Rahasia Perempuan


Pagi ini dimulai dengan aku yang saling tatap dengan anak-anak di meja makan. Mereka tidak terlalu lahap memakan masakanku hari ini. Aku belum mencicipi masakanku tapi tadi si bungsu bilang masakanku kurang enak. Dua kakaknya juga hanya makan seadanya.
“Mamah akhir-akhir ini kayaknya lagi sibuk banget ya,
sampai sulit membedakan garam dan gula. Ada kegiatan apa sih, Mah?” suamiku bertanya. Aku mencicipi kopi yang kubuatkan untuknya. Bah! Rasa garam. Benar sekali. Hari ini aku terlalu banyak berpikir hingga tidak lagi mampu membedakan kepadatan butiran garam dan gula.
“Iya Mah, aneh nih nasi gorengnya, manis banget. Aira
makan di kantin sekolah aja ya Mah,” si bungsu ikut
berkomentar. Dua kakaknya juga mengiyakan, segera
berdiri, menyalamiku dan segara bergegas menuju mobil.
“Ayo Pah, kita berangkat,” si bungsu memanggil. Suamiku berdiri, mencium keningku sebelum ia meninggalkan ruang makan. 
“Jangan terlalu banyak pikiran Mah, cerita saja
sama Papa kalau ada apa-apa,” ia berbisik pelan. Aku
tersenyum, mengikutinya sampai ke ambang pintu depan dan menyaksikan mereka semua pergi meninggalkanku. Entahlah, terlalu banyak yang kupikirkan pagi ini. Aku bukan sedang memikirkan cucian yang menumpuk, bukan pula tentang kondisi keuangan keluarga. Ada sesuatu yang sepagi ini tiba-tiba membuatku cemas tak beralasan. Aku menutup pintu rumah dari dalam saat telepon berdering.
“Halo agen Ratna,” sapa suara di seberang.
“Halo Bos,” balasku. Aku sangat kenal sang penelepon
lewat suara bass-nya yang serak namun penuh wibawa.
“Suami dan anak-anakmu sudah berangkat ya?” tanyanya basa-basi.
“Baru saja. Ada apa meneleponku sepagi ini, bos?” Aku langsung pada inti pembicaraan. Aku tahu seorang Norman Soedarjdo tidak akan menelepon sepagi ini hanya untuk berbasa-basi.
“Aku ada kabar baik dan buruk, manakah yang ingin Kau dengar lebih dulu,” tanya pria itu.
“Hari ini Aku tidak begitu semangat, mungkin ada baiknya mendengar berita baik terlebih dulu,” dalam hati aku berharap kecemasan tiba-tiba yang sedari tadi pagi mendera tidak ada hubungannya dengan berita buruk yang akan disampaikan kemudian.
“Berita baiknya adalah kau di bebas tugaskan selama dua minggu ke depan. Tidak perlu melapor apa-apa kecuali sangat mendesak,”
Aku mengumbar senyum senang yang pasti tidak akan
terlihat oleh sang penelepon. Tapi aku tahu bosku
merasakan kegembiraanku, dia tahu betul betapa aku
sangat menginginkan cuti yang selama tiga tahun ini tak kunjung ku dapat. 
“Apa ini karena campur tanganmu, bos?”
Aku sedikit penasaran, tidak mudah mendapat cuti saat situasi sedang sibuk sekarang ini.
“Anggap saja ini hadiah ulang tahunmu yang kemarin,” 
Pak Norman tidak mengiyakan, lalu nada suaranya berubah serius. 
“Berita buruknya, Arya Wiguna si bos mafia yang kau
tangkap dibebaskan kemarin. Aku ingin kau berhati-hati, aku tahu dia sangat dendam karena penangkapan yang kau lakukan dua tahun yang lalu. Kau tahu betapa Arya Wiguna seorang yang tidak menyukai perempuan heroik, baginya kaum perempuan adalah makhluk rendahan,”
Aku tertegun, kecemasan yang semula kupikir tidak
beralasan akhirnya terkuak. Mungkin inilah sebabnya
mengapa moodku tidak bagus sedari tadi. 
“Aku mengerti,” jawabku mengakhiri perbincangan singkat dengan Pak Norman.


Namaku Ratna, aku adalah seorang istri yang suaminya bekerja sebagai manager di sebuah bank dan ibu dari tiga orang anak. Semua orang tahu; keluarga, teman bahkan tetangga, aku adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Tanpa sepengetahuan mereka aku mempunyai kehidupan ganda, pagi hari aku melakukan tugasku sebagai istri dan ibu, saat
suami dan anak-anakku pergi aku melakukan pekerjaan lainku, sebagai seorang agen rahasia.

Well, secret makes a woman, woman.

