• Nginap Bareng
  • Contact
  • Portofolio
Responsive image

Indonesian Beauty & Fashion Blogger.
Your personal stylist

Beauty Fashion Talks Lifestyle Event
#kesehatan

Hidup Berkesadaran dengan Alexa Demineral Water: Sehat untuk Tubuh, Aman untuk Bumi

Written by Uni Dzalika


Pernahkah kamu merasa sudah minum banyak air dalam sehari, tapi tubuh masih terasa "berat" atau cepat lelah? Saya dulu sering merasakannya. Sebagai warga Indonesia yang setiap hari berjibaku dengan kemacetan dan polusi, saya pikir minum air putih apa saja sudah cukup. Sampai akhirnya, saya menyadari satu hal penting: tidak semua air itu sama.

Alasan Saya Beralih ke Air Murni Bandung dari Pegunungan Manglayang


Sejak dua tahun lalu yang artinya sebelum Bundo meninggal, saya mulai mendalami apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh tubuh kita. Dari sana, saya menemukan alasan yang mengubah cara saya memandang kesehatan dimulai dari mengganti air minum dengan air murni atau air demineral. Dan hari ini, saya ingin mengajak kamu mengintip bagaimana air demineral Alexa menjadi bagian dari perjalanan hidup sehat saya.


Apa Sih Bedanya? Air Mineral vs. Air Demineral


Mungkin kamu ada yang sempat kepikiran, "Bukannya air mineral itu bagus karena ada mineralnya?" Saya pun dulu berpikir begitu. Namun, faktanya, mineral yang dibutuhkan tubuh kita sebagian besar berasal dari makanan yang kita konsumsi (buah, sayur, daging), bukan dari air minum.

Perbedaan air mineral dan air demineral terletak pada kandungan padatan terlarutnya. Air demineral telah melalui proses filtrasi yang sangat ketat sehingga bebas dari unsur-unsur anorganik yang tidak dibutuhkan tubuh. 
Hasilnya? Air murni ini membuat ginjal bekerja lebih ringan. Bayangkan ginjal kita seperti saringan; semakin sedikit "sampah" anorganik yang harus ia saring, semakin awet dan sehat organ vital tersebut. Inilah mengapa banyak orang mulai mencari manfaat air demineral untuk kesehatan jangka panjang.


Jenis AirKisaran pHKandungan Mineral (TDS)Efek ke Ginjal
Air Mineral Umum7.0 - 8.5Tinggi (100-300+ mg/L)Bekerja Ekstra Menyaring Mineral
Air Demineral Alexa6.0 - 7.0Sangat Rendah (Mendekati 0)Bekerja Lebih Ringan & Efisien

Mitos pH: Mengapa "Murni" Lebih Baik daripada "Tinggi"?


Mungkin kamu sering mendengar iklan air dengan pH tinggi atau alkali. Tapi, tahukah kamu berapa sebenarnya pH yang ideal untuk masuk ke dalam tubuh kita?

Mari kita bicara angka sebentar. Skala pH berkisar dari 0 sampai 14. Angka 7 adalah titik netral. Secara alami, tubuh kita (terutama darah) memiliki sistem buffer yang sangat canggih untuk menjaga pH tetap stabil di kisaran 7,35 – 7,45. Jadi, minum air dengan pH yang terlalu jauh dari angka netral sebenarnya justru memberi "pekerjaan tambahan" bagi tubuh untuk menyeimbangkannya kembali.

Air Minum Umum/Mineral: Biasanya memiliki pH antara 7.0 hingga 8.5. Kandungan mineral anorganik di dalamnya yang membuat pH-nya cenderung basa. Air Demineral Alexa memiliki pH di kisaran 6.0 hingga 7.0. Mengapa sedikit di bawah 7? 
Karena air ini sangat murni dan tidak memiliki "penyangga" mineral, sehingga ia sangat sensitif terhadap sedikit saja karbondioksida alami dari udara yang membuatnya jadi sedikit asam, namun tetap di ambang batas aman dan sangat mendekati netral.




pH Ideal Tubuh: 
Tubuh kita paling nyaman menerima asupan yang mendekati titik netral agar metabolisme berjalan tanpa hambatan.

