[Salero Uni - 09] Kenyamanan yang Ditawarkan di Jung Coffee

Hi, Assalamualaikum!


Apakah kamu penyuka kopi? Saya, kerap menjumpai orang-orang yang mencintai kopi. Banyak yang menaruh cerita tentang kopi ke dalam lembaran sajak, di beberapa bait puisi, dalam tagline media sosial, atau di halaman tertentu dalam sebuah novel. Seakan kopi merupakan sesuatu yang... Romantis.




Well, I didn't drink coffee. I definitely hate coffee ; uapnya, aromanya, ampasnya, bungkusnya, bubuknya, and everything that related to something made by infusing the beans in hot water. Kopi bukanlah sesuatu yang pantas hadir dalam hidup saya karena selalu membangkitkan kenangan lama. Saya memiliki alasan mengapa saya tidak bisa berdamai dengan kopi. (These story will available on Thursday)

Suatu hari, Si Kakak mengenalkan saya dengan kafe temannya. "Tempatnya asik, kok, Dza," katanya waktu kami makan di suatu tempat. Saat itu kami sedang membahas soal tata letak meja makan dan kondisi dapur resto tersebut. Ya begitulah. Kalau mau makan, segala macam dikomentarin dulu sama kami, mulai dari teknis, pengunjung, sampai rasa makanan. Pembahasan panjang itu akhirnya berujung ke kafe temannya di Rawamangun.

"Apa nama kafenya?" tanya saya, kali-kali saya tahu karena sudah sering mengunjungi banyak kafe.

"Jung Coffee. Nanti kapan-kapan kita ke sana, ya," katanya. Saya cuma jawab, O, oke. Kapan-kapan artinya yaaa entah kapan. Dan benar kan, sampai ganti tahun belum juga main ke sana. Dianya sibuk urus kuliah, saya sibuk bagi-bagi PAMPERS untuk keponakan. Tapi saya jadi sangat penasaran. Nama Jung Coffee ini terbaca sangat filosofis. Dan kalau lihat galerinya di instagram, itu tempatnya didesain dengan nuansa yang penuh dengan sejarah. Nyastra, istilahnya. Itu membuat saya, tertarik untuk datang. Dan, oh, nama kafenya mengingatkan saya dengan Jung Jawa. Apa kabar dia, ya? :)



Rencana untuk ke Jung Coffee itu belum terealisasi terus karena kami sama-sama sibuk, sampai akhirnya saya penasaran datang sendiri Jumat kemarin (08/01/16). Yang ternyata Si Kakak juga lagi ada di sana. 

Kok, ngeselin, ya. Kan tahu dia mau datang bisa janjian, atau bisa jalan bareng, atau gimanalah. Tetapi adakalanya beberapa pertemuan memang nggak perlu direncanakan. Begitu, kan? 

Kemudian, saya ketemu Bara - owner Jung Coffee, yang langsung disambut dengan ramah. Dan Bara ini ganteng, mirip sama siapaaaa gitu di masa lalu. Tanpa bermaksud menyama-nyamakan, Bara sekilas mirip mantannya teman. Dan menurut saya, kegantengan Mas Owner ini bia jadi sebuah gimmick ((GIMMICK)) yang sangat baik biar banyak orang yang datang ke kafe ini. Ehehehehe.




JUNG COFFEE
Jl. Rawamangun Muka Barat I Blok C No.12, Pulo Gadung, Jakarta Timur.


Saya bilang ke Mas Bara, kalau lokasi kafe di Rawamangun ini termasuk lokasi yang jauh diakses untuk beberapa orang. Tetapi, dia bilang memang sengaja pilih tempat di situ dengan banyak pertimbangan. Kami ngobrol banyak seputar Jung Coffee ini yang didirikan sejak 10 Oktober 2015, sampai perjalanannya hingga hari ini.

"Aku terlalu jatuh cinta pada Rawamangun karena banyak kisah di sini, Dza," katanya ketika saya bertanya kenapa pilih buka kafe di dekat UNJ, bukan di dekat UI. Rupanya, dia telah menaruh hatinya di wilayah Rawamangun.

