Tanpa Jeda

Malam ini gerimis. Rintiknya tajam menghujam seisi bumi. Meninggalkan ketukan yang seirama. Sama dengan jarum jam yang seirama berdetak dan menunjukkan pukul dua belas lebih lima menit. Aku masih memandangi layar laptopku. Proyek pekerjaan baru-baru ini memang banyak menyita waktuku. Aku mulai menyimpan data-data proyekku, memencet gambar disk di sebelah kiri atas fileku. Dan sebuah pesan singkat masuk melalui emailku.
Dari kamu.

"Belum tidur?"

Aku menelan ludah. Seharusnya aku yang bertanya mengapa tengah malam seperti ini kamu belum juga tidur, apakah kamu sudah makan, sudah minum air putih yang banyak, sudah kunci rumah, sudah menyelesaikan semua pekerjaanmu, dan kenapa belum tidur, apa di rumahmu terlalu berisik oleh rintik hujan sampai kamu tak mau tidur atau kenapa?
Tapi kuurungkan semua pertanyaan itu.

"Belum. Aku masih pusing mengerjakan proyek"

Balasku singkat. Aku bisa bayangkan wajahmu Anna, wajahmu yang terlihat tetap ceria meski matamu lelah menatap lembar naskah yang jumlahnya lebih banyyak dari data-data proyekku. Tapi aku hanya bisa membayangkan, tak dapat bertemu karena kita berdua sibuk, dan terlalu mementingkan pekerjaan.

"Oh. Sama Ren. Aku juga masih harus mengedit naskah. Sepertinya malam ini kita akan bergadang ya!"

Kamu kembali membalas pesanku. Ada keceriaan disana. Aku juga bisa membayangkan rupamu yang sedang berlama-lama memandangi lembar naskah dan ditemani oleh secangkir susu putih penuh dengan kubik es dalam gelasnya, susu dingin kesukaanmu. Kamu harus tidur Anna, aku tidak ingin melihatmu sayu saat pernikahan kita nanti. Tapi apa dayaku, kami berdua memang menciptakan hubungan yang tak saling terbuka.

"Aku tidur duluan ya, sudah mengantuk."
"IH RENDI KOK NYEBELIN SIH?!"

Kamu cepat sekali membalasnya, Na. Kututup emailku, tapi layar laptop masih menyala, menenemaniku menuntaskan proyek.

•••

Memutuskan untuk menikah bukan hal yang mudah. Aku musti bolak-balik diskusi dengan keluarga. Umurku memang tak lagi muda, meski belum bisa dibilang tua. Tapi, masih ada Mbak Tania yang belum menikah.
Melangkahinya berarti harus meruntuhkan tembok keyakinan tradisi keluarga. Bikin capek. Aku merebahkan tubuh di kasur dan menyangga kepala dengan lenganku.
Beberapa kelebat kenangan mampir di benakku. Anna, gadis yang sudah kupacari dua tahun itu, akhirnya mau menerima pinanganku. Aku ingat waktu melamarnya.

"Nikah yuk, Na."

Anna yang sedang cekikikan menonton beberapa koleksi video Harlem Shake dari iPadku, langsung berhenti mendadak. Acara makan siang singkat yang langka di antara jadwal kami yang serba sibuk. Jujur saja, ini semua bermodal nekat. Aku siap jadi kepala rumah tangga. Anna yang dua tahun lebih muda dariku adalah anak pertama dari empat bersaudara yang jadi tulang punggung keluarganya, Kupikir itulah yang membuatnya selalu menghindar jika kuajak pembicaraan serius soal pernikahan. Tapi, aku tak mau lagi menunggu. Anna sudah cukup bagiku. Aku tak butuh yang lain lagi.

