• Nginap Bareng
  • Contact
  • Portofolio
Responsive image

Indonesian Beauty & Fashion Blogger.
Your personal stylist

Beauty Fashion Talks Lifestyle Event
semua tentang rumah

Cerita Tentang Rumah KPR yang Dianggap Seolah-olah Gua Hira

Written by Uni Dzalika


Tiga tahun lalu, saya melakukan sebuah keputusan impulsif yang membuat banyak kenalan terkejut (beberapa bahkan menentang), tapi keputusan tersebut mendapat persetujuan dari keluarga inti, yaitu membeli satu unit rumah KPR di kawasan Ciburuy-Cigombong, Bogor. Sebuah daerah pedesaan dekat stasiun Cigombong terletak di antara kaki gunung Salak dan kaki gunung Pangrango.
Rumahnya dibeli secara KPR dengan angsuran flat selama 15 tahun. Bangunan rumahnya seluas ruang tamu rumah tante saya di Padang, seukuran rumah subsidi pada umumnya dengan dua kamar dan satu kamar mandi tanpa dapur, tapi begitulah perumahan di kota-kota kecil, tidak begitu leluasa serta padat pemukiman. Kurangnya lagi, antar rumah masih satu dinding dan perlu membuat dapur sendiri.
Rumah yang dipilih secara khusus oleh bundo ini pintunya menghadap barat. Di belakang rumah tersebut ada halaman seluas 60 m² arah timur dan dipastikan kami selalu bisa melihat matahari merayap ke permukaan saat pagi. Bundo bilang, beli rumah ini sepaket dengan membeli pemandangan. 
Jadi setiap kami menginap di sini, setelah adzan Subuh bundo akan duduk dengan kursi camping sepeeds sambil menunggu matahari terbit untuk berjemur.




Kalau rumah di Cibinong kami namai dengan (si) Sugrah, di sini namanya Sora, sepenggal kata dari "imah sorangan" dan nama imah sorangan juga hasil pilihan kata dari bundo yang berpikir panjang selama sepekan di pertengahan tahun 2024, jauh sebelum bundo meninggal. 
Di antara banyaknya kosa kata halus dalam bahasa Sunda, bundo memilih dua kata tersebut karena menurutnya, cocok untuk dijadikan nama homestay. Bundo ingat, kami pernah menginap di Lembang - Bandung dan homestay di sana namanya tibrae. Lucu, ramah dan mudah diingat. Jadilah nama imah tiba-tiba terlintas begitu saja.
Menjelang pergantian waktu, Sora akan dihujani cahaya dari barat dan tentu bisa dibayangkan sejak pagi sampai malam betapa Sora mendapat berkelimpahan cahaya dari berbagai arah. Di bawah kaki gunung ini cuacanya dingin, tapi hawanya panas dan rata-rata suhu UV setiap harinya tembus sampai 7+ sehingga saya harus terus menggunakan sunscreen. 
Di musim kemarau, teriknya sampai mampu membakar sesuatu saking panas dan silaunya, tapi tidak menusuk ubun-ubun kepala. Saya suka cuaca kemarau di lingkungan ini. Angin masih tetap berhembus dan keringat tidak mengucur seperti saat saya datang ke area Jonggol.
Di musim hujan lebih asyik, angin datang dari dua arah pegunungan dan air sumur jadi lebih dingin dari biasanya. Memilih kawasan rumah di Ciburuy memang jauh dari kota, tapi sejak tiga tahun lalu sampai saat ini, saya tidak menyesali keputusan impulsif tersebut karena semua hal berjalan sesuai kehendak saya.

Masyarakat kita yang terbiasa dengan pola didik patriarki, sering kali mendikte saya dengan mengatakan perempuan pantang memiliki rumah sebelum menikah. Beberapa sahabat baik tidak mendukung dan bilang tidak usah beli. 
Beberapa teman mengatakan beli rumah tugas laki-laki, dan banyak kenalan di Insta-story saat itu berpikir jangan beli karena KPR riba secara agama. Namun, pada saat itu bundo, juga tetua dan semua keluarga dari papa dan bundo, berpikir adalah hal benar memiliki rumah di usia muda, boleh memilikinya sebelum menikah karena bisa menjadi aset terpisah. 
Lantas, bagaimana dengan calon suami? Keluarga saya mendidik kami dengan pola pikir bahwa lelaki dengan maskulinitas tinggi dan baik dalam mengelola emosionalnya, pasti mampu menyeimbangkan dan tidak akan rendah diri atau mempermasalahkan hal tersebut. 
Dan sebenarnya, saya bukan perempuan pertama yang membeli rumah. Banyak perempuan di keluarga saya, -sepupu dan ponakan-, mereka juga atas izin Allah dan berkat ridho orang tua, telah membeli rumah sebelum menikah.
Pada saat itu, yang justru dipertanyakan keluarga besar saya cuma satu: 
"Punya rumah lagi buat apa? Keluarga kita nih udah kebanyakan rumah."

Dan dengan mantap saya katakan, saya butuh tempat "kabur" yang aman, dan yakin suatu hari nanti membutuhkannya. Daripada terus menerus di mall, atau ke club gym, saya merasa di lain waktu nantinya akan membutuhkan tempat yang lebih personal.
Saya tidak tahu, pernyataan saya entah bagaimana benar terjadi tiga tahun kemudian, di tahun 2026 ini. Ketika saya menjalani hari per hari dengan enggan setelah masa berduka.

