Kini

Di beberapa waktu senja,
pernah terdengar suara tangisan yang sempat berbaur dengan suara tetes-tetes hujan yang akan terasa sangat memilukkan jika kamu mendengarnya.
Itu dulu, saat akhirnya kamu datang dengan bunga-bunga untukku, yang warna bunga di setiap kuntumnya terasa lebih indah dari pelangi.
Senja tak pernah lenyap dari pandanganku di balik jendela kamar, tapi kesedihanku lenyap begitu saja.
Apakah kamu seorang malaikat, atau salah seorang pandawa lima, atau kamu itu Jaka Tarub?
Aku tak punya selendang untuk kamu ambil, tapi kamu memang seorang pencuri.
Kamu telah mencuri hatiku.
Kamu mencurinya dan membalut luka di hatiku yang nyaris bernanah.
Dan kamu berjasa, karena telah membantuku menciptakan bahagia dalam duniaku, lalu bahagia itu menjadi milik kita.
Aku tahu kamu nyata, dan rasa ini bukan khayalan belaka.
Tentu, aku tahu kamu telah menanam seribu bunga di taman hatiku yang sempat kelabu,
Dan aku kini tak lagi meragu untuk mencintaimu sepenuh hatiku. Aku tak malu mengaku bahwa aku jatuh cinta padamu.
Selamat datang di lembah hatiku yang masa lalunya sudah kusapu.
Kini, hati ini milikkmu utuh.

0 comments:

Post a Comment

Hi! Thank you for visiting my website. I hope you can enjoy read all about blog post here and lemme know your opinion! Please leave on the comments bellow :)