"Ehmm...kamu bilang apa, Ren?" kata Anna setelah berhasil menguasai dirinya.
"Nikah."
"Ren, nikah nggak semudah itu. Kita harus bener-bener sudah siap dan mikirin semuanya. Buatku, nikah itu satu untuk selamanya. Aku nggak salah ambil keputusan."
Anna tampak gugup. Aku maklum, tapi aku tak menyesal. Aku mau kepastian.

"Aku siap, Na. Luar dalem. Jadi suamimu adalah prioritasku saat ini. Keluargaku juga sudah setuju. Mbak Tania tak masalah."

Aku sudah telanjur maju. Meskipun selimut kabut keraguan membayangi wajah Anna, aku tak peduli. Persetan dengan egoisme, ini perjuangan. Hatiku bilang, ini yang benar. Dan, aku percaya itu.

"Aku...ehem...aku..., beri aku waktu mikir, ya?"

Siang itu, Anna memang tak langsung memberikan jawaban. Fine, aku sabar menunggu. Seminggu setelahnya, Anna memberikan jawaban kesediaannya untuk kunikahi. Tak banyak membuang waktu, aku dan keluargaku segera melamarnya, dan tanggal pernikahan itu sudah ditetapkan.
Well, rencana bisa saja disusun serapi mungkin, tapi hasilnya belum tentu sesuai harapan. Justru mendekati detik-detik pernikahan kami semakin jarang bertemu dan pekerjaan masing-masing seperti tak ada habisnya. Macam kejar setoran saja.

Ahh, pusing. Kusambar bantal. kubenamkan wajahku. Berharap gelegak pikiran di otakku bisa terurai satu-satu. Dalam posisi begitu, kantuk datang tanpa diundang. Bah, proyekku belum kelar. Tapi tinggal merapikan beberapa bagiannya saja. Aku mengintip jam dinding. 2.17. Baiklah, tidur dulu barang dua jam.
Subuh nanti saja dilanjutkan mengerjakan file proyek itu.

••

Gerimis masih ada ketika sayup-sayup terdengar lagu Could it be milik Raisa. Huh! Baru saja kubiarkan mataku terpejam tapi suara itu menyuruhku untuk membuka mata.
Telepon selulerku berbunyi. Dari kamu.

"Bangun Ren, sudah subuh. Kamu bisa telat kerja kalau tidak siap-siap dari sekarang."
Suaramu di sebrang sana menghilangkan kantukku. Sungguh seperti seorang suara malaikat yang menyegarkan pagiku. Kulirik jam dinding. Jam lima pagi. Aku tertidur lebih dari dua jam.

"Iya Na, makasih."
"Emm... Kamu.. tidak mau bertanya apa kesibukanku hari ini?"

Aku terdiam. Sampai segitunya kamu bertanya padaku. Tentu saja aku ingin tahu Na. Apakah kamu bergadang, apa kamu sudah makan, apa sudah meneguk susu hangat , apa kamu sudah mandi, apakah kamu minum suplemen, apa ada pekerjaanmu yang bisa aku bantu, apa kesibukanmu sekarang dan kapan kita punya waktu untuk makan siang?.

"Sibuk dengan naskah kan. beraktivitas Na."

Klik. Kumatikan telepon genggamku. Membayangakn raut mukanya disana yang sedang bosan dengan ke-kakuan ini. Aku bergegas. Dan oh! Sial. Sepertinya akan memakan waktu setengah jam mobil dapat bergerak. Kemacetan membuat mobilku seperti siput. Aku mendongak menatap langit yang tertutup mendung. Rintik gerimis turun perlahan. Suasana ini enak kalau sedang weekend dan dihabiskan berdua denganmu, Na. Tidak di hari kerja begini.
Untung tadi Anna membangunkanku sebelum Subuh jadinya aku masih sempat menyelesaikan kerjaan. Kalau kebablasan bisa-bisa mati gaya di presentasi nanti. Ah, Anna. Kamu itu apa benar tak pernah bosan denganku, dengan sikapku? Kamu yang selalu menelepon, sms, BBM, dan kubalas secukupnya saja. Kamu tetap saja ceria dan menggemaskan.
Tanpa berpikir dua kali, ku-dial nomor Anna dan menyumpalkan satu earphone ke kuping.

