• Nginap Bareng
  • Contact
  • Portofolio
Responsive image

Indonesian Beauty & Fashion Blogger.
Your personal stylist

Beauty Fashion Talks Lifestyle Event
Tampilkan postingan dengan label #30HariMenulisSuratCinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #30HariMenulisSuratCinta. Tampilkan semua postingan
#30HariMenulisSuratCinta

[Liputan] Yang Berbeda di Gathering @PosCinta Tahun Ini

Written by Uni Dzalika

Saya punya kegiatan baru yang selalu dilakukan di awal tahun sejak mengenal dunia kepenulisan. Kegiatan tersebut ialah program Menulis Surat Cinta selama tiga puluh hari secara online, dan di hari ke tiga puluh satu akan ada pertemuan offline. Tahun 2015 ini saya berkesempatan untuk datang ke pertemuan tersebut, meski jauh dan sebetulnya saya masih dipingit ((DIPINGIT)) di rumah karena harus menyelesaikan skripsi. Tapi saya memaksakan datang, sebagai cara saya menghargai para penyelenggara acara. Saya tahu betul bagaimana riweuh-nya mengadakan acara dan karena itulah, saya datang. Untuk meramaikan. Dan untuk menghargai mereka. *kabur dari skripsi* *menatap nanar timbunan revisi*

banner gathering (diambil dari akun @Pos Cinta)


Acara gathering kali ini di Restoran Rumah Enak-Enak di Bandung mulai pukul sebelas pagi sampai dua siang. Saya datang bareng Ulya dan kami janjian di Dipati Ukur, sesampainya di sana langsung ke meja register. Agak sedih karena pembayarannya sebesar 75k padahal kan, ongkos untuk ke sananya sudah mahal T.T ish. Tetapi ketika acara telah berlangsung dan saya mengikuti sampai selesai, saya puas dan acaranya worth it sekali. Nggak apalah bayar segitu. :)

Pada awalnya tiap peserta dibagi per kelompok berdasarkan tempat duduk yang ditentukan dari stiker saat pendaftaran. Ada empat warna yaitu Putih, Hitam, Merah Muda, dan, aduh lupa satu lagi apa. Sempat kecewa sih, melihat peserta yang datang terhitung puluhan dan tukang pos nya pun hanya ada beberapa saja. Nggak ketemu Iit tukang pos-nya Uni :( . Tapi dengan sedikitnya peserta, pembagian kelompok pun jadi imbang di mana setiap tim diisi oleh tujuh atau delapan peserta dan satu tukang pos.

Dokumen milik @PosCinta

Tujuan dibagi per kelompok gitu, katanya mah untuk mengakrabkan diri. Tapi pas makan siang berlangsung, tetap aja pada makan dengan kubu masing-masing :D ai kitu mah sarua keneh atuh, ha ha ha. Jadi tuh pas pengambilan makan secara prasmanan di mana ada nasi timbal, tahu, tempe, ayam bakar, sambal, dan lalapan, serta buah untuk penutpnya, terus udah aja pada ngeloyor ke bangku lain hahahihi sama yang dikenal aja. Termasuk saya, juga begitu. Hvt.

Nah, acara yang saya bilang worth it ini baru saja dimulai selepas makan siang. Awalnya ada pembacaan puisi dari ka Edo (peserta) dan ka Adimas (panitia). Setelah itu kita mulai bermain. Permainan ini dibutuhkan kekompakan dan tim saya sendiri ada di Tim Hitam. Lalu kami bermain games yang dipandu oleh Om Em dan Ka Echi. Permainan pertama bernama "Puzzle Koran" di mana setiap tim harus menemukan potongan gambar atau tulisan yang ditampilkan di layar screen. Permainan kedua ABC Lima Dasar dalam bentuk tim.

Ini Ka Adimas yang lagi baca puisi, Siluet aja , ya, nggak usah foto jelas :D



Sistemnya nggak saya jelasin lebih lanjut, sengaja. Biar kami yang datang aja yang mengenangnya dalam ingatan, ehehe EHEHEHEHE. Nah, permainan kedua ini lebih komunikatif dan seru karena antar tim saling kompetitif untuk menang. Nggak ada ekspetasi untuk dapat apa atau gimana, sih. Cuma pagede-gedean nilai aja tapi itu udah cukup seru. Sampai permainan akhirnya harus berakhir karena nggak kerasa udah jam setengah tiga, ngaret dari jam yang sudah ditentukan. 

(kiri-kanan) Dhea, Ulya, Eva, Uni, Evi

Sampai sini, sudah tahu alasan apa yang bikin saya bilang kegiatannya worth it? Belum? Karena... Selama beberapa jam (hampir) semua orang nggak ada yang main gawai atau mojok sendirian ngadep layar henpon, bahkan pada lupa live tweet, nggak foto-foto, nggak sibuk sendiri, semua fokus dengan acara yang berlangsung. Udah gitu tukang pos-nya membaur dan lebih banyak komunikasi sama peserta. Bukankah acara yang baik adalah, ketika peserta dan panitia berbaur, memerhatikan acara, tak peduli jika pesertanya sedikit. Dan menurut saya panitia PosCinta sudah sukses untuk itu. :')

Setelah penutupan, kami foto-foto dan beberapa peserta saling menyapa sekadar basa-basi. Saya nggak ikutan ngobrol karena udah malas basa-basi :p Tapi sebelum pulang, salaman dulu sama Rani. Dan ternyata teman-teman yang saling menyapa sesama peserta itu sampai sejam-an. Saya sendiri ngobrol sama Rani membahas banyak hal terkait kepenulisan dan dunia blogging terus Om Em sesekali nimbrung. Karena saya ada janji lagi di tempat lain, kami pun sepakat bertemu lain waktu di Jakarta. Okeh, nambah satu teman lagi. Semoga bisa bertemu lagi, ya. :D

Ini @franc3ssa teman baru Uni, bersama  @Gembrit (foto milik Rani)

Ini Uni bareng @Gembrit juga ^^

Akhir paragraf, saya suka acara gathering #30HariMenulisSuratCinta kemarin. Sederhana, tapi keakrabannya dapat. Mungkin acara berikutnya lebih dimatangkan aja dan publikasinya lebih gencar lagi. Oh, sama kalau bisa biayanya jangan kemahalan hehehe. MENYESALLAH KALIAN YANG NGGAK DATANG HAHAHAHA. 

Sedikit, tapi seru! (dokumentasi @PosCinta)

Sampai ketemu tahun depan! :)
Uni Dzalika
#30HariMenulisSuratCinta

Sedikit Penjelasan Tentang Ambu dan Zi

Written by Uni Dzalika

Banyak sekali, -ah sebetulnya tidak banyak, tapi lumayan ada beberapa- yang bertanya apakah surat-surat yang saya tuliskan untuk #30HariMenulisSuratCinta ini adalah kisah nyata atau fiksi. Saya senang, terima kasih telah membaca tulisan saya padahal surat-surat itu kacau dari segi plot dan alur, tetapi saya senang sekali teman-teman mau membacanya dengan rasa, bukan teknik.

Ambu dan Zi, sejatinya adalah orang yang sama. Uni, yang selalu menuliskan surat tersebut, hanyalah mediator, penghubung antara Ambu –seseorang yang sibuk mengejar mimpi, dengan Zi –panggilan masa lalunya yang telah membentuk dia menjadi sekarang ini. Zi adalah sosok yang dicintai, murah hati, dan begitu banyak pengalaman yang dia dapatkan, baik menyenangkan maupun menjengkelkan. Dari sana, dari masa lalu tersebut, Zi tumbuh menjadi seseorang yang mengeraskan hati dan begitu ambisius untuk meraih sesuatu, dan menjadi apatis terhadap apa-apa yang terjadi di sekelilingnya. Dia kemudian semacam melakukan rebranding dengan mengubah nama panggilan, lantas lupa (atau berusaha untuk melupakan) dengan kisah masa lalunya. Zi dewasa menyebut dirinya Ambu –sebutan untuk ibu bagi orang Sunda, karena di masa depan, ketika usianya cukup, ia punya banyak kemenakan dan anak-anak asuh. Uni di sana sebetulnya bernama Seruni dan dia hanyalah mediator, hanya narator dalam cerita ini.