Air mineral biasa itu ibarat kamar yang rapi, tapi masih ada debu-debu halus dan barang kecil di pojokan (mineral anorganik seperti kalsium dan magnesium yang tidak terserap tubuh). Sedangkan air murni dari Alexa adalah kamar yang baru saja dilakukan deep cleaning. Benar-benar kosong dan bersih.

Secara ilmiah, air demineral diproses melalui teknologi yang menghilangkan TDS (Total Dissolved Solids) atau total padatan terlarut. Dalam air mineral biasa, nilai TDS-nya bisa mencapai 100–300 mg/L. Sedangkan pada air demineral Alexa, nilai TDS-nya mendekati 0 mg/L.

Kenapa ini bagus buat kamu? Secara kimiawi, air adalah pelarut universal. Ketika kamu minum air dengan TDS nol, air tersebut memiliki "ruang kosong" yang maksimal untuk mengikat sisa-basi metabolisme di dalam tubuh kamu dan membawanya keluar. 

Inilah alasan mengapa ginjal bekerja lebih ringan. Ginjal tidak perlu memisahkan mineral-mineral keras yang tidak bisa diproses, melainkan langsung menggunakan air murni tersebut untuk membilas racun dalam tubuh. Jadi, ketika saya bilang Alexa itu murni, saya tidak sedang bercanda. Secara sains, ini adalah hidrasi dalam bentuknya yang paling jujur.

Alexa: "Fresh from the Oven" dari Jantung Bandung


Ada juga alasan utama saya jatuh cinta dengan air demineral Alexa adalah asal-usulnya. Saya tidak bicara tentang air yang diproses di pabrik industri yang gersang. Alexa berasal langsung dari sumbernya di Bandung, tepatnya dari air pegunungan Manglayang yang jernih dan alami. Walaupun saya belum ada kesempatan untuk datang ke pabriknya langsung, tapi saya sudah banyak mencari tahu tentang air minum Alexa.

Inilah yang saya sebut sebagai konsep "Fresh from the Oven". Begitu diambil dari mata air, air tersebut diproses dengan standar tinggi dan langsung dikirim dari sumbernya. Kamu tidak akan menemukan Alexa di rak-rak toko yang sudah berdebu selama berbulan-bulan. 
Hebatnya lagi, pengiriman dilakukan tanpa perantara agen distribusi. Jadi, dari mata air Manglayang, langsung meluncur sampai depan pintu rumah kamu. Air murni asli Bandung ini benar-benar menjaga kesegarannya hingga sampai ke gelas kamu.

Alexa Water adalah air minum berkualitas tinggi dari mata air pegunungan Manglayang di Bandung yang telah dipercaya sejak tahun 2013. Hingga kini, puluhan ribu keluarga di Bandung Raya dan sekitarnya telah mengandalkan Alexa Water sebagai pilihan utama air murninya. 
Air demineral murni ini diproses dengan filtrasi modern (Reverse Osmosis) dan UV filter, dengan sistem pengiriman tertutup yang menjaga kesegarannya dari sumber hingga sampai ke tangan pelanggan.



Minum dengan Kesadaran: Sehat untuk Tubuh, Aman untuk Bumi


Karena saya sedang menggeluti konsep mindfulness, saya ingin bahas dari sisi ini juga. Bagi saya, hidup sehat bukan hanya soal apa yang masuk ke dalam tubuh, tapi juga tentang bagaimana keputusan kita berdampak pada alam sekitar. Inilah sisi mindfulness yang saya temukan di Alexa. 
Ketika kamu meminum air pegunungan Manglayang ini, ada ketenangan batin yang hadir karena kamu tahu kamu sedang melakukan hal baik untuk lingkungan.

Dengan sistem Free Galon (peminjaman galon), kita secara aktif mempraktikkan gaya hidup zero-waste. Kita tidak lagi menumpuk sampah plastik sekali pakai yang mencemari tanah Bandung tercinta. Setiap galon yang kembali ke Alexa dibersihkan dengan standar tinggi untuk digunakan kembali, ini jadi sebuah siklus ekonomi sirkular yang sangat nyata.

Selain itu, karena Alexa dikirim langsung dari sumbernya di Bandung tanpa rantai distribusi yang panjang, jejak karbon yang dihasilkan pun jauh lebih rendah. Jadi, setiap kali kamu meneguk air murni Bandung ini, kamu tidak hanya memberikan ruang napas bagi ginjalmu, tapi juga ikut menjaga napas bumi agar tetap lestari. 
Menjadi sehat jadi terasa lebih bermakna ketika kita selaras dengan alam, setuju 'kan?