"Hai, Ren,tumben telepon. Sudah sampai mana? Aku masih nunggu taksi nih. Penuh mulu." Aneh. Gerutuan Anna malah membuatku tersenyum. Aku membayangkan sebentuk bibir manyun dan pipi yang digembul-gembulkan.

"Mau kujemput saja?" tawarku.
Anna menyahut cepat, "Eh, nggak usah, kan hari ini kamu ada presentasi. Proyekmu itu harus kelar sebelum weekend, Ren. Minggu depan kita udah sibuk ngurus perintilan nikahan kita, kan? Lagian kantorku kan nyantai, yang penting target naskah dah dapet sih."
"Ya, udah. Ini aku jalan lagi. Tinggal dikit nyampe kantor. Baik-baik, ya, Na?"
"Iya, Rendi Sayang. Hai, ingat sarapanmu. Kamu selalu lupa sarapan. Presentasimu butuh stamina, Ren." See, Anna sudah cukup bagiku. Dia untukku.
"Iya."
"..."
"Ren, kiss me dong?"
Aku meneguk ludah. Gugup. Asal tahu saja, meskipun kami berpacaran dan sebentar lagi menikah, aku baru dua kali mencium Anna. Di bibir, maksudku. Itu pun hanya casual kiss.
"Ren...? Jangan bengong donk, kan lagi nyetir." celetuk Anna ketika aku maish tak bersuara.

"Aku sampai nih. Mobil masuk basement, sinyalnya susah. Aku tutup ya, Na?"

"RENDI....MANA CIUMANNYA?"

Klik, kuputus sambungan telepon. Earphone kucabut saat aku mengambil karcis parkir.
•••

"Pak, presentasi mulai lima menit lagi ya. Di tunggu di ruang meeting"
Ucap Ayu partner kerjaku. Aku mengangguk padanya. Ia masih menungguku di depan pintu ruangan kerjaku.
"Duluan aja Yu. Masih ada urusan nih disini." Kataku sambil menunjuk layar laptop. Ayu mengangguk. Bukan urusan penting sebenarnya. Aku hanya sedang melihat-lihat tempat kafe yang tempatnya nyaman untukku dan Anna. Sudah lama aku tak bertemu dengannya. Kenapa pula aku jadi seperti manusia setengah robot yang kaku dan tak romantis. Ayu kembali melewati ruang kerjaku. Aku segera bangkit. Menghirup nafas panjang dan menghembuskannya dengan cepat.
Semoga proyek ini berjalan lancar.

•••

"Good job, Rendi. I trust that you can handle this project. As you know, there will be the Headquarters's representatives here next week. I want you to present your ideas in front of them. Okay, congratulation, Rendi."

Mr. Edmundo, Direktur Regional Asia Tenggara itu menyalamiku setelah ruang meeting hampir kosong.
Eh, apa? Minggu depan? Bukannya dua minggu lagi? Bah, sebaiknya Helga bisa memberikan penjelasan yang bagus. Minggu depan kan jadwalku menemani Anna mengurusi persiapan pernikahan kami.
Bahkan, aku sudah merencanakan malam ini akan mengajak Anna ke kafe dan membahasnya lagi. Aku mencebik kesal sembari mengemasi peralatan presentasiku.

"Helga, jadwal kunjungan Kantor Pusat ke sini kapan?" tanyaku tanpa basa-basi pada sekretaris pribadiku.
"Eh, Kantor Pusat? Oh, yang kunjungan Mr. Robert? Senin sampai Rabu depan, Pak,"
jawab Helga tanpa terlupa menyunggingkan senyumnya.
"Kemarin kamu bilang masih dua minggu lagi?" sengitku.
"Eh, masak?" Dengan gugup, Helga menggerakkan mouse dan meng-klik file agenda. Aku menggeleng tak sabar dan segera meninggalkan Helga tanpa komentar. Malas. Yang terpenting sekarang, bagaimana mengabarkannya pada Anna?

