• Nginap Bareng
  • Contact
  • Portofolio
Responsive image

Indonesian Beauty & Fashion Blogger.
Your personal stylist

Beauty Fashion Talks Lifestyle Event
#Fiksi

Anak yang Menyusun Daftar Kehilangan

Written by Uni Dzalika



Saya suka langit.
Waktu pertama kali menginjakkan kaki di Kota Pontianak beberapa tahun silam pasca covid, saya lihat langitnya penuh kapas awan. Bentuknya lucu-lucu. 
Sepanjang jalan dari Bandara Udara Supadio sampai warung kopi legendaris asal Pontianak, langitnya penuh awan bergumpal yang membuat saya jadi berimajinasi tentang banyak bentuk; seperti boneka beruang, sekawanan kelinci lompat di rerumputan, bahkan ada juga gumpalan awan seperti buaya yang bersantai. 

Langit di kota Pontianak jadi yang selalu saya ingat sampai hari ini. Kualitas udaranya bersih, langitnya biru cerah, awannya seperti eskrim vanila.

Kenang-kenangan dari Labuan Bajo

Lain lagi ketika saya datang ke Labuan Bajo. 
Saya tiba di kota ini sore hari, di waktu langit menjadi kemerahan dan sisi laut sudah mulai terisi kapal lalu-lalang. 
Di kota ini, yang saya temukan bukan gumpalan awan, melainkan jutaan bintang memenuhi langit malam sampai kotanya terang-benderang meski berkegiatan tanpa lampu jalanan.

Bintangnya membuat langit jadi gemerlap. Karena saya tidak pandai menghitung, mari kita katakan pada hari itu saya lihat jutaan bintang; bertabur di langit tanpa ada yang menempel satu sama lain. 
Semua berdiri pada poros masing-masing dan saya menikmati langit dari Bukit Sylvia sampai pukul delapan malam.

Di tahun 2025, selepas 100 hari sepeninggal Bundo, saya mengunjungi Kota Padang dan bermain di pantai sepuasnya. Di Padang, langit sore hari warnanya abu tua kehitaman seperti abu arang yang bertebaran. 
Warnanya berbeda dengan mendung di Kota Bogor. Di sini, abu-nya seperti sebuah kepulan asap merapi yang membuat saya tidak berani untuk bercanda bahkan walau lewat kata-kata.

Bundo juga suka langit.
Suatu waktu kami duduk berdua di depan teras rumah menjelang magrib, dan hari itu ia bertanya; "Anak, kau suka langit warna apa?" Lalu saya katakan, "Yang oranye! Seperti langit yang sekarang ini" Dan ibu saya bilang kalau ia sukanya saat langit lembayung.

Apa itu lembayung? 
Lalu beliau menjelaskan dengan mata penuh binar. Katanya, itu adalah ketika langit menjadi magenta, sebuah perpaduan warna merah-ungu. "Kalau oranye yang kau suka itu, disebutnya Dewangga."

Saat itu saya baru semester satu, dan sejujurnya itu adalah kali pertama saya tahu apa itu lembayung, juga baru tahu kosakata warna bahasa Indonesia dari oranye. 
Meski sudah di usia puluhan, tidak ada kata terlambat untuk terus belajar, bukan? Dan saya senang, warna baru yang saya pelajari saat itu berasal dari Bundo. Memang benar adanya bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak.

Selama satu tahun di masa berduka selepas kepergian Bundo, mata saya selalu menatap tanah setiap hari; membayangkan berapa banyak jasad entah terburai di antara tanah-tanah di muka bumi. 
Saya juga memikirkan betapa gelap dan sumuk di dalam tanah. Ibu saya takut gelap, bagaimana ia bisa bertahan di alam sana dalam kegelapan? Saya terus menerus melihat tanah setiap kali keluar rumah.

Saya mendadak jadi suka batu kerikil.

Suatu hari di makam Bundo ada batu kerikil, dan saya menumpuknya satu persatu secara vertikal. Di agama sebelah, praktik ini sering dianggap sebagai metode meditasi (zen) untuk melatih kesabaran, fokus, dan ketenangan. Di agama saya, dalam beberapa persepektif ini dianggap sesat.

Tidak, saya tidak sesat—semoga saja. Saya hanya melakukannya karena bosan, dan karena saya terus melihat ke bawah, saya jadi tertarik pada hal baru terutama bebatuan.

Di hari lain sepulang dari makam Bundo, saya menemukan pohon besar yang menjatuhkan biji saga. Sewaktu saya kelas dua SD, saya sering mengoleksi biji saga dan mengumpulkannya dalam satu botol bekas. 

Awalnya satu botol, lama-lama jadi penuh satu kamar. Saya melakukannya karena Bundo suka warna merah saga. Tapi kegiatan itu berhenti ketika kami pindah ke Bogor. Di kota ini, saya tidak menemukan pohon Saga. Dan tiba-tiba, saya mendapatkan banyak saga di jalan Padjajaran. 
Seorang satpam yang berdiri tidak jauh dari pohon tersebut mengizinkan saya untuk mengambilnya. Saya memutuskan bawa enam butir saja hari itu.

Langitnya?
Tidak ingat. Saya tidak ingat langit Bogor hari itu. Selama setahun penuh, saya ternyata terus menerus menunduk dan melihat ke bawah. Di bawah juga seru. Ada biji saga, ada kerikil, ada banyak macam-macam hewan menarik, juga akar-akar berusia puluhan-ratusan tahun yang bisa disapa.
Saya pun punya kesempatan berkenalan dengan siput, bekicot, ulat-ulat pemakan tanaman saya, melihat lumut tumbuh subur, dan mulai bicara dengan sekumpulan semut.

