Bagi saya, membahas sejarah, tradisi dan warisan budaya dari Minangkabau tidak pernah ada kata tamat, sebab banyak hal yang perlu diupayakan untuk diketahui tiap generasi ke generasi, dan seterusnya.
Baru-baru ini saya mendapat ilmu baru, tentang satu camilan unik yang ternyata menjadi Warisan Budaya Tak Benda asal Minangkabau! Hari ini, saya ingin mengajak teman-teman untuk mengenal sala lauak, sebuah camilan khas Pariaman, Sumatra Barat!
Sebelumnya salam kenal.
Saya Dza, anak perempuan keturunan Minang yang sekarang menetap di Jawa Barat. April tahun 2025 lalu, saya berkunjung ke rumah tante, adik iparnya papa di Kota Padang. Pada sore hari, tante saya menyajikan camilan sala lauak untuk mengisi perut sementara, karena rendang sebagai makanan utama masih kalio di tungku api.
Itu pertama kalinya saya makan bola-bola mungil yang asin rasanya. Awalnya aneh, tapi lama-lama nagih! Untuk pencinta makanan asin dan gurih, kamu bakal suka camilan satu ini, deh!
Empat hari kemudian, saya main ke Bukittinggi dan membeli sala lauak sebungkus sepuluh ribu isi sepuluh bola. Rasanya agak berbeda dari yang disajikan di rumah tante, dan akhirnya saya jadi penasaran dengan versi Pariaman kota asalnya si sala lauak ini.
Kalau di wilayah Sunda kita akrab dengan bola ubi dengan isian gula yang manis rasanya, di Minangkabau ada sala lauak yang bentuknya sama bulat dengan ukuran mirip bola ubi, tapi rasanya asin. Adonan bulat itu digoreng sampai berwarna cokelat keemasan.
Gumpalan-gumpalan bertekstur renyah ini memiliki citarasa yang dominan asin dan gurih dengan aroma rempah berasal dari beberapa jenis bumbu yang ditambahkan di dalamnya.
Sala lauak yang paling umum adalah yang berbentuk bulat sebesar bola pingpong atau sala keras.
Camilan satu ini biasa dijual di pedagang kaki lima di sore hari, isinya kosong dibuat dari tepung beras dicampur dengan ikan (tergantung ketersediaan ikan yang ada di musim tersebut), kunyit, cabai, bawang, jahe, dan rempah lainnya.
Sala lauak identik dengan Kota Pariaman dan kawasan pesisir Padang Pariaman, tapi pertama kali coba justru saat saya di Kota Padang.
Nama sala lauak berasal dari bahasa Minang, artinya "sala" yaitu gorengan dan "lauak" berarti ikan. Secara harfiah, sala lauak adalah gorengan ikan, meskipun ada variasi yang menggunakan udang sebagai bahan utama. Saya belum coba versi udang, tiga kali konsumsi semua dari ikan.
Sala lauak jadi camilan kuliner tradisional yang mencerminkan kekayaan budaya dan kearifan lokal suatu daerah, lho. Sebagai satu di antara makanan khas Pariaman, sala lauak menawarkan rasa tidak terlupakan, dan ternyata memiliki sejarah panjang yang menyertainya. Namun, setelah saya pikir lagi, "rasa tidak terlupakan" yang saya maksud ini barangkali karena saat memakannya saya punya kenang-kenangan tersendiri.
Pada akhirnya ini jadi camilan "rasa kenangan" yang membekas dan ingin terus saya konsumsi.
Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Yang Mengikuti Perkembangan Zaman
Sala lauak tuh nggak dipatenkan dibuat (penemu) oleh satu orang aja, melainkan lahir dari tradisi turun-temurun masyarakat pesisir Kota Pariaman dan Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.
Kalau kata tante saya, kudapan satu ini dibuat sebagai pemanfaatan hasil laut yang melimpah (seperti ikan asin atau teri) dan memadukannya dengan tepung beras.
Saya senang, sala lauak di era kini juga berhasil beradaptasi dan mengikuti perkembangan zaman dimulai dari proses ketersediaan di masyarakat, nih. Kalau dulu dijual dan disajikan selagi panas, sekarang di beberapa tempat tersedia versi frozen sehingga bisa menjangkau konsumen dalam skala yang lebih luas.
Teman-teman bahkan bisa mencobanya kalau mencari kata kunci sala lauak di e-commerce. Baru-baru ini, satu Agustus 2026 lalu, saya juga membeli sala lauak sebagai makanan di hari ulang tahun saat berkunjung ke Festival Budaya Minangkabau di Botani Square Bogor.
Jadi, apakah teman-teman tertarik untuk mencoba makanan warisan budaya Minangkabau si sala lauak ini?
Atau kamu sudah pernah mencobanya?
