Senandung Doa


Ibu. Pagi itu ia membangunkanku lewat ayat-ayat al-Quran yang ia lantunkan dengan syahdu. Aku merangkak keluar dari balutan selimut yang menjagaku semalaman dengan hangat. Kulirik jam
dinding, arah jarum jamnya menunjuk ke angka lima.
Suara Ibu yang mengaji terdengar nyaring di keheningan subuh yang masih membalut bumi. Ah, tentram sekali rasanya. Perlahan-lahan aku
mengendap-endap menuju tempatnya yang sedang bermajakan syair-syair indah dalam kitab suci. Aku
berhasil menyentuh tubuhnya,  menyandarkan kepalaku pada kedua paha yang kakinya sedang berselonjor di atas sajadah berwarna hijau. Selalu begini, setiap pagi. Lalu akan kutebak, ibu berhenti membaca ayat-ayat suci dan menepuk punggungku
dengan pukulan kasih sayang, menyuruhku untuk tak lagi tertidur. Namun, siapa yang kuasa untuk tak terbuai oleh alunan syahdu seperti itu? Dan Ibu hanya akan tersenyum geli melihat kelakuanku yang berpura-pura tertidur kembali itu.
'Jangan berhenti, Bu. Teruskan. Aku ingin selalu mendengar Ibu mengaji sampai kapanpun.'
Semoga Allah mendengar permintaanku tadi.
Seakan mendengar isi hatiku, kali ini Ibu melantunkan sholawat nabi yang tak kalah syahdu dengan mengajinya tadi. Senyap terasa saat sholawat itu didendangkan ibu, dan selain itu hanya terdengar suara desahan oksigen yang terhisap. Aku memejamkan mataku dan benar saja. Ia memukul pelan punggungku.
"Sana, temui Allah dulu. Solat itu lebih penting dari tidur, bukan begitu yang sering di ajarkan ayahmu, nak?"
Ibu mengusap pelan punggungku, lalu mengacak-acak rambut yang tak karuan bentukknya. Aku menguap, memaksakan tubuhku untuk duduk di sampingnya, lalu mata kami bertemu.
Ada kehangatan di sana. Aku segera mengangguk pada ibu. Kutemui Allah segera setelah Ibu menyuruhku untuk bergegas menunaikan solat subuh. Setelah dua salam di penghujung solatku, aku bersimpuh pada-Nya, memanjatkan segala doa. Yang
terutama untuk Ayah yang telah berada dalam pelukan Allah. Kukirimkan doa agar beliau selalu dinaungi oleh rahmat-Nya. Dan yang terakhir untuk Ibu. Ada jeda di sela-sela doaku itu. Doa apa yang pantas aku panjatkan untuknya? Aku selalu merasa kurang atas doa yang kutujukan untuknya. Seketika wajah sendu penuh kasih sayang itu melintas dalam benak. 
'Ibu nggak perlu kamu melakukan apa-apa untuk membuat Ibu bahagia. Cukup doakan
Ibu agar selalu sehat dan tegar,'
Aku teringat ketika Ibu mengatakan hal itu, ketika kami baru saja menggelar selamatan 40 hari kepergian Ayah. Maka, kupanjatkan doa agar Ibu selalu diberkahi kesehatan dan juga ketegaran lagi.
Tentang ayah... ada sesak yang menyelimuti. ada resah yang tak pernah hilang. Ayah pergi lebih cepat dari perhitunganku. lebih cepat dari senja yang akan berganti malam. Ayah pergi tanpa sempat memberi isyarat kepada kami, dan pergi begitu saja. Tidak minta di antar dan tidak pernah mau melibatkan kami. Seolah tak mau membuat kami kerepotan. 
Aku segera membereskan perlengkapan ibadahku, dan kulihat ibu sudah melakukan semuanya dengan cepat. Tirai-tirai di setiap sudut rumah sudah tersibak, mempersilakan sinar mentari masuk ke dalam sela-sela jendela. Sudah siang menurut ibu, padahal masih
pukul enam. Kuhampiri Ibu di dapur. Tangannya tengah asik mengaduk susu coklat kesukaanku dalam gelas. Ketika Ibu menyadari kehadiranku, ia langsung memasang senyum andalannya. Senyum yang tak pernah tergantikan dalam ingatanku. Senyum yang sarat akan cinta. Hatiku terenyuh seketika. 
'Ya Rabb, terima kasih Engkau telah memberiku ibu yang sangat baik.' Batinku berujar.
"Yuk kita sarapan dulu. Habis ini Ibu mau langsung ke pasar, mau beli benang, ada orderan jahitan, Yash,"
"Alhamdulillah," jawabku penuh syukur. Ibu memang seorang penjahit. Dengan keahlian yang ia miliki tersebut, ia mampu membantu keuangan keluarga kami. Hingga akhirnya Ayah meninggal, menjahitlah satu-satunya mata pencaharian yang Ibu andalkan. Aku segera menuangkan nasi dan lauk pauk ke dalam
piring yang sudah di sediakan ibu. Telur balado kesukaan aku, dan ayah. Aku terdiam sejenak... Kembali teringat kejadian naas itu. Saat itu ayah tengah pulang kerja, tak seperti biasanya ia harus lembur dan pulang pukul tiga dini hari. Lelah, acuh melihat lampu merah yang menyuruhnya berhenti, tak fokus mengendalikan motor, lalu dari arah yang berlawanan sebuah truk semen menabraknya. Luka
menjalar di sekujur tubuhnya. Hari itu kepalanya bersimbah darah. Aku masih ingat semuanya. Potongan-potongan kejadian itu kembali terngiang dalam ingatanku. Tidak, nyawa ayah tak meregang saat itu, ia berhasil selamat dan masih bisa bertahan hidup selama satu tahun setelah kejadian itu meskipun banyak obat yang harus masuk ke dalam tubuhnya. Namun tanpa kami ketahui, ada