Pengiriman Tertutup: Karena Higienitas Bukan Sekadar Janji


Pernahkah kamu melihat truk terbuka yang mengangkut galon air di tengah teriknya matahari Bandung yang menyengat? Jujur, saya sering ngeri melihatnya. Ada bahaya air galon terpapar sinar matahari secara langsung; plastik galon yang panas bisa melepaskan zat kimia tertentu ke dalam air, belum lagi paparan asap knalpot dan debu jalanan.

Alexa memahami kekhawatiran saya (dan mungkin kamu juga). Itulah mengapa mereka menggunakan sistem pengiriman tertutup. Galon-galon Alexa punya beberapa kelebihan yang tidak dimiliki perusahaan air lainnya yaitu:

    1. Terlindung dari paparan sinar matahari: Menjaga stabilitas molekul air murni.
    2. Terlindung dari asap kendaraan: Tidak ada polusi yang menempel pada kemasan galon.
    3. Terlindung dari debu: Begitu sampai di dapur kamu, galon higienis Bandung ini tetap bersih luar dan dalam.

Bagi saya, ini adalah standar baru air minum sehat Bandung. Kita tidak hanya membayar untuk airnya, tapi juga untuk keamanan dan ketenangan pikiran.

Satu Air untuk Semua: Dari Ibu Hamil hingga Pegiat Olahraga

Saya sering merekomendasikan air murni untuk ginjal bekerja lebih ringan kepada kerabat dan teman terdekat karena sifatnya yang netral dan murni, air ini sangat fleksibel. Alexa bukan sekadar pelepas dahaga, tapi investasi kesehatan bagi seluruh anggota keluarga. Selain itu, air Alexa juga punya beberapa manfaat utama seperti:

      • Untuk Ibu Hamil & Anak-anak: Memberikan hidrasi paling murni tanpa tambahan zat yang tidak perlu.
      • Untuk Diet & Olahraga: Air murni untuk diet / olahraga membantu proses detoksifikasi tubuh lebih optimal. Tubuh jadi lebih ringan saat bergerak.
      • Untuk Lansia & Penderita Gangguan Ginjal: Membantu menjaga fungsi saringan tubuh agar tidak bekerja ekstra keras.

Praktis dan Murah: Definisi Sehat Tanpa Ribet


Nah, kamu mungkin berpikir, "Air murni dari pegunungan dengan layanan premium pasti mahal, kan?" Jawabannya: Tidak. Saya sangat terkesan dengan komitmen Alexa untuk membuat gaya hidup sehat jadi terjangkau bagi warga Bandung Raya dan kota lainnya. Harga air Alexa demineral hanya 17.000 all in, kamu sudah mendapatkan kualitas air demineral terbaik.

  • Free Ongkir Bandung Raya: Tidak ada biaya tambahan tersembunyi.
  • Free Galon: Kamu tidak perlu beli galon di awal. Alexa memberikan peminjaman galon selama kamu berlangganan. Sangat meringankan beban di dompet, bukan?
  • Pengiriman Terjadwal Otomatis: Ini fitur favorit saya. Setiap minggu, kurir Alexa akan datang sesuai jadwal. Jadi, saya nggak perlu lagi drama "kehabisan air minum" di tengah malam.

Memilih air demineral Alexa adalah cara saya mencintai diri sendiri dan keluarga. Dengan segala kemudahan, kebersihan, dan manfaat kesehatannya, Alexa benar-benar mewujudkan kampanye mereka: Alexa Cinta Air Murni.

Jadi, buat kamu yang tinggal di Bandung dan sekitarnya, kapan terakhir kali kamu benar-benar memperhatikan apa yang masuk ke dalam tubuhmu? Jika kamu ingin ginjal bekerja lebih ringan dan hidup lebih segar, mulailah beralih ke yang murni.
#museum

Museum Tionghoa Sukabumi: Wisata Sejarah dan Budaya yang Menyimpan Banyak Cerita

Written by Uni Dzalika



Kalau kamu punya waktu luang yang singkat dan mau liburan sejenak, cobalah berkunjung ke Kota Sukabumi. Tidak ada kemewahan yang ditawarkan, tapi di sana, kamu akan merasakan kehangatan.

