Awal-mu adalah Akhir-ku

Pipipipip Pipipipip

Suara alarm Handphone kesayanganku berbunyi tepat pukul 05.00, aku membuka mataku dan benda pertama yang kuraih tidak lain dan tidak bukan adalah Handphone ku. Matiin alarm, buka notification yang numpuk karna tadi malam aku ketiduran.

"Pagi-pagi udah dapet pesan yang gak ngenakin. Ih yang namanya orang ketiduran ya gak bisa bilang-bilang laah"

gerutuku pada pesan pacar yang tidak terima karna aku tidur tidak memberitahu dia.
Kubanting Handphone ke kasur, ku ganti dengan handuk dan beberapa potong baju yang akan ku gunakan untuk ke kampus hari ini.

Selamat pagi dunia~
Hari baru ku sempurna dimulai pada saat aku siap mengambil langkah pertama menuju kampus dengan pakaian yang masih halus di setrika dan parfum merembak kemana-mana.

Aku Siap!

"Sarapan dulu! Baru boleh berangkat!" Kak Lisa memperingatkanku saat ia lihat aku sudah berdandan cantik keluar kamar. Aku mendekatinya, menyicipi masakan yang ia buatkan pagi ini.

"Eeeh... Sekarang kamu genit ya! Udah pakai eyeliner segala. Kuliah itu belajar bukan ajang kontes kecantikan!" Dia mencubit lenganku.
"Berisik ka!"
Aku memukul pipinya pelan. Lalu kami berdua tertawa, sambil menghabiskan sarapan pagi ini. Selain Ibu, hanya Ka lisa kakak paling cerewet yang aku punya. Biarpun ibu tidak ada dirumah, kecerewetan Kak Lisa sudah cukup menghidupkan rumah ini, menurutku. Mau bagaimana lagi, aku dan kak lisa memang tak pernah tahu dimana Ibu. Kami hanya tinggal berdua di rumah peninggalan mereka. Ibu menghilang begitu saja. Sedangkan Ayah? Wah aku tidak pernah tahu harus berkata "Ayah" pada siapa. Kami tak pernah tahu siapa ayah kami.
"Kak udah ah, aku takut telat Pelajarannya prof Malik neeeh, Killer. kalo telat dikit bisa di gantung di pojokan kelas!" aku pamitan sambil sibuk melangkah keluar.
"eey emang pacarmu udah jemput apa?"
"udah nyonyaaa. bye" aku berlalu.
Setiap hari aku selalu di jemput pacarku untuk ke kampus, yaah inilah untungnya punya pacar yang satu kampus, ada kang ojeg gratis. hehe

"Sayaaaang~" aku mendekat dan langsung merangkulnya. Selain tukang ojeg, pacarku juga tukang ngambek. masih inget kan kalo dia ngambek karna aku ketiduran tadi malam? iya, ngambeknya berkepanjangan sampai dia jemput aku di depan rumah.
"jangan ngambek dong ganteng, akunya kan ketiduran, jadi mana bisa ngasih tau kamu? aku aja gak ada niat buat ketiduran kok. suer! bagi senyumnya dooong? dikasih gak yaa?" aku sukses menggodanya sampai senyum paling manis kepunyaan pacar tersayang mengembang sempurna.

"ah kamu! udah nih senyuuum. ayo naik, prof Malik nih. mau di gantung kamu?" jawab dia.
"kalo aja di surru milih, mending di gantungin sama Prof Malik diujung kelas sama di gantungin hatinya sama kamu. bekh aku mendingan di gantung Prof Malik yank! sungguh!" gombalku.
"iiii dasar kamu" dia tersenyum sambil mengusap-usap rambutku.
Iya, aku masih "pelontos", aku tidak berhijab seperti kakakku. Ngapain juga berhijab sekarang? kan masih muda? pacarku juga gak keberatan aku belum berhijab.
Tunggu Hidayah aja deh, itu yang selalu bergeming didiriku.
"Nih." Si ganteng menyodorkan helm untuk kugunakan. Tak lama kami melaju menuju kampus.

