua tanda tangan (tinggal tanda tangan mbak Renny yang belum dapat, nih) dan ketika ketemu beberapa minggu lalu saya sempat tanya sama Bang Putra, “Bukunya ada cacat nggak?”

            “Wuih, jangan diragukan.”

            “Berarti sempurna, ya…”

“Baca aja sendiri.”

            “Okedeh,” kata saya singkat. Sepulang dari pertemuan itu gegas saya baca bukunya. Well, langsung aja deh simak review saya, yuk!

~

Main idea novel Hujan Daun-daun (selanjutnya disingkat HDD) yaitu tentang Tania –seorang mahasiswi Administrasi Niaga UI yang suka menggambar dan selalu mengalami mimpi buruk, tetapi, ia percaya kalau mimpinya lebih dari sekadar bunga tidur. Lalu, Tania pun berhasil mengartikan mimpinya dan menemukan segala benang merah tentang keluarga serta masa lalu mengenai hidupnya. Sesimpel itu, dan memang sudah banyak cerita YA yang mengangkat tentang keluarga. Namun, HDD ini lebih memusatkan pada kisah kisah masa lalu yang sebelumnya tidak diketahui oleh si tokoh utama. Dibantu dengan Stella – sahabatnya, juga kakek dan neneknya, Tania pun berhasil menemukan banyak jawaban.

Saya suka ide cerita dan perjuangan si tokoh menemukan potongan-potongan masa lalunya, meskipun ketika membaca ini, terlalu banyaknya “tell” membuat saya hanya terus membaca mengikuti langkahnya Tania tetapi tidak dapat merasakan greget dan penasaran seperti yang sedang dirasakan si tokoh. Padahal porsi narasi-deskripsinya sudah imbang. Kata “tell” yang saya maksud itu seperti “Ia terkejut,” atau “Ia meringis,” atau “Kakek tidak bisa mengontrol emosi,” dsb, yang membuat saya sebagai pembaca nggak merasakan emosi tersebut. Akibatnya konflik utama dalam buku ini juga kurang kerasa.

Ditulis oleh tiga orang dengan gaya penulisan yang berbeda, membuat isi buku ini kurang ‘mengalir’ deh, malah kayaknya saya bisa bedakan part ini siapa yang nulis, part ini bagian siapa, dan part selanjutnya siapa. Memang nggak mudah menulis keroyokan, dan sebetulnya novel ini berhasil digarap dengan baik, mengingat ini novel debut untuk para penulisnya. Satu lagi yang sangat disayangkan, adanya inconsistent dalam penggunaan bahasa slang membuat saya risih. Semacam kata “nggak” di beberapa halaman dan selanjutnya pakai “tidak” lalu ada juga kata yang tidak baku seperti “pengen” yang seharusnya “pengin” juga antar spasi yang terlewat.

            Tetapi buat kamu yang belum baca, so far isi ceritanya bagus dan cocok jadi bacaan sore hari. Oh ya, tokoh favorit saya Meilia. :)

            3 dari 5


Ps. Baca juga review saya tentang Badut Oyen – Novel Gramedia Writing Project
#BookReview

[Book Review 2015 – 04] A Week Long Journey : Follow Your Dreams, They will Find Their Way

Written by Uni Dzalika





Judul : A Week Long Journey
Penulis : Altami N. D
Editor : Didiet Prihastuti
Proofreader : Lana
Desain Sampul : Eduard Iwan Mangopang
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-602-03-1299-6
Tebal : 256 halaman;20 cm
Kategori : Young Adult, Teens, Novel, Fiksi

Blurb :

Lina Budiawan baru saja lulus SMA dan dihadapkan pada kenyataan bahwa dia harus masuk ke fakultas yang tidak sesuai dengan minatnya karena orangtuanya menganggap jurusan itu memiliki masa depan yang cerah dibanding passion-nya, menulis.

Namun, Lina tetap tidak rela melepaskan genggaman pada mimpinya. Ketika dia dikelililngi orang-orang yang terus-menerus bicara mengenai bidang yang tidak sedikit pun Lina minati, justru semakin erat dia mencengkeram obsesi menulisnya. Meski harus mengesampingkan keluarganya.

Hingga liburan selama seminggu di Hong Kong menguak semua rahasia dan cerita lama yang tidak pernah Lina ketahui tentang sejarah keluarganya. Lina pun harus berpikir ulang. Menjadi idealis atau realistis?