Event #30HariMenulisSuratCinta tahun ini saya gunakan sebagai media untuk belajar teknik penulisan epistolaris – gaya menulis berupa sejumlah  catatan yang memakai data serta dokumen sebagai bukti untuk penguat cerita. Ternyata bukan hal mudah untuk menulis surat bersambung yang tidak monoton, tidak membosankan. Saya akhirnya membuat clue dalam setiap surat, yaitu dengan menaruh beberapa jembatan yang ada di Bogor, dan setiap satu jembatan ada di setiap surat. Menaruh clue tersebut gunanya untuk mempertahankan setting tempat, dan clue lain terdapat di judul setiap surat. Jika kamu membacanya ulang, semua judul dari surat pertama hingga akhir membentuk sebuah paragraf, tujuannya supaya alurnya nggak meluber. Di surat itu pun hanya ada satu tokoh utama dengan beberapa tokoh pendukung yaitu seorang lelaki bernama D, supaya ceritanya lebih hidup.

Apabila kamu menganggap kisah ini nyata, maaf, ini fiksi. Tetapi, setidaknya baik Zi maupun Ambu menjadi nyata dan hidup dalam hati kalian masing-masing. Sekalipun ini kisah fiksi, biarlah menjadi kisah nyata dalam imajinasi teman-teman. Kelak, di tahun 2022, bisa saja kalian akan benar-benar bertemu dengan sosok serupa Ambu.

Ketika event menulis ini berakhir, saya pun mengapresiasi diri sendiri (dengan memakai uang tabungan untuk membeli buku) karena telah menyelesaikan teknik epistolaris ini, meski masih cacat di mana-mana. Ada pun ucapan terima kasih yang ingin saya sampaikan, yaitu untuk ;

1/ Syiffa Nurul Kamilah (@nk_syifa) – yang bersedia menjadi model dalam cerita ini. Seluruh foto dalam cerita di #30HariMenulisSuratCinta ini dokumentasi pribadi, dan objek yang ada di dalam foto tersebut semuanya adalah Syifa. Syifa bukan Zi, bukan Ambu, bukan juga Uni, tetapi fisik Syifa adalah yang paling dekat dengan karakter tokoh dalam cerita saya.

2/ Ka Iit (@IitSibarani_) yang menjadi tukang pos saya tahun ini. Terima kasih sudah rela meluangkan waktunya untuk membaca, memberi komentar, mengantar juga.. Esok, kesehatannya dijaga ya :)

3/ Seluruh tukang pos @PosCinta yang telah mengadakan event menulis ini. Tidak ada ekspetasi lebih yang saya harapkan, tetapi lewat ajang menulis ini, menjadikan saya belajar banyak hal, tentang hidup, tentang melatih kemampuan menulis saya, tentang konsistensi, dan tanggung jawab.

4/ M – editor pribadi saya yang tentu tidak ingin namanya disebut, terima kasih untuk caci-maki dan segala hujatannya terhadap karya saya. Barangkali kamu tidak akan pernah tahu seberapa bete dan nyeseknya saya menerima kritikan darimu, tetapi, teruslah begitu. Saya selalu suka caramu mengajari saya untuk lebih baik. Teruslah seperti itu.

5/ Kepada Anda di manapun berada, yang selalu membaca cerita saya. Entah bagaimana harus mengucap, andai saja saya tahu siapa yang sering membacanya sampai viewers mencapai ribuan ini (bahkan PR blog naik pun Alexa menurun dengan cepat dan saya bahagia sekali), saya akan sebut nama kalian satu persatu dalam postingan terpisah, andai saja saya tahu. Anda semua menjadi alasan mengapa saya tetap menulis di blog. Anda menguatkan saya, terima kasih banyak. Akan saya sampaikan salam Anda untuk Zi dan Ambu.

Selamat bulan Maret, mari lebih baik dari sebelumnya, dan sampai jumpa tahun depan! :)


Silakan baca kisah Ambu dan Zi di sini .

#30HariMenulisSuratCinta

[30] Epilog

Written by Uni Dzalika

Uni,

Kalau kau membaca surat ini, bukalah laci abu-abu di kamar saya. Di sana, telah saya tuliskan alamat tinggal di Brighouse - UK dan jika berkenan, kirimi saya surat-surat seperti yang biasa kau lakukan. Atau kau boleh berkunjung ke sana dan menetap beberapa hari. Kita bisa memasak meal bersama-sama. Ah, itu bukan rumah saya. Itu alamat tinggal seorang kerabat yang saya kenal di media sosial dan meski saya tidak sepenuhnya menaruh kepercayaan saya padanya, saya toh tetap tinggal di sana. Rumah itu dihuni oleh depalan kepala tanpa saya. Kalau salju tiba, akan ada penghangat ruangan serta perapian di mana api dapat menyala-nyala karena membakar kayu. Saya suka menghangatkan diri di sofa yang jaraknya paling dekat dengan perapian. Di sana ada sebuah jendela yang menghadap ke halaman depan. Tetapi jika musim panas tiba, pendingin ruangan di sini agak sedikit rusak dan harus bekerja ekstra untuk mendinginkan kami. Jangan heran kalau kalu menemukan kami tengah berdebat atau berkata dengan intonasi tinggi akibat kepala yang mendidih. Tapi kami semua akur, dan oh, delapan kepala tersebut adalah teman saya, suaminya, dan enam anaknya. Kami kumpul sesekali di ruang tengah untuk bermain atau menonton, dan wajib bersama ketika makan malam. Sungguh keluarga yang hangat. Kau boleh kemari kapan pun kau mau.

Uni, hidup ini adalah petualangan. Memang tidak seperti gambaran dalam film Jumanji di mana hutan rimba menjadi setting tempatnya dan kita harus menghadapi makhluk liar untuk selamat dari hidup. Bukan juga seperti film Ender's Game yang harus mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan dunia. Tapi hidup yang kita jalani, adalah sebenar-benarnya petualangan. Sekali kau menyerah, maka kau mati. Sekali saja berhenti melangkah, tentu kau akan tamat. Begitulah.

Uni, kau sudah banyak belajar dari kisah Zi, jangan kau tiru kesalahannya dengan pergi dan menghindari masalah. Pulanglah, kembalilah, tetaplah kirimi saya surat. Kau bisa bercerita apa saja mulai dari perasaanmu, kekesalanmu, keresahan, apa saja, ceritakanlah. Saya dengan sabar menunggu.

Saya masih Zi yang kau kenal, kau boleh memanggil saya dengan Zi atau Ambu, sesukamu saja. Satu hal yang perlu kau tahu, tidak ada yang abadi di dunia ini. Dan saya tidak setuju dengan caramu yang menyuruh saya menyerah jika apa yang diinginkan belum tercapai. Tidak. Tidak akan terjadi. Saya masih dan akan selalu mengejar apa-apa yang saya inginkan untuk didapatkan. Ingat itu baik-baik, ya. Masih banyak yang ingin saya kerjakan, saya raih, saya tuntaskan, dan saya tidak pernah menyerah.


Warm regards,
Ambu.




---- Tamat -----

#30HariMenulisSuratCinta

[29] Terima Kasih

Written by Uni Dzalika

((Senin, 12 December 2022))

Hai, Uni.

Saat ini usia saya sudah tiga puluh, dan saya tak pernah alpa membaca surat-surat yang kau tuliskan sepanjang tahun 2015. Sedikit bersedih, ketika kau memutuskan untuk berhenti menuliskan surat untuk saya. Kau mau tahu, kenapa saya tak`pernah membalasnya, kecuali hari ini, setelah sekian lama? Baik, akan saya jelaskan.

Minggu lalu saya pulang ke Indonesia karena dipindahtugaskan sementara. Kau tahu? Indonesia, negara tercinta kita ini, sebetulnya baru saja bersenang-senang beberapa bulan lalu karena urusan bola. Akhirnya Indonesia menjadi tuan rumah piala dunia FIFA 2022. Iya, di Indonesia, bukan di Qatar –tersebab cuacanya yang panas tak memungkinkan untuk para pemain. Tetapi, setelah euforia itu usai, saya mendengar desas-desus tentang banyaknya yang berubah dari negara kita ini. Indonesia di tahun ini dalam masa yang sangat rumit, Uni. Begitu banyak benturan kepentingan antar kelompok nasionalisme dan liberalisme. Saya beberapa kali mendapat sapaan yang bertanya, dari golongan mana saya, dan beberapa kali pula pemikiran serta prinsip saya didebat. Negara ini mulai menutup mata dan membiarkan adanya perang saudara, permainan pikiran tentang kuat lemahnya suatu ideologi, munculnya banyak tokoh baru yang dipuja, dan berkurangnya tanaman hijau, membuat saya tiba-tiba menjadi tidak nyaman di sini.