Berjalan menyusuri sudut kota sering kali membawa saya pada kejadian yang tidak terduga. Begitu juga saat pertama kali menginjakkan kaki di Museum Tionghoa Sukabumi. Ini liburan pertama di awal tahun 2026 yang saya lakukan, dan jadi perjalanan pertama saya sendirian tanpa Bundo. Selama dua hari di Sukabumi, saya pun menggunakan pakaian Bundo sebagai langkah membawa energi baiknya untuk menemani saya di kota ini.

Mungkin kamu mengira Sukabumi hanya tentang alam dan kuliner, ya? Padahal, di Kota Sukabumi tersimpan jejak sejarah panjang komunitas Tionghoa yang kaya makna. Saya akan mengajak kamu ikut berjalan, mendengar kisah, dan memahami perjalanan sebuah museum yang menjadi saksi lintas budaya.

Pemandangan Kota Sukabumi dari lantai 4 Museum Tionghoa Sukabumi

Disediakan juga area untuk foto-foto!

Lobi pintu masuk sebelum ke area museum

Sebuah Pintu Kecil Menuju Sejarah Besar


Hari itu, saya berdiri di depan bangunan sederhana di pusat kota Sukabumi. Tidak begitu megah, tidak pula mencolok. Namun, saat mulai melangkah masuk setelah membayar tiket, saya seperti ditarik masuk ke masa lalu.

Di sana kita akan melihat cerita para perantau, pedagang, dan keluarga Tionghoa yang telah menjadi bagian penting dari sejarah kota ini. Saya bahkan serasa bernostalgia karena ada banyak benda di sini yang ternyata pernah Bundo miliki semasa saya kecil. 

Pada masa itu, Ibu dari Papa saya memiliki banyak benda bersejarah mulai dari mesin jahit, sampai guci dan senapan. Melihatnya kembali di museum ini membuat saya sedikit menyesal kenapa benda berharga di masa lalu justru kami abaikan dan hilang begitu saja.



Sebagaimana kita masuk ke area museum, semua benda yang dipajang di galeri ini tidak boleh disentuh ya, dan boleh di foto tanpa flash. Tetapi, kursi yang ada di sana diperbolehkan untuk diduduki dan kamu bisa foto-foto sambil duduk tanpa memegang properti.

Kunjungan ini akan sangat menarik buat kamu yang tertarik dengan benda-benda khas zaman dulu karena di lantai satu ada banyak sekali pajangan dan benda peninggalan etnis Tionghoa.



Koleksi Batik Pecinan. Enam dari motif yang dipajang ini pernah saya miliki juga!

Memasuki museum ini bukan lagi tentang belajar sejarah, kita akan diajak untuk mengulang kembali memori lama tentang masa kanak-kanak. Buat saya pribadi yang dibesarkan dalam pengaruh ajaran Jepang, Belanda dan Tionghoa, berkeliling di Museum Tionghoa membuat saya jadi sangat akrab dengan benda-benda di sini. 

Sebagai catatan, bahkan mesin jahit yang ada di museum ini pun masih saya miliki, warisan peninggalan Bundo yang akan tetap kami ruwat walaupun usianya sudah lebih dari 50 tahun, dan mesin itu pun Alhamdulillah masih kami operasikan sampai sekarang.

Sejarah Singkat Museum Tionghoa Sukabumi


Museum Tionghoa Sukabumi resmi dibuka pada 29 Februari 2022 sebagai hasil kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas sejarah, dan masyarakat Tionghoa Sukabumi. 

Museum ini hadir bukan sekadar sebagai ruang pamer benda antik, tetapi sebagai tempat untuk mengenang dan merawat jejak sejarah akulturasi budaya Tionghoa dengan masyarakat lokal. Kita pun bisa melihat perjalanan panjang masyarakat Tionghoa yang ikut membentuk sejarah sebuah kota di Indonesia.


Baju dan rok Bundo ikut jalan-jalan ke Sukabumi

Saat saya membaca papan informasi di depan museum, saya menyadari bahwa keberadaan etnis Tionghoa di Sukabumi telah berlangsung ratusan tahun. Mereka bukan hanya pedagang, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial, ekonomi, dan perjuangan kota ini. Museum ini menjadi bukti bahwa keberagaman adalah fondasi penting dalam perjalanan Sukabumi.

