Skip to main content

[Prompt #72] : BABU




Aku masuk ke ruangan berukuran sedang, yang di dalamnya duduk seorang pria separuh baya, berkemeja hitam dengan dasi kuning bercorak. Dengan langkah sedikit ragu, aku menghampirinya.
"Bapak memanggil saya?" Kataku setengah menunduk. Ia terkekeh, tangannya memberi kode agar aku duduk di depannya yang dibatasi meja kerja. Ada sampai dua menit, aku merasa pria yang paling disegani di kantor ini, menatapku, sebelum akhirnya ia angkat bicara.
"Saya sudah perhatikan kamu sejak lama. Kenapa kamu mau jadi orang yang disuruh-suruh? Padahal semua orang di kantor ini punya pekerjaan sendiri," tanyanya pelan. Tangan kanannya mengusap-usap dagunya, sambil menunggu jawabanku. Pikiranku kembali mengingat-ingat, setahun terakhir ini memang sering kali disuruh mengerjakan apa yang bukan kewajibanku.
"Ah, pak. Saya 'kan, mantan staf umum, sudah sewajarnya. Lagipula, mereka senior," kataku dengan sopan. Ia terkekeh lagi.
"Apa yang kamu rasakan waktu disuruh-suruh?"
"Uhm... Saya... Saya seperti menari, pak. Kesana-kemari seperti orang gila," jawabku seadanya. Pria itu mengusap dagunya lagi, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. Aku yakin, ia pasti ingin menyuruhku juga.
"Hm. Buat saya, kamu itu seperti Chandelier di kantor ini. Menerangi sekeliling meski kamu rela terbakar,"
"Eh? Istilah itu terlalu indah, pak. Saya seperti ba..."
"Kalau kamu saya suruh sesuatu, kamu bersedia?" katanya memotong ucapanku. Tubuhnya sedikit condong ke depan, setengah berbisik. Aku tahu, harus sadar diri. Aku bukan siapa-siapa di sini, mana mungkin berani menolak. Apalagi, mengingat segala kebaikan pria itu di masa lalu, yang telah menolongku hingga mendapat pekerjaan ini, membuatku merasa banyak berhutang budi. "Bapak mau minta tolong apa?"
Aku memerhatikan ia membuka laci kerjanya dan mencari sesuatu. Lalu dikeluarkannya sebuah foto berukuran sedang, menampilkan wanita dengan senyum gingsul; tunangan pria itu. Wanita itu beberapa kali pernah singgah ke kantor ini.
"Kamu kenal dia, kan?"
"I, iya. Terus kenapa, pak?"
"Kemarin malam saya membunuh dia di apatermennya."
"Kenapa?"
"Tak perlu tahu."
"Oh."
"Nah. Bisakah... Bisa saya minta tolong ke kamu? Katakan ke polisi, kalau kamu yang melakukannya. Saya akan bayar berapa pun yang kamu minta. Keluargamu pasti butuh banyak uang."
"Hah?! Tapi, pak," kataku setengah melotot. Aku tak masalah mengerjakan sesuatu yang bukan kewajibanku, tapi kalau mengaku yang bukan perbuatanku, itu...
"800 juta. Bagaimana? Kasihan adikmu kan, perlu uang iuaran, dan ibu lagi sakit, bukan?" ujar pria itu setengah menyeringai. Pengharum ruangan beraroma jeruk di ruangan ini seketika terasa memuakkan. Napasku memburu cepat dan mataku mulai berkabut.
"Kamu Chandelier. Buatlah hidupmu bermanfaat untuk banyak orang," katanya dengan nada seperti memohon. Aku menelan ludahku sendiri. Perlahan, pipiku basah oleh tetes-tetes air yang jatuh dari pelupuk. Aku menangguk



________________

412 kata tanpa judul dan catatan kaki


pict was taken from here

Comments

  1. Saya ikutan emosi baca ini. Dengan mengabaikan clip chandelier yg jadi prompt ini berhasil

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, terima kasih kak, sudah baca. Masih ada plot bolong nya nih.

      Delete
  2. wah.. di jauh berbeda dengan yg lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, aku kayaknya beda sendiri, nih, kak :|

      Delete
  3. Replies
    1. Iya, manfaatin pegawainya yang polos. Kesel ih!

      Delete
  4. Replies
    1. Banget. Semoga realita nggak ada yang kayak gini.