Wah, sama, ya, Mas.

Saya dulunya juga punya banyak cerita di Rawamangun. Mengunjungi kafe ini, mengingatkan saya dengan kehidupan di masa lalu. Tapi yasudahlah ya, sudah berlalu. Masa kini saya sekarang di Cibinong. Baca nih, lima tempat yang mesti kamu kunjungi kalau ke Cibinong.

Dari Mas Bara, saya tahu, dia tidak hanya mencintai kopi. Dia mencintai kafenya, dan sungguh menaruh hati pada wilayah di mana kafenya berada. Mungkin itu alasan mengapa Jung Coffee -kedai kafe miliknya, terlihat sangat nyaman sehingga betah untuk didiami berlama-lama. Ada banyak tetes keringat, semangat, dan cinta, yang ia dan rekannya tanam di dalam kafe tersebut. Itu menjadikan Jung Coffee ini romantis, dengan caranya sendiri.




Jung Coffee ini bukan sekadar warung makan atau tempat nongkrong tanpa faedah. Jadi, di sana ada jadwal kegiatan yang dibuka untuk umum dan kalau kamu mau ikut, itu gratis. Saya mencatat bahwa setiap Selasa atau Rabu selalu ada diskusi atau bedah buku, dan itu dimotori oleh Komunitas Kandang Buku. Nah, Jumat sore ada jadwal Jung Cinema, kegiatan menonton bersama yang film-nya fokus dengan sejarah. Waktu saya datang kan Jumat, tuh. Jadi ikut menyaksikan sendiri keseruannya. Kafe ini buka dari pukul 16.00 sampai jam 12 malam waktu setempat. Namun, kalau kamu mau mengadakan kegiatan di sini, Jung Coffee bisa buka sesuai dengan waktu yang kamu minta.




For further information kindly contact ;

Twitter : @JUNG_coffee (atau bisa mention @unidzalika juga)
Ig : jungcoffee
Line : jung coffee
Email : jungkopiindonesia@gmail.com


Oiya, kamu Sudah tahu komunitas Bookaholicfund? Mereka ada rencana akan melakukan kerja sama dengan Jung Coffee. Untuk yang kangen beramal dengan cara anak-anak BFG, mungkin bisa datang ke acara mereka sekalian mengunjungi Jung Coffee. :)

Demikianlah. Bagi orang seperti saya yang berada di garda depan dalam hal membenci kopi, Jung Coffee ini tetap bisa kita datangi. Ada beberapa menu non-kafein dan camilan yang harganya sangat terjangkau di level kantong anak SMA. Tempat ini juga oke buat pelarian kalau lagi butuh tenang. Nah, untuk kamu yang suka sekali dengan kopi, ada alasan khusus kenapa saya rekomendasikan kamu untuk mengunjungi Jung Coffee. Di sana, selain para baristanyaa cakep-cakep, racikan kopinya menggunakan manual brewing, yang mana baristanya meracik kopi tanpa alat-alat mesin. Menarik, kan? 



"Belajar kopi itu unik, meracik kopi itu seni, menyeruput kopi itu memahami keunikan dari seni meracik kopi." -temannya dari temannya owner Jung Coffee. (((Ribet ya? Iya ribet, banyak nama yang mesti dirahasiakan di blog ini :D ehehehe))).


~

Jadi, kapan kamu mau ke Jung Coffee? Yuk, kapan-kapan kita ketemuan di sana  mendiskusikan berbagai macam hal, atau sekadar duduk semeja, diam saja. Oh ya, sedikit info, setelah saya puas main di Jung Coffee, dalam perjalanan pulang ada kejadian mengejutkan.


~


Disclaimer : 

1. This review was a reflection of my personal thoughts and experience.

2. All ‘borrowed’ images here will be linked back and credited by Jung Coffee, and watermarked with address blog untuk keperluan tanggung jawab apabila ada yang mengambil gambar dari blog ini.

Comments

  1. Jadi pengen minum kopi uni :) Hehehe
    Di tempatku juga ada yang namanya Jung Cafe, sama ndak ya... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di daerah mana, kak? Sepertinya beda, ehehehe.