Tapi, sepintar apapun aku menyimpan rahasiaku selama tiga tahun terakhir, rasa-rasanya suamiku mulai merasakan kejanggalan. Beberapa hari ini telepon rumah kami sering berdering, dan sialnya bukan aku yang mengangkat. Aku tak pernah tahu dari siapa itu, suamiku juga tak pernah mengatakannya. Dan aku tahu betul para agen rahasia yang bekerjasama denganku tak akan menghubungiku sebelum keluargaku pergi. Suamiku sempat beberapa kali bertanya, apakah aku memiliki masalah hutang piutang sehingga banyak penelepon yang mencariku, atau sedang mengikuti bisnis MLM, atau wali kelas anak-anakku menelepon karena
mereka nakal, dan banyak praduga lainnya yang tak benar satupun.
Bukan maksudku berbohong, ini adalah pekerjaan berat di mana Aku tak ingin anak dan suamiku ikut andil di dalamnya. Biarlah aku tetap ibu dan istri bagi keluargaku dan pekerja yang baik di lingkungan pekerjaan. Sedangkan Arya Wiguna, dia tak lebih dari seorang penjahat kelas kakap yang hanya berani bersilat lidah, pandai membual, cerdik mengelabui, tapi tak cukup lihai mengatasiku. Dia berhasil tertangkap tangan olehku dan aku punya semua
bukti miliknya. Cukup lama mengumpulkan bukti bahwa dia memang penjahat yang sedang kami incar, tapi dengan semua bukti yang sudah kukumpulkan, aku jadi bertanya-tanya mengapa tiba-tiba saja dia dapat dilepaskan dengan mudah. Bukannya undang-undang menghukumnya untuk berada dalam tahanan selama 40 Tahun? Ah lupakan. Aku harus waspada pada situasi yang sedikit berbahaya
terhadap keluargaku. Sebenarnya bisa saja aku mengabaikan peringatan bosku tentang hal ini, karena tak ada yang tahu tentang identitas keluargaku, tak ada yang tahu kalau anak-anakku adalah anaknya seorang intelejen rahasia di negeri ini. Batinku bergejolak, kulirik jam dinding yang ada di ruang tengah tak jauh dari tempatku berdiri. Pukul sebelas siang. Cepat sekali waktu bergerak. Biasanya aku segera bergegas ke kantor setelah keluarga kecilku keluar rumah, namun karena bos-ku menyatakan aku sudah libur maka hari ini aku kembali menjadi ibu rumah tangga. Banyak pekerjaan
rumah yang menumpuk setelahnya menjemput
anak-anak. Butuh tiga jam untuk menyelesaikan pekerjaan rumah; mencuci baju, menjemur, mencuci piring kotor dan menyapu rumah. Sebenarnya aku memiliki asisten rumah tangga, Bik Inah, hanya saja dia sedang izin mengunjungi kerabatnya dan berjanji akan kembali sore hari jadilah semua kukerjakan sendiri hari ini.
Sudah pukul dua saat aku selesai, sejam lagi anak-anak keluar sekolah. Dengan tergesa aku mengambil kunci mobil, bergegas menuju sekolah yang jaraknya empat puluh kilometer dari rumah untuk menjemput anak-anak. 
Pukul setengah empat aku tiba di sekolah swasta tempat ketiga anakku bersekolah. Beruntung macet di jalanan hanya membuat aku terlambat setengah jam padahal tahu sendiri bagaimana kemacetan di ibu kota yang bisa membuat seseorang tua akibat kelamaan di jalan. Aidan yang tertua duduk di kelas 7, Arsya duduk di kelas 5 sedang yang paling bontot, Aira duduk di kelas 3. Sekolah swasta ini terdiri dari TK sampai SMU sehingga lokasinya sangat luas.
Aku segera memarkir mobil di pelataran parkir, biasanya ketiga anakku akan menunggu di ruang tunggu jika aku terlambat. Memang ini bukan kali pertama aku melewati jam keluar sekolah mereka, biasanya aku akan menelepon salah satu guru mereka, Ms. Solveig untuk mengabarkan kalau aku akan sedikit terlambat. Entah mengapa hari ini
aku tidak melakukannya, kupikir terlambat setengah jam bisa di toleransi lagipula Aidan sudah mengerti kalau aku mungkin terhambat akibat macet di Jakarta yang semakin menyebalkan.
Seorang anak menyapa saat kakiku memasuki halaman sekolah, 
“Hi, Mrs. Wijaya,” anak perempuan berusia delapan tahun yang sebaya dengan anak bungsuku, Michelle namanya. 
“Hi Michelle,” balasku ramah.
“Are you looking for Aira?” Tanya anak perempuan itu.
“Yes, do you see Aira and her brothers?” Balasku.
“A man took them, I heard he said that he is Aira’s uncle.”