***

Siang ini sungguh terik. Raja siang kokoh berada tepat di bawah ubun-ubunku.
Suasana kampus sudah terlihat ramai sejak beberapa menit yang lalu. Di waktu seperti ini memang merupakan jam istirahat masal bagi semua mahasiswa. Aku masih di taman, sendirian. Romi belum juga datang. Tadi setelah kelas Prof Malik selesai ia segera pergi meninggalkanku. Katanya mau buatkan surpise untukku karena hari ini merupakan momen yang menandakan kalau aku dan Romi sudah empat bulan berpacaran. Oke aku surprise.
Terlebih dia romantis. Tukang ngambek iya, banyak makan juga, tapi aku suka semua sifatnya. Iya, dia itu penuh dengan kejutan, sampai sekarang aku gak habis pikir berapa lama dia menyiapkan kejutan ini. Dia meminta aku untuk tunggu dia di salah satu sisi taman halaman kampus kita, banyak teman-teman kelas disana, iya kebanyakan perempuan dan laki-laki hanya beberapa di lingkaran itu. setelah asyik membahas tentang pelajaran Mr killer tadi, dan tiba-tiba dari belakang teman-teman beserta Romi menyiramku dengan air yaks, itu air apaa!!
menjijikan sungguh baunya. tenang, semua tidak berhenti di air yang entah asalnya dari mana. karna tempat tongkrongan kita tidak terlalu tengah malah lebih ke sudut taman jadi tidak banyak orang yang mendengar dan melihat kejadian memalukan itu.
setelah badanku diguyur basah kuyup oleh air aneh, teman-temanku beserta Romi mengikat tanganku di salah satu batang pohon dan mereka semua puas melempari tepung, telur, bahkan tanah beserta yang lain. Sungguh. satu hal yang ada di benakku,
"Ini anniversary kan? bukan ulang tahun!"
yang ada di bayanganku Anniversary di bulan yang keempat akan menjadi salah satu momen terromnatis yang pernah aku rasakan, tapiiiiiii? bulan keempat kita jadian malah menjadi momen ter ter ter-aneh yang pernah aku rasakan.

"Apaan seeh? ini anniversary kan! bukan ulangtahun. apa- apaan sih kamu Rom?"
teriakku kewalahan.
"sayang aku gak mau mindstream, aku mau ngerayain kayak gini. kan sama-sama merayakan yaaank. aah kaamu cantik cantik dari hatimuu~" Romi menggodaku jahil.
"yaank ini baju aku gimanaa? aku gak mungkin pulang kerumah dengan keadaan kayak gini, kak Lisa pasti marah! kamu harus tanggung jawab, abis bercandanya kelewatan sihh!" rengekku tak terima.
teman-teman yang lain menertawakan tingkahku dan selalu menggoda setiap kata yang aku keluarkan.

"Udah, lo bersih-bersih aja dulu di kosan Romi Kal. nanti lo boleh pinjem baju gue sementara. kan kosan gue sama Romi deket-deketan. tapi gue pulangnya rada sorean dikit. gpp kan?" Sarah memberikan saran.
"iyaa sayangku Kalista, kamu bersih-berrsih aja di kosan aku yah? maaf ya sayang." Romi membantu menenangkan dan menyakinkanku. Aku tak menjawab hanya mendnegus kesal dan badaaku di tarik Romi menuju motornya.