Biar begitu saya lega, untuk sementara bisa bekerja di tanah air dan memilki waktu yang cukup untuk keluarga saya. Saya ingin sekali berkeluh kesah padamu, betapa melelahkan menjadi seorang abdi negara, tapi lelah itu berkurang ketika saya bisa bertemu kolega, serta bermain dengan kemenakan tersayang saya. Ah, ada yang perlu saya ralat tentang salah satu suratmu. Saya belum memunyai anak, tapi memang semua kemenakan selalu saya anggap anak sendiri. Kau tentu ingat, ini hari ulang tahunnya, dan ia telah berubah keinginannya, bukan lagi mainan. Dia meminta sketch book lengkap dengan alat lukis dan pewarna. Lukisannya semakin bagus dan sentuhannya begitu rapi, lalu ia menggambar apa saja mulai dari gambar-gambar yang tak dipahami sebelum dia menjelaskan bahwa itu gambaran semesta dan makhluk di alam lain. Hari ini, kami pergi bermain di taman kota sampai pukul sepuluh malam dan sesampainya di rumah, kemenakan saya beranjak ke kamarnya sementara saya menyempatkan menonton televisi. Seorang pembawa berita mengabarkan bahwa Indonesia kini resmi memiliki jet tempur sendiri bernama IFX (Indonesian Fighter Experiment) menyaingi pesawat tempur F-16 yang diproduksi sebanyak lima puluh unit. Ah, mau ada apakah di negara ini, Uni?

Usai menonton berita tersebut saya gegas beranjak ke kamar dan begitu membuka pintu, kamar saya sudah rapi, bersih, dan tidak saya temukan paspor pun buku koran bank yang saya taruh di ranjang. Kamar memang belum sempat saya bereskan sejak kali pertama datang ke sini. Sepertinya sehabis bermain dengan kemenakan, ART membereskan kamar tanpa seizin saya. Padahal semua orang tahu, saya tidak suka ada barang-barang yang disentuh tanpa izin. Maka, dengan sedikit gontai dan kantung mata yang berat karena kelelahan, saya mencarinya ke sana kemari, lalu terpaksa harus membuka laci meja belajar saya yang bewarna abu-abu.

Laci itu sudah tak pernah saya buka sejak tahun 2013. Saya menyimpan banyak kenangan lama yang sudah tidak perlu diingat, tapi enggan dibuang, dan ketika membukanya saya refleks menutup hidung. Ibu yang baru keluar dari dapur melihat ulah saya dan mengira, saya menutup hidung karena debu yang berterbangan ketika laci itu terbuka. Tapi sejujurnya, saya menutup hidung karena takut ada bau yang menguar. Bau kenangan. Bau kerinduan. Bau masa lalu. Bau pafrum dia yang tiba-tiba saja, muncul keluar dari kertas-kertas yang ada di laci. Dan ada banyak kertas lain di dalamnya, lebih dari yang saya ingat.

Uni, malam ini, alih-alih mencari paspor, saya akhirnya menemukan surat-suratmu. Ada dua puluh sekian surat yang kau tujukan untuk saya. Uni, sejatinya surat itu tak pernah kau kirimkan ke Inggris. Surat-surat itu selalu kau taruh di laci setelah selesai menuliskannya, dan baru saya baca semuanya, malam itu juga. Dan, ah… saya seperti mengalami sebuah distorsi ; menyadari sebuah kenyataan bahwa Zi yang selalu kau ceritakan itu adalah saya di masa lalu. saya, sungguh lupa. Sungguh sudah tak ingat satu pun masa lalu saya. Saya bahkan lupa bahwa nama lengkap saya Zinnia Seruni Shahrazad. Semua rekan bisnis dan kantor menyebut saya Sasya, atau Ambu.

Uni, surat-suratmu membuat saya seperti dibawa lari ke masa lalu, melihat kembali bagian-bagian paling menyakitkan dalam hidup, dan membuat saya menyesal, mengapa dulu saya sebodoh itu menyia-nyiakan waktu. Ya, saya ingat di masa dulu ingin sekali ke Inggris, dan saya tak menyangka bahwa impian itu terwujud. Saya juga ingat dengan D, sahabat baik saya yang telah lama saya campakkan dan kami kehilangan kontak di masa ini. Mungkin, ia sudah menikah? Dan akan selalu ingat dengan Lelaki yang Selalu Menunggu Datangnya Fajar. Apa kabar dia, ya?

Jadi, terjawab sudah mengapa saya tak pernah membalas suratmu, ya karena ketika kau menuliskan itu, saya belum ada, belum ke Inggris, dan karena tak kau kirimkan surat itu. Memang, sejak kejadian menyakitkan itu, saya memutuskan menghilang dan mengganti lingkungan pergaulan, pertemanan, dan juga memutus kontak yang terkait dengan masa lalu.
Saya, Ambu, sudah membaca seluruh suratmu, dan sekaligus ingin menjawab bahwa Zi masih hidup, di dalam hati saya, di dalam pikiran teman-teman. Terima kasih telah mengingatkannya lewat surat-surat yang kau tuliskan.

Kau tahu? Surat-suratmu mengingatkan saya pada masa masa itu; pahit, getir, pedih, senang, dan bahagia, di mana perasaan itu sudah tak saya rasakan lagi sekarang ini.  Terima kasih (untuk kesekian kali saya mengucap terima kasih) telah menuliskan surat untuk saya, karena saya kembali menemukan saya yang dulu dan mulai sekarang, saya akan belajar mencintai diri sendiri, dengan kadar yang seharusnya. Serta tak lagi menyia-nyiakan waktu seperti saat saya muda dulu.

Saya sadar, begitu banyak tiap manusia yang belajar mencintai orang lain, berusaha dicintai, namun lupa untuk menghargai, pun mencintai dirinya sendiri. Saya paham, bahwa semua orang adalah berharga. Dan saya akan memberitahu pada semua orang, bahwa tiap-tiap dari mereka pantas untuk dicintai.

Tapi setelah ini, pertanyaan baru muncul dalam benak saya. Siapakah kau, Uni? Mengapa kau memunyai nama yang sama dengan nama tengah saya? Waktu saya bertanya, Ibu bilang tak ada satu pun teman yang masuk ke kamar bahkan membuka lacinya, selain saya.

Yang di dalam kepalanya berjejalan tanda tanya,
Ambu.

#30HariMenulisSuratCinta

[28] Mengenai Cinta dan Sejumlah Tanya Tentangnya

Written by Uni Dzalika


Usi,

Membaca surat yang kau layangkan padaku tempo lalu, membuatku tertawa pilu. Sudah kenal lebih dari tujuh ratus dua puluh hari, masih saja mengenai cinta dan sejumlah tanya tentangnya yang meraung-raung dalam pikiran kita.

Cinta.

Benar apa katamu, cinta seharusnya ya cinta saja, tak perlu ada alasan atau bualan yang mengekor. Aku setuju akan itu. Tetapi isi suratmu banyak sekali kalimat-kalimat penuh pernyataan yang ingin kubantah. Semoga kau tak membacanya dengan dada yang resah jikalau ada kata-kataku yang memanah.

Pertama, jika kita telah mengambil langkah untuk mendeklarasikan cinta, akan selalu ada yang terluka, meski dideklarasikan dengan cara yang baik atau lancang sekalipun. Maka sampaikanlah pada orang-orang yang terluka hatinya, bahwa mereka harus rela melepas, dan memunyai rasa ikhlas biar tidak ada luka yang berbekas.

Kedua, waktu kau katakan untuk tak lagi percaya pada cinta pun harapan, sejatinya aku menyetujui rencanamu. Mari belajar untuk tak percaya pada apa pun, pada siapa pun. Kupikir kita berdua telah bertemu dengan cinta yang beraneka ragam, dan kita telah jutaan kali tertusuk jarum bernama kekecewaan, penyesalan, pengkhianatan, dan segala kesakitan yang menusuk titik terlembut kita ; hati. Mari kita belajar untuk tak pernah percaya pada cinta apalagi harapan. Percaya saja pada Tuhan. Tapi tunggu dulu, tidak memercayai keduanya, tak apa, hanya saja kau tidak boleh melenyapkan cinta pun harapan di dalam hatimu.

