pahala untuk seorang wanita

Sekedar cerita, mungkin bisa diambil hikmahnya...

Ini cerita tentang seorang wanita berumur 20 tahun dan ia jarang dirumah karena penuh dengan segudang kegiatan. Dia, pergi pagi buta dan pulang tengah malam. Ia mahasiswi teladan, pekerja sosial yang bekerja 30 jam perminggu, aktivis di berbagai organisasi, dan tidak ada satu jam pun untuknya beristirahat (kecuali ibadah dan makan). Dari luar tipe perempuan seperti ini memang bagus. Mandiri, sopan, bijaksana, pandai bersosialisasi, penuh pengalaman. Akan tetapi kelemahannya adalah, ia tidak ahli dalam urusan rumah tangga.
Suatu hari ia harus mengurus rumah sendirian, Ayahnya lembur bekerja dan Ibunya dinas ke luar kota. Kebetulan sekali, hari itu akan ada tamu yang datang kerumahnya. Dengan (sedikit) terpaksa ia mengerjakan semua pekerjaan yang sangat tak lazim untuknya. Apa yang terjadi?
Saat menyapu, matanya memerah terkena debu yang sedang disapu. Saat mengepel, kakinya melepuh terkena cairan pembersih lantai. Saat mencuci piring, tangannya berdarah terkena spons untuk mencuci piring, bahkan gelas dan mangkuk pecah karena tangganya licin. Saat memasak, percikan minyak menampar wajahnya hingga mengelupas. Kondisi ini tentu sangat memilukan bagi perempuan yang aktif dimana-mana. Memilukan, dan sangat memalukan. Hey, 20 tahun tidak bisa ini itu? Bukankah perempuan seharusnya sudah ahli dalam pekerjaan rumah tangga?
Dan yang lebih parah lagi, saat tamu datang, ia hanya terdiam di depan panci berisi air panas yang sedang dimasaknya. Di tangannya tergenggam bungkusan kopi tapi ia tidak tahu bagaimana cara memasaknya. 'Aku harus melakukan apa, berapa sendok gulanya, berapa sendok kopinya, kopi dahulu atau air panas dahulu yang harus dituang?' Batinnya terus saja bertanya-tanya. Hey, 20 tahun tapi memasak kopi saja tidak bisa? Bukankah seharusnya perempuan sudah ahli dalam urusan membuat kopi?
Aduh ini perempuan macam apa, urusan rumah tangga tak bisa, bikin kopi pun tak bisa. Ia hanya ahli dalam bidang akademis dan organisasi. Seketika ia menangis, membayangkan bagaimana masa depannya saat membangun rumah tangga nanti, membayangkan bagaimana semua pekerjaan ini dapat dilakukan dengan mudah oleh ibunya, ia menangis, mengapa ia tak pernah membantu ibunya setiap bekerja di dapur, ia menangis, rindu ibunya. Sementara di luar ada enam tamu menunggu hidangan yang harusnya sudah tersaji.
••
Perempuan, pun dia pandai dalam bidang akademis, pun dia ahli dalam berorganisasi, pun dia cerdas dalam mengatur keuangan atau berbagai aktivitas diluar rumah, itu adalah hal yang sangat bagus. Bahkan R.A Kartini sejak lama memang sudah memperjuangkan hak-hak wanita agar dapat belajar dan menimba ilmu setinggi-tingginya. Akan tetapi, sebagai perempuan kita tidak boleh melupakan kodrat kita sebagai seorang Ibu, dimana kita harus bisa melakukan pekerjaan rumah tangga, dan menjadikan dapur sebagai ruang kerja kita di rumah. Sayangnya perempuan zaman sekarang ini banyak yang melupakan kodratnya sebagai calon ibu rumah tangga, malah memilih memanggil orang lain untuk mengerjakannya. Perempuan, walaupun ada seorang laki-laki yang siap menerima dia apa adanya, tetap saja mereka meginginkan kita pintar memasak dan pintar merapihkan rumah.
Jadi, alangkah baiknya kesibukan kita saat ini tidak hanya untuk kegiatan sosial yang menuntut kita lebih lama di luar rumah. Harus bisa memasak, membuatkan kopi, bahkan untuk urusan sepele seperti menyapu, kita harus bisa. Tuhan sudah siapkan pahala tersendiri bagi siapa saja yang tidak melupakan kodratnya, menyiapkan pahala bagi wanita manapun yang pandai dalam urusan rumah tangga, Insya Allah.
••
Perempuan ini mengusap air matanya. Perlahan tapi pasti, ia tuangkan tiga sendok bubuk kopi ke dalam gelas serta dua sendok gula, dan ia tuangkan air panas ke dalam gelas tersebut, lalu diaduknya. Dengan sedikir ragu ia sajikan kepada tamu yang sudah sejak tadi kehausan. Segera para tamu meminumnya. Satu teguk, dua teguk, dan dalam keheningan, seorang bapak tua berujar, "kopinya enak sekali, gulanya pas. Beruntung sekali kamu, sudah pintar, aktif, pandai pula dalam membuat kopi" dan disusul dengan pujian-pujian selanjutnya. Perempuan yang sudah berumur 20 tahun itu, hanya bisa terdiam, ikut kagum pada dirinya sendiri.

-if there is a will, there is a way-

Published with Blogger-droid v2.0.9

0 comments:

Post a Comment

Hi! Thank you for visiting my website. I hope you can enjoy read all about blog posts here and lemme know your opinion! Please leave on the comments bellow :)