***

Dingin. Tertidur tanpa pakaian sungguhlah menyiksa. Aku mengedipkan mataku.
Mencoba menguasai diri di tempat yang gelap. Sepertinya di luar sudah hampir subuh. Berarti aku pulas tertidur lebih dari tiga jam. Pegal-pegal badanku. Terlebih kasur Romi di kosan tidak senyaman kasur dikamarku. Dan Romi, tangannya sibuk meraba-raba tubuhku meski ia sedang tertidur pulas di sebelahku. Aduh! Apa kata kak lisa nanti kalau ia tahu apa yang telah terjadi padaku. Aku dan Romi dalam keadaan sadar melakukannya. Sebagai tanda cinta, sebagai hadiah empat bulanan kami jadian. Tenang Kalista, tidak akan ada hal buruk yang terjadi. Batinku.
Segera kukuasai pkiranku dengan segala hal yang menenangkan, oke lebih tepatnya mencoba untuk menenangkan. semua berputar-putar "Ini baru satu kali kan?"
"Tenang tenang Romi pasti akan bertanggung jawab!" "Aku cinta dia, pun juga dia. jadi tidak apalah". Ku lihat wajah Romi, lelaki yang sangat kucintai. Ku belai wajahnya dan matanya pun terbuka dan langsung berucap
"Sayang, semua akan baik-baik saja, tenanglah" aku hanya tersenyum. Iya aku percaya padanya.
Ku pinjam kamar mandi di kostan Romi, aku mandi dan tidak pernah berhenti-hentinya aku tetap memikirkan apa yang akan terjadi jika hal yang paling buruk menimpaku.
Bagaimana dengan kak Lisa? Aku inget betul tadi malam aku mengirimkan pesan singkat ke kak Lisa yang berisikan malam ini aku akan menginap di kostan Sarah, ada tugas yang aku kerjakan. Iya, nyatanya memang ada yang ak kerjakan tadi malam, tapi bukan tugas dan bukan di kostan Sarah.
Dari luar kamar kudengar handphoneku berbunyi. Aku segera keluar kamar mandi. Kak lisa.

"Dimana?" Suara di sebrang sana memanggil.
"Kosan Sarah Kak. Belum bisa pulang. Pagi ini mau kuliah lagi."
Kilahku cepat. Dalam situasi seperti ini aku harus bisa berbohong.
"Ini hari minggu, centil. Buruan deh pulang. Aku takut kamu kenapa-kenapa"
"Lebaaay! Iya ini aku pulang."
Klik. Kumatikan ponselku. Segera bergegas.
"Kal, kalau kamu hamil aborsi aja ya. Hati-hati di jalan, oya selamat pagi sayang."
Setengah sadar Romi menyapaku.
"Tapi kamu mau tanggung jawab kan? Aku kalau hamil tidak akan menggugurkannya. Ini kan buah cinta kita." Aku segera keluar kamarnya. Pulang. Selama perjalanan rumah pikiranku masih dikuasai oleh ketakutan-ketakutan yang besar akan sesuatu hal yang paling buruk mungkin akan terjadi, tapi lagi-lagi aku berusaha untuk menguasai diriku dengan positif thingking. Sesampainya dirumah aku langsung masuk kedalam kamar, aku tidak menghiraukan pertanyaan kak Lisa tentang beberapa hal.
Ini hari minggu dan besok aku harus datang ke kampus lagi dan hidupku akan dimulai dari awal, tetap menjadi diriku sendiri dan tidak membiarkan fikiranku dengan hal-hal buruk.

***

Senin datang, hubunganku dengan Romi masih baik-baik saja, kak Lisa tetap dengan cerewet yang sama.
"Iya, semua akan baik-baik saja" ucapku pada diri sendiri. Waktu terasa begitu cepat, hari-hari bagai menyingsing ramping setiap minggunya. Tanpa terasa 1 sudah kulewati, hubungan ku dengan Romi semakin berjalan baik sekali, dia semakin mencintaiku pun juga dnegan aku, teman-teman mewarnai semua kehidupan kampusku dengan sempurna dan aku menjadi sering mampir kekostan Romi untuk sekedar melepaskan "kerinduan" kita berdua. Iya, Romi memang lelaki yang sangat pintar meyakinkan, jadi dengan tanpa ragu aku memberikan semua yang dia minta.