Aku memasuki ruanganku. Menghempaskan tubuhku pada kursi yang menjadi saksi semua kegiatanku di kantor ini. Selulerku berbunyi. Pesan masuk. Dari Kamu lagi.

"HEH RENDI! Makan siang jangan lupa ya. Oya Naskahku diterima. Sebentar lagi terbit. Ini buku ke empat puluh-ku dan mau aku persembahkan buatmu."
Aku menyunggingkan senyuman. Anna memang selalu begitu. Sejak buku pertamanya terbit ia selalu bilang bukunya dipersembahkan buatku. Tapi aku tak pernah membacanya. Satupun.
Satupun bukunya yang terbit tak pernah kubaca. Aku benci membaca. Dan Anna tahu itu. Tapi kali ini aku menyempatkan diriku tenggelam bersama hobi nya.
"Apa Judulnya?" Balasku.
"Tumben kamu nanya. Judulnya masih rahasia Ren, biar surprise. apa menu makan siangmu?"
"Na, kosongkan jadwalmu nanti malam. Kita harus bertemu. Untuk tempatnya nanti kukirimkan via email beserta rutenya."
"Rendi kok balesnya nggak nymabung sih?! Ah kesal! "

Kuletakkan ponselku. Butuh istirahat. Kapan ini akan menuju titik yang sesungguhnya? Kapan aku dan kamu beridiri bersisian dan tersenyum bersama, Anna? Kamu tenggelam bersama buku-bukumu dan aku tak bisa bernapas di antara proyek-proyek yang terus saja dialirkan padaku. Aku melempar pandangan menembus kaca raunganku ke jalanan di bawah sana. Padat merayap.
Bergerak perlahan dan rapat.
Apakah seperti itu jalan yang musti aku dan kamu lalui? Kita harus segera bertemu, Anna. Aku dan kamu, kita harus bicara.
Satu lagi hari yang melelahkan berlalu. Aku menghela napas panjang dan bersiap pulang ketika pintu ruanganku yang diketuk dan dibuka sedikit.

"Pulang, Ren?" Tama melongok di pintu ruanganku.
"Ini mau pulang, Tam. Lu?"
"Nggak, mau nge-gym bentar. Udah seminggu bolos. Bisepku ilang. Mau gabung?"
Aku menggeleng kecil, "Nope, badan gue lagi manja. Pengen cepet tidur."
"Wokeh, gue duluan kalau begitu."

Aku mengacungkan jempol meresponsnya. Kesibukan membuatku bolos dari gym lebih dari 2 bulan. Bnetuk tubuhku memang berubah. Tak sekencang ketika aku rajin nge-gym. Ditambah lagi rutinitas begadang, makan yang tak teratur, dan fokus ke pernikahan makin membuat tubuhku drop. Ah, sudahlah, yang penting aku tak jatuh sakit. Mari pulang saja. Tidur yang nyenyak, itu yang kutubuhkan.
Ketika berdiri dan menyambar tas kerja, selularku bernyanyi. Namamu berkedip-kedip di sana.
Aku mengacuhkannya. Biar saja. Toh nanti malam kami akan bertemu.
Aku benar-benar tidak mempedulikan Anna.
Bukan, bukan maksudku seperti itu. Aku hanya berada di titik jenuh. Jika kamu lelaki, kamu akan tahu bahwa pria selalu mengalami titik kejenuhan pada hidupnya, tapi aku bukan jenuh padamu Na. Aku hanya butuh penyesuaian diri. Aku ingat, tahun-tahun sebelumnya, aku juga pernah seperti ini. Mengabaikanmu dan membiarkannya larut pada naskah-naskah yang menurut banyak kalangan sangat menyentuh. Karya Anna banyak dicintai, dinikmati setiap kalimatnya, dikonsumsi sebelum tidur, dan tak sedikit yang menangis. Ah Anna. Kamu selau mengerti dan paham kalau aku berada di titik seperti ini. Semoga besok dan seterusnya aku tak lagi mengabaikanmu.
Dan Tiba-tiba saja bulu tengkukku berdiri.
Takut.
Aku takut kehilanganmu.

