Kalau kamu punya waktu luang yang singkat dan mau liburan sejenak, cobalah berkunjung ke Kota Sukabumi. Tidak ada kemewahan yang ditawarkan, tapi di sana, kamu akan merasakan kehangatan.
Berjalan menyusuri sudut kota sering kali membawa saya pada kejadian yang tidak terduga. Begitu juga saat pertama kali menginjakkan kaki di Museum Tionghoa Sukabumi. Ini liburan pertama di awal tahun 2026 yang saya lakukan, dan jadi perjalanan pertama saya sendirian tanpa Bundo. Selama dua hari di Sukabumi, saya pun menggunakan pakaian Bundo sebagai langkah membawa energi baiknya untuk menemani saya di kota ini.
Mungkin kamu mengira Sukabumi hanya tentang alam dan kuliner, ya? Padahal, di Kota Sukabumi tersimpan jejak sejarah panjang komunitas Tionghoa yang kaya makna. Saya akan mengajak kamu ikut berjalan, mendengar kisah, dan memahami perjalanan sebuah museum yang menjadi saksi lintas budaya.
Pemandangan Kota Sukabumi dari lantai 4 Museum Tionghoa Sukabumi
Disediakan juga area untuk foto-foto!
Lobi pintu masuk sebelum ke area museum
Sebuah Pintu Kecil Menuju Sejarah Besar
Hari itu, saya berdiri di depan bangunan sederhana di pusat kota Sukabumi. Tidak begitu megah, tidak pula mencolok. Namun, saat mulai melangkah masuk setelah membayar tiket, saya seperti ditarik masuk ke masa lalu.
Di sana kita akan melihat cerita para perantau, pedagang, dan keluarga Tionghoa yang telah menjadi bagian penting dari sejarah kota ini. Saya bahkan serasa bernostalgia karena ada banyak benda di sini yang ternyata pernah Bundo miliki semasa saya kecil.
Pada masa itu, Ibu dari Papa saya memiliki banyak benda bersejarah mulai dari mesin jahit, sampai guci dan senapan. Melihatnya kembali di museum ini membuat saya sedikit menyesal kenapa benda berharga di masa lalu justru kami abaikan dan hilang begitu saja.
Sebagaimana kita masuk ke area museum, semua benda yang dipajang di galeri ini tidak boleh disentuh ya, dan boleh di foto tanpa flash. Tetapi, kursi yang ada di sana diperbolehkan untuk diduduki dan kamu bisa foto-foto sambil duduk tanpa memegang properti.
Kunjungan ini akan sangat menarik buat kamu yang tertarik dengan benda-benda khas zaman dulu karena di lantai satu ada banyak sekali pajangan dan benda peninggalan etnis Tionghoa.
Koleksi Batik Pecinan. Enam dari motif yang dipajang ini pernah saya miliki juga!
Memasuki museum ini bukan lagi tentang belajar sejarah, kita akan diajak untuk mengulang kembali memori lama tentang masa kanak-kanak. Buat saya pribadi yang dibesarkan dalam pengaruh ajaran Jepang, Belanda dan Tionghoa, berkeliling di Museum Tionghoa membuat saya jadi sangat akrab dengan benda-benda di sini.
Sebagai catatan, bahkan mesin jahit yang ada di museum ini pun masih saya miliki, warisan peninggalan Bundo yang akan tetap kami ruwat walaupun usianya sudah lebih dari 50 tahun, dan mesin itu pun Alhamdulillah masih kami operasikan sampai sekarang.
Sejarah Singkat Museum Tionghoa Sukabumi
Museum Tionghoa Sukabumi resmi dibuka pada 29 Februari 2022 sebagai hasil kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas sejarah, dan masyarakat Tionghoa Sukabumi.
Museum ini hadir bukan sekadar sebagai ruang pamer benda antik, tetapi sebagai tempat untuk mengenang dan merawat jejak sejarah akulturasi budaya Tionghoa dengan masyarakat lokal. Kita pun bisa melihat perjalanan panjang masyarakat Tionghoa yang ikut membentuk sejarah sebuah kota di Indonesia.

