• Nginap Bareng
  • Contact
  • Portofolio
Responsive image

Indonesian Beauty & Fashion Blogger.
Your personal stylist

Beauty Fashion Talks Lifestyle Event
#ReviewFilm

Review Film Urang Bunian, Reifikasi Cerita Legenda di pulau Sumatera Barat dalam Psikodrama

Written by Uni Dzalika


Dalam keilmuan sastra, kami semua telah belajar bahwa dari sudut pandang studi folklor dan di kelas seni budaya, tidak begitu penting apakah sebuah cerita legenda yang dibahas turun-temurun itu benar adanya dalam arti bahwa itu benar-benar terjadi, atau hanya sebuah cerita karangan yang dibuat oleh para leluhur dengan alasan tertentu.
Dalam hal ini, contohnya sibunian yang melegenda di sepanjang kawasan Sumatera sampai Malaysia. Entah benar nyata atau tidak, cerita tentang bunian terus-menerus ada dalam pembahasan turun-temurun meskipun tidak di semua kalangan masyarakat, ya. (Sebentar, klarifikasi sedikit karena baku-nya adalah Sumatra, tapi sampai akhir tulisan ini akan saya tulis Sumatera).
Sebagai anak keturunan Minang yang terus mempelajari sejarah, budaya dan legenda di Minangkabau, bunian termasuk kisah yang akrab bagi saya karena beberapa kali dibahas oleh keluarga kami entah sebagai topik utama atau sesekali jadi cerita pendamping ketika kumpul keluarga. 
Sampai di usia sekarang, karena kisah tentang sosok bunian tersebut melekat dalam ingatan, saya juga menuliskan cerpen untuk lomba HB Jassin Agustus 2026 lalu dengan menyelipkan kisah bunian. Kemudian, suatu hari saya lihat ada film Urang Bunian yang baru tayang di 17 September 2026 dan setelah menontonnya saya memutuskan untuk segera mengulasnya.



Apa itu bunian?


Kalau kamu akrab dengan cerita saranjana, maka bunian serupa tapi dari kisah di sumbar. Selain dunia manusia, ada dunia bunian yang hidup berdampingan dengan kita, tinggal di sekitaran pelosok sepanjang kawasan Bukit Barisan, dan kadangkala menyerupai manusia.
Mereka hidup sebagai sosok yang bisa menyerupai manusia, berkomunitas serta memiliki struktur sosial, budaya, dan hubungan sosial layaknya manusia. Namun, jika terganggu dengan suatu sikap manusia, bunian bisa saja menculik kita.
Dan jika manusia masuk dunia bunian, kemungkinan kecil untuk bisa selamat.
Kalaupun selamat, jiwanya tidak sehat.

Review Film Urang Bunian.


Film Urang Bunian menurut saya seperti sebuah reifikasi dari cerita legenda di pulau Sumatera Barat dan sekitarnya. Maksudnya adalah, ketika itu hanya sebuah cerita legenda di dunia nyata, di film ini kehidupan dan sosok bunian dibuat betul ada kehadirannya dan hidup berdampingan dengan dunia manusia.


Film Urang Bunian dibintangi oleh Dimas Aditya, Adinda Thomas, Fauzan Nasrul, Ruth Marini, Naura Hakim, dan aktor pendamping lainnya. Cerita dimulai dari seorang perwira TNI ingin balik kampung ke pedalaman Payakumbuh untuk bertemu istrinya yang seorang bidan di wilayah tersebut.
Berangkat tuh Teddy dan satu temannya, Kevin, sebagai driver yang mana ini temannya anak kota begajulan sekali, jadi dia tidak jaga adab karena dari awal penonton disuguhkan dengan tiba-tiba dia pipis sembarangan, tiba-tiba dia ngeludah, tiba-tiba eek, tiba-tiba suka gadis desa dan diintip ketika mandi, semua serba begajulan dan lupa tata krama, atau memang dia tidak belajar soal etika dan adab.
Nah, si tokoh utama abang perwira TNI yang istrinya bidan ini, mengingatkan berkali-kali untuk jaga sikap, apalagi itu di hutan. Anyway karakter Kevin menyebalkan, tapi dia menggendong keseluruhan isi cerita karena tanpa karakter ini, film Urang Bunian rasanya seperti kurang bumbu.