Museum Tionghoa Sukabumi berlokasi di kawasan Danalaga Square, Jalan Pajagalan, Kecamatan Warudoyong. Lokasinya berada di pusat kota dan mudah diakses dari berbagai arah. Bahkan hari itu, saya dan teman-teman hanya berjalan kaki karena letaknya dekat dengan stasiun Sukabumi.

 


Bangunan Museum Tionghoa dan Jumlah Lantai


Bangunan Museum Tionghoa Sukabumi terdiri dari empat lantai, masing-masing memiliki tema pameran yang berbeda. Saya menyarankan kamu menjelajahinya secara berurutan agar alur ceritanya terasa utuh. 

Oh ya, untuk aksesnya hanya menggunakan tangga ya tidak ada lift atau tangga elevator, jadi pastikan fisik kamu dalam keadaan sehat dan jangan lupa bawa air putih sendiri agar tidak dehidrasi selama jalan-jalan. Dan sebaiknya kamu puas-puasin eksplor di satu lantai sebelum naik ke lantai selanjutnya supaya tidak bolak-balik.

Nah, isi koleksinya sebenarnya ada dua bagian. Satu museum Tionghoa berisi barang-barang koleksi tentang Tionghoa dan sejarah Tionghoa. Satu bagian lagi Galeri Dapuran Kipahare ada arsip dan galeri militer


Ini framing di lantai satu yang bisa kamu kunjungi, suka sekali sama penataan di lantai satu ini.

Sebagai anak pencinta museum dan koleksi seni, saat datang ke sini saya langsung memuji tata letak beda yang dipajang. Kuratornya menempatkan benda yang paling menarik di sudut-sudut tertentu dan menaruh barang yang usang tapi legendaris di titik tengah. Selain itu, di sini juga ada lukisan sejarah yang bisa kita lihat dan pelajari bersama-sama.


Lukisan panjang yang bercerita tentang Jejak Penyebaran Islam oleh Keturunan Tionghoa di Nusantara.

Lantai 1: Jejak Awal dan Kehidupan Sehari-hari

Di lantai pertama, saya langsung disambut dengan lukisan besar perjalanan Laksamana Cheng Ho. Selain itu, terdapat berbagai perabot rumah tangga, kursi, dan meja khas rumah Tionghoa tempo dulu. 
Dari sini, kamu bisa membayangkan bagaimana kehidupan masyarakat Tionghoa di masa awal menetap di Sukabumi.

Laksamana Ceng Ho saat melakukan pelayaran

Lukisan itu bercerita tentang pelayaran besar Laksamana Cheng Ho saat mengarungi Samudra Hindia dimulai pada tanggal 11 Juli 1405. Pelayaran tersebut membuat Cheng Ho sempat singgah di wilayah yang kini dikenal sebagai Kota Semarang. 

Alasan mengapa Cheng Ho singgah di Kota Semarang adalah karena salah seorang awak kapal yakni Wang Jinghong mengalami sakit keras. Salah satu bukti peninggalannya adalah Kelenteng Sam Po Kong yang masih berdiri hingga saat ini.

Cheng Ho atau Zheng He merupakan seorang laksamana paling agung yang pernah dimiliki Tiongkok. Ia hidup pada zaman Dinasti Ming. Laksamana Cheng Hodengan armada besarnya, melakukan tujuh kali pelayaran besar ke Asia Tenggara dan Samudra Hindia sampai ke Afrika timur, dalam kurun 1405-1433 M.

Merupakan suatu hal yang menarik bahwa Cheng Ho dapat menjadi laksamana yang begitu hebat di Tiongkok, padahal ia berasal dari Suku Hui yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam. Selain itu ia juga hidup jauh di Asia Tengah tepatnya di Mongolia, yang ketika itu diperlukan waktu berminggu-minggu perjalanan darat dari kampungnya untuk bisa mencapai daerah pesisir laut. 

Cheng Ho dilahirkan dari marga Ma (Muhammad), di Provinsi Yunan. Ayahnya dan kakeknya adalah muslim yang telah menunaikan ibadah haji ke Makkah. Ketika kecil, Cheng Ho menggunakan nama Ma He.