~

Baru dua jam yang lalu saya selesai membaca buku A week Long Journey dan nggak salah menjadikan buku itu sebagai pilihan bacaan minggu ini. Aaaaak! Kakak, your first baby so awesome! Membaca buku ini buat saya kayak ditampar secara terang-terangan karena in fact, saya pun sedang dalam fase seperti si tokoh utama yang bingung harus idealis atau realistis, bingung harus nerusin bisnis orangtua apa bertahan dengan passion sendiri, hahah. Oke skip curcolnya, mari baca review saya mengenai buku ini.

“Money can’t buy happiness, Ma.”

“Money can buy Mercedez Benz, travelling, Gucci, and big house, Ling.”

(hlm.130) 


Ketika membaca judulnya, saya sempat skeptis karena mengira ini akan jadi cerita klasik macam tokoh kaya raya yang melakukan perjalanan, terus menemukan cinta dengan kalangan menengah ke bawah kemudian berakhir happy ending, karena genre buku ini adalah YA. O, rupanya saya salah besar. Main idea dalam buku ini berkisah tentang seorang anak bernama Lina, yang punya mimpi besar untuk mewujudkan sesuatu yang dia inginkan, tetapi harus mengambil jurusan kuliah yang berbeda dari passion-nya. Dan ‘week’ dalam judul buku ini menjadi penunjuk bahwa Lina akan melakukan perjalanan selama satu minggu. Lalu dalam perjalanan tersebut, semua benang merah yang tidak terpikirkan oleh Lina mulai menemukan titik temu, dan hal-hal yang nggak dia tahu sebelumnya perlahan terkuak. Liburan selama sepekan itu pun menjadi introspeksi tersendiri bagi Lina, sehingga dia mulai sadar tujuan hidupnya akan ke mana. 

“Kalau mau jadi orang hebat itu memang susah, nggak semudah membalikan telapak tangan, tapi ya nggak sesulit memindahkan gunung.” – Ayi Jaya (hlm.169).


Saya suka sekali sama cover bukunya yang simpel, mudah terbaca, pun pilihan warna biru langitnya punya fiososfi tersendiri yang berkaitan dengan jalan cerita. Layout bukunya juga rapi, dengan bunga sakura dan rumput bambu, khas tumbuhan dari negara yang menjadi destinasi Lina, si tokoh utama. Sayangnya dalam penulisan, saya masih menemukan typo, kesalahan tanda baca, pun banyak antar kata yang tidak di spasi seperti ;

- “s” ini maksudnya sedang atau salah ketik? (hlm.192), 
- “papantanya” seharusnya papanya (hlm.224), 
- “mendugaLina” (hlm.246), 
- “dancinta” (hlm.249), 


- itumerupakan, harusnya itu merupakan (hlm. 22),
- mama, harusnya Mama. (hlm. 20, 21),

- berhasilmenguasai (hlm. 65),
- itudari, harusnya itu dari (hlm. 66),
- Lina menjadi air hangat setelah ayi Jaya mandi. Menjadi harusnya mandi (hlm. 74),
- tubuhnyanya, harusnya tubuhnya (hlm. 79),
- Damn why it is si hard for me. Si harusnya so (hlm. 131),
- Menutunya, harusnya menutupnya (hlm. 162),
- dia terimanya, harusnya dia terima (hlm. 171),
- stasiunMTR, harusnya stasiun MTR (hlm. 177),
- maafatas, harusnya maaf atas (hlm. 201),
- jangan itu dong! Harusnya jangan gitu dong! (hlm. 206),
- “untuk menerima kesalahpahamannya selama ini, ujar Rita”. Harusnya “untuk menerima kesalahpahamannya selama ini,” ujar Rita. (hal, 209),

Serta ada penggunaan kata yang tidak sesuai KBBI seperti “pengen”, “temen-temen”, catetan, harusnya catatan (hlm. 135), catetanku, harusnya catatanku (hlm. 139), pemales, harusnya pemalas (hlm. 156),“di pajang” seharusnya dipajang (hlm.137), “kemana-mana” seharusnya ke mana-mana (hlm. 145), makannya, harusnya makanya (hlm. 57), juga adanya penggunaan huruf kapital yang tidak pada tempatnya.