Baju dan rok Bundo ikut jalan-jalan ke Sukabumi
Saat saya membaca papan informasi di depan museum, saya menyadari bahwa keberadaan etnis Tionghoa di Sukabumi telah berlangsung ratusan tahun. Mereka bukan hanya pedagang, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial, ekonomi, dan perjuangan kota ini. Museum ini menjadi bukti bahwa keberagaman adalah fondasi penting dalam perjalanan Sukabumi.
Museum Tionghoa Sukabumi berlokasi di kawasan Danalaga Square, Jalan Pajagalan, Kecamatan Warudoyong. Lokasinya berada di pusat kota dan mudah diakses dari berbagai arah. Bahkan hari itu, saya dan teman-teman hanya berjalan kaki karena letaknya dekat dengan stasiun Sukabumi.
Bangunan Museum Tionghoa dan Jumlah Lantai
Bangunan Museum Tionghoa Sukabumi terdiri dari empat lantai, masing-masing memiliki tema pameran yang berbeda. Saya menyarankan kamu menjelajahinya secara berurutan agar alur ceritanya terasa utuh.
Oh ya, untuk aksesnya hanya menggunakan tangga ya tidak ada lift atau tangga elevator, jadi pastikan fisik kamu dalam keadaan sehat dan jangan lupa bawa air putih sendiri agar tidak dehidrasi selama jalan-jalan. Dan sebaiknya kamu puas-puasin eksplor di satu lantai sebelum naik ke lantai selanjutnya supaya tidak bolak-balik.
Nah, isi koleksinya sebenarnya ada dua bagian. Satu museum Tionghoa berisi barang-barang koleksi tentang Tionghoa dan sejarah Tionghoa. Satu bagian lagi Galeri Dapuran Kipahare ada arsip dan galeri militer
Ini framing di lantai satu yang bisa kamu kunjungi, suka sekali sama penataan di lantai satu ini.
Sebagai anak pencinta museum dan koleksi seni, saat datang ke sini saya langsung memuji tata letak beda yang dipajang. Kuratornya menempatkan benda yang paling menarik di sudut-sudut tertentu dan menaruh barang yang usang tapi legendaris di titik tengah. Selain itu, di sini juga ada lukisan sejarah yang bisa kita lihat dan pelajari bersama-sama.
Lukisan panjang yang bercerita tentang Jejak Penyebaran Islam oleh Keturunan Tionghoa di Nusantara.
Lantai 1: Jejak Awal dan Kehidupan Sehari-hari
Di lantai pertama, saya langsung disambut dengan lukisan besar perjalanan Laksamana Cheng Ho. Selain itu, terdapat berbagai perabot rumah tangga, kursi, dan meja khas rumah Tionghoa tempo dulu.
Dari sini, kamu bisa membayangkan bagaimana kehidupan masyarakat Tionghoa di masa awal menetap di Sukabumi.
Laksamana Ceng Ho saat melakukan pelayaran
Lukisan itu bercerita tentang pelayaran besar Laksamana Cheng Ho saat mengarungi Samudra Hindia dimulai pada tanggal 11 Juli 1405. Pelayaran tersebut membuat Cheng Ho sempat singgah di wilayah yang kini dikenal sebagai Kota Semarang.
Alasan mengapa Cheng Ho singgah di Kota Semarang adalah karena salah seorang awak kapal yakni Wang Jinghong mengalami sakit keras. Salah satu bukti peninggalannya adalah Kelenteng Sam Po Kong yang masih berdiri hingga saat ini.
Cheng Ho atau Zheng He merupakan seorang laksamana paling agung yang pernah dimiliki Tiongkok. Ia hidup pada zaman Dinasti Ming. Laksamana Cheng Hodengan armada besarnya, melakukan tujuh kali pelayaran besar ke Asia Tenggara dan Samudra Hindia sampai ke Afrika timur, dalam kurun 1405-1433 M.
Merupakan suatu hal yang menarik bahwa Cheng Ho dapat menjadi laksamana yang begitu hebat di Tiongkok, padahal ia berasal dari Suku Hui yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam. Selain itu ia juga hidup jauh di Asia Tengah tepatnya di Mongolia, yang ketika itu diperlukan waktu berminggu-minggu perjalanan darat dari kampungnya untuk bisa mencapai daerah pesisir laut.
