Adi, Yoga, dan yang Tersesat di Jalan yang Benar.

Hi, Assalamualaikum!






Saya terlibat dalam perbincangan sederhana dalam sebuah grup alumni sekolah ketika memasuki bulan keempat di tahun 2016 ini. Grup tersebut isinya bukan hanya berisikan teman seangkatan, tetapi diisi oleh alumni baik dari SMP pun SMA, yang mana mereka semua sekarang berdomisili di Bogor. Grup WhatsApp tersebut, yang seangkatan dengan saya hanya berempat. Selebihnya senior dan junior yang bahkan sebelumnya tidak saya kenal. Nah. Salah satu membernya sekarang berada di Qatar. Dia bercerita mengenai 'terangnya' lapangan pekerjaan di sana, seperti, contohnya, banyak teman-teman yang bekerja di penerbangan Qatar, kedubes, dll, sekalipun gelar akademis mereka berbeda jauh dengan pekerjaan yang didapat. 

"Begitulah. Banyak yang tersesat di jalan yang benar," katanya mengakhiri cerita singkatnya. Ya, saya setuju. Banyak mahasiswa kerja apa padahal jurusan kuliahnya apa. Dan teman-teman uang diceritakan itu senang atas takdirnya. Tetapi beda dengan saya. 

Saya tidak tersesat dan sedang tidak menyesatkan diri. Dan tidak mau tersesat sekalipun jalannya benar. Saya mau, mengerjakan apa yang saya mau. Saya mau menjalankan sesuatu yang saya tahu rutenya sehingga tidak perlu tersesat. 

Dalam hal ini, menulis.

Bagaimana, ya... Bulan lalu saya pamit, dan sekarang malah dengan lancang menulis lagi. Ini ibarat seperti izin mau meninggal, tapi bukannya memejamkan mata untuk selamanya, malah kembali nongkrong di kafe ber-wifi sambil numpuk dosa dengan ghibah tanpa henti. Lancang. Labil. Namun, sejujurnya saya memang mau berhenti menulis karena alasan penting. Sampai suatu saat Adi dan Yoga datang menemui saya. Dengan gercep langsung menjadi pendengar dan memberikan cerita-cerita menghibur. Iya, mereka nggak pernah ngasih solusi. Barangkali mereka tahu kalau saya nggak pernah butuh solusi. Cuma butuh dikotorin lagi otaknya. Karena ketika otak saya sudah saya cuci dan jadi suci, mungkin saya bakalan lupa bagaimana dan apa itu kreativitas. Dan, mereka berhasil bikin otak saya kotor. At least setelah pertemuan dengan Adi dan Yoga, saya sadar, bahwa sangat sulit meninggalkan apa yang selama ini kita cintai. 

Sangat, sulit. 

Jadi, 


Saya kembali. Bahkan membuat rumah baru. Saya bbxjwbxianxuwvxuxbeickabxievx usbxhsvxhxhxvdvxusbxjd hdhcnsjej hsccjsj ya nggak tahulah mau nulis apaan lagi. Intinya batal pamit, ahahaha. 


Selamat membaca lagi tulisan-tulisan saya di www.unidzalika.com, dan selamat menjelajahi www.fiksi.unidzalika.com hehehe. Jangan menyesatkan atau mencoba tersesat dalam semua postingan saya, tetapi bacalah karena kamu ingin. Karena kamu mau. :)




Tabik.
Z

7 comments:

  1. Wah, ada saya! Karena pergi meninggalkan sesuatu yang kita cintai itu tidak mudah. Kalaupun bisa, kamu butuh sesuatu yang baru. Halah, Yog! :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. NAH, CARI YANG BARU ITU NGGAK GAMPANG. #ApaIni

      Delete
  2. Ayoo semangat menulis unii :)

    ReplyDelete
  3. Hi.. currently I am doing a research about beauty blogger's influence in cosmetic buying intention in Indonesia for my thesis.
    It would be great if you can help me to fill in the questionnaire.


    https://docs.google.com/forms/d/1RsfM-dO9rATuCB1hqCuY4j5Ktl09MoIGZyEvaz5Rfb8/viewform?c=0&w=1&usp=mail_form_link


    Thank you in advance

    ReplyDelete

Hi! Thank you for visiting my website. I hope you can enjoy read all about blog post here and lemme know your opinion! Please leave on the comments bellow :)