Penggunaan bahasa yang ringan, lugas, dan apa adanya memudahkan pembaca memahami isi hati Lina dan dengan cepat memahami jalan cerita meskipun alurnya maju-mundur-maju. Well, kesalahan tanda baca dan EYD dapat tertutup dengan isi cerita yang menarik dan bisa bikin saya terharu bacanya di beberapa bab terakhir! Sayangnya, peran narator serba tahu mengambil bagian begitu banyak dalam buku ini sehigga karakter lain hanya seperti tempelan saja karena tidak terlalu kuat menampakkan diri, dan narator terlalu banyak ‘tell’ mengenai fisik, lokasi, kejadian –yang membuat buku ini sedikit membosankan di bab-bab awal.

Overall buku ini bagus dan perlu dibaca buat orang yang masih galau antara harus realistis atau menjadi idealis, hihi. Last but not least, buku ini membuat saya berpikir kalau… sepertinya saya harus meneruskan bisnis orangtua dan meninggalkan passion saya, ha-ha. 3 bintang dari 5, untuk bukunya. 


“Idealisme tidak mungkin terwujud kalau realitas tidak mendukung.  Karena itulah dunia membutuhkan orang-orang yang bisa menyatukan idealisme dan realita. Ketika dua hal yang tampak berbeda itu menyatu, kita bisa menyebutnya mimpi yang menjadi kenyataan.” (hlm.249)
#BookReview

[Book Review 2015 – 03] Ketika Dhira Jatuh Cinta : Mencari Cinta dari Hanover ke Cordoba

Written by Uni Dzalika
Penerbit
: 
MIZAN PUBLISHING
Kategori
: 
TRAVELING
No. ISBN
: 
978-602-1337-41-7
Kertas / Halaman
: 
SoftCover / 316 halaman
Berat
: 
260 gram



Harga (Rp)
: 
75.000,-







            Bottom of Form
 “Ditulis dengan bahasa gaul yang segar. Buku ini seperti secangkir cappuccino di senja hari.” —Habiburrahman El Shirazy, penulis bestseller Ayat-Ayat Cinta 

“Dhira menuturkan perjalanan cintanya melintas tanah Eropa dengan tidak biasa.” —Ahmad Fuadi, penulis trilogi Negeri 5 Menara 

“Tulisan yang membuat saya menebak-nebak siapakah si pangeran Dhira di Hannover. Hehe. Bahasa yang ringan membuat novel ini pun ringan untuk dibaca.” —Puteri Hasanah Karunia, SAÈ Creative Director, HijUp Brand Ambassador, fashion writer 

“Sangat layak dibaca remaja Indonesia yang sedang mencari cinta!” —@TweetNikah, penulis buku National Bestseller AKU, KAU & KUA 

“Saking seru tingkat huru-hara, saya baca cerita ini tanpa jeda. Pipis pun saya tahan sejak Hannover hingga cordoba!” —Oddie Frente, penulis 

“Membaca ‘curahan hati Dhira’ berdasarkan pengalaman pribadinya, membuat kelima indra saya terhipnotis untuk ikut berkelana ke dalam kejujuran rasa yang dituangkannya.” —Dini Fitria, journalist and writer Scappa Per Amore 

“Buku ini mengajak pembacanya untuk jadi galau. Beneran! Tapi, galau yang elegan, galau yang bijaksana. Galau yang sedikit demi sedkit melangkahkan Dhira menuju pangeran kuda hitamnya ....” —@canunkamil & @fufuelmart, Romantic Couple Trainer Marriage Specialist 

~

                        Anw, congratulations Dhira for your first baby born, I’m so proud of you, dear! Alhamdulillah, bukunya Dhira terbit juga, turut senang sekaligus bete karena saya disalip duluan, hehehe. Saya tahu banget perjalanan buku ini dari mulai masih outline, proses, revisi, naik ke meja redaksi, dan tahap cetak, –karena Dhira selalu mengabarkannya ke saya. Dan itu udah lama banget prosesnya sejak tahun lalu, jadi kalau ada yang bilang ini buku instan, nggak. Ini buku prosesnya panjang dan ketika terbit, saya ikut senang karena bisa membacanya dalam bentuk cetak. Buku ini pun di launching kemarin (07/03/15) pas acara Islamic Book Fair di Senayan, Jakarta. Sepulang dari sana, saya langsung tuntaskan baca di kereta sepanjang Sudirman-Bojong. 