Ketiga, ini adalah kalimat klise yang selalu kita dengar sejak kali pertama mengenal cinta; bahwa ketika jatuh cinta, kita harus siap untuk patah hati. Pada mulanya aku mengiyakan kalimat tersebut, dan merasakannya sendiri sehingga untuk kembali mencintai, aku ketakutan, gemetar, dan ingatan yang nanar kembali menguar. Aku tak siap patah hati tersebab sakitnya tak pernah bisa diprediksi kapan sembuhnya. Namun setelah aku sembuh dan bertemu dengan cinta yang baru, dia mengajarkan aku satu hal, bahwa cinta itu semestinya tergantung pada apa tujuanmu mencintai.

Begini. Banyak orang yang mencintai untuk dicintai, ada juga yang mencintai untuk mencari apa yang tidak mereka miliki, dan tentunya tujuan setiap orang itu berbeda. Nah, bagaimana denganmu, Usi? Aku belakangan ini mengubah tujuanku mencintai. Kau tahu betul, semula aku tak mau mencintai siapa pun lagi, kecuali setelah bertemu dengan lelaki yang sejujurnya tidak aku kenal dengan baik.

Tetapi aku mengubah tujuanku mencintai, yaitu untuk membahagiakan. Jadi, aku mencintainya untuk membahagiakan diriku, dirinya (semoga ia mendapat sedikit rasa bahagia setelah mengenalku), dan orang-orang di sekelilingku, tak peduli kala cinta yang datang darinya terbentang banyak perbedaan. Kadang aku dihasut oleh amarah, lain hari dirundung rasa takut kehilangan, lebih parah ketika aku cemburu, tetapi aku selalu kembali kepada tujuanku mencintainya; untuk membahagiakan. Dan karena tujuan itulah, aku tak lagi mengalami patah hati. Dia bebas melakukan apa saja dengan siapa saja, sementara aku tetap mencintainya seraya melafalkan doa-doa bahagia untuknya. Dan itu membahagiakan, setidaknya untukku.

Semoga kau menemukan tujuan dalam mencintai.

Keempat, cinta tidak pernah salah. Tak usah kita memusingkan apakah datang di saat yang tepat, apakah tiba di waktu yang benar, atau apakah jatuh pada tempat yang tepat, tak usah dihiraukan. Cinta seharusnya ya cinta saja, tanpa alasan, tanpa bualan, tanpa kepalsuan, pun tanpa penjelasan. Bahkan, di kondisi tertentu, semestinya cinta tak butuh kepastian.

Cinta seharusnya ya cinta saja, Usi.


Kuhrap kau mengerti dan memahami isi suratku. Bila kau jemu pun tak setuju, silakan telepon saja aku, atau kita bisa atur waktu untuk bertemu kembali. Kita bisa berdiskusi soal cinta sambil meminum kopi di salah satu kafe yang paling sunyi.


Ps : Siapa sekarang yang hatinya paling kuat setelah disakiti berkali-kali... kau, atau aku?
#30HariMenulisSuratCinta

[27] Selanjutnya Terserah Kau Mau Bagaimana

Written by Uni Dzalika

D,

Maaf kalau aku melantur beberapa kali mengirimi surat. Aku hanya senang bercerita, senang menulis, dan karena aku sudah berhenti menulis surat untuk Ambu, maka kutuliskan saja isi kepalaku untukmu. Aku tahu ini terlihat bodoh, mengingat kau dan aku tidak memiliki hubungan jelas kecuali sama-sama mengenal Zi.

D, andai kau tahu bahwa Zi bercerita banyak tentangmu dan aku membagi rahasiaku padanya mengenai Ambu, kerabatku. Dia benar-benar perempuan yang istimewa ; Zi banyak memberikan aku ilmu baru -bukan secara akademis, tentunya. Dia mengajari untuk lebih kuat dan gigih dalam menjalani hidup, harus tabah pun tegar, dan lebih lagi, Zi mengajarkan untuk bersabar dalam menanti sesuatu.

Zi sejatinya bukan siapa-siapa dalam hidupku. Hanya saja dia perempuan istimewa yang memberikan banyak inspirasi padaku, padamu, pada teman-temannya. Zi dekat pada siapa saja dan pribadinya hangat, tetapi aku tetap bersikap kaku ketika berjumpa kali pertama padanya. Aku lega sekali dia akhirnya pulang dan mau menyelesaikan masalahnya, dia kembali belajar tersenyum dan mulai berkomunikasi pada lingkungan. Dan kita semua tahu, Zi adalah perempuan yang tidak membutuhkan pertolongan atau bantuan, sebab dia mampu menyelesaikan semuanya sendiri. Bukankah begitu? Jadi, aku pun tak punya lagi urusan padanya, dan mungkin pesanku padamu, tetaplah ada untuk Zi, karena sekalipun ia perempuan hebat, ia tetap butuh teman untuk bercerita.

D, pertemuanku beberapa hari lalu dengannya sungguh tak terlupakan. Kami berbincang lama dan menyenangkan sekali mendengar ia berceloteh semua tentangmu, dan tentang si Tuan yang sedang ia cintai, serta tentang si jahat yang sudah membuatnya hancur. Hanya masalahnya yang tidak ia ungkit sama sekali. Oke, ini terdengar gila, tapi sepertinya aku menyukai pribadi Zi. Ah, kau pun tentu menyukainya, kan?

D, setelah kemarin aku berpamitan pada Ambu, suratku kali ini untuk memohon pamit darimu. Ini adalah surat terakhir untukmu meski aku berharap kita masih bisa bertegur sapa jika berpapasan suatu hari nanti, entah di mana. Mungkin aku akan terus menulis untuk hal-hal unik yang kutemui di jalan, atau menulis artikel dan kukirimkan pada media, pokoknya akan tetap menulis, namun tak lagi menulis untukmu pun Ambu. Tersebab urusan kita telah selesai. :')

Uhm, sebelum kita benar-benar berpisah, bisakah kita bertemu dahulu, kau, Zi, dan aku? Sekali, saja. Selanjutnya terserah kau mau bagaimana.

Kutunggu kabar baiknya.
Uni.

#30HariMenulisSuratCinta

[26] Mari Ucapkan Salam Perpisahan

Written by Uni Dzalika

Hai

Terima kasih telah berbagi cerita bersamaku, kemarin. Semula kupikir kau pacarnya Zi, ternyata bukan. Ia menolak itu mentah-mentah. Jadi, sah-sah saja kan, jika aku menumpang keluh kesah padamu barang sehari saja, suatu hari nanti?

Ah, tapi kutahu kau teramat mencintainya. Okelah, titip Zi baik-baik ya. Tugasku selesai. Mungkin ini saatnya kita berpisah. Mari ucapkan salam perpisahan padaku, D.

#30HariMenulisSuratCinta

[25] Last But Not Least

Written by Uni Dzalika


Hai, Ambu.

Zi benar-benar sudah kembali, tetapi hanya fisiknya saja. Sifat-sifat lamanya telah mati, katanya. Ia kembali dengan perasaan dan pemikiran baru. Telah ia curahkan seluruh gundahnya pada D selama beberapa jam, dan kutemukan binar di wajahnya. Ia semringah. Ia bisa tertawa lepas. D membuatnya ingat pada mimpi-mimpi dan ambisi Zi di masa dulu. Dan ia bercerita tentang apa-apa yang terjadi selama ia menghilang berbulan-bulan lamanya.

Tetapi Zi tidak bertemu D saat itu. Belum. Mereka memutuskan terhubung lewat telepon. Pada D, ia tidak takut terlihat bodoh, berani menjelaskan hal-hal yang mungkin saja, bagi orang lain itu gila. Tetapi D tetap mendengarkan, tidak mencela atau mengejek, bahkan ia menanggapi semua ucapan sinting. Zi terus saja bercerita sampai melelehkan air mata.