Dai lukisan tersebut, kita bisa telusuri sejarah panjang Peradaban Islam di Nusantara ini. Di samping pertama kali dibangun oleh Wali Songo beserta keturunannya yang berasimilasi dengan penduduk pribumi, dalam hal ini oleh Sunan Ampel Raden Rahmat yang diberikan tanah peradilan oleh Raja Brawijaya Ke V (Kertabumi) dengan nama Ampel Denta, lalu menurunkan generasi kedua lewat anak anak keturunannya yaitu Raden Makdum Ibrahim yang terkenal dengan sebutan sunan Bonang di Tuban, 
dan Sunan Drajat di Lamongan Utara, juga melalui murid murid nya yakni Raden Ainul Yaqin (Sunan Giri) serta Raden Fatah yang dikenal dengan sebutan Pangeran Jim Bun anak kandung dari Brawijaya Kertabumi ke V dengan Siu Ban Chi, cucu dari Sech Kuro kerawang, juga ada peran dari Laksamana angkatan laut Panglima Ceng Ho, yang melakukan ekspedisi perdamaian budaya, dan penyebaran agama di Jawa pada abad ke 15 Masehi.

Dikutip dari tulisan Bapak Agus Widjajanto , Praktisi Hukum, Pemerhati Politik, Sosial Budaya dan Sejarah, Laksamana Cheng Hwa (Cheng Ho) memiliki jasa besar dalam penyebaran agama Islam di Jawa, baik Jawa Barat, Jawa Timur hingga Jawa Tengah.

Ini Raden Fatah.


Singkat cerita, sejarah mencatat cucu dari syech Quro, yakni Shio Ban Chi dikawini oleh Prabu Brawijaya Kertabumi ke V dan melahirkan Raden Fatah yang nama kecil nya tertulis pangeran Jim Bun, yang dititipkan oleh Adipati bawahan Majapahit di Palembang Raden Aryo Damar, kemudian menjadi murid santri nya Raden Rahmat Sunan Ampel dan kelak mendirikan kerajaan Islam Pertama di Jawa di daerah pesisir Utara Jawa tengah dengan nama Demak Bintoro.


Tonton juga di sini:
Wisata Reliji Mengunjungi Makam Jim Bun (Raden Fatah)



Lantai 2: Uang Kuno dan Tradisi Ibadah

Lantai ini menampilkan koleksi mata uang kuno dari berbagai periode, termasuk koin dan uang kertas lama. Saya juga menemukan replika altar leluhur lengkap dengan perlengkapan ibadah. Di ruangan ini, kamu bisa memahami bagaimana nilai spiritual dan tradisi dijaga dari generasi ke generasi.

Patung Buddha Budai

Mohon dikoreksi jika saya salah, karena saat berkeliling kami hanya sendiri tanpa pemandu. Ini adalah patung yang selalu saya suka setiap kali berkunjung ke tempat yang terkait dengan keagamaan Buddha. Ini adalah patung Buddha Tertawa yang juga dikenal sebagai "Budai" dalam bahasa Cina atau "Hotei" dalam bahasa Jepang.

Budai adalah seorang biksu Zen Cina dari abad ke-10 selama Dinasti Liang. Budai juga diidentifikasi sebagai Buddha Maitreya, seorang bodhisattva atau Buddha masa depan dalam Buddhisme Chan, sebuah aliran Buddhisme Mahāyāna Cina. Dalam bahasa Mandarin, Budai berarti "karung pakaian" yang merujuk pada karung pakaian yang dibawa oleh Buddha Tertawa saat berkelana di berbagai tempat. 

Berbeda dengan bodhisattva lainnya, Budai digambarkan secara khas sebagai sosok yang gemuk dengan wajah tertawa atau tersenyum yang menggambarkan kepribadiannya yang riang dan humoris.

Patung Buddha Tertawa berevolusi dari seorang biksu historis menjadi salah satu tokoh yang dicintai dan melambangkan kebahagiaan, keberuntungan, dan kelimpahan selama berabad-abad. Meskipun ia tidak dianggap sebagai dewa dalam Buddhisme ortodoks, ia dipuja di kuil dan biara di seluruh dunia.

Patung Buddha Budai memiliki makna spiritual karena membantu meningkatkan hal-hal positif, kebahagiaan dan kemakmuran, persatuan, kesehatan yang baik, dan keberuntungan. Representasi simbolisnya berfungsi sebagai motivasi yang kuat untuk meningkatkan kegembiraan, kebahagiaan, dan hal-hal positif dalam hidup. Patung dengan lima anak ini mendorong pemahaman, membawa kesuburan dan keberuntungan, serta menumbuhkan rasa hormat antar anggota keluarga.