 “Tujuan utama gue traveling untuk lebih mensyukuri ciptaan Allah. Pasti bakal ada aja hal-hal baru yang gue temuin selama perjalanan ini.” – Dhira, (hlm.86)

            Ketika Dhira Jatuh Cinta ini adalah buku non fiksi, yang menceritakan perjalanan Dhira keliling Eropa Barat, dimulai dari Hannover sampai ke Cordoba, dengan tujuan untuk melihat kuasa-Nya sekaligus dalam rangka melupakan seorang lelaki yang dia suka diam-diam, istilah gaulnya mau move-on, gitu. Nah, dalam perjalanannya itulah, bersama temannya, Rara, mereka mendapati banyak momen dari yang menyenangkan, menakutkan, mengharukan, dan segala hal yang tak terduga di mana tersimpan banyak hikmah di setiap kejadian. Dhira menceritakan apa yang dia lihat selama perjalanan secara rinci ; mulai dari teror orang asing, bertemu orang-orang yang baik hati, kekesalannya tentang menunggu, dihadapkan dengan segala macam perlakuan orang selama traveling.

Buku setebal 313 halaman ini ditulis menggunakan POV kesatu dengan gaya bahasa yang lugas, apa adanya, dibumbui beberapa majas dalam setiap narasi, namun minim dialog dan deskripsi mengenai latar tempat tidak terlalu banyak dijelaskan. Iya, ini buku tentang cinta, bukan tentang panduan travel, guys. Gaya bertuturnya nggak jauh beda dengan tulisan Dhira di blog, sehingga ketika membacanya, kita seperti membaca blog dalam bentuk cetak dengan ratusan halaman. Saya ingat setiap kami bertemu atau chatting di Whatsapp, Dhira selalu menceritakan pegalamannya, dan ketika saya baca buku ini, hampir sebagian dari cerita ini sudah saya ketahui melalui lisan, tetapi tetap tidak bosan membaca kisahnya lagi dalam bentuk tulisan. Mungkin ini dikarenakan gaya penulisan Dhira yang nggak baku, jadi bikin bukunya jadi nggak monoton dan kita pun bisa ikut terbawa perasaan senang, sedih, kaget, cemas, mengikuti apa yang Dhira kisahkan. Sayangnya, penggunaan bahasa yang tidak baku ini menimbulkan beberapa kesalahan kata yang tidak sesuai dengan kaidah KBBI seperti “pengen”, “temen-temen”, “shalat”, dll.

“…Allah punya banyak stok, kok. Kenapa gue harus ngotot sama satu orang kalau masih memungkinkan dapat pangeran yang lebih bagus kualitasnya?” – Dhira, (hlm.292)




            Selain menyukai tulisannya, saya juga suka dengan covernya yang khas banget warna kesukaan Dhira, terus gambarnya mewakili isi dalam buku tentang beberapa simbol kota yang Dhira kunjungi, juga icon koper-kamera-buku menjadi gambaran tentang aktivitas Dhira. Cuma sayang banget nih, font tulisan yang berwarna biru sebetulnya kurang asik untuk dibaca apalagi untuk buku setebal ini, sebaiknya hitam aja, sih. Namun layout serta foto-foto yang ada di dalam buku sudah tepat berwarna biru, karena lebih terlihat ketimbang warna hitam. Terlepas dari segala kekurangan dan kelebihan buku ini, saya suka dengan endingnya dan dhira berhasil menyeret saya sebagai pembaca untuk menyadari bahwa hidup bukan melulu tentang cinta.

“Pencarian cintaku berakhir dengan menemukan-Mu, Tuhanku satu-satunya, Allah Swt.” – Dhira (hlm.310)

            Semoga buku berikutnya bisa lebih baik lagi, ya. 3 dari 5 bintang.

Yuk Berlangganan!

Nggak mau ketinggalan informasi dari blog ini? Let's keep in touch! Tinggalkan alamat e-mail kamu dan dapatkan review artikel, tutorial, serta tips menarik secara gratis! :)

  • About Dza
  • About
  • Shop
  • FAQ
  • Explore
  • Lifestyle
  • Tips
  • Salero Uni
  • E-commerce
    Connect

Copyright Forever Young Lady All rights reserved. Design by Jung - Good Ideas. Great Stories.