Adalah kalimat dari D bahwa "Kan, udah dibilang dia bukan orang yang baik buatmu," menjadi benar adanya. Dulu Zi selalu menampik itu, tetapi sekarang ia sadar. Betapa bodohnya ia yang terlalu lama berlarut-larut dalam kubangan duka. Ah, syukurlah, ia tidak mati karena patah hati. Ia mulai menyelesaikan masalahnya satu persatu.

Ambu, sebab Zi telah kembali dan sejak kutahu ia baik-baik saja, mungkin ini menjadi surat terakhir untukmu. Tenang, bukan karena aku marah atau kesal karena tak satu pun surat kau balas, bukan. Barangkali kau yang akan marah padaku karena beberapa hari ini tak berkabar surat padamu, dan tiba-tiba ini menjadi surat terakhir. Dari hati terdalam, aku minta maaf. Berakhirnya surat-suratku karena aku tak lagi memiliki alasan untuk berkirim surat padamu, olehkarena cerita tentang Zi sudah selesai ; Ia kembali, baik-baik saja, dan sedang membangun ulang impian dan cita-cita yang tertunda.

Ambu, terima kasih banyak telah membaca surat-suratku. Semoga kau pun selalu kuat menghadapi masalah. Kisah Zi belum tamat, tetapi aku sudah harus mengakhiri hubungan denganmu. Ambu, aku pamit.

Sayonara,
Uni.

#30HariMenulisSuratCinta

[24] Ada Pertemuan Penting

Written by Uni Dzalika

Selamat pagi, Ambu.

Bagaimana perasaanmu ketika aku belakangan ini tak memberi kabar? Bukan maksudku menghilang agar kau mencari. Tetapi aku begitu sibuk mengurus kepulangan Zi. Dan aku sedang membantunya hari ini, bertemu dengan... uh, bukan pacar, bukan sahabat, ya.. kau tahulah.

Aku mempertemukan Zi dan sahabat baiknya, D. Sore ini. Kukabari lagi perkembangannya, secepatnya.

Yang meminta doa kelancaran padamu,
Uni.

#30HariMenulisSuratCinta

[23] ...

Written by Uni Dzalika

D,

Terima kasih sudah meninggalkan pesan pada Zi, setidaknya mengabarkan kalau kau tak akan datang. Karena kau tak datang, Zi akhirnya menceritakan semuanya, padaku. Ya ampun, kuharap kau segera menemui dia agar kau bisa meringankan bebannya.

Maaf, tidak banyak yang dapat aku tuliskan di sini, aku kehabisan banyak kata-kata.

U.

#30HariMenulisSuratCinta

[22] Besok, di Tempat yang Dijanjikan

Written by Uni Dzalika

Hai D, selamat sore.

Ini genting. Kau tidak membaca surat yang Zi tuliskan untukmu? Dia mengajakmu bertemu besok di Perempatan Air Mancur Bogor. Aku sudah menemuinya dan mengajaknya makan di salah satu kedai. Tapi ia tidak mau bicara sepatah kata pun. Ia menunggumu, sepertinya hanya mau kepadamu ia berbicara. Ayolah, kutunggu kau besok. Kau tak mau ia menghilang lagi, bukan?

Sincerely,
Uni

#30HariMenulisSuratCinta

[21] Bisakah Kita Bertemu Lagi?

Written by Uni Dzalika


KOTA BANDUNG selalu punya cara untuk memanggil saya ; urusan pekerjaan, reuni, atau undangan gathering. Dan bulan ini saya mendapat tiga undangan acara, yang salah satunya dari Anda, Bosse. Terima kasih atas undangannya yang sangat memanjakan ; penuh sapaan hangat, disediakan peta, juga foto lokasi. Tetapi untuk datang ke sana, saya belum berani berkata "Iya."

Andaikata saya bisa datang atas seizin Tuhan, saya ingin sekali mengenalkan Zi -orang yang selalu saya kisahkan dalam surat-surat #30HariMenulisSuratCinta kepada semua teman-teman yang datang. Pun ingin menikmati jamuan dan menyaksikan kegiatan selama acara berlangsung. Tentu menyenangkan, orang-orang yang sebelumnya dikenal di jagat maya, bisa bertatap muka di dunia nyata. Membayangkannya saja sudah membuat saya gembira.

Namun jika saya tak mendapat restu dari Tuhan untuk datang, sungguhlah menyesal dan hanya kata maaf yang dapat saya ucapkan. Dengan segala hormat, jika saya tidak datang, tetaplah berkabar lewat timeline mengenai acara tersebut agar saya selalu tahu kemeriahan apa saja yang sedang berlangsung.

Sekali lagi, saya tak berani berkata 'Iya' pun 'Tidak' . Kita lihat saja nanti. Meskipun kata 'Nanti' bisa berarti tidak akan pernah, tapi percayalah, saya sungguh ingin datang memenuhi undangan Anda.

Tabik,
Uni

#30HariMenulisSuratCinta

[20] Seperti Asing di Tempat yang Seharusnya Tidak Asing

Written by Uni Dzalika


With all my confused, frustrated and sad one,

For D - my best friends, who feels no true joy, I am writing to you as someone who does not want to feel afraid, and yet, you may well know about myself. Hey, D. We both knew that there are people around who love me. There is at least one; one who would do anything for me to feel valued, worthy, precious, happy, and the person is you, D.

Selama ini saya menghilang. I was afraid because sometimes the path is dark... The path is twisted, unexpected and strange. I end up feeling perplexed and desiring a feeling of relief; and this feeling of relief, I suppose sometimes, comes from resignation or denial.

D, I'm here already and I wish I know how to tell you why I’m feeling depressed but the truth is I don’t fully understand myself. One thing I’m often asked is, “how do I tell you about how I feel when I don’t even know how I feel myself?” also I know at times I feel totally empty, as if every particle of my being has been sucked into a black hole. At other times I feel crushed, my spirit devoid of human warmth, and these are feelings I simply cannot control. I often feel exhausted by the simplest of tasks. Poor me.

D, The time has come for me to move on from the past. I don’t come to this decision lightly, however, but now that I’m older, I’ve finally realized that there’s a world of difference between living happily ever after and just living ever after. I may seem strong. But I’m not I’m just like anyone else. Now I can’t stand this empty feeling that I’m having. My head is horrible. I hope I can stop the pounding, it hurts so much. Please pray for me. I’m tired of trying.

Don't worry, It's not a suicides letter. I still remember your words, "Be sure of God’s omnipotence. He is Creator of all and holds all in His hands."

But the important things I would say in this letter is,

Can we meet?



Always yours,
Zi.

#30HariMenulisSuratCinta

[19] Tetapi Kau Bukan Kau yang Kukenal

Written by Uni Dzalika

Ambu, balaslah suratku.

Setelah kemarin bersama Zi, aku kehabisan kata-kata yang ingin kusampaikan padanya. Pun kehilangan tanda tanya yang selama ini ingin kulontarkan padanya. Ia begitu berbeda dengan yang diceritakan orang-orang, dan aku hampir tak percaya orang yang sedang bersamaku ini, apakah sama dengan yang sering mereka ceritakan.

"Jadi, hatimu sudah kuat?" tanyaku padanya ketika kami berjalan di Jembatan Merah gantung, Kebun Raya Bogor. Dia hanya mengangguk. Selanjutnya semua pertanyaanku hanya dijawabnya dengan anggukan, gelengan, tanpa sanggahan. Diamnya ia membuatku berkesimpulan, bahwa hatinya tetaplah rapuh, namun berusaha untuk ditutupi.

Ambu, Zi yang kembali ke hadapan kami, bukanlah Zi yang kami kenal. Ia tak mau lagi menjadi orang terkenal dan tidak lagi emosional. Ia menjadi sangat tertutup akan segala hal. Waktu kutanya padanya, tentang siapa orang yang dapat ia percaya sekarang ini, ia menatapku lama dan menjawab dengan sangat pelan, "Di depan siapa saya menangis, pada dialah saya taruh seluruh kepercayaan saya."

Dan aku tak berani lagi bertanya kepada siapa ia perlihatkan tangisannya. Ambu, beritahu aku bagaimana caranya memberi kekuatan, bukan hanya untuk Zi, tetapi juga untuk setiap hati yang rapuh.

Uni.

