Delusional

Aku terbangun karena cahaya lampu kamar yang menusuk mata. Perih. Siapa pula yang menyalakan lampu di pagi buta. Aku mengucek kedua mataku yang penuh dengan tai mata. Kulirik jam dinding, pukul empat subuh. Aroma asap rokok dan minuman keras sisa semalam masih menguar di langit-langit kamarku. Aku berdiri, meninggalkan kasurku yang acak-acakan.
Dan ada seseorang di ruang tamuku. Duduk membelakangi. Kepalaku masih pusing, tapi aku tahu dia siapa. Dia kembali.
"Kenapa kamu kesini?" Tanyaku. Wanita itu bergeming. Puh. Pasti dia yang menyalakan lampu kamarku.
"Aku tidak butuh kamu kembali, Mia. Aku sudah cukup sakit hati sekali. Tidak sanggup untuk yang kedua atau yang ketiga kalinya, tidak. Pulang sana!" Gubrisku. Dia mmbalikan badan, melemparkan sebuah senyuman manis. Telunjuknya bergerak menunjuk meja makan, ada secangkir kopi hitam dan roti berlapis mentega yang dibubuhi gula. Buat apa dia kembali, hah?!
Mia.
Kekasih yang memutuskan untuk memilih dia. Oke, aku bukan diselingkuhi. Tapi Mia memang mencintai dua orang sekaligus di waktu yang sama. Kandas sudah hubungn kami selama 4 empat tahun. Pupus sudah harapanku untuk hidup bersamanya. Dihadapanku dia mencium lelaki itu. Dan pergi meninggalkan aku.
"Bagaimana kabar pacarmu, heh? Kudengar dia ada di penjara. Kenapa? Masih juga kau pacari dia?"
Kataku sedikit lantang. Senyumnya menghilang. Melihat wajahnya yang tanpa senyuman, membuatku malas untuk menyesap kopi buatannya. Aku melangkah menuju ruang tamu, duduk dihadapannya. Hanya duduk, menatapnya. Aku tak akan mendekat, tak akan mau jatuh cinta lagi.
"Maafkan dia, temuilah di penjara. Katakan padanya aku baik-baik saja dan tetap mencintai dia. Maaf."
Suaranya pelan, lembut, tapi dingin. Lalu air mata mulai megalir membasahi pipinya. Ia berdiri, bergegas keluar rumah. Hanya itu.
Dan aku gontai menggiringnya keluar rumah. Mia masih Mia yang dulu. "Aku tidak akan mencintai kamu lagi, Mia! Aku akan temukan wanita lain yang lebih setia! Ini sudah tahun baru. Aku akan melupakan kamu!" Teriakku ketika ia sampai di pintu gerbang. Ia menoleh sesaat,
"Lakukanlah,"
Lalu sekejap hilang dari pandanganku. Eh? Apa aku masih mabuk atau... Ah sudahlah. Kututup pintu rapat-rapat.
•••
"Maaf Yudha. Maafin saya. Tolong maafin saya." Hanya itu kalimat pertama yang terlontar dari kekasih Mia. Aku menemuinya di penjara dan wajahnya suram, menunduk sedalam mungkin.
"Saya hanya mau menyampaikan pesan Mia. Dia bilang kamu jangan bersedih, dia juga bilang kalau dia akan baik-baik saja dan dia tetap mencintai kamu. Catat, mencintai kamu, bukan saya." Aku mengatakannya dengan sekali tarikan napas tanpa jeda. Lega. Tapi raut muka kekasihnya itu justru membingungkan. Matanya terbelalak dan amat terkejut.
"Kenapa begitu sih, kan dia mencintai kamu, bukan saya. Kemarin dia datang kerumah saya HANYA untuk menyampaikan itu. Oh ya, selamat tahun baru. Semoga kita bisa berdamai." Kataku lagi.
"Yudha, itu nggak mungkin."
"Kenapa?" Kataku.
"Kamu tahu kenapa saya ada di penjara?"
"Eh?"
"Malam itu saya menemukan foto kamu di dompetnya. Saya marah, saya mau menemui kamu, mau membunuh kamu. Ta... Tapi... Dia menghalangi jalan saya, sekuat tenaga menahan saya, dan saya menghentakkan dia, badannya terpelanting, kepalanya membentur sudut tangga rumah saya. Dia.."
"Dia?" Kataku memotong.
"Dia tidak tertolong. Inilah alasan saya masuk penjara. Bagaimana mungkin kamu tidak tahu? Ini sudah setahun yang lalu!"
"..."
Aku terdiam sejenak. Mengingat Mia yang datang tiba-tiba, lenyap begitu saja, senyumnya yang dingin... Jadi, siapa yang datang kerumahku pagi buta? Hantu? Aku yakin aku sudah tidak mabuk saat itu.

0 comments:

Post a Comment

Hi! Thank you for visiting my website. I hope you can enjoy read all about blog post here and lemme know your opinion! Please leave on the comments bellow :)