[Prompt #68] : DANCE WITH MY FATHER



Aku terburu-buru menyamakan langkah ayah. Dini hari kami sudah pergi jauh sekali sampai aku kehausan dan pandanganku mulai berkabut.
"Ayah, aku capek," kataku yang langsung terduduk di tanah. Napasku tersengal-sengal dan badanku rasanya panas. Ayah tetap diam, tak menoleh ke belakang meski satu detik. Ah! Apa semua orangtua selalu begini? Memaksakan kehendak mereka semaunya tanpa memedulikan, apakah anaknya mau atau tidak? Buru-buru aku bangkit mengejar sebelum tertinggal dari ayah.
•••
Terlahir dari keluarga biasa saja, tidak membuat kebahagiaanku berkurang. Walau kami hidup serba kekurangan, aku sudah cukup senang melihat ibu dan ayah selalu jalan-jalan bersama di setiap senja. Ayah suka sekali berkeliling daerah dari satu tempat ke tempat lain, lalu pulangnya bercerita kepada aku dan ibu tentang apa yang dilihatnya dalam perjalanan. Kadang, aku diajaknya ke suatu danau di sebelah selatan, dan kami berenang sembunyi-sembunyi di danau itu, kemudian berdansa sekenanya saat malam diterangi oleh api pembakaran sampah. Lalu pulangnya kami membawa sedikit biji-bijian untuk dimakan bersama. Tapi beberapa hari kemarin ibu kakinya sakit dan sulit keluar rumah. Ayah mondar-mandir di depan rumah dan sesekali berteriak jika ada yang mendekati kami. Ayah bilang, takut kalau ada yang membunuh ibu. Ayah juga takut kalau aku, -anak perempuan kesayangannya, disakiti oleh siapa saja. Ayah jadi mudah panik dan ibu matanya mulai menguning, sudah tak jelas melihat. Suatu malam ada banyak air jatuh dari langit dan masuk ke sela-sela atap kami. Rumah basah, ibu kebasahan, ayah menatap ibu dan terus berada di sampingnya. Aku melihat air-air itu jatuh ke wajah ayah, jadi seperti menangis. Lantas aku lupa kapan air-air dari langit itu berhenti jatuh, karena saat aku terbangun, suasana sunyi sekali. Dan ayah masih tetap terjaga di samping ibu, yang tak lagi terbangun. "Ikut ayah, nak. Kita harus pergi ke suatu tempat."
•••
"Kita sudah sampai," ayah menghentikan langkahnya. Aku terengah-engah dan berdiri di samping ayah. Entah berapa jauhnya, tapi langit mulai terang.
"Ini apa?" Kataku sambil mengatur napas.
"Mulai sekarang kamu tinggal di peternakan ini. Berbaurlah dengan yang lain. Kamu akan bahagia. Ada banyak makanan," aku memicingkan mataku. Banyak yang serupa dengan kami, tapi mereka semua putih. Aku takut jadi yang berbeda.
"Ayah harus pergi. Mengubur ibumu. Jadilah angsa yang cantik, nak. Seperti ibumu."
Kami saling tatap lamat-lamat, dan ini adalah kali terakhir aku menatap matanya yang teduh. Ia merentangkan sayapnya dan terbang tinggi. Meninggalkanku untuk selamanya.


______________


1. Untuk Prompt #68 

2. Adaptasi bebas dari FM : Carolina Ratri
"DANCE WITH MY FATHER. Ya, dansa terakhir. Aku menatap Ayah lurus ke matanya. Tak lama kemudian, sayapnya mengepak. Dan ia pergi, selamanya."

3. Source was taken from here

7 comments:

  1. Tulisannya Bagus kak :))

    -www.fkrimaulana.blogspot.com-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasiiih, salam kenal ya. Kamu akhir-akhir ini di blog aku, minggu depan aku makpir ke blog kamu, deh.

      Delete
  2. Kereeenn... endingnya gak ketebak. Ternyata angsa... :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, angsa hitam yang harus tinggal di peternakan angsa putih. Makasih ya udah baca.

      Delete
  3. Cerita pendek yang nice. Nyaman dibacanya.

    ReplyDelete
  4. Alur ceritanya bagus, dan menipu. Saya pikir ini cerita manusia, eh taunya endingnya cerita tentang angsa :D
    bagus kak :))

    ReplyDelete

Hi! Thank you for visiting my website. I hope you can enjoy read all about blog post here and lemme know your opinion! Please leave on the comments bellow :)