Dheg! Aku tertegun, apa maksudnya seorang pria
menjemput anak-anakku dan mengaku sebagai paman. Aku anak tunggal dan suami tidak memilik saudara laki-laki. Kembali perasaan tidak enak menderaku, kali ini disertai rasa was-was dan pikiran buruk.
“Are you sure?” Aku memastikan, tanganku sedikit gemetar saat memegang pundak Michelle. Ibu manapun tidak akan sanggup mendengar hal buruk menimpa anaknya. Gadis kecil itu mengangguk.
“Thank you Michelle, and you better wait for your mother in waiting room.” Aku mengajak Michelle ke ruang tunggu, aku tahu gadis kecil ini juga menunggu jemputan dari ibunya. Aku mencoba menyangkal apa yang dikatakan teman Aira barusan, mungkin saja Michelle salah mengenali orang. Anak-anakku pasti sedang menunggu di ruang tunggu.
Ruang tunggu berada di sebelah barat sekolah berdekatan dengan ruangan guru. Setelah melewati tangga aku tiba di ruang tunggu, kegelisahanku semakin memuncak. Ada yang tak beres. Aku yakin itu. Aku melewati ruang guru dan bertemu Ms. Solveig, “Hi, Ms. Solveig. Did you see my kids?”
“Oh hi, Mrs. Wijaya. I don’t see those three. And why you didn’t call me first to confirm that you’ll come late?”
“I’m trapped in traffic for half an hour, I thought it was
okay not to give you a call. Maybe their father picked them up before me. Thank you for your time.” Pamitku, 
“Btw, would you keep your eyes on Michelle? She’s waiting for her mother.” Ms. Solveig mengangguk dan mengajak Michelle masuk ke ruangannya. Dalam hati aku berusaha tenang, tapi pikiranku mulai kemana-mana. Tidak ada yang perlu ku cemaskan, hiburku dalam hati. Telepon genggamku bergetar, tanpa nomor dan nama. Hatiku mendesir, perasaan berkecamuk muncul. Dengan was-was aku menekan tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut. “Halo,” sapaku lirih.
“Halo, Ratna Wijaya,” sapa laki-laki bersuara berat. Kelebat kejadian dua tahun lalu muncul di kepala. Seseorang yang seharusnya mendekam lama di penjara itu kini menyapaku. Peringatan dari bosku tadi pagi ternyata terbukti. Si penelepon adalah Arya Wiguna.
“Apa maumu?” Tanyaku. Seseorang di seberang terkekeh, aku bisa membayangkan wajahnya yang banyak kerutan itu tertawa penuh kemenangan. “Kau tampaknya tidak terkejut mendengar suaraku. Aku asumsikan kau tahu alasan aku menelponmu?” 
Bos mafia itu berprediksi, dan benar aku memang sudah menduga kalau dialah yang membawa
ketiga anakku.
“Jangan berani kau menyentuh anak-anakku.” Ancamku dengan nada gusar tapi aku tidak ingin laki-laki itu tahu kalau aku khawatir.
“Mereka anak-anak yang manis, bahkan anak
perempuanmu sangat mirip denganmu,” pujinya.
“Sehelai rambut saja, kau dengar aku, sehelai rambut saja yang jatuh dari kepala anakku kau akan tahu akibatnya.”
“Hahahahaha. Aku yakin kau bersungguh-sungguh tapi ini permainanku, kau harus menuruti perintahku jika ingin mereka selamat.”
“Apa maumu?” Ulangku lagi.
“Aku ingin kau mengambil kiriman untukku, alamatnya akan kukirim melalui sms. Jika kau berhasil membawanya tepat waktu ke tempat yang ku maksud, anak-anakmu akan kubebaskan. Dengan syarat kau melakukan semua seorang diri, jika aku tahu kau menghubungi pihak berwajib aku tidak bisa menjanjikan keselamatan anak-anakmu. Bagaimana?" Tawar Arya Wiguna. Aku terdiam, memikirkan apa yang harus aku lakukan, apakah menghubungi bosku
Norman atau ikut dalam permainan ini seorang diri. Aku tahu betul kalau Arya Wiguna adalah orang yang licik dan penuh tipu daya.
“Aku setuju,” jawabku akhirnya.
“Bagus, sekarang mari kita mulai permainannya.” Arya
Wiguna tertawa puas sebelum mengakhiri pembicaraan. Aku terpekur, tidak menyangka akan mengalami kejadian yang berusaha ku hindari. Keselamatan keluargaku terusik juga akibat pekerjaanku sebagai seorang agen rahasia di BIN. Ponselku bergetar lagi, sebuah pesan masuk lagi-lagi
tanpa nomor dan nama.