"Kal, kapan mau belanja bulanan nih? nanti sore aja yuk? udah banyak keperluan rumah yang menipis persediaannya. kamu catet dulu tapi yah kebutuhan yang harus ditambah" Kak Lisa memecah kesunyian siang itu dikamarku.

"Sippoo!"
Aku membuka lemari kosmetikku dan lemari pakaian ku. mencatat semua kebutuhan yang menipis dari bedak, syampoo, pelembab, pembalut. mataku berhenti pada pojokan lemari baju tempatku menaruh pembalut.
sebentar aku selalu rutin memasok pembalut untuk 1 bulan dan pasti habis tapi kenapa masih ada 1 bungkus yang tak terkoyah sedikitpun pembukusnya? dan aku baru teringat, aku belum datang bulan bulan ini.
Bagai petir disiang bolong, ketakutanku meraja dan terus membesar setiap detiknya. Mungkinkah, aku, hamil?
"Woy kal, cepet kesini. Mana list belanjaannya!" Kak lisa memanggil. Aku segera memasukan testpack dalam list ingatanku. Berharap apa yang terjadi tak seperti yang kubyangkan. Kami berangkat. Jantungku berdegup kencang saat aku dan kak lisa memasuki pusat perbelanjaan.

"Kak aku pisah ya mau cari keperluan lain" ucapku pada kak lisa. Ia hanya menangguk. Aku bergegas menuju satu barang. Menelusuri rak demi rak demi mencari barang yang kutuju. Ah itu dia! Segera aku menuju kesana.

Bruk!

Tubuhku menabrak seseorang. Romi. Dengan wanita lain. Berpegangan tangan. Dia hanya menatapku seolah tak pernah kenal denganku. Aku yang masih sibuk mengusir pikiran tentang kemungkinan aku hamil langsung teralihkan pada saat melihat Romi jalan bergandengan mesra dengan perempuan lain. oke, aku mencoba untuk mengontrol diriku sendiri dan menghampiri Romi yang berusaha mempercepat langkahnya untuk menghindar dariku.

"Romii!" aku teriak, Romi menoleh. "Hey, Rom. apa kabar lo? eh iya gue dapet titipan pesen dari pacar lo, katanya Dia minta putus! oke, gue duluan yah Rom" Jelas ku. Romi dengan wajah yang sangat kebingungan dan ketakutan bercampur jadi satu ketika menghdapiku. Perempuan yang sedang bersamanya memaksa penjelasan dari kalimatku sambil memukul dada Romi berkali-kali. Dan aku, pergi. Dengan rasa sakit. berguguran setiap langkah. Romi, lelaki yang dulu sangat ku puja sekarang sempurna membuatku bermuram durja.
Aku tidak menceritakan kejadian tadi kepada kak Lisa karna menurutku bukan hal yang penting untuk diceritakan. Kondisi fisik dan batinku benar-benar terguncang hari itu. Dengan diam-diam aku memasukkan alat tespeck kedalam keranjangku dan aku menghitung sendiri di kasir yang berbeda dengan belanjaan rumah.
Aku pulang dan langsung membersekan barang-barang yang kami beli hari itu. Setelah selesai aku memutuskan untuk masuk dan mengurung diri di kamar. Pikiran- pikiran depresif benar-benar menguasai malam itu, sempat ada pikiran untuk membuat Romi merasakan apa yang aku rasakan, sumpah serapah berserakan malam itu, dan penyesalan terhadap semua yang sudah aku lakukan menjadi sangat dominan.
Aku lelah, dan aku pun tertidur.

***

"Gugurin dek. Aku nggak mau menanggung malu" Kak lisa menatapku tajam. Sarah yang berdiri disebelah kak lisa juga menyahut tak kalah sengit.