pihak berkepentingan telah memasukan suatu cairan ke dalam obat yang harus di konsumsi ayah. Saat itulah ayah harus pergi dari dunia ini.
"Kok melamun... segera dihabiskan sarapanmu, nanti cepat dingin nasinya," ibu mengagetkanku. Aku suap sendok demi sendok sarapanku pagi itu. Dengan pikiran yang melayang kemana-mana. Ke tempat-tempat dan kejadian masa lalu.
"Apa renacanmu hari ini?" tanya Ibu kemudian.
"Aku akan menyerahkan persyaratan buat masuk PTN jalur undangan Bu,"
"Semuanya sudah lengkap?"
"Insya Allah sudah, Bu. Tapi ada satu lagi yang kurang,"
Seketika Ibu menghentikan aktivitasnya merapikan meja makan setelah kami selesai sarapan. Keningnya berkerut tanda minta penjelasan.
"Apa itu, Yash?"
"Doa dan ridho Ibu. Tinggal itu yang aku butuhkan,"
Hening sejenak. Ada jeda di antara kami sebelum akhirnya Ibu mendekat ke arahku.
"Pasti, Yash. Bahkan sebelum kamu memintanya,"
Dengan lembut, Ibu mengelus-elus rambatku. Didekapnya aku erat. Aku membalas dekapannya dengan tak kalah eratnya. Tetesan air mata tak dapat dibendung lagi.
•••
Berangkatlah aku pagi itu dengan iringan doa dan ridho Ibu. Kepercayaan diriku semakin bertambah. Semoga bisa lolos SNMPTN Undangan. Itulah doa yang aku panjatkan sepanjang jalan menuju sekolah.
"Berkas kamu sudah lengkap, tinggal tunggu hasil dan
pengumumannya saja ya, Yash," Kata Pak Muqti, wali kelasku. Aku hanya mengangguk mengiyakan.
"Semoga keterima ya. Banyak berdoa dan jangan tinggalkan solat dan sedekahnya," tambah Pak Muqti. Lagi-lagi aku hanya mengangguk.
Di perjalanan pulang sore itu dari sekolah, seorang tua renta menghampiriku. Jalannya tertatih-tatih. Pakaiannya lusuh, bolong di sana-sini. Aku teringat pesan Pak Muqti tadi. Kurogoh kantung seragamku, mengambil dua lembar uang seribuan. Dengan niat
ikhlas, kuasongkan dua lembar uang seribuan tersebut pada bapak dihadapanku itu. Semoga Allah memberikan kelancaran dalam segala urusanku. Semoga ini kesempatan terbaik yang Allah berikan padaku untuk meraih cita-citaku. Senja kala itu
terlihat syahdu dengan warna jinganya yang terasa lembut di pandangan, seolah iya ikut mengamini atas doa-doaku barusan.
Aku tiba di depan rumah tepat saat adzan magrib berkumandang di surau dekat rumah dan juga terdengar dari stasiun televisi di dalam rumah. Ada ibu di depan teras, tersenyum penuh kelembutan.
"Tadi bisa Yash?"
aku menghampiri ibu, memeluknya erat dan mencium punggung tangannya. Sambil mengangguk mantap.
"Assalamualaikum, ibu. iya tadi Yash bisa. Aku ikhlas apapun hasilnya bu. Ya walaupun Yash berharap keterima sih,"
Kami tertawa serempak. Ibu segera mendorong pelan bahuku, menuntunku agar segera masuk ke dalam.
"Oh iya, tadi ibu dapat uang kiriman 200 ribu hasil jahitan ibu beberapa minggu yang lalu, Yash. Orangnya kasih ibu uang lebih. Alhamdulillah,"
Aku tertegun sejenak. Secepat itukah dibalasnya? Aku hanya bersedekah dua ribu dan mendapat 200 ribu? Ah terimakasih Yang Maha Murah Hati, atas kebahagiaan ini.
•••
Aku tertunduk tegang di depan papan pengumuman. Di sana tertera nama-nama yang lolos SNMPTN Undangan. Mataku tak kuasa menatap deretan nama-nama tersebut. Teman-temanku bersorak riuh reda menanggapi pengumuman itu. Tak sedikit juga yang bergumam kecewa karena tidak lolos. Lalu, bagaimana
denganku? Bismillah. Kukuatkan hatiku untuk menerima apa yang akan kulihat. Saat mata ini mencari-cari nama sang empunya, namun tidak ada nama itu di sana. Tidak ada nama Yashinta tertera di sana. Lututku lemas, napasku memburu. Kurasakan
mataku mulai panas. Air mata mulai mendesak untuk keluar.
•••
"Sudah, Yash. Bagaimana pun kan ini hasilnya. Kamu harus terima," ibu mencoba menenangkanku ketika tangisku tak kunjung reda. Aku telah banyak berharap akan keterima di Universitas Negeri favoritku itu dengan jurusan arsitektur yang selalu aku idam-idamkan. Namun, Allah menjawab lain. Apa Allah
tak sayang padaku? Kenapa Ia tak memberi apa yang aku inginkan? Kenapa Ia malah menjauhkanku dengan cita-citaku? Aku hancur dengan ketentuan Allah yang Ia takdirkan hari itu.
Aku bersimpuh di pangkuan Ibu. Lain denganku, Ibu sangat sabar dan tenang menghadapiku. Aku tahu, ia pun sama kecewanya denganku. Ia pun pasti telah berharap banyak padaku. Tetapi, apa yang aku beri? Hanya kekecewaan. Sungguh, ibu mampu menutupi rasa sedihnya itu. Malah ia yang membesarkan hatiku.
Dengan segala cinta kasihnya, aku dihujani dengan beribu nasehat dan doa-doa yang tak pernah aku lupa hingga saat ini.
"Yash, beginilah hidup. Kita ngga bisa meminta dan mengatur sesuka hati bagaimana jalan hidup kita. Serahkan dan pasrahkanlah pada-Nya, Yash. Biarkan Ia yang membimbing langkahmu,"
"Maaf, Bu."
"Buat apa minta maaf? Toh ini Allah yang ngasih, kok. Jadi terima saja. Masih ada hari esok, Yash,"