“Pergilah ke Jalan Kemang Raya No. 130, kau akan bertemu seorang anak yang memegang bungkusan. Waktumu sampai pukul 7 malam ini. Apakah kau menyukai tempat yang ku pilih atau membahas kasus usang tentang penyerangan bulan September? Kalau aku lebih memilih menonton reality show pagi.” Demikian isi sms yang masuk. Aku membaca berulang kali agar mengerti maksudnya, Arya Wiguna terkenal dengan senang berteka-teki. Daerah yang dimaksud tidak jauh dari sekolah anak-anakku, aku punya waktu kurang lebih dua jam untuk mengikuti permainan Arya Wiguna. Sepanjang jalan aku
berusaha memecahkan kalimat bergaris miring yang kupercaya adalah tempat tujuan berikutnya.
Sebuah telepon masuk lagi di ponselku, tertera nama
William Wijaya, suamiku. 
“Halo Pah,” sapaku.
“Mamah dimana? Sudah jemput anak-anak? Aku lembur ya Mah, mungkin pulang jam sembilan malam,”
“I-iya pah, aku sedang bersama anak-anak. Aku mengajak mereka makan di luar,” kataku berbohong, baguslah kalau suamiku lembur aku jadi punya waktu untuk menyelamatkan anak-anak tanpa dia tahu apa yang terjadi.
Aku seharusnya menceritakan ini padanya, hanya belum saatnya, aku yakin aku bisa menyelesaikan ini sebelum dia pulang ke rumah. Lagipula Arya Wiguna bilang aku tidak boleh menghubungi siapapun apalagi pihak berwajib.
“Baiklah kalau begitu, selamat bersenang-senang kalian. Hati-hati ya. Love you all,”
“Love you too,” balasku mesra.
Aku berbelok di pertigaan dan berhenti di depan sebuah mini market yang cukup terkenal di kalangan anak muda, Seven Eleven Kemang. Seorang anak perempuan berusia sebaya Aira, anak bungsuku duduk sendiri. Di mejanya tergeletak sebuah tas
hitam kecil. Aku menyapanya dengan sopan, “sendirian adik kecil?” Si anak perempuan memandangku dari ujung kepala sampai kaki lalu tanpa menjawab apa-apa dia langsung menyodorkan tas itu kepadaku. Kuperkirakan dia sudah diberitahu tentang ciri-ciriku. Aku juga tidak sempat bertanya banyak kenapa anak sekecil dia bisa dititipi tas
dari seorang penjahat kelas kakap. Yang terbersit adalah bagaimana aku mengantar tas ini ke tempat yang dimaksud si bos mafia agar anak-anakku dibebaskan.
Mataku tertumbuk pada tulisan mini market, 7-11. Kata-kata di sms terngiang; apa kau menyukai tempat yang kupilih. Apakah tempat ini yang dimaksud? Atau membahas kasus usang tentang penyerangan bulan September. Kasus usang bulan September? Tanganku dengan cepat mengetik di google melalui ponsel pintarku. Yang muncul adalah Kasus 9-11 tentang serangan gedung WTC di Amerika. 7-11 dan 9-11. Kemudian aku membaca kata berikutnya:

kalau aku memilih menonton reality show pagi.

Seperti ada kunci yang yang terbuka di kepala, jika tebakanku tepat maka reality show yang di maksud adalah acara pagi yang sering aku tonton. 8-11 show di Metro tv. Jadi aku harus mengantar tas ini ke Metro tv, baiklah. 
Mobil melaju di jalanan yang mulai macet, untung saja aku sudah berada di daerah Kebon Jeruk sebelum jam enam. Kembali sebuah sms masuk ke ponselku. 
“Berikan tas itu pada satpam dan katakan kalau tas itu harus sampai ke tangan Marissa Anita.” 
Aku mengenali nama yang disebutkan dalam sms, dia adalah pembawa acara 8-11. Aku tidak bisa menebak banyak, tapi aku tahu isi dalam tas kecil ini adalah sebuah flash disk. Aku menghampiri seorang satpam setelah memarkir mobil, dengan sangat meyakinkan aku mengatakan kalau tas ini harus diserahkan kepada Marissa Anita. Satpam itu mengangguk mengerti, katanya presenter itu kebetulan masih ada di dalam studio. Aku berterima kasih dan kembali ke mobil. Sudah hampir pukul 7 malam dan belum
ada kabar lanjutan dari Arya Wiguna. Tepat jam 7, telepon kembali masuk ke ponselku.
“Selamat, kau sudah menjalankan tugas dengan baik.”
Suara Arya Wiguna terdengar senang. Entah bagaimana dia sepertinya punya mata-mata sampai tahu pergerakanku.
“Dimana anak-anakku?” tanyaku tak sabaran.
“Aku sangat menyukai anak-anakmu, mereka anak yang sangat