[Female Dairies - 25] Kalau Sedih, Mengaku Saja. Dan Menangislah Secukupnya.

Hi, Assalamualaikum!





Saya belajar melupakan masalah. Meskipun tidak sepenuhnya merelakan. Namun, semakin mencoba melupakan, saya justru semakin sakit. 




Bulan April, waktu saya habis untuk istirahat karena sakit selama tiga minggu.

Orang di dunia nyata berpikir saya sibuk sampai sulit ditemuin. Mikirnya saya terlalu sibuk nge-blog sampai bolos kelas Toefl dua kali, kelas Morfologi tiga kali. Sementara orang di dunia maya mikirnya saya lagi sangat sibuk dengan urusan di dunia nyata sampai nggak sempat update postingan atau sekadar nyampah di medsos. 

Saya sakit. Tiga minggu. Tapi tanpa infus. Tanpa berbaring di ranjang rumah sakit yang meskipun diselimuti oleh AC, tetap saja terasa engap. Saya nggak di rumah sakit. Saya memutuskan di rumah, istirahat total yang benar-benar nonakifkan semua kegiatan. Namun, saya nggak perlu drama atau laporan ke seluruh dunia dengan bilang bahwa saya sedang sakit, kan? 

Tiga minggu demam tinggi. Muntah terus. Gusi-gusi saya berdarah tanpa henti. Mata saya berkabut. Tangannya gemetar bahkan untuk pegang pulpen saja nggak mampu. Berdiri juga nggak bisa karena pas bangun, sekejap pusing bahkan sekeliling langsung gelap. Tapi saya rasa ((rasa)) bukan tipes. Bukan juga DBD. Saya nggak ada cukup uang untuk cek darah. Tabungan saya disimpan untuk biaya ujian sekolah. 

Kira-kira, kondisinya seperti deskripsi di atas.

Semua kakak saya bergantian datang entah kasih obat atau susu. Bundo setiap malam harus lihat saya kesakitan, kadang selalu pijit punggung dan kaki. Tapi kami sepakat nggak perlu ke rumah sakit. Entah mengapa, biasanya kalau saya sakit, diobatin dengan dipijit sama Bundo akan langsung sembuh. Bundo ialah 'dokter' pertama di keluarga yang paling tahu kondisi tubuh anak-anaknya bahkan melebihi kami sendiri. 

Kawan-kawan di grup bilang, itu karena saya kebanyakan aktivitas, kecapean, atau terlalu lupa untuk jaga diri. Tetapi baik saya atau Bundo sepakat ini bukan kecapean. Saya tahu kapasitas diri saya.

Sampai di hari kesekian, Bundo bilang, "Ini kayaknya kamu sakit pikiran, deh."

Celotehnya saya abaikan. Saya merasa nggak punya masalah dan nggak ada beban. Atau lebih tepatnya, saya sendiri nggak tahu apakah sebetulnya saya sedang sedih atau senang? Sebab, akhir-akhir ini yaaa, menjalani hidup tanpa benar-benar menikmatinya. Ada sesuatu yang... Hampa.




Saya tahu, ada sesuatu, suatu hal sepele tapi sangat mengganjal. Sungguh saya merasa itu adalah hal yang terlalu sepele sehingga saya mengabaikannya.

Sakit ini harus dibebat sebaik mungkin, semampu yang saya bisa. Sakit ini harus dibungkus dengan segala kesibukan dan ditutup rapat-rapat dengan sebuah senyuman. Yang saya lakukan terdengar mudah
Tapi,
Menyakitkan.

Ketika akhirnya -Alhamdulillah- saya sehat, saya mulai aktif di sana-sini lagi, saya kembali menemukan hal sepele itu dan tiba-tiba langsung mual, pusing banget, nggak pikir panjang segera jongkok di tengah lorong stasiun Sudirman. Zia sampai nanya apa saya baik-baik aja karena terlihat pucat. Dia pun bilang khawatir saya akan pingsan.

Gawat! Betul. Ini sakit pikiran. Saya nggak boleh sakit! 

Maka, saya belajar melupakan masalah. Meskipun tidak sepenuhnya merelakan. Tapi semakin mencoba melupakan, saya semakin sakit. Seharusnya saya menyelesaikan urusan yang mengganjal ini...