#30HariMenulisSuratCinta

[18] Dan Akhirnya Kau Pulang Ketika Saya Nyaris Lelah Menunggumu

Written by Uni Dzalika


Ambu, penantian kita berbuah hasil. Setelah dua tahun menghilang, Zi akhirnya pulang. Aku adalah orang pertama yang ia temui dan kami menghabiskan waktu duduk berdua, jalan sesekali ke beberapa tempat. Kuajak ia berkeliling sekadar windows shopping dan ia manut saja, tetapi sepanjang kebersamaan kami, tidak banyak yang ia bicarakan, sementara aku tak ingin bertanya apa pun. Melihatnya baik-baik saja, itu sudah cukup.

Ia memintaku menghubungi D, ibunya, dan rekan-rekannya, untuk mengatakan bahwa ia telah kembali dan siap menyelesaikan masalahnya.

Ambu, pada matanya kutemukan banyak sekali rahasia, dan gurat wajahnya menyimpan segala sakit yang berusaha ia sembunyikan. Ia terlihat lebih tua karena beberapa kerut di dahi dan kantung matanya menghitam. Parahnya, ia lupa caranya tertawa.

Tak banyak yang bisa kuceritakan, tetapi melihatnya sekarang membuatku ingin menangis. Tapi tak kucucrkan air mataku di depannya, tak mau ia ikut bersedih. Ia sudah terlalu lama menghilang tetapi aku yakin, hatinya sudah kuat menghadapi segala cobaan.

Yang tak lagi gelisah,
Uni.

#30HariMenulisSuratCinta

[17] Hingga Hari Ini

Written by Uni Dzalika


Ambu,

Malam menjadi begitu panjang dengan doa-doa yang selalu dipanjatkan, Dan pagi menjadi sangat lama ketika kita menunggu suatu hal. Tapi semuanya bisa terlalu singkat jika kita lengah menunggu. Semacam petasan pada malam-malam sebelum pergantian tahun. Kita seperti anak kecil yang sejak siang begitu antusias membeli petasan, namun harus menunggu malam untuk meledakkannya, menungu hujan berhenti untuk menyalakan api, menunggu waktu yang pas pada pukul dua belas tepat, kemudian ketika tiba saatnya, mata kita justru terpejam, dan terbangun ketika semuanya telah berakhir, dengan langit kelabu dan sisa-sisa sampah petasan yang teronggok di sudut jalan.

Sekejap saja lelah menunggu, kita akan kehilangan momen itu.

Maka aku memilih berdiri di setiap jembatan yang ada di Bogor, barangkali bisa kutemukan batang hidungnya di salah satu perempatan jalan. Aku tak mau lengah menunggu Zi, sehingga kukorbankan waktuku untuk menunggunya di setiap jembatan yang kukunjungi. Sebagaimana yang ibunya ceritakan kemarin, Zi seringkali duduk sendirian untuk beberapa menit di jembatan manapun. Ia menyukai jembatan. Kata ibunya, Zi bilang jembatan itu ajaib. Jembatan seperti tangan Tuhan ; bisa menghubungkan dua hal yang sebelumnya terpisah. Dan Zi suka berdiri di jembatan. “Seperti dirangkul Tuhan,” katanya kepada sang ibu sebelum pergi.
Ambu, doakan aku, segera menemukannya, secepatnya.

Yang mulai lelah mencari, tapi masih setia menunggu;
Uni.

#30HariMenulisSuratCinta

[16] Saya pun Menunggu

Written by Uni Dzalika


Untuk seorang lelaki yang bahkan belum saya ketahui siapa Anda.

Hai, Tuan. Orangtua saya mengajarkan untuk mencintai Tuhan dan Rasulullah sejak kecil, meski saya pun belum pernah melihat wajah keduanya. Tapi saya berhasil mencintai mereka dengan cara saya, dan karena itu, saya pun berpikir untuk bisa mencintai Anda meski kita belum pernah bertemu, atau mungkin pernah bertemu tetapi kita tidak saling menyadarinya.

Ketika saya menuliskan surat ini, Tuan, tak ada satu pun wajah lelaki yang saya bayangkan. Saya menulisnya dengan imajinasi kosong dan pemikiran jernih, murni untuk Anda. Dan saya tergerak untuk menyampaikan surat ini sebelum mengenal Anda. Ini aneh, ketika saya mau menuliskan surat padahal belum mencintai Anda, sementara sebelumnya ada lelaki yang pernah saya cintai, atau lelaki yang saya tak mau mengaku kalau saya mencintainya, atau lelaki yang saya cinta tetapi tak mungkin bisa memilkinya, namun tak satu pun dari mereka yang saya kirimi surat, (Oh, sebentar, jika Anda membaca seluruh isi blog saya, kau tahu saya berbohong di bagian ini).

Dulu saya tidak terlalu sabar menunggu Anda, saya berpikir ketika saya cinta, mungkin itulah Anda, pasangan hidup saya. Tapi pengkhianatan mengajarkan saya untuk lebih berhati-hati. Diduakan membimbing saya untuk tak mudah percaya, dan disakiti memberikan saya kekuatan untuk lebih bersabar menungu kedatangan Anda. Kelak, ketika Anda datang nanti, saya yakin Anda tak akan pernah mengkhianati, membohongi, atau menyakiti saya. Saya yakin itu, dan saya akan melakukan hal yang sama.

Tuan, dengan cara seperti apa Anda menghabiskan masa remaja? Hidup saya semasa remaja kadang terlalu membosankan dengan segala hal baik dan kesempurnaan yang dimiliki, karenanya saya kerap berbuat onar. Sebagian orang mungkin telah membenci ulah saya, tapi karena ulah tersebut, tentub saya akan punya banyak kisah untuk diceritakan pada anak-anak kita kelak, sementara orang-orang baik itu, hanya akan hidup baik sepanjang masa dan mendidik anak mereka dengan baik, tanpa ada pengalaman buruk yang dapat mereka ceritakan. Begitulah, semoga Anda mau menerima saya yang pernah buruk semasa muda.

Dan, hidup bisa jadi begitu bijaksana. Saya selalu mengatakan takut tua dan tak mau menjadi dewasa, tetapi, di ulang tahun saya 2013 lalu, saya berubah dengan sendirinya. Menjadi begitu patuh dengan segala aturan, tiba-tiba terbuka dengan segala nasihat, dan berhenti memusuhi segala hal yang tidak saya suka. Ibu pun merasakan perbedaan itu dan meski ia menyukai saya yang sekarang, katanya ia rindu saya yang pemberontak. Bagaimana dengan Anda? Tipe lelaki pemberontak atau yang penurut, Tuan?

Omong-omong, saya sering kehabisan napas untuk melangkah dalam menghadapi perjalanan hidup. Mudah tersandung dan jatuh berkali-kali, menimbulkan luka di beberapa tempat. Kadang saya menangis ketika tak lagi kuat menahan pedih, tetapi sekarang memilih menyembunyikan rasa sakit saya. Tuan, kiranya Anda sudi untuk menguatkan saya kalau lagi-lagi tersandung dalam melangkah, jika kita sudah bertemu pada waktunya.

Aduh, surat ini isinya penuh sekali dengan basa-basi yang terlalu klise. Mungkin ada baiknya saya sudahi saja. Tetapi, ada satu hal lagi yang ingin saya tanyakan. Apa yang selalu Anda lakukan sebelum menjemput saya, Tuan? Saya di sini, menunggu dengan sabar. Saya belajar menunggu Anda seperti Fatimah Az Zahra anak baginda nabi, yang terus berdoa dalam diam kepada Allah ketika menunggu Ali bin Abi Thalib meminang. Atau seperti Khadijah binti Khuwailid yang penuh kesabaran menunggu Rasulullah melamar meski usianya tak lagi muda. Atau seperti Zainab kakaknya Fatimah, yang sukacita menyambut seluruh kekurangan seorang Abil ‘Ash bin Rabi’ sebelum mereka menikah, kemudian mau menerima suaminya kembali ketika telah bercerai.

Saya barangkali tidak bisa sesempurna mereka, tetapi saya akan menunggu dengan cara saya, dan terus belajar memantaskan diri agar bisa mengimbangi isi kepala Anda. Nantinya, ketika kita akhirnya bertemu, saya bukan hanya ingin Anda menjadi kepala rumah tangga, tetapi juga teman hidup. Saya tidak bisa janji menjadi perempuan sempurna, namun saya berjanji akan selalu ada untuk Anda.

