"Apakah Perempuan Era Sekarang Harus Melek Finansial?"
Sampai di satu titik saya berpikir bahwa menjadi perempuan di zaman sekarang itu tuntutannya luar biasa banyak sekali.
Kita diminta cerdas di tempat kerja, hangat di rumah, dan banyak berlomba-lomba untuk tampil hebat di ruang digital. Bahkan, sekarang ini kita juga harus punya kemampuan mengelola keuangan.
Di Hari Kartini 21 April 2026 lalu, saya berkeliling Kota Cikini sambil merayakan hal-hal sederhana sekembalinya saya dari duka berkepanjangan. Menyenangkan sekali bisa balik melakukan aktivitas hening seperti membaca buku di tengah keramaian, melakukan jurnaling di sudut kafe di Cikini, dan pulang dengan hati yang hangat.
Saya berkeliling menggunakan kain Batik Kawung pemberian dari adik perempuan bungsu Bundo hari itu. Tidak lupa, sore harinya saya mengikuti kelas webinar tentang "Literasi Tinggi, Risiko Rendah: Kartini Modern, Melek Finansial".
Kegiatan ini penting sekali, karena selain meneladani sikap Ibu Kartini dan selain berkebaya di Hari peringatan beliau, kita juga diingatkan sebagai perempuan mutlak harus berdaya dan finansial merdeka.
Webinar ini diselenggarakan oleh Female Digest bersama para sponsor yang sudah mendukung acara yaitu Tropicana Slim, Nutrifood, Wardah Beauty, dan Paragon Corp. Webinar diadakan selama dua jam bersama Kak Dedek Gunawan (Financial Planner & Founder PBP), Kak Diana Anggraini (Dosen LSPR), Kak Ruth Ninajanty (Community Development Manager Female Digest), serta Teh Ani Berta, dan semua pembahasan ini sangat daging sekali!
Warisan Kartini Bukan Cuma Sanggul, Tapi Akal
Kalau kita bicara soal Kartini, pikiran kita sering terjebak pada kebaya dan sanggul. Bahkan gen z sekarang di Threads sibuk membahas zodiak Ibu Kartini adalah Taurus dan membahas banyak hal yang tidak tepat menurut saya. Padahal, esensi dari perjuangan beliau adalah emansipasi melalui literasi.
Dalam pembahasan ini, Female Digest menekankan satu poin penting tentang literasi tinggi yang berbanding lurus dengan risiko rendah. Artinya, semakin kita paham instrumen keuangan, semakin kecil kemungkinan akan terjebak investasi bodong atau jeratan pinjol yang kedoknya "solusi cepat".
Melek finansial bagi Kartini modern bukan berarti jadi pelit dan perhitungan , tapi bagaimana kita bisa melakukan pembedaan antara keinginan dan kebutuhan. Dan dari ilmu yang saya dapat, ada tiga langkah nyata yang bisa kita terapkan sekarang juga:
1. Audit Diri Sendiri
Jangan takut melihat mutasi rekening serta selalu cek pengeluaran selama satu bulan secara detail. Dari audit ini, kita akan belajar manajemen keuangan pribadi dan mulai bisa menyortir mana pengeluaran yang perlu kita pangkas dan disimpan.
Di kegiatan webinar ini juga dijelaskan ternyata ada istilah pink tax di mana produk-produk untuk perempuan sengaja dibanderol lebih mahal dari produk serupa untuk laki-laki. Jadi kalau perempuan dibilang boros, no no ya, ini memang tanpa banyak orang sadari ternyata pengeluaran perempuan sudah tersistem lebih mahal dari laki-laki. Makanya penting juga untuk kita audit dan mulai bijak memilih pengeluaran.
2. Dana Darurat Tidak Boleh Lupa
Dana darurat adalah bentuk cinta pada diri sendiri agar saat badai datang kita tidak panik.
Di kelas juga diingatkan kalau karier perempuan itu tidak stabil. Ada yang berhenti saat hamil, ada cuti panjang karena mengurus anak atau orang tua.
Lalu ketika ingin kembali ke dunia kerja, usianya sudah tidak semuda dulu dan lapangan kerja semakin sempit, dan ini yang saya alami sendiri di tahu 2025 kemarin, full menganggur selama satu tahun :) Baru berasa, hidup tanpa dana darurat ternyata seberat itu.
Sejujurnya, ini yang sering terlewat dari saya dan selama ini tidak memiliki dana darurat karena saya tim yang hidup untuk hari ini, untuk besok mari dipikirkan lagi nanti. Tapi di 2026 ini, saya mulai menata keuangan dan mulai menyiapkan dana darurat karena kehidupan di bumi ini mulai plenger, mesti banyak persiapan matang untuk melindungi diri sendiri!
3. Investasi pada Otak (Literasi)
Sebelum menaruh uang di instrumen apa pun, kita ternyata perlu lho untuk berinvestasi dulu di dalam isi kepala.
Caranya ya dengan belajar dan memahami apa itu inflasi, bagaimana cara kerja bunga majemuk, dan apa bedanya aset dengan liabilitas. Kalau dirasa masih bingung, jangan sampai gegabah mengambil langkah dan tetap ikuti arahan ahlinya saja.
Terakhir pesan dari saya, jangan pernah bosan untuk membaca, karena ketika kita punya literasi yang tinggi, kita tidak akan panik saat dunia gonjang-ganjing dan bisa tenang karena kita punya hidup yang penuh rencana.
Menjadi perempuan yang berdaya berarti kita harus berani mengambil keputusan finansial yang cerdas, berani bilang "nggak" untuk tren yang tidak perlu, dan berani mulai berinvestasi meski dari angka kecil.


Tidak ada komentar:
Ada pertanyaan atau kamu ada masukan?
Ditunggu komentarnya!:)