[15] Ibumu (pun) Menunggu


Ambu.

Kemarin aku tak mengirim surat, bukan karena aku marah, bukan. Aku sibuk berbincang dengan kurir pos yang terus menerus mengantarkan suratku untukmu. Dia cantik, baik, dan menitipkan salam untukmu. Ambu, mari baca ceritaku kali ini. Aku sudah bertemu ibunya Zi. Dan aku berhasil merekam obrolan kami, tanpa sepengetahuan beliau. Kami duduk santai di depan teras, meski ibunya menyuruh untuk masuk ke dalam, kurasa lebih pantas duduk saja di luar. Malam tadi aku bergadang, kutranskrip utuh perbincangkan kami, untuk kau baca.

“Jadi, ke mana Zi?”

“Kamu temannya?”

“Anggap saja begitu, bu.”

“Dia sudah lama pergi.”

“Ke mana?”

“Entah eeh, ibu juga nggak tahu. Udah lama nggak ngasih kabar.”

“Ibu kenapa nggak lapor polisi?”

“Loh memang bisa minta tolong polisi tanpa bayaran?”

“Memangnya nggak bisa?”

“Entah.”

“Jadi, sejak kapan Zi menghilang?"

“Dia anaknya aktif sekali. Kadang pergi pagi buta, pulang dini hari, nanti dia cerita lewat tempelan kuklas.”

“Tempelan kulkas?”

“Iya, soalnya saya sama anak saya sama-sama sibuk, nih. Nanti kalau dia yang libur bisa semingguan di rumah, tapi pas saya yang kerja.”

“Maksudnya tempelan kulkas, gimana bu?”

“Ya… karena kami sibuk, jadi Zi dan ibu suka menulis pesan di memo, nanti memonya ditaruh di pintu kulkas pakai tempelan magnet. Kadang, di depan pintu kamar mandi tempel pakai selotip.”

“Isinya?”

“Ya macam-macam. Kadang pesan mau pergi ke mana, berapa lama, dengan siapa. Kadang juga pesan kebutuhan pangan apa yang sudah habis, atau mengabarkan ada makanan apa yang disimpan di dalam kulkas.”

“Kenapa nggak di sms atau email?”

“Supaya sama-sama merasa sedang berbicara di rumah. Kami suka menulis. Dan karena kami sibuk, jadi hanya tulisan yang bisa menyatukan kami.”

“Terus Zi nggak ngasih surat akan pergi ke mana sebelum pergi?”

“Nggak.”

“Ibu nggak takut dia kenapa-kenapa atau, maaf, mati di jalan, misalnya?”

“Dia bisa jaga diri, ibu tahu itu. Kalau pun dia mati di suatu tempat, yasudah. Mati itu adalah hal yang pasti, bukan?”

“Tapi semua orang mencari Zi, bu.”

“Mencari atau hanya kepo nih? Mencari artinya bukan hanya bertanya, loh.”

“Saya mencari, bu.”

“Kamu temannya?"

“Anggap saja begitu...”

Kemudian kami meminum teh rosella yang beliau hidangkan. Sore itu ibu Zi belum menutup gorden sehingga mataku dengan leluasa dapat melihat apa yang ada di dalam rumah. Ibu Zi masuk sebentar ke dalam rumah lalu kembali ke teras menemuiku, memamerkan baju-baju kebaya buatannya yang begitu bergaya. Warnanya merah muda, dengan payet berwarna oranye campur kuning, dan songket merah mudah bergradasi abu-abu. Katanya ibu, baju itu akan ia berikan untuk Zi, kelak ketika ia akan wisuda nanti. Berikutnya ia memegang pakaian panjang berwarna hijau muda, untuk Ia gunakan ketika menemani Zi wisuda nanti. Ibunya selalu berangan-anagan akan datang ke sana, bersama nenek Zi yang sudah lama juga menginginkan momen itu tiba. Tapi Zi entah ada di mana, sementara neneknya tak bisa menunggu lebih lama. Ibu lembali bercerita bahwa pada malam selasa di beberapa bulan setelah Zi menghilang tanpa kabar, neneknya pun menutup mata untuk selamanya.

Ambu, apakah kau tipe wanita yang seperti ibu Zi? Yang menyimpan rapat-rapat rasa cemas dan mengabaikan gundah, mengubur ketakutan yang membuncah dan memilih untuk memasang wajah cerah, pada semua orang. Apakah kau begitu? Setelah aku menemui ibu Zi, aku jadi paham. Wajar saja jika Zi menghilang. Ia mungkin tak bisa seperti ibunya yang pandai menyembunyikan kesedihan, dan karenanya ia memilih bersembunyi. Ah, Ambu, kau harus menemui ibunya Zi. Dia baik sekali.

Regards,
Uni.

2 comments:

Hi! Thank you for visiting my website. I hope you can enjoy read all about blog post here and lemme know your opinion! Please leave on the comments bellow :)