Seperti itulah cinta yang saya tawarkan, Tuan. Secukupnya. Sewajarnya. Seadanya. Semampu yang saya bisa. Semoga kita bisa saling mencintai, kelak.

#30HariMenulisSuratCinta

[15] Ibumu (pun) Menunggu

Written by Uni Dzalika


Ambu.

Kemarin aku tak mengirim surat, bukan karena aku marah, bukan. Aku sibuk berbincang dengan kurir pos yang terus menerus mengantarkan suratku untukmu. Dia cantik, baik, dan menitipkan salam untukmu. Ambu, mari baca ceritaku kali ini. Aku sudah bertemu ibunya Zi. Dan aku berhasil merekam obrolan kami, tanpa sepengetahuan beliau. Kami duduk santai di depan teras, meski ibunya menyuruh untuk masuk ke dalam, kurasa lebih pantas duduk saja di luar. Malam tadi aku bergadang, kutranskrip utuh perbincangkan kami, untuk kau baca.

“Jadi, ke mana Zi?”

“Kamu temannya?”

“Anggap saja begitu, bu.”

“Dia sudah lama pergi.”

“Ke mana?”

“Entah eeh, ibu juga nggak tahu. Udah lama nggak ngasih kabar.”

“Ibu kenapa nggak lapor polisi?”

“Loh memang bisa minta tolong polisi tanpa bayaran?”

“Memangnya nggak bisa?”

“Entah.”

“Jadi, sejak kapan Zi menghilang?"

“Dia anaknya aktif sekali. Kadang pergi pagi buta, pulang dini hari, nanti dia cerita lewat tempelan kuklas.”

“Tempelan kulkas?”

“Iya, soalnya saya sama anak saya sama-sama sibuk, nih. Nanti kalau dia yang libur bisa semingguan di rumah, tapi pas saya yang kerja.”

“Maksudnya tempelan kulkas, gimana bu?”

“Ya… karena kami sibuk, jadi Zi dan ibu suka menulis pesan di memo, nanti memonya ditaruh di pintu kulkas pakai tempelan magnet. Kadang, di depan pintu kamar mandi tempel pakai selotip.”

“Isinya?”

“Ya macam-macam. Kadang pesan mau pergi ke mana, berapa lama, dengan siapa. Kadang juga pesan kebutuhan pangan apa yang sudah habis, atau mengabarkan ada makanan apa yang disimpan di dalam kulkas.”

“Kenapa nggak di sms atau email?”

“Supaya sama-sama merasa sedang berbicara di rumah. Kami suka menulis. Dan karena kami sibuk, jadi hanya tulisan yang bisa menyatukan kami.”

“Terus Zi nggak ngasih surat akan pergi ke mana sebelum pergi?”

“Nggak.”

“Ibu nggak takut dia kenapa-kenapa atau, maaf, mati di jalan, misalnya?”

“Dia bisa jaga diri, ibu tahu itu. Kalau pun dia mati di suatu tempat, yasudah. Mati itu adalah hal yang pasti, bukan?”

“Tapi semua orang mencari Zi, bu.”

“Mencari atau hanya kepo nih? Mencari artinya bukan hanya bertanya, loh.”

“Saya mencari, bu.”

“Kamu temannya?"

“Anggap saja begitu...”

Kemudian kami meminum teh rosella yang beliau hidangkan. Sore itu ibu Zi belum menutup gorden sehingga mataku dengan leluasa dapat melihat apa yang ada di dalam rumah. Ibu Zi masuk sebentar ke dalam rumah lalu kembali ke teras menemuiku, memamerkan baju-baju kebaya buatannya yang begitu bergaya. Warnanya merah muda, dengan payet berwarna oranye campur kuning, dan songket merah mudah bergradasi abu-abu. Katanya ibu, baju itu akan ia berikan untuk Zi, kelak ketika ia akan wisuda nanti. Berikutnya ia memegang pakaian panjang berwarna hijau muda, untuk Ia gunakan ketika menemani Zi wisuda nanti. Ibunya selalu berangan-anagan akan datang ke sana, bersama nenek Zi yang sudah lama juga menginginkan momen itu tiba. Tapi Zi entah ada di mana, sementara neneknya tak bisa menunggu lebih lama. Ibu lembali bercerita bahwa pada malam selasa di beberapa bulan setelah Zi menghilang tanpa kabar, neneknya pun menutup mata untuk selamanya.

Ambu, apakah kau tipe wanita yang seperti ibu Zi? Yang menyimpan rapat-rapat rasa cemas dan mengabaikan gundah, mengubur ketakutan yang membuncah dan memilih untuk memasang wajah cerah, pada semua orang. Apakah kau begitu? Setelah aku menemui ibu Zi, aku jadi paham. Wajar saja jika Zi menghilang. Ia mungkin tak bisa seperti ibunya yang pandai menyembunyikan kesedihan, dan karenanya ia memilih bersembunyi. Ah, Ambu, kau harus menemui ibunya Zi. Dia baik sekali.

Regards,
Uni.

#30HariMenulisSuratCinta

[14] Sini, Aku dengan Sabar Menunggu

Written by Uni Dzalika


Selamat sore.

Halo ka Iit, kurir posku yang selama ini mengantar surat untuk Ambu (dan untuk Zi dua kali). Aku yakin surat-surat itu akan dibaca oleh Ambu ketika kau mengantarnya tanpa lihat jam kerja. Terima kasih ya, kau sungguh berjasa telah menolongku dalam mengirimkan surat–surat tersebut.

Omong-omong, ada sesuatu yang ingin kutanyakan. Apakah ada yang lebih membosankan dari menunggu, ka Iit?

Aku bosan sekali menunggu balasan surat dari Ambu. Dia, orang itu, entah sedang apa sekarang. Ambu adalah sebutan untuk ibu dalam bahasa Sunda, ka Iit tentu tahu itu. Tidak banyak yang tahu nama aslinya, karena ia lebih menyukai semua orang memanggilnya begitu. Ambu, orang yang selama ini kukirimi surat, setahuku selalu sabar menunggu berkali-kali. Pada mulanya ia menyikapi dengan bijak, ketika apa yang ia panjatkan dalam doa-doa belum juga Tuhan kabulkan, lantas menunggu dan terus bersabar menunggu, sebab ia yakin Tuhan selalu punya rencana yang lebih baik. Ambu selalu sabar menunggu untuk sesuatu yang ia inginkan. Tak peduli waktu telah menggerus usianya, ia akan dengan sabar menunggu.

Ambu dulu ingin sekali punya kamera. Seorang teman memunyai kamera tetapi hanya dia pakai untuk memotret diri sendiri. Ambu bertekad, kelak ketika ia punya kamera, akan ia gunakan untuk memotret pemandangan dan kegiatan sosial. Ia dengan telaten menunggu dengan menabung, dan empat tahun kemudian ia baru mendapatkan kamera dengan kualitas baik dan ia benar-benar menggunakannya untuk kepentingan sosial.

Pernah juga ia menginginkan gawai yang bisa menopang kebutuhan komunikasinya dan ia butuh lima tahun untuk mendapatkan gawai yang ia inginkan, meski sebetulnya ia mampu saja meminta keluarganya membelikan, tetapi ia memilih untuk mendapatkannya dengan jerih payah sendiri.

Lain waktu, ia seringkali menangis jika ibunya menyuruh untuk minum air putih. Ambu benci air putih dan ibunya berinisiatif dengan menambahkan es batu agar airnya dingin, segar, dan Ambu baru mau meminumnya. Lambat laun Ambu tidak tega ketika tiap kali melihat ibunya berkeliling mencari es batu dan Ambu berdoa pada Tuhan, semoga ia ada rezeki untuk membeli kulkas. Tujuh tahun kemudian, akhirnya mereka memiliki kulkas dan Ambu jadi sering sekali meminum air putih.

Ambu tak pernah iri. Ia yakin, tiap orang memiliki rezekinya masing-masing. Begini ka Iit, coba kau keluar ruangan dan berdiri menghadap langit kala hujan jatuh ke permukaan bumi. Curah hujan yang deras dan tetesnya yang tidak dapat kita hitung itu, kelihatanya ada banyak sekali. Bahkan dalam bahasa Inggris hujan termasuk ke dalam golonngan uncountable atau tidak dapat dihitung jumlahnya. Tetapi, coba ketika hujan itu, kau tadahkan tanganmu. Berapa banyak tetes hujan yang dapat kau tampung di kedua telapak tanganmu? Sebanyak itulah rezeki kita. Dan Ambu percaya, rezeki setiap orang tidak akan berkurang. Makanya ia tak pernah iri atau dengki melihat kepunyaan orang lain, tidak juga sedih melihat kesuksesan orang, Ambu adalah wanita yang selalu turut berbahagia tanpa ad rasa iri, dan karenanya semua orang menyukai Ambu.