Kemarin entah lagi gosip apa, tiba-tiba Che Indah bilang begini ;

"Jangan selalu merasa kuat, Un. Manusiawi kok kalau sewaktu-waktu kita lemah. Pengin nangis. Pengin marah-marah. Go ahead. Iya, begitu tuh biar lepas masalahnya. Nahan-nahan emosi gitu nggak baik juga buat kesehatan. See? Kemarin sakit, kan. Bukan karena kecapean aja. Tapi lebih karena banyak pikiran." 

And I definitely admitted her statements. Padahal saya nggak ngeluh atau cerita apa-apa ke dia, tapi dia tahu.

Barangkali saya terlalu banyak piknik, banyak ketawa. Dalam kepala saya si Joy lagi sibuk membahagiakan saya. Sampai lupa bahwa sedih itu perlu. Seperti yang diucapkan Sadness dalam film Inside Out ; kadang, menangis itu membantu untuk menyembuhkan perasaan. 


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


Tulisan ini untuk renungan saja. Semoga kamu nggak mengalami seperti yang saya alami. Semua masalah nggak ada yang sepele. Semua bentuk perasaan ; sakit, terluka, patah hati, dendam, rindu, benci, dan apapun itu, tidak ada yang sepele. Tuntaskan. Selesaikanlah, dan selalu jadikan diri kita dalam keadaan lapang dada. Sakit itu qodarullah dari Tuhan. Memang nggak boleh ngeluh. Tapi kalau sakit karena pikiran, eh tapinya yang dipikirin malah lagi tersenyum tanpa beban, terlihat sangat bahagia, sementara kita tersiksa... Tentu kita akan jauh lebih sakit. 


Jadi,
Kalau sedih, mengaku saja. Dan menangislah secukupnya.

32 comments:

  1. Bukan melupakan yang jadi masalahnya.
    Tapi menerima.
    Barang siapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia.
    Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan - Tere liye dalam novel Hujan

    Habis baca post ini langsung mengarah ke quotes itu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, bener juga. Harus belajar menerima, ya. Dan itu sulit sekali :( Btw, aku juga udah baca Novel Hujan tapi malah nggak ingat sama quote tersebut..

      Delete
  2. akhir tahun 2014, aku juga pernah sakit tiga minggu tapi memilih menetap di rumah. karena dari dua dokter yang saya datangi tidak ada yang ngasih kepastian saya sakit apa. dokter satu bilang a,satunya lagi bilang b. Obat yang dikasih pun malah tambah sakitnya parah.
    Mungkin memang benar jangan sok kuat. kesedihan tidak perlu di tahan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, dokter juga manusia jadi kita nggak bisa sepenuhnya tergantung sama mereka. Dan ya. Nggak perlu sok kuat. Dikasih sakit itu biar jadi bahan renungan buat kita, menurutku..

      Delete
  3. tahun kemarin pun aku sakit, karena memang ada tekanan di jiwa dan hati :)
    masalah memang penyebab sakit yang tak kunjung sembuh :(
    melupakan malah justru semakin sakit, jalan terbaik memang harus menerima dan ikhlas :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada tekanan itu rasanya nggak enak ya :( Wah aku harus belajar ikhlas meskipun punya banyak pertanyaan kenapa a... B.. c... :( sakit yang kayak gitu ngga enak banget

      Delete
  4. Iya, 'sakit hati dan pikiran' itu juga untuk disembuhkan, bukan untuk dipendam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kadang saking takut atau mau coba lupain justru nggak sadar lagi dipendam :( bener banget, setuju aku. Perlu disembuhkan dengan belajar menerima :)

      Delete
  5. Semoga cepat pulih ya uni
    Aku juga sama kalo sakit suka taktahan tahan ga ngumumin ke dipunia maya atau maya, takut ngrepotin yang mau jenguk heheh
    Yup ekspresi senang sedih itu kdang bisa ada baiknya kalo satu sisi ga berat sebelah, smangt ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, nahan-nahan buat nggak lebay atau curhat di medsos karena nggak enak juga kan... Masa nularin kesedihan ke banyak orang :D sekarang udah sembuh secara fisik, tapi kayaknya memang harus belajar menerima sih...

