[Book Review 2015 – 01] : Kematian yang Ganjil dan Kisah Ganjil Dalam Buku “Badut Oyen” – Gramedia Writing Project

Title : Badut Oyen
Author : Marisa Jaya, Dwi Ratih Ramadhany, Rizky Noviyanti
Total pages : 224 pages
Publisher : Gramedia

~

Blurb :
Oyen, si badut kampung, ditemukan mati gantung diri di kamarnya. Tak seorang pun percaya pria sebaik Oyen bisa seputus asa itu hingga mengakhiri nyawanya sendiri.

Pihak kepolisian berusaha mengusut kasusnya dan menemukan banyak keganjilan dalam kematian pria itu. Tetapi, ketika tersangka yang dicurigai polisi ditemukan mati mengenaskan, kasus kematian Oyen kembali tak terpecahkan. Kampung mereka diteror hantu badut yang menghampiri anak-anak, bahkan mulai meminta korban.

Apa yang sebenarnya terjadi?

~

Review :

Saya sudah lama menabung uang untuk beli dress yang saya mau, eh pas jalan ke mall, mampir ke toko buku, terus tangan saya dengan sendirinya ngambil buku ini. Implusif sekali. Tapi nggak apa deh, inget juga dulu datang ke launcing buku ini bulan April tahun lalu, dan belum sempat beli saat itu. Akhirnya buku Badut Oyen ini saya bawa ke kasir dan dibaca malam itu juga. Oh, meskipun Badut Oyen bukan buku pertama yang saya beli di tahun 2015, tapi ini buku pertama yang baca di tahun ini. Aduh, sayang banget Januari kemarin nggak sempat baca buku apa pun, hih. Okelah, langsung aja ke review-nya deh.

1. First Impression :

So far saya menaruh ekspetasi tinggi ke buku ini, karena editornya mbak Anastasia Aemilia – penulis buku Katarsis, favorit saya, lalu mentornya mbak Clara Ng, dan juga mbak Hetih Rusli. Tentunya dengan arahan dari orang-orang kece itu, naskah yang dibuat bisa jadi halus, kan? Tapi kembali ingat, kalau ini bukan buku tunggal, dalam arti dikerjakan oleh tiga orang yang mana menjadi debut novel bagi mereka bertiga (eh, betul nggak? Atau ini bukan debut?), dan yah, harus menurunkan ekspetasi sebelum membacanya. Namun, ketika sudah saya turunkan ekspetasi, rupanya saya masih kecewa juga pas baca, karena ini lebih banyak mengusung horor ketimbang thriller di mana horornya kurang mencekam karena kesan mistisnya belum kerasa banget, tapi tetap kok, saya baca sampai akhir.

2. Design cover & layout :

Kehilangan, penderitaan, kelam, dan sepi, sepertinya itu yang ingin disampikan di gambar kaver, dan saya suka. Perpaduan warna putih gading bersiluet merah serta bercak yang berwarna abu-abu menjadikan pembaca penasaran untuk membacanya. Untuk layout, agak terganggu dengan pembatas cerita berupa gambar macan. Unyu banget, beda sama cerita, hehehe, dan nggak konsisten karena cuma ada di beberapa bab saja, atau memang sengaja? CMIIW.

3. Main Idea :

Ini serupa sama Katarsis (Aduh, mohon maaf bukan bermaksud membandingkan atau menyamakan.) di mana ada pembunuhan berantai tanpa motif yang jelas dan alibi yang terselubung. Berawal dari dendam yang dirahasiakan dari semua tokoh, kemudian setiap kejadian meneror tokoh-tokoh pendukung lain.

Sudah ada beberapa buku dengan main idea seperti ini, tetapi Badut Oyen menyuguhkan dengan sudut pandang berbeda dan gaya bahasa yang sangat ringan sehingga mudah dicerna. Pun kasus dan setting yang diangkat dekat dengan keseharian kita tentang kebersamaan, status sosial, rukun tetangga, dan cinta, tentunya.