Lantai 3: Arsip Sejarah Kota Sukabumi

Di sini tersimpan arsip lama, foto-foto Sukabumi tempo dulu, dokumen pemerintahan, serta koleksi pribadi masyarakat yang menceritakan perjalanan kota dari masa ke masa. Setiap foto dan dokumen seolah mengajak kamu kembali ke masa lalu.









Lantai 4: Peralatan Perjuangan

Di lantai paling atas, kamu akan menemukan koleksi alat perjuangan dan perlengkapan militer dari masa kemerdekaan. Koleksi ini menunjukkan bahwa masyarakat Tionghoa juga berkontribusi dalam sejarah perjuangan Indonesia, khususnya di wilayah Sukabumi.






Rute Menuju Museum Tionghoa Sukabumi dari Bogor

Jika kamu menggunakan transportasi umum, maka gunakanlah kereta antar kota yaitu untuk ke Sukabumi menggunakan KA Pangrango. Kamu bisa berangkat dari stasiun Bogor dan memesan tiket dari jauh hari karena sering kehabisan kalau mendadak.

1. Berangkat dari Stasiun Bogor dengan Kereta Pangrango tujuan Sukabumi.
2. Waktu tempuh sekitar dua jam dengan pemandangan alam yang menenangkan.
3. Turun di Stasiun Sukabumi.
4. Dari stasiun, kamu bisa melanjutkan perjalanan menggunakan ojek online atau angkutan lokal menuju Danalaga Square, atau jika mau, jalan kaki saja :) Lokasi museum sangat dekat dari pusat kota, sehingga mudah dijangkau.



Saat melihat koleksi tersebut, saya merasa museum ini bukan hanya tempat menyimpan benda, tetapi juga ruang bercerita tentang kehidupan manusia dan perjalanannya.




Jam Operasional dan Harga Tiket

Museum Tionghoa Sukabumi umumnya buka dari pagi hingga sore, kecuali hari Jumat. Harga tiket masuk sangat terjangkau, sepuluh ribu rupiah. Dengan biaya tersebut, saya merasa pengalaman dan pengetahuan yang didapat jauh lebih bernilai.

Saya berangkat bersama teman-teman, dan walaupun berbarengan, harga tiket tetap normal per orang ya tidak ada potongan diskon untuk rombongan.







Bagi saya, Museum Tionghoa Sukabumi adalah tempat yang tepat untuk belajar tentang sejarah, budaya, dan toleransi dalam satu kunjungan. Museum ini cocok untuk kamu yang ingin berwisata dengan makna, bukan sekadar berfoto. Setiap sudutnya mengajarkan bahwa perbedaan budaya bisa hidup berdampingan dan saling memperkaya.

Jika kamu berkunjung ke Sukabumi, sempatkanlah datang ke Museum Tionghoa Sukabumi. Saya percaya, setelah keluar dari museum ini, kamu tidak hanya membawa foto, tetapi juga pemahaman baru tentang sejarah dan keberagaman yang membentuk kota ini hingga hari ini.




Ps. (Semua dokumentasi milik pribadi diambil menggunakan LUMIX Leica)

#kesehatan

Mekar Bersama Bunga Yoga : Pengalaman Mencoba Kriya dari Guru Elia Cahaya

Written by Uni Dzalika

event yoga di bogor


Setengah tahun menjalani hidup tanpa Bundo, saya mencoba berbagai aktivitas baru yang asing tapi menyenangkan untuk dicoba. 
Satu di antaranya adalah Yoga, yang mengajarkan saya untuk sabar dalam diam, untuk tenang dalam segala proses, dan setelah aktif mengikuti berbagai kelas yoga selama hampir satu tahun, di akhir bulan September 2025 saya menemukan kelas Bunga Yoga yang diadakan oleh komunitas Mekaris Universe via Instagram dan mencoba kelasnya ketika mereka hadir di Bogor.

Acara tersebut dimulai pukul delapan pagi di Whiz Prime Hotel Padjajaran Bogor. Sebagai anak night owl yang tidak terbiasa melakukan aktivitas pagi, berhasil bangun dan secara sadar datang ke lokasi hari itu adalah sebuah tindakan hebat yang telah saya lakukan.