Setelah dipaparkan karakternya yang jorok itulah, adegan berikutnya menampilkan kejadian mereka tersesat di hutan, ban kempes, dan hujan turun deras sekali. Sebuah momen serba kebetulan yang membuat mereka berdua jadi sulit pulang cepat, lalu memutuskan keluar dari mobil dan masuk ke hutan untuk meminta pertolongan. Nah, karena si tokoh utama TNI ya ceritanya, jadi dibuat karakternya terbiasa di daerah hutan terpencil. Masuklah mereka ke hutan dan kemudian tersasar di dunia bunian.


Di antara macam-macam film horor Indonesia yang pernah saya tonton, banyak karakter dihidupkan sebagai sosok lemah dan naif ketika harus berhadapan dengan hal ghaib. Disutradarai oleh Rendy Herpy dan rumah produksi DHF Entertainment dan RH Entertainment, film ini membawa saya pada pengalaman berbeda.
Karakter tokohnya diberikan background yang cukup keren di pekerjaannya, walaupun eksekusi pengembangan karakternya kurang maksimal.
Dari awal sudah dikasih tahu ada TNI, istrinya bidan, paman si istri adalah datuk tertua di kampung.
Harusnya dengan pemaparan pekerjaan keren tersebut, bisa dimaksimalkan bagaimana kebiasaan mereka dengan kehidupan sehari-hari. Akan tetapi tidak masalah ya, karena tetap mengerti dan alurnya rapi sekali. Saya suka alurnya yang runut ini konsepnya maju-maju ya, tidak ada flashback dan tidak ada adegan plot twist, semuanya mengalir dengan rapi dan menuntun penonton dengan jelas.


Kekurangan yang saya soroti dengan jelas adalah bu bidan sebagai istri TNI ini lemah lembut sekali dan bertutur kata dengan lambat seperti gadis Jawa. Sampai teman nonton saya —Sheila, sempat berbisik, "Apakah perempuan Minang selembut ini?"
Saya katakan tidak, harusnya tidak begitu.
"Oh, mungkin ini cewek Minang versi soft spoken."
"Ah, nggak, mana ada perempuan Minang soft spoken!" 🤣 Begitu kata saya secara spontan, tapi kemudian berpikir, oh tapi bisa jadi, mungkin itu logat Payakumbuh yang lemah lembut ya? Entah, saya perlu tanyakan dulu soal ini ke keluarga.

Pokoknya begitulah.
Saya tidak ingin spoiler lebih jauh, tapi bagaimana selanjutnya antar tokoh ini memproses kejadian dan mencoba survive di bunian, menurut saya sudah sangat keren dan akhir dari cerita ini sesuai dengan ekspektasi saya, sesuai dengan penggambaran –kalau berhasil keluar dari bunian, nanti akan kenapa.–

Selain soal plot cerita, saya suka sekali dengan sinematografi dan visual yang ditampilkan. Warnanya tidak dibuat terlalu gelap, tapi tetap terasa kesan mencekamnya. Ada beberapa jumpscare yang bikin si pasien jantung ini kaget dan deg-deg-an. 😭 Dan di awal film disuguhkan pula pemandangan Payakumbuh yang indah dan asri, jelas scene tersebut harus ditampilkan sebanyak-banyaknya karena film ini bercerita dengan latar sumbar.

Poin plus film Urang Bunian versi saya adalah adegan visualisasi ketika Teddy dan Kevin menyoroti senter ke layar utama, sehingga kita sebagai penonton kesilauan dan serasa terlibat dalam situasi tersebut. Yang disorot senter tuh kita, penonton, bukan hantunya. Ini epik sekali dan jadi poin plus dari saya! Rating setelah menonton ini, saya berikan 7/10 dan semoga per-film-an horor Indonesia makin banyak dilirik masyarakat.

Untuk teman-teman pembaca yang ingin menonton film horor terbaik di 2026 bisa nonton Urang Bunian, sudah tersedia di XXI dan CGV. Kategorinya ada batasan usia, jadi perhatikan jika ingin mengajak orang lain untuk menonton yaa!

Tidak ada komentar:

Ada pertanyaan atau kamu ada masukan?

Ditunggu komentarnya!:)

Yuk Berlangganan!

Nggak mau ketinggalan informasi dari blog ini? Let's keep in touch! Tinggalkan alamat e-mail kamu dan dapatkan review artikel, tutorial, serta tips menarik secara gratis! :)

  • About Dza
  • About
  • Shop
  • FAQ
  • Explore
  • Lifestyle
  • Tips
  • Salero Uni
  • E-commerce
    Connect

Copyright Forever Young Lady All rights reserved. Design by Jung - Good Ideas. Great Stories.