Di antara perasaan tidak ada sparks hidup juga enggan mati inilah, saya butuh tempat kabur. Tempat yang jauh dari segala aktivitas modern, tempat yang bisa mengisolasi saya dari pertemuan-pertemuan yang tidak saya kehendaki, tempat yang nyaman dan sanggup memfasilitasi segala kebutuhan harian. 
Sora, yang proses mendapatkannya butuh banyak sekali perjuangan ini, membuka pintunya lebar-lebar dan menerima saya untuk hening secara sadar.

Satu bulan menetap di sini, saya sempat tidak nyaman karena keheningan lingkungan yang didapat. Ini terlalu sunyi, sampai suara ayam atau burung pun tidak ada. 
Ayam tetangga yang dilepas cuma lalu-lalang, kucing juga berjalan mengendap bahkan berlari tanpa keributan. Burung-burung tetangga tidak berani bersuara, sampai saya tiba-tiba rindu pulang ke si Sugrah karena di sana tiada hari tanpa suara hewan saling bersahutan.
Maka saya mulai memanggil kucing-kucing liar untuk berkunjung ke Sora. Saya juga memanggil kumbang dan menemukan tokek untuk menetap di belakang tanah kosong. Suatu hari, Iki keponakan usia delapan tahun yang sering menginap, senang sekali karena ada kumbang, tokek, dan kadal. Dia sampai heran, bagaimana cara saya bisa menemukan mereka untuk datang ke rumah?

Di hari kedua, tokek itu berhenti bersuara. Kucing yang dipanggil ke rumah juga mendadak bungkam tidak mengeong. Saya kembali dihidangkan keheningan selama sekian jam setiap harinya. Karena saya belum menemukan musabab hewan-hewan menolak bersuara, akhirnya saya putuskan untuk sekalian memelihara tanaman.
Sekumpulan tanaman di rumah Uni Dewi, —anak keduanya bundo, saya pilih untuk dibawa ke Sora. Tanaman juga bisa berbicara, jika kau bisa mendengar dengan saksama kau akan tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi dari tanamannya pun tidak terdengar suara gemerisik.

Sebulan tinggal di sini dengan keheningan mutlak membuat pikiran saya terlalu berlarut-larut dalam kesedihan. 
Oleh sebab itu, kemudian saya putuskan memasang kabel internet WiFi, setidaknya saya yang membutuhkan sedikit rasa berisik ini bisa membaca buku di ipusnas perpustakaan daring, juga bisa menulis di blog seperti yang sedang saya lakukan sekarang. 
Barangkali, keheningan telah memaksa saya untuk menulis lebih giat. Dan melalui tulisan ini, dalam hening saya mengeluarkan semua isi kepala yang riuh setiap saat.

Sepekan lalu isi kepala saya sibuk berdebat tentang mengapa hewan-hewan tampak bungkam tidak berani bersuara. Mereka punya hak dan bebas bersuara di sini. 
Mereka bukan rakyat kecil yang perlu dibungkam suaranya agar tidak berisik dengan program kerja pemerintah. Jadi, kenapa? Seperti ada yang salah dengan energi di lingkungan perumahan ini dan perlu saya atur ulang energinya terutama di sekitar rumah.

Hari ini memasuki bulan kedua, sekejap saja tiba-tiba saya terpikir untuk memberi nama lain pada Sora, namanya Gua Hira, (dibaca Hiro). Gua Hira, jika kamu belum mengetahuinya, adalah gua yang terletak di Jabal Nur, Mekkah dan pada masanya itu adalah tempat ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril.
Nabi Muhammad SAW waktu itu berkhalwat (menyendiri) di Gua Hira untuk beribadah dan merenung jauh dari keramaian. Jika boleh saya katakan, di masa sekarang mungkin khalwat ini bahasa sekarangnya adalah meditasi(?). Nabi menggunakan tempat sunyi di Jabal Nur tersebut untuk bertafakur dan beribadah mencari kebenaran yang hakiki.

Kondisi saya saat ini juga begitu, mengasingkan diri dari segala hal, memutus akses komunikasi dengan banyak pihak, berisitirahat untuk menjernihkan pikiran, di Sora inilah saya juga belajar melakukan pembersihan jiwa (uzlah). 
Bedanya saya tetap manusia biasa, bukan sedang mempersiapkan kenabian atau semacamnya. Hanya saja, dengan momen kesendirian dan fokus pada diri sendiri ini, mengingatkan saya kalau Sora ternyata cocok dinamakan Gua Hira.

Jadi, inilah sepenggal cerita tentang persembunyian saya di Gua Hira versi Ciburuy, Cigombong - Bogor.

Setelah membacanya sampai selesai, saya doakan kamu juga disegerakan dan dimampukan Allah untuk memiliki rumah impian, amiiin yra.

Tidak ada komentar:

Ada pertanyaan atau kamu ada masukan?

Ditunggu komentarnya!:)

Yuk Berlangganan!

Nggak mau ketinggalan informasi dari blog ini? Let's keep in touch! Tinggalkan alamat e-mail kamu dan dapatkan review artikel, tutorial, serta tips menarik secara gratis! :)

  • About Dza
  • About
  • Shop
  • FAQ
  • Explore
  • Lifestyle
  • Tips
  • Salero Uni
  • E-commerce
    Connect

Copyright Forever Young Lady All rights reserved. Design by Jung - Good Ideas. Great Stories.