Peserta untuk event ini dibatasi hanya 30 orang, dengan total fix kehadiran 25 orang. Saya datang bersama kawan blogger yang sudah dikenal selama 10 tahun— Mita Oktavia, dan kami membayar kegiatan ini sebesar 170 ribu rupiah, sepuluh hari sebelum acara dimulai.

Sejujurnya, saya dan Mita melakukan diskusi panjang dan berpikir cukup lama apakah kami benar-benar ingin mengikuti kelas ini, dan apakah kami siap mengikuti keseluruhan prosesnya? Selain itu, sebelum memutuskan ikut kami juga membaca e-book Kak Elia Cahaya tentang Kriya Bunga Yoga dan khatam dalam sekali duduk— kemudian atas izin Allah kami putuskan untuk ikut kelas ini.


Pagi itu Mita sudah datang lebih awal, dan saya datang belakangan sehingga tempat kami duduk tidak bisa berdekatan. Tapi dalam hal berkegiatan yoga, duduk di mana saja seharusnya tidak masalah karena kita akan fokus pada diri sendiri saat kelas berlangsung. Di kegiatan ini saya pun berkenalan dengan Flo, kawan kenal dari Threads! :)

Elia Cahaya Bunga Yoga


Saya hadir memberi waktu untuk tubuh, pikiran, dan jiwa dengan mengikuti Bunga Yoga bersama komunitas mekarisuniverse. Di kegiatan ini disediakan matras untuk disewa, walaupun jadi catatan untuk kita semua, lebih baik bawa mat sendiri saja yaa.

Bersama perempuan lain, kami dikenalkan 123 kriya (gerakan) Bunga Yoga oleh Guru Elia Cahaya, dan pada sesi ini mencoba tujuh kriya. Pada setiap satu kriya, kami harus menahan pose tersebut selama tujuh menit. Terlihat sederhana, tapi keringat terus menetes selama satu jam.


Kegiatan yoga ini berbeda dari kelas yoga yang saya lakukan setiap hari, karena ada proses meditasi selama tujuh menit tersebut. Gerakannya tidak sulit, tapi harus menahannya selama tujuh menit jadi tantangan tersendiri apalagi untuk saya yang tidak sabaran ini.

Kriya yang diberikan adalah kriya yang biasa saya lakukan di kelas yoga rutinan, tetapi untuk kelas Bunga Yoga ini kamu harus menahan kriya tersebut selama tujuh menit dan ternyata itu bukan hal mudah. 

Dari perkenalan tujuh gerakan, saya sempat gagal di tiga gerakan karena berkali-kali harus mengistirahatkan lengan kiri yang sedang cedera otot. Tapi sepulang dari kegiatan ini, saya tetap mencoba mengulang melakukan gerakannya di rumah dan ternyata seru sekali! Sekarang saya melakukannya setiap pagi sebelum beraktivitas.




Saya sepenuhnya menikmati momen yoga tersebut, dan setelah sesi berakhir, kami juga diberikan waktu untuk melakukan journaling singkat tentang perasaan kami setelah mengikuti kelas yoga.


Proses journalling dilakukan sekitar tujuh sampai sepuluh menit dan kami diberikan selembar memo untuk menuliskan perasaan setelah mengikuti kelas Bunga Yoga serta menuliskan perasaan lain yang masih tertinggal. 



Setelah proses itu, tiap peserta diberikan bunga Matahari yang mekar sempurna sebagai apresiasi dan sebagai bentuk simbolis kalau kita telah mekar dan siap menjalani hidup dengan perasaan suka cita.

Ini jadi pengalaman menarik bagi saya dan Mita, sekaligus sebagai penghiburan karena sedang masa berduka.

Hari itu, saya adalah (bunga) Bougenville. Dan saya tidak sendiri, saya mekar bersama perempuan lainnya.

Yuk Berlangganan!

Nggak mau ketinggalan informasi dari blog ini? Let's keep in touch! Tinggalkan alamat e-mail kamu dan dapatkan review artikel, tutorial, serta tips menarik secara gratis! :)

  • About Dza
  • About
  • Shop
  • FAQ
  • Explore
  • Lifestyle
  • Tips
  • Salero Uni
  • E-commerce
    Connect

Copyright Forever Young Lady All rights reserved. Design by Jung - Good Ideas. Great Stories.