Sepasukan semut mendatangi saya pada pukul dua malam. Mereka lapar, katanya. Dulu, 100 hari sebelum kepergian Ibu, semut-semut tidak pernah ada di rumah. Ibu saya selalu menaruh gula di beberapa sudut taman dan berbicara pada mereka setiap pagi.

Pada suatu hari, 40 hari setelah kematian Bundo, dua keponakan saya bersenda gurau dan mereka mengatakan tidak mungkin manusia bisa berbicara dengan semut. Lalu saya katakan, bisa. Tentu bisa. 

Sudah ada contohnya di masa lalu ketika Nabi Sulaiman berbicara pada semut. Begitu juga dengan Bundo, yang tiap pagi membicarakan entah dengan para semut. Maka sejak itu saya mulai berbicara dengan mereka dan para semut merespon dengan riang.

Di awal 2026 ini kemudian saya menyadari satu hal. Apa yang saya ceritakan di atas bukan hanya tentang keindahan langit dan tanah secara harfiah, tapi ternyata kebiasaan itu juga berpengaruh terhadap stabilitas mental saya; bahwa saya terus-menerus merasa rendah diri dan berkecil hati di tahun 2025. 
Bahwa saya tidak sanggup berdiri tegak bahkan menengadah ke atas langit.

Sekarang, ketika berhasil melewati proses kedukaan, setelah semua kondisi saya kembali seperti semula dan bahkan dalam versi yang lebih baik, saya senang bisa kembali memprioritaskan diri sendiri, saya senang bisa kembali berdiri sendiri, dan ketika kondisi mental saya membaik, kebiasaan lama juga kembali, seperti sering mengecek keadaan langit bagaimana hari ini.

Dan ketika saya menulis ini, langit yang saya lihat cantik sekali. Hari itu saya dalam perjalanan menemui seseorang. Kami berdua punya energi api yang sama besarnya. 
Ketika kami bertemu, dia duduk berhadapan dengan saya. Di belakangnya hadir sebuah latar langit bias berwarna putih kusam dan ada air curug yang mengalir dengan riang. 
Banyak pohon tumbuh subur dan mengayun pelan sehingga membuat ia tampak sangat keren dengan latar alam tersebut.

Dalam larutnya percakapan, tiba-tiba langit menjadi kelabu, hadir gumpalan awan gelap dan kata-kata kami yang saling beradu mulai memunculkan api berkobar dan kami saling membakar, bukan menghangatkan.

Setelah itu, tidak ada kata-kata yang keluar dari siapa pun karena setiap untaian kata telah terbakar habis dan menjadi abu disusul dengan turun hujan deras.

Kami kehabisan kata-kata dan suara hujan memecah hening untuk beberapa saat.

Dia kemudian meminta maaf, sekali.
Lalu meminta maaf lagi.
"Aku mengingat setiap kata-kata jahat yang aku keluarkan padamu, jadi aku minta maaf," katanya lagi. Kemudian, mengucapkan maaf lagi. 
Dan, lagi.

Saya mengingatnya, lima kali dia ucap permohonan maaf, tapi kata tersebut seperti sebilah pisau yang menusuk dada. Hari itu, mengetahui kata maaf saja belum cukup, dia juga bilang, "Coba lihat itu, langitnya bagus sekali hari ini. Kamu suka langit 'kan, bagus itu warnanya."

Itu sudah pukul lima sore ketika hujan berhenti dan langit menjadi terang kembali.

Saya menoleh ke arah belakang kiri, dan benar. 
Langitnya mulai merah kekuningan seperti telur omega bercampur bunga matahari. Kami tidak banyak bercakap, tapi sepakat untuk pindah tempat. Dalam langkah perjalanan sore itu, dia berkali-kali bilang, "lihat itu, bagus langitnya."
"Hari ini langitnya bagus."
"Jangan nunduk, coba lihat itu, mulai oranye."

Saya masih terus diam, tapi di setengah perjalanan, warna langit berubah jadi warna yang paling saya suka. "Oranye pekat begini adalah warna langit yang saya sukai," ucap saya setelah hening beberapa lama. 
Dia tersenyum, kemudian setengah berbisik dia katakan, "Kalau orang Sunda pamali keluar pas warna langitnya begini." Kami tertawa sejenak sambil terus melangkah ke tempat tujuan.
Dan sedihnya, itu jadi percakapan penutup yang pahit.
Hari itu hari Rabu, langitnya indah sekali, warnanya Dewangga. Mengetahui bahwa dia mengingat detail kecil tentang saya adalah hal menyenangkan, tapi rupanya itu jadi pertemuan terakhir saya dengan dia.

***
Saya suka langit.
Tapi setiap kali melihat langit, saya seperti sedang menyusun daftar kehilangan. 
Kemarin saya ditinggal pergi Bundo, hari itu saya kehilangan dia, besok entah akan kehilangan siapa. Semoga—selalu saya upayakan, semoga saya tidak pernah kehilangan diri sendiri.

Tidak ada komentar:

Ada pertanyaan atau kamu ada masukan?

Ditunggu komentarnya!:)

Yuk Berlangganan!

Nggak mau ketinggalan informasi dari blog ini? Let's keep in touch! Tinggalkan alamat e-mail kamu dan dapatkan review artikel, tutorial, serta tips menarik secara gratis! :)

  • About Dza
  • About
  • Shop
  • FAQ
  • Explore
  • Lifestyle
  • Tips
  • Salero Uni
  • E-commerce
    Connect

Copyright Forever Young Lady All rights reserved. Design by Jung - Good Ideas. Great Stories.