•••

Aku memacu mobil keluar dari parkir kantor dengan tergesa. Gila, kenapa tiba-tiba ada desir aneh di dadaku. Aku ingin sekali bertemu denganmu, Anna. Saat ini juga. Ada apa denganku? Impulsif bukan watakku. Aku serba terencana. Aku bukan orang yang gampang mengambil keputusan karena aku tak mau gegabah. Sekali salah mengambil keputusan, bisa jadi jurang menganga di depan dan menerkamku ke dalamnya.
Hanya Tuhan yang tahu berapa kecepatan pacu mobilku karena aku tak sepenuhnya sabar mengemudikannya. Yang aku tahu, mobil sudah berbelok ke jalan rumahmu dan berhenti tepat di pintu gerbangnya. Aku termangu saat mematikan mesin lalu mengambil selularku. Ada sebelas miscalled dan lima sms darimu, Anna. Segera kupencet nomormu.

"RENDI, KAMU DI MANA? Aku telepon, sms, kamu nggak jawab. Kamu bikin aku jantungan. Aku nangis lama. Aku bingung nyariin kamu. Ren?"

Berondongan suara Anna mengagetkanku. Gumpalan kecemasan ada di suara itu. Untukkukah? Benarkah ia secemas itu padaku? Benarkah sebegitu berartinya aku baginya? Apakah benar harapan terbesarnya adalah mendengarku bilang... aku cinta padamu? Aku memang dikenal sebagai lelaki non-verbal, yang tak pernah sekalipun mengucapkan kata-kata picisan seperti itu. Aku langsung mewujudkan rasaku dnegan perbuatan. Bukan kata-kata. Lalu sekarang, apakah aku harus bilang itu padamu, Anna?

"Yasudah sekarang coba keluar rumah"

Ucapku datar. Seolah tak menanggapi. Anna mematikan telponnya. Ia keluar rumah tapi tak bertemu denganku. Hanya menemukan sepucuk surat berisikan denah kafe yang harus ia temui. Lima detik yang lalu aku pergi meninggalkannya, melaju cepat dengan mobilku menembus keheningan malam. Aku bisa bayangkan Anna mengutukku kesal.
Membayangkan wajahnya yang semakin cantik saat memanyunkan bibirnya. Sabar Anna, Jam sembilan malam nanti kita akan bertemu.

•••

Ini kafe ternyaman yang pernah kutemui. Benar kata Helga sekretaris pribadiku.
Tempat ini memang yang pas untuk momen seperti ini. Terlebih untuk orang yang seperti Anna. Penuh dahan rindang di depan terasnya dan juga tersedia replika taman yang indah. Lampu lampu kecil berwarna warni menghiasi setiap sudut ruangan. Aku duduk dengan nyaman di sofa yang terletak di sudut ruangan. Makanan sudah kupesankan. Aku bahkan sampai lupa mengganti baju kerjaku.
Ah Sial! Lama sekali. Aku mengutuk diri sendiri . Menunggu itu sangat meresahkan buatku. Aku sudah tuliskan di surat itu kalau ia harus datang jam sembilan dan ini masih lama dari jam sembilan.

Ponselku berbunyi. Pesan masuk darimu.

"Hih kamu kejam sekali Ren. Menyuruhku tengah malam berangkat sendirian ke tempat yang belum pernah kita kunjungi. Oh iya, entah kenapa aku ingin meralat rahasiaku tadi siang. Aku mau bilang, buku ke-empat-puluh yang akan terbit ini judulnya 'Amethyst' . Kupersembahakan buatmu. Aku bawa naskahnya nih, kamu harus baca kalau kita sudah bertemu di Kafe."