•••

"Mama Yash. ini tehnya ya ma, Suci taruh disini. Mama jangan melamun terus, nggak baik sudah mau waktu magrib masih melamun,"
Aku menoleh, melihat Suci yang sudah selesai menaruh secangkir teh garut yang paling terkenal sebagai teh pengekspor terbesar. Harum teh nya menyeruak. warnanya yang hijau kecoklatan
menambah kenikmatan. Aku mengangguk pada Suci,
membiarkannya masuk ke dalam rumah. meninggalkanku seorang diri disini. Aku selalu menyendiri setiap senja menjemput malam, sendirian
mengingat masa laluku. Terbayang-bayang tentang percakapan kami di pagi itu, teringat tentang ridho ibu yang selalu ada untukku bahkan sebelum aku memintanya. Kasih ibu, memang tak pernah tergantikan, dan sekeras apapun usahaku untuk
sepertimu bu, tetap saja tak sama. Aku mencoba melakukan hal yang sama terhadap cucumu Suci, bu. Tapi aku tetap saja rindu bagaimana cara kau memperlakukanku. Terlebih aku selalu rindu saat lantunan ayat suci Al Quran kau bacakan setiap dini hari... Ah sungguh tak terasa, sudah 25 tahun yang lalu kejadian tersebut.

•••

Ibu. Dialah orang pertama dan terakhir yang akan selalu mendukungku, menghujaniku dengan doa dan kasih sayang. Dialah orang yang tak pernah mengeluh karena capek untuk menjagaku. Setelah hari dimana aku tidak lolos SNMPTN, Ibu selalu mendorongku untuk terus mencoba dan mencoba. Walau kegagalan lagi-lagi menghampiriku. Dan tetap Ibu lah yang setia
menemaniku bahkan di saat-saat aku gagal dan terpuruk. Doanya lah yang senantiasa mengiringi langkahku, setiap saat, dimana pun aku berada, jauh maupun dekat. 


•••

Kolaborasi @titi_skandar dan @unidzalika

Comments

Popular posts from this blog

[BEAUTY CORNER - 02] Dewa Kelembapan, si Vaseline Petroleum Jelly

[Beauty Corner - 14] Nih, Lima Macam BB Cream yang Perlu Kamu Coba!

Lima Tempat yang Perlu Kamu Datangi Kalau ke Cibinong