Seratus hari setelah bundo meninggal, saya mulai menangis di mana-mana, dan kapan saja. Musababnya setiap saya memejamkan mata, semua kejadian hari itu terputar kembali; saya berada di ruang tamu dan bundo datang meminta dipijat.
Bundo bilang kakinya dingin, tubuhnya menggigil. Katanya dada terasa panas, tapi kakinya sedingin es. Namun, saya katakan barangkali karena bundo habis mandi jadi terasa seperti itu. Iya, bundo mandi, salat magrib, masih sempat mengaji dan berdzikir sebelum menghampiri saya.
Saya mengabaikan binar matanya yang redup. Saya melihatnya, saya mengingat tatapan nanar itu, dan saya melewatkan 'tandanya'. Belakangan saya menyadari momen itu ialah terakhir kali mata kami bersitatap.
Saya membalurkan minyak hangat, memijat bahunya... dan dalam keadaan bundo memunggungi saya, begitu saja di hitungan detik tubuhnya rebah sambil mengucap la ilaha illallah.
Dari luar rumah terdengar sayup-sayup adzan isya berkumandang, disusul dengan riuh tetangga datang membantu ke rumah sakit, yang sebenarnya kami semua pada malam itu tahu bahwa bundo telah tiada.
Agaknya saya tidak pantas untuk kembali tersenyum ketika bundo kedinginan di dalam liang lahat. Saya rasa saya tidak pantas untuk melangkah maju ketika hidup bundo berhenti selamanya, saya tidak boleh bahagia karena saya pernah terlambat membawanya ke rumah sakit.
Saya merasa gagal, dan saya tidak ingin memberi kesempatan pada diri sendiri untuk bangkit.
Jadi, bagaimana saya dapat melanjutkan hidup jika penglihatan saya selalu pengulangan kejadian tersebut? Saya terus menghukum diri sendiri dengan cara paling menyakitkan, dan pada akhirnya tubuh ini mati perlahan-lahan di tahun kedua kepergian; jantung ini melemah, hidup mulai tidak terarah.
______
1/ Setelah dua tahun kepergian, saya baru berani menuliskan kejadian ini, yang bahkan semua orang termasuk sekandung tidak pernah berani bertanya.
2/ Ini sudah tahun kedua, tapi tatapan terakhir bundo selalu terbayang setiap detik.
Dan meski sudah tahun kedua, saya masih mengingat dingin punggungnya yang rebah dalam pangkuan.
Turut berduka cita, Uni.
BalasHapustidak ingin mencoba untuk mengucapkan kata sabar atau berusaha semoga Uni bisa mengikhlaskan kepergian bundo. Hanya semoga Uni bisa berlapang dada untuk menerima semua keadaan sekarang dan kedepannya.
Alfatihah Untuk Bundo... 🤲🏻