      Delete
    2. Wah! Nantiaku coba tanya ownernya deh. Makasih mbak untuk infonya ^^ jangan lupa ngopi :)

      Delete
  2. wahh, suamiku pecinta kopi..tapi jauh banget mau ke JUNG COFFEE :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sesekali ke sini, ayo :) bisa belajar racik kopi juga secara gratis :)

      Delete
  3. hhhmmmm ... jadi pengen ngopi euy ...
    i love coffee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo kita ke sini, Mom. Ngopi bareng :)

      Delete
  4. Kirain Jung Jawa buka kafe Un, hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi belum. Jungjawa bukanya web Katanium #malahpromo

      Delete
  5. gara2 ada judul kopinya...akhirnya terdampar deh aku disini..aku pecinta kopi....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuih, keren suka sama kopi. Cinta dengan kopi jenis apa?

      Delete
  6. Wah, cafenya asyik banget, Uni! Saya malah sejak awal Januari ini belum sempat hangout nih. Jadi mupeng. :)

    Eits, kejadian mengejutkan apa tuh? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ehehehe, ayo mbak kita ngopi bareng. Kejadian sepele, biasalah, anak muda ~

      Delete
  7. Tempatnya nyaman gitu, tp gak suka kopi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama, nggak suka kopi, makanya saya jelaskan di atas, bahwa orang yang benci kopi sekalipun bisa kok dtg ke sana ;)

      Delete
  8. Humm, jadi kangen nyruput kopi manual brewing lagi nih, semoga deh kami bisa berjodoh. :D

    Salam kenal, mbak. :)
    Penjaja Kata.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk, ke sana. saya ada di sana tanggal 24 nanti.

      Delete
  9. (((Jung coffee yang mengingatkan Uni dengan Jung Jawa)))
    Semoga bisa ke sana cepetannya!
    Ngeblog sambil ngopi-ngopi cantik di sana pasti enak nih ^,^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, kamu juga ingatnya ke jung jawa, kan? Ngaku! Yuk ke sana, makanannya murah meriah, kok

      Delete
  10. Rawamangun, kopi, masa lalu. Paket komplit buat nostalgia. Dulu punya sejumput cerita juga tentang Rawamangun. Salfok kan jadinya. Heu~

    Wah temennya temen Mas Bara juara banget ya quotes of the day-nya. Hahaha. Ituuu, tempatnya unik. Berasa lagi di rumah dengan interrior zaman kapan. Nyaman :))

    Nanti In shaa Allah kalau ada rezeki dan kesempatan lagi buat kesana temenin kesini ya, Teh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hm, banyak kenangan ya di sini. *hugs*

      Ayo, berkabar saja, nanti kita main ke sini :)

      Delete
  11. Ajak aku dong ke kung coffee...saya jg suka ngupi loh...biar bs bareng kita

    ReplyDelete
  12. Uniiiii ini deket kampus ku, ayok ajak aku ngupii ngupi cantik uniiii

    ReplyDelete
  13. Terima Kasih review-nya ya. Semoga dengan ngopi, obrolan gak cepet basi. hehehe @jungcoffee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuih, dikomen! Kita pernah ngobrol bareng, nggak, min? Aku nggak pernah ngopi tapi kalau ngobrol sama aku nggak bakal basi kok *komen melenceng*

      Delete
  14. heheheehehe
    terkutuk sekali saya sebagai juniornya si owner yg mapala.
    dateng cuma wifi-an rampungan tugas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, sering datang ya. Semoga lain waktu bisa ketemu sambil makan semeja :)

      Delete

Post a Comment

Hi! Thank you for visiting my website. I hope you can enjoy read all about blog posts here and lemme know your opinion! Please leave on the comments bellow :)

Popular posts from this blog

[BEAUTY CORNER - 02] Dewa Kelembapan, si Vaseline Petroleum Jelly

[Beauty Corner - 14] Nih, Lima Macam BB Cream yang Perlu Kamu Coba!

Lima Tempat yang Perlu Kamu Datangi Kalau ke Cibinong