      Delete
  6. Hal kita anggap sepele itulah kadang akan membuat kita terasa berat jalau tidak diselesaikan.! Hadapi nikmati proses demi proses dari sebyah masalah, dan hasilnya pasti akan terada indah.! Salam kenal Uni...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, menikmati prosesnya itu yang kadang sulit banget ya, ehehehe. Makasih untuk support dan sudah mampir untuk baca :) salam kenal juga

      Delete
  7. Perasaan banyak banget deh yang sakit bulan April. Saya juga sakit bulan itu, sampai nggak masuk sekolah tiga hari. Beberapa blogger yang sempet dikunjungi juga banyak yang sakit bulan April. Sedih. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ih sedih banyak yang sakit mungkin banhak pikiran juga. April memang katanya the cruel months sih, hahaha.

      Delete
  8. Tetapi jangan berlebihan yh nangisnya nanti kesahan nya jadi kaya cengeng dong

    ReplyDelete
    Replies
    1. That's why I said, menangis saja secukupnya :)

      Delete
  9. Terima kasih, Un. Semoga bisa dipraktikin.

    Kata orang, sih, dokter dan obat itu perantara aja. Semuanya emang kembali ke pikiran dan Tuhan. Sugesti minum obat bakal sembuh jadi kayak yakin gitu. Kalo gak yakin, gak akan sembuh. Kayak sakit pilek disuruh jangan minum es, tapi ada orang yang masa bodo. Dihajar terus pake es, eh malah sembuh. Bener gak, sih? Eaaakk. :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yep, break the rules! Jaga kesehatan, ya :)

      Delete
  10. Sabar dan syukur ternyata masih harus dibackup oleh upaya lain yang positif ya.
    Salam hangat dari Jombang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali Pakde. Sehat selalu ya Pakde, salam juga dari Bogor :)

      Delete
  11. Oh ternyata Uni sakit ta, kirain sibuk kuliah gitu, Un, makin kurus aja dong :'))
    Bener, Uni, kalau mau menangis memang jangan ditahan, saya juga pernah sih, dulu, pas diputusin pas lagi sayang-sayangnya, saya sok nahan nangis, berhasil sih, efeknya? Move onnya bertahun-tahun, Un, malah nyiksa, dari situ saya belajar, lampiaskan dulu aja, biar lega. Yah curhat. Biarin.
    Semoga sehat, dan bahagia selalu, Onee chan! *peluk jauh* *bau ketek*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, jangan ditahan. Lampiaskan aja... Kalau kamu kenapa kenapa, boleh kok lampiaskan ke aku hehehe :) *peluk*

      Delete
  12. setelah baca tulisan ini, saya baru sadar kalau sudah lama sekali saya tidak menyapa sadness... :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama banget :( kita perlu dia ada dalam emosi kita, loh .. Ayo, disapa :)

      Delete
  13. Suka sekali sama "...menangislah secukupny" jadi bukan berarti gak boleh nangis untuk dibilang tegar ya. Ya ampun kakak makasih ya beberapa waktu lalu udah mampir di blog aku. Aku suka sekali sama blog ini, so cute tampilannya. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal, ya. Malasih sudah main ke sini :) mari, kalau mau menangis, nangis aja. Jangan ditahan :)

      Delete
  14. ARTIKEL YANG BAGUS (y)
    .
    .
    Ditunggu kunjungan baliknya ya di http://www.dzikirsm.web.id/2016/03/memilih-menyendiri.html :)

    ReplyDelete
  15. duh, aku juga sering banget overthinking sampai ngerasa sakit. musti berdamai sama pikiran sendiri :')

    ReplyDelete
  16. saya kalo sedih banyakan dipendam Mba, jaraang banget saya ungkapin ke orang-orang, kalo udah nggak tahan baru deh nangis..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kalau kuat nahan mah, ditahan ya mbak :( tapi efeknya bisa sakit :(

      Delete
  17. Aku pernah ngalamin ini, Uni :( Sakit pikiran. Pusing, gak enak badan, gatau penyebabnya apa. Semakin lama dibiarin, malah semakin menjadi.
    Ternyata penyebabnya karena beban pikiran yang nggak sempat dikeluarkan.

    Setuju dengan kalimat, '' Kalau sedih mengaku saja. Dan menangislah seperlunya ''

    Semangaat Uni. Jangan sakit pikiran lagi yaa :))

    ReplyDelete

Hi! Thank you for visiting my website. I hope you can enjoy read all about blog post here and lemme know your opinion! Please leave on the comments bellow :)