      Delete
  5. Interpretasi yang sama sekali berbeda, Uni. Dan keren!

    ReplyDelete

Post a Comment

Hi! Thank you for visiting my website. I hope you can enjoy read all about blog posts here and lemme know your opinion! Please leave on the comments bellow :)

Popular posts from this blog

[BEAUTY CORNER - 02] Dewa Kelembapan, si Vaseline Petroleum Jelly

Hallo, Assalamualaikum teman-teman :)

Bagi saya, mengeluh adalah cara paling cepat untuk menghilangkan jenuh tapi sebetulnya bukan hal yang baik. Tapi enak. Tapi nyebelin. Dan di postingan kali ini saya akan berkeluh-kesah mengenai permasalahan kulit saya. Jadi, waktu itu saya mengecek kondisi kulit dan tipe kulit wajah saya ternyata kombinasi - minyak di T-zone. Namun, kulit tubuh kering kayak sisik ular, sampai rasanya kulit saya saingan sama kulit ular kobra yang belum ganti kulit. Plus misalnya kena sinar matahari, dia langsung bereaksi bintik merah, terbakar, agak kehitaman, kadang malah berdarah di bintik tersebut. (update : sejak 2016 kondisi kulit saya berubah jadi kering - sensitif). Lalu saya bingung, bagaimana cara mengatasi kulit kering berjerawat?





Permasalahan saya belum berhenti di sana. Kondisi bibir saya tuh ekstrim banget sih, suka pecah-pecah sendiri dan tiba-tiba berdarah ketika tersenyum, yang artinya sangat kekeringan. Banyak yang bilang karena saya kurang minum, pa…

[Beauty Corner - 14] Nih, Lima Macam BB Cream yang Perlu Kamu Coba!

Assalamualaikum!
Beberapa pembaca saya di Line dan e-mail mengirimkan pesan, meminta saya menuliskan tentang BB Cream yang ramah di kantong untuk mereka pakai. sebetulnya tidak bisa sembarang kasih rekomendasi karena aktivitas kita berbeda, jenis kulit juga berbeda, dan yang seperti ini tuh biasanya harus trial and errror untuk tahu apakah kamu cocok atau tidak.




BB Cream ini memang jadi booming sekali sejak ada K-Pop Wave di negara kita. Banyak juga kolega saya yang dulunya pakai Foundie, beralih ke BBC. Manfaatnya memang All in One, sih, ya... Konon, berdasarkan iklan-iklan pembuat BBC, itu tuh isinya sudah komplit ada Base + Foundation + Concealer + Sunblock + Moisturiser + Oil Control .


Well, segitu komplitnya hanya dengan cream yang cuma dipakai sebiji jagung tiap diaplikasikan. Karenanya, BBC lebih ringan di wajah, lebih ramah di kantong juga, jadi lebih praktis, ketimbang harus pakai kosmetik secara berlapis. :) Malah untuk beberapa BBC ada yang klaim bisa mencerahkan atau memutihk…

Lima Tempat yang Perlu Kamu Datangi Kalau ke Cibinong

Sejak saya tinggal di Cibinong, nyokap kadang khawatir lihat saya nggak seperti orang kebanyakan yang suka bergaul sambil jajan ke sana kemari. Saya lebih suka nongkrong berjam2 di suatu tempat dan kalau ada teman yang sanggup saya cuekin sekian jam, kadang dia  ikut nongkrong juga. Sebetulnya, dibilang kecanduan makan di kafe, enggak juga. Tapi kalau dibilang asik dengan dunia maya, iya, saya begitu, kok. Mengakui bahwa ada kehidupan di dunia maya yang sama serunya dengan dunia nyata. Namun, untuk bisa survive di dunia maya tuh, butuh koneksi internet yang sangat baik which is called, use wifi. Iya, kan? Ehehehehe.
Makanya saya suka keliling tempat buat numpang colokan sama Wifi sekalian kulineran. Peribahasanya mah, "sekali mendayung seribu pulau dikunjungi"
Ada yang kayak saya juga? Nyusahin, ya. Nyebelin juga. Ya tapi itu tujuan diciptakannya kafe-kafe di beberapa kota, kan? Buat dimanfaatkan fasilitasnya. Jadi berkah, deh.
Nah, walaupun saya tinggalnya di pedalaman Bog…