Terakhir dia punya impian pergi keliling Eropa, tetapi yang berhasil mewujudkan itu justru teman-teman dekatnya, dan dia ikut berbahagia atas berita itu. Kemudian aku menemukan secarik kertas alamat di Inggris yang ia berikan itu sebelum hilang kabar, sehingga aku bisa mengiriminya surat.

Dan aku, belajar darinya untuk bersabar menunggu. Bersabar mendapat balasan surat darinya, meski itu membosankan.

Warm Regards,
Uni

#30HariMenulisSuratCinta

[13] Ayo Kembali, Zi

Written by Uni Dzalika

Selamat pagi, Zi.

Ini adalah surat kedua yang kukirimkan untukmu, setelah yang pertama kutitipkan lewat D, tempo hari. Surat ini pun nantinya akan kuberikan melalui D dan kami sudah sepakat untuk bertemu di Jembatan yang tidak kuhafal namanya. Aku mengirimi kau surat untuk memberi dukungan, walau kutahu kau sebetulnya perempuan kuat dan tangguh dalam mengahdapi berbagai cobaan, dan kau tak pernah meminta bantuan pada siapa pun untuk menyelesaikan masalahmu, bukan? Baiklah, anggap saja surat ini sebagai surat peringatan.

Kau ingat? Semasa kecil saat berusia lima, kau pernah bertemu seorang peramal dan dia berkata bahwa kau adalah gadis dengan kecerdasasan di atas rata-rata. “Kepintaranmu akan melebihi kakak-kakak dan temanmu, dan hati-hati, karena itu kau bisa saja dijauhi, sembunyikan,” kata paman peramal itu. Kau belum mengerti mana yang harus kau saring dan yang boleh kau percaya, tapi kalimat paman tersebut menyakinkan kau untuk tetap menyembunyikan apa yang kau punya.

Dan mulai kejadian ketika kau kelas dua SD saat nilai matematikamu seharusnya seratus karena benar semua, tetapi gurumu tak percaya itu, kau justru dihukum. Kelas tiga saat pelajaran seni, kau menggambar paling baik dan mendapat nilai sempurna, dan karena teman-temanmu iri, esoknya kau menemukan gambar itu tergeletak di tempat sampah. Kau menangis saat itu juga dan mereka tertawa. Dan detik itu pula, kau bertekad untuk tidak menangis. Sembunyikan kelemahanmu, dan menunjukkan bahwa kau jauh pintar di atas mereka. Kelas tiga, kau mendapat rangking tujuh, tentu saja ada yang menyukainya. Tetapi dalam waktu dekat itu kau merayakan ulang tahun dengan mengundang teman-temanmu, kau jamu mereka dengan baik, penuh dengan kue melimpah dan lagu-lagu terbaik, lalu sejak hari itu mereka percaya akan kemampuanmu tetapi kau memutuskan untuk pindah sekolah.

Di sekolah baru, justru perlakuan yang lebih parah kau dapatkan. Kau tahu, kau yang terkaya saat itu di kalangan teman-temanmu. Dan karena iri, mereka merusak kamera satu-satunya peninggalan almarhum ayahmu yang ia beli di Malaysia. Belum lagi buku-buku koleksimu yang dijatuhkan di selokan, tempat pinsil yang diambil, jangkar yang dicuri, meja yang dilumuri kotoran, pakaian olahraga yang disembunyikan, dan juga uang jajan yang dipalak. Mereka, teman-temanmu, bahkan bersengkokol dengan guru di sekolah, menyuruhmu membersihkan lantai saat jam pelajaran, menyetrap karena tak mengerjakan PR padahal semua murid di kelas pun tak mengerjakan, menyikat kamar mandi dengan alasan yang aneh, dan mengambil uang tabunganmu. Ah, cukup, aku tak sanggup lagi menceritakannya. Satu hal yang kuingat, kau belajar untuk tak pernah percaya lagi pda siapa pun, kecuali keluargamu.

Berangkat dari kisah masa kanak-kanak itu, menjadikanmu gadis yang sangat berandal semasa SMP, Zi. Kau perusak, pemberontak, pemarah, dan pembual paling ahli selama tiga tahun. Dan kau tak pernah menyesalinya. Kau mulai menjadi orang yang licik dan pandai mengatur strategi, menjatuhkan lawan, dan mensiasati segala keadaan, tetapi itu adalah baik dalam urusan perkuliahanmu. Kau tahu itu. Kau ingat saat itu ada seorang peramal lagi yang datang menemui tiba-tiba dan mengatakan hal serupa seperti saat usiamu lima tahun. “Kecerdasanmu... Sembunyikan, buktikan, dan Jatuhkan.” Hanya itu kalimatnya dan kau akan selalu ingat itu.

Kau betul-betul menjadi orang yang tanpa ampun dan pandai menciptakan segala kegiatan. Kecuali setelah hari itu, ketika kau berdiri dalam guyuran hujan di depan Pangrango, saat itu lah, kau runtuh. Kau menjadi orang yang sangat takut akan segala hal dan merasa bodoh, tak berguna, dan bukan lagi kecerdasanmu yang kau sebunyikan, tetapi juga jasadmu.

Suatu waktu kau keluar dari persembunyianmu, dan kau bertemu dengan dua orang yang tidak terlalu memahamimu tetapi mereka bisa membacamu melalui tulisan tangan. Kemudian, mereka bilang, “Kamu adalah perempuan dengan kecerdasan rata-rata dan orang seharusnya takut dengan apa yang kamu miliki. Kamu pintar, cerdas, tetapi kenapa kamu sembunyikan?” sebuah ucapan yang sama dari tiap peramal dengan akhir yang berbeda. Dan kau tahu, telah salah menyembunyikannya.

Kau jelas-jelas tahu itu, Zi. Kecerdasanmu bisa membantu keluar dari masalah dan kau tak butuh dukungan atau peolongan, kau mampu menyelsaikan masalahmu sendirian, kau tahu itu. Ayolah, bangkit, keluar dari persembunyianmu dan selesaikan masalahmu. Kau tak perlu waktu yang lebih lama untuk menyendiri. Zi, waktu berputar terlalu cepat, dan kau akan kehilangan banyak momen jika kau terus bersembunyi. Lupakan urusan patah hati, abaikan perasaan cinta, selesaikan masalahmu dan kembali kejar cita-citamu yang sempat kau kubur. Gali lagi semua doa dan harapanmu, aku yakin kau bisa meraihnya. Kau ini orang ambisius yang jika menginginkan sesuatu, akan selalu tercapai, begitu, kan?

Zi, buka matamu, dan lihatlah, ibumu menunggu kabar kesuksesan darimu. Jangan bersembunyi lebih lama lagi, karena waktu tak memberi kompensasi untukmu. Aku yakin kau bisa menghadapinya. Tak apa jika kau ingin marah, menangis, sakit hati atau benci, tak apa. Yang penting pikiranmu tetap jernih untuk menyelesaikan semua masalah yang sedang kau hadapi. Sekali lagi, aku yakin kau bisa. Pulanglah Zi, dan akan kuberikan pelukan terbaik untuk menenangkanmu. Kau tidak sendirian, sayang.

Tabik,
Uni

Ps. : Kalau kau tanya mengapa aku bisa tahu itu semua, itu karena buku diarimu. Kau bersahabat dengan tulisan. Buku harianmu menumpuk dan sudah kubaca tuntas semuanya.

Yuk Berlangganan!

Nggak mau ketinggalan informasi dari blog ini? Let's keep in touch! Tinggalkan alamat e-mail kamu dan dapatkan review artikel, tutorial, serta tips menarik secara gratis! :)

  • About Dza
  • About
  • Shop
  • FAQ
  • Explore
  • Lifestyle
  • Tips
  • Salero Uni
  • E-commerce
    Connect

Copyright Forever Young Lady All rights reserved. Design by Jung - Good Ideas. Great Stories.