4. Characters :

Tokoh utama sebetulnya cuma dua; Oyen – orang yang berkerja sebagai badut penghibur di kampung, dan Suparni – sahabatnya yang berkerja pada Oyen. Ada juga Iryanto sebagai Pak RT yang menjadi tokoh pendukung kuat, Nanang si polisi, Rata, Rudi, Dinda, Ramadhan, dan para tetangga lain yang tinggal sekampung dengan Oyen. Buat saya tokoh yang ada di novel ini karakternya kurang kuat dan banyaknya tokoh pendukung yang hanya tempelan nama membuat cerita ini tidak kokh, pun kisah tentang Oyen terlalu cepat dieksekusi, malah karakter Iryanto yang lebih terasa nyata di otak karena sejak bab awal sampai akhir selalu dimunculkan dan menjadi semacam penyambung benang merah di setiap bab.

5. Plot :

Ada beberapa plot bolong kalau saya menilai dari kacamata penulis. Buku ini terlalu cepat memberikan clue dan fatal ketika tidak menaruh alibi tersangka di bab awal, malah menaruh alibi tersangka di bab tengah, sehingga saya dengan mudah dapat membaca siapa dalang di balik pembunuhan berantai ini. Dan lagi proses alur berjalan cepat dan terputus-putus menjadikan konflik dan main konflik tercampur. Belum lagi kejadian yang tidak masuk akal ini bikin blunder (Kecuali kalau aliran dalam buku ini surreal, dimaklumi) seperti ; ke mana si tersangka melenyapkan bukti-bukti pembunuhan? Lalu kenapa polisi cuma datang dan pergi memeriksa tapi nggak menemukan barang bukti sama sekali? Terus kenapa bisa cek mayat lewat tim patalogi, tetapi nggak ada tim penyidik yang bisa memeriksa sidik jari pelaku? Itu coba deh polisinya suruh cek patung yang ada darahnya, atau cek juga mangkuk dan sendok sup, pasti ada sidik jari yang nempel, kan?

Tapi kalau saya menilai dari kacamata penulis, buku ini sudah bagus untuk genre horror-thriller. Seram dan tegangnya dapat, benak tanda tanya muncul di tiap bab, dan kasusnya masuk akal.

6. Pov :

Diambil dari sudut pandang ketiga tanpa narator. Sudut pandang Oyen, Suparni, Iryanto, dan tokoh-tokoh lain saling bergantian dalam deskripsi-narasi.

7. Mistakes :

Tepuk tangan yang meriah buat buku ini karena nggak ada typo atau kesalahan EYD sama sekali kecuali satu : Penulisan ‘Jenasah’ yang seharusnya ‘Jenazah’ (hlm.100).

8. Quotes :

“Bahkan saat kamu sudah mati, sakit hatiku masih belum terobati,” – Suparni (hlm.186 prgrf. 5)

9. Ending :

Endingnya cukup menjawab segala tanda tanya yang muncul di setiap bab, sayang twist-nya kurang nangkep dan masih ada beberapa yang terasa terlalu cepat diselesaikan. Tapi saya salut, sebab buku ini tidak terlihat kaku dan alurnya sejalan padahal dikerjakan oleh tiga orang. tektok-nya dapat, gaya bahasa sejalan, dan benang merah dalam kisah ini tidak putus di tengah jalan. Good job!

10. Questions :

Dari ketiga penulis Badut Oyen ini, siapakah yang takut sama badut? Terus, pas proses editing, ini kalian bertiga revisi masing-masing, atau di revisi oleh satu orang aja? Soalnya saya nggak menemukan gap di setiap bab, yah, walaupun ada outline, tentu saja seharusnya gaya bahasa tiap orang kan berbeda, tetapi di Badut Oyen ini bisa selaras, dan itu keren!

Rating
3 dari 5

1 comments:

  1. I have problems reading something with pointer. pfthh.

    semoga next time saya bisa baca analisis review buku yang lebih mendalam ya di sini. aamiin

    ReplyDelete

Hi! Thank you for visiting my website. I hope you can enjoy read all about blog posts here and lemme know your opinion! Please leave on the comments bellow :)