Cheng Ho dilahirkan dari marga Ma (Muhammad), di Provinsi Yunan. Ayahnya dan kakeknya adalah muslim yang telah menunaikan ibadah haji ke Makkah. Ketika kecil, Cheng Ho menggunakan nama Ma He.
Dai lukisan tersebut, kita bisa telusuri sejarah panjang Peradaban Islam di Nusantara ini. Di samping pertama kali dibangun oleh Wali Songo beserta keturunannya yang berasimilasi dengan penduduk pribumi, dalam hal ini oleh Sunan Ampel Raden Rahmat yang diberikan tanah peradilan oleh Raja Brawijaya Ke V (Kertabumi) dengan nama Ampel Denta, lalu menurunkan generasi kedua lewat anak anak keturunannya yaitu Raden Makdum Ibrahim yang terkenal dengan sebutan sunan Bonang di Tuban,
dan Sunan Drajat di Lamongan Utara, juga melalui murid murid nya yakni Raden Ainul Yaqin (Sunan Giri) serta Raden Fatah yang dikenal dengan sebutan Pangeran Jim Bun anak kandung dari Brawijaya Kertabumi ke V dengan Siu Ban Chi, cucu dari Sech Kuro kerawang, juga ada peran dari Laksamana angkatan laut Panglima Ceng Ho, yang melakukan ekspedisi perdamaian budaya, dan penyebaran agama di Jawa pada abad ke 15 Masehi.
Dikutip dari tulisan Bapak Agus Widjajanto , Praktisi Hukum, Pemerhati Politik, Sosial Budaya dan Sejarah, Laksamana Cheng Hwa (Cheng Ho) memiliki jasa besar dalam penyebaran agama Islam di Jawa, baik Jawa Barat, Jawa Timur hingga Jawa Tengah.
Singkat cerita, sejarah mencatat cucu dari syech Quro, yakni Shio Ban Chi dikawini oleh Prabu Brawijaya Kertabumi ke V dan melahirkan Raden Fatah yang nama kecil nya tertulis pangeran Jim Bun, yang dititipkan oleh Adipati bawahan Majapahit di Palembang Raden Aryo Damar, kemudian menjadi murid santri nya Raden Rahmat Sunan Ampel dan kelak mendirikan kerajaan Islam Pertama di Jawa di daerah pesisir Utara Jawa tengah dengan nama Demak Bintoro.
Tonton juga di sini:Wisata Reliji Mengunjungi Makam Jim Bun (Raden Fatah)
Lantai 2: Uang Kuno dan Tradisi Ibadah
Lantai ini menampilkan koleksi mata uang kuno dari berbagai periode, termasuk koin dan uang kertas lama. Saya juga menemukan replika altar leluhur lengkap dengan perlengkapan ibadah. Di ruangan ini, kamu bisa memahami bagaimana nilai spiritual dan tradisi dijaga dari generasi ke generasi.
Patung Buddha Budai
Mohon dikoreksi jika saya salah, karena saat berkeliling kami hanya sendiri tanpa pemandu. Ini adalah patung yang selalu saya suka setiap kali berkunjung ke tempat yang terkait dengan keagamaan Buddha. Ini adalah patung Buddha Tertawa yang juga dikenal sebagai "Budai" dalam bahasa Cina atau "Hotei" dalam bahasa Jepang.
Budai adalah seorang biksu Zen Cina dari abad ke-10 selama Dinasti Liang. Budai juga diidentifikasi sebagai Buddha Maitreya, seorang bodhisattva atau Buddha masa depan dalam Buddhisme Chan, sebuah aliran Buddhisme Mahāyāna Cina. Dalam bahasa Mandarin, Budai berarti "karung pakaian" yang merujuk pada karung pakaian yang dibawa oleh Buddha Tertawa saat berkelana di berbagai tempat.
Berbeda dengan bodhisattva lainnya, Budai digambarkan secara khas sebagai sosok yang gemuk dengan wajah tertawa atau tersenyum yang menggambarkan kepribadiannya yang riang dan humoris.
Patung Buddha Tertawa berevolusi dari seorang biksu historis menjadi salah satu tokoh yang dicintai dan melambangkan kebahagiaan, keberuntungan, dan kelimpahan selama berabad-abad. Meskipun ia tidak dianggap sebagai dewa dalam Buddhisme ortodoks, ia dipuja di kuil dan biara di seluruh dunia.