Pesan darimu masuk lagi. Mungin kamu bosan diam di jalan tanpa berkomunikasi.

"Rendi, terimakasih ya sudah mau melamarku. Lain hari kalau aku sudah jadi ibunya anak-anakmu aku tidak akan se-cerewet ini. Aku sungguh sayang padamu."

Aku tertegun oleh kata-katanya. Sungguh aku menyukai keceriaannya. Dan Judul naskahnya... Amethyst. Itu berarti sebuah batu berwarna ungu. Aku mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku kemejaku. Cincin pernikahan dengan batu Amethyst untukknya. Betapa seirama akal dan pikiran kami.
Aku segera mengetik pesan, kamu tahu Na, aku sangat meminta maaf membiarkanmu pergi sendirian, maaf karena kekakuanku selama ini, maaf karena mengabaikan semua naskahmu, dan Aku bawakan sebuah cincin dengan batu yang sama cantiknya dengan judul naskahmu. Maaf Anna dan cepatlah kemari.

Tapi sedetik kemudian aku menghapus semua ketikanku dan hanya menyisakan beberapa kata,

"Cepatlah kemari."

Lalu waktu berjalan dengan sangat lambat.

Aku masih menunggunya. Aku meregangkan otot dan persendianku. Kafe ini benar-benar nyaman. Dan karena aku duduk di sudut ruangan, aku bisa menatap layar kaca di sebrang sofa-ku. Menatap datar layarnya yang menyajikan berita malam secara live. Tentang pembunuhan seorang wanita di tengah jalan oleh sekawanan perampok yang datang mencegahnya. Semua barang bawaannya yang berharga hilang bersama perginya pihak tak bertanggungjawab tersebut. Hanya menyisakan sebilah pisau tepat di jantung dengan tubuhnya yang bersimbah darah sambil mendekap sebuah map berisikan berkas yang belum diketahui.
Sayangnya berita tersebut tidak menyorot wajah wanita tersebut, dan identitasnya belum diketahui.
Lalu berita selesai, jeda komersil.

Wanita bodoh. Sudah tahu kota ini kejam dan rawan kriminalitas. Masih saja berani pergi sendirian. Umpatku. Aku menyeka air keringat di keningku. Bah! Kemana pula kamu Na.. lama sekali Anna!.

•••

Gerimis turun deras. Akahmn hujan lebat sepertinya. Aku sungguh tak tahan. Lama sekali aku menunggunya. Beberapa kali ku kirim pesan ke ponselnya dan ia tak membalas.

"Anna kamu lama. Dimana?"

"Anna, aku punya kata-kata bagus. Aku mau ucapkan langsung tapi kamu lama. Kamu dimana sekarang apa perlu aku jemput?"

"Anna, aku kasih tahu sekarang ya kata-kata bagusnya"

"Kamu tahu nggak, apa yang lebih indah dari jatuh cinta? | Jatuh cinta sama orang yang juga mencintai kita."

"Itu kata-kata bagusnya Na. Aku bersyukur betemu kamu. Kamu membacanya kan? Kamu tak abaikan pesanku kan?"
"Na, aku mencintaimu tanpa jeda."

Tapi kenapa kamu tidak pernah membalas pesanku lagi. Aku masih di kafe ini. Setiap malam aku selalu disini berharap kamu datang menemuiku.

Sudah hampir sepuluh tahun aku menantimu Na, cincin Amethyst ini menunggu untuk dilingkarkan di jarimu.

•••


Duet penuh penantian karya @yuliono dan @unidzalika
Published with Blogger-droid v2.0.10

0 comments:

Post a Comment

Hi! Thank you for visiting my website. I hope you can enjoy read all about blog posts here and lemme know your opinion! Please leave on the comments bellow :)