"Iya sayang, di gugurkan aja. Gak akan sakit kok. Di kuret cuma sebentar." Sore ini hujan deras. Petir terus menyambar. Aku menangis, bersamaan dengan riuhnya suara hujan yang turun. Aku masih terus saja menangis. Dugaanku bahwa aku hamil benar. Tadi pagi aku mengeceknya dan aku benar benar positif hamil. Bagaimana mungkin! Aku tahu semuanya. Semua kesakitan itu. Lalu tiba-tiba Kak lisa dan Sarah menyeretku dengan paksa, pergi mengunjugi Ibu Desy, penjual jamu menggugurkan kandungan yang paling terkenal . Aku terus meronta-ronta, tak mau aku menggurkannya. Aku mau jadi seorang ibu. Tapi tiba-tiba Sarah memukul kepalaku. Pingsan.
Aku menangis terus. Tanpa henti. Seperti hujan yang terus tercurah saat musim hujan berlangsung. Menangisi perbuatanku.
Menangis melakukan pembunuhan keji itu. Aku baru sadar. Aku ingin bayi itu hidup. Aku ingin melihat matanya menatap mataku. Aku ingin menyentuh lembut kulitnya. Aku ingin dibangunkan oleh suara isak tangisnya. Aku ingin sekali disibukkan dengan menyusuinya. Aku benar-benar menyesal. Aku ingin menggendongnya, menciumnya, merasakan hangatnya sentuhan mungil dia. Meski aku tahu Romi tidak akan betanggungjawab.
Meski aku tahu semua tak akan pernah kembali. Tak akan mungkin sesuai dengan harapan.

Kami semua sudah dirumah. Membiarkanku beristirahat di kamar. Aku segera berpikir cepat. Memasuki kamar mandi dan menenggelamkan tubuhku pada bak mandi. Segar. Dingin. Menjernihkan pikiranku. Aku Memejamkan mataku. Menyatukan air mataku dengan air bak mandi. Aku ingin mengakhiri hidup ini. Romi memang bukan lelaki yang baik. Laki-laki baik ialah yang sanggup menjaga kehormatan wanita, bukan yang seperti romi.
seolah tak merasakan sakit yang kuderita aku terus membenamkan diriku.
Sarah dan kak Lisa berhasil menggugurkan janin yang kukandung dalam rahimku, rasa sakit yang kurasakan tidak sebesar rasa bersalahku yang besar karna telah membuang bayi suci dan tak berdosa. Dalam kamar mandi kukutuk diriku sendiri sampai kutukanku memenuhi seluruh ruangan, menguap menghilang bagai buih dalam lautan, melebur menjadi satu dengan doa doa para pendosa yang ada di seluruh dunia. Aku kotor, aku jahat, aku tidak pantas mendapatkan kehidupan. Kalaulah janin ini harus hilang maka akupun juga harus melenyap di atas muka bumi ini. Dunia terlalu rapuh bila harus menanggung dosaku yang sangat besar ini.
Aku mencari sesuatu yang dapat membunuh diriku sendiri, kulihat kawat yang menganga di sudut kamar mandi. Aku bergegas mengambilnya. Saat itu pula kak lisa dan Sarah masuk. Melihatku berusaha meraih kawat tajam itu.

"Kal, bodoh! Jangan lakukan itu!" Sarah menarikku. Aku terus memberontak. Ka Lisa panik. Ia berteriak histeris.
Ada perlawanan yang terjadi antara aku dan Sarah. Kering sudah tangisanku. Kami terus saja saling dorong, dan saat itu pula aku hilang keseimbangan. Licinnya lantai kamar mandi membuatku terpelanting jatuh, dan kepalaku menghantam lantai dengan sangat keras. Lalu semua terasa samar, gelap .

Inikah akhir hidupku? Bertemu dengan malaikat kecilku yang baru saja pergi.

Fin~


Kolaborasi dua sahabat : Insany C. Kamil (@ Brightsunn) dan uni dzalika (@unidzalika)
Published with Blogger-droid v2.0.10

0 comments:

Post a Comment

Hi! Thank you for visiting my website. I hope you can enjoy read all about blog post here and lemme know your opinion! Please leave on the comments bellow :)