__________
📍 Bisa ditemukan di warung jajanan tradisional, pasar, dan penjual makanan khas di Pariaman serta berbagai daerah Sumatera Barat. Kalau di Bukittinggi ada di sepanjang jalan dekat Jam Gadang.



Penjual lontong sayur padang di dekat rumah, rata-rata jual sala lauak. Unik rasanya. Guruh. Dan buat saya pribadi, lebih suka menikmatinya bersama lontong sayur. Gak hanya dijadiin camilan.
BalasHapusWaaaah baru tahu bisa jadi lauk pendamping! Nanti saya coba deh pakai lontong sayur penasaran jadinya 😭
HapusSaking penasarannya sampai beneran cek Google dan ternyata bahkan ada beberapa yang jual tepungnya ya yang siap diolah lebih lanjut. Mempermudah buat kalau mau bikin sendiri tapi nggak dari mentah banget, jadi lebih hemat waktu dan tenaga. Yang jual versi jadinya (tinggal makan) juga ada sih, tapi mungkin nggak begitu awet ya. Menarik nih buat dicoba kapan-kapan.
BalasHapusBetul kakk, sekarang udah banyak mentahan siap olah, tapi saya pun belum sempat coba bikin sendiri 🤣 kayaknya lebih praktis beli versi frozen deh
HapusKalau baca dari bahan-bahannya mirip sama pempek dos ya cuma kalau Lala sauak ini pakai rempah-rempah gitu.
BalasHapusNah iya, hasil akhirnya jadi beda banget karena bumbu rempah ini. Lebih ringan rasa pempek, yang sala lauak agak tajam.
Hapusselama ini kalau ngomongin masakan Padang tahunya ya cuma nasi padang. Kalau sala lauak ini hitungannya cemilan atau gorengan gitu ya, mbak. Penasaran juga nih sama rasanya kayaknya ada gurih-gurih ikannya gitu ya
BalasHapusAku suka Sala Lauak, terus temen di kantor, yunior aku suka bikin tuuh, aku manggilnya Uni atau mamak mengikuti panggilan anak2nya hahaha... dia suka bikin dan kalau ada acara potluck-an di kantor suka ditodong bawa Sala lauak ini... Karena orang minang asli yang bikin jadi yaa otentik lah yaa itungannya hheheh
BalasHapusSala lauak ternyata punya cerita dan identitas kuliner yang menarik banget. Camilan khas Minang ini kelihatannya sederhana, tapi justru kekayaan rasa dan cerita di balik makanan lokal seperti ini yang bikin penasaran. Jadi ingin mencicipinya langsung kalau ada kesempatan ke Sumatera Barat.
BalasHapusBulet dan warnanya mirip.ladu yang ada di film India gitu ya Mbak. Aku percaya kalo berasal dari Minang mah semua makanannya pasti enak.
BalasHapusDza, kita ini sepertinya tertukar ya... Kamu anak Minangkabau sekarang tinggal di Jawa Barat
BalasHapusLah anak saya asli Sunda sekarang justru merantau ke Minangkabau
Haha...tepatnya di Nagari Sulitair Solok
Akhir Agustus kemarin baru saja balik ke Solok lagi lewat Padang (pas sebelum erupsi Krakatau terjadi)
Sala Lauak ini anak saya Fahmi pernah cerita ada wali santri yg mudif (jenguk ke pondok) bawain makanan sala ini
Enak katanya secara Fahmi emang suka yg gurih asin gitu
Kalau yg di Sunda itu deblo (isinya manis) justru Fahmi gak suka
Senang saya Nemu artikel ulasan Sala Lauak ini. Ntar jumpa anak bisa nyambung ngobrolnya secara sekarang udah dapat wawasan baru dari artikel ini
Seneng banget lho aku baca artikel ini Un. Soalnya tahun kemarin aku icip langsung sala lauak dari orang yang emang asli Pariaman. Dan ketagihan dong sama cita rasa yang khas. Bersyukur sekarang ada banyak penjual terutama di area makan Padang. Termasuk suka ada bazar tematik khusus makanan Sumatera.
BalasHapusharusnya sala lauak masuk menu MBG lokal sih eh, hahaha. iya kan? apalagi ada kandungan ikannya. ngemil sehat kan ya. btw jadi pengen nyobain penasaran dengan rasanya, next artikel coba di spill resepnya dong mba, seklaian mba nya juga nyobain bikin gitu, hehe
BalasHapussetiap cemilan tradisional kayaknya mirip mirip yaa dari bentuk hingga rasa walau pasti ada bedanya, kalau di sini emang ada misro atau comro atau lobi lobi yaa, disana ada sala lauak yang rasanya lebih gurih, jadi pengen nyobain jugaa
BalasHapus