Patung Buddha Budai memiliki makna spiritual karena membantu meningkatkan hal-hal positif, kebahagiaan dan kemakmuran, persatuan, kesehatan yang baik, dan keberuntungan. Representasi simbolisnya berfungsi sebagai motivasi yang kuat untuk meningkatkan kegembiraan, kebahagiaan, dan hal-hal positif dalam hidup. Patung dengan lima anak ini mendorong pemahaman, membawa kesuburan dan keberuntungan, serta menumbuhkan rasa hormat antar anggota keluarga.
Lantai 3: Arsip Sejarah Kota Sukabumi
Di sini tersimpan arsip lama, foto-foto Sukabumi tempo dulu, dokumen pemerintahan, serta koleksi pribadi masyarakat yang menceritakan perjalanan kota dari masa ke masa. Setiap foto dan dokumen seolah mengajak kamu kembali ke masa lalu.
Lantai 4: Peralatan Perjuangan
Di lantai paling atas, kamu akan menemukan koleksi alat perjuangan dan perlengkapan militer dari masa kemerdekaan. Koleksi ini menunjukkan bahwa masyarakat Tionghoa juga berkontribusi dalam sejarah perjuangan Indonesia, khususnya di wilayah Sukabumi.
Rute Menuju Museum Tionghoa Sukabumi dari Bogor
Jika kamu menggunakan transportasi umum, maka gunakanlah kereta antar kota yaitu untuk ke Sukabumi menggunakan KA Pangrango. Kamu bisa berangkat dari stasiun Bogor dan memesan tiket dari jauh hari karena sering kehabisan kalau mendadak.
1. Berangkat dari Stasiun Bogor dengan Kereta Pangrango tujuan Sukabumi.
2. Waktu tempuh sekitar dua jam dengan pemandangan alam yang menenangkan.
3. Turun di Stasiun Sukabumi.
4. Dari stasiun, kamu bisa melanjutkan perjalanan menggunakan ojek online atau angkutan lokal menuju Danalaga Square, atau jika mau, jalan kaki saja :) Lokasi museum sangat dekat dari pusat kota, sehingga mudah dijangkau.
Saat melihat koleksi tersebut, saya merasa museum ini bukan hanya tempat menyimpan benda, tetapi juga ruang bercerita tentang kehidupan manusia dan perjalanannya.
Jam Operasional dan Harga Tiket
Museum Tionghoa Sukabumi umumnya buka dari pagi hingga sore, kecuali hari Jumat. Harga tiket masuk sangat terjangkau, sepuluh ribu rupiah. Dengan biaya tersebut, saya merasa pengalaman dan pengetahuan yang didapat jauh lebih bernilai.
Saya berangkat bersama teman-teman, dan walaupun berbarengan, harga tiket tetap normal per orang ya tidak ada potongan diskon untuk rombongan.
Bagi saya, Museum Tionghoa Sukabumi adalah tempat yang tepat untuk belajar tentang sejarah, budaya, dan toleransi dalam satu kunjungan. Museum ini cocok untuk kamu yang ingin berwisata dengan makna, bukan sekadar berfoto. Setiap sudutnya mengajarkan bahwa perbedaan budaya bisa hidup berdampingan dan saling memperkaya.
Jika kamu berkunjung ke Sukabumi, sempatkanlah datang ke Museum Tionghoa Sukabumi. Saya percaya, setelah keluar dari museum ini, kamu tidak hanya membawa foto, tetapi juga pemahaman baru tentang sejarah dan keberagaman yang membentuk kota ini hingga hari ini.
Ps. (Semua dokumentasi milik pribadi diambil menggunakan LUMIX Leica)







-01.jpeg)










-01.jpeg)

-01.jpeg)


-01.jpeg)












Hasil jepretannya bagus banget Unn. Suka banget sama ceritanya, detail dan informatif. Ternyata di dekat stasiun Sukabumi ada Museum Tionghoa. Boleh banget nih dijadikan referensi buat liburan singkat penuh makna.
BalasHapusApalagi setiap lantai menyimpan banyak cerita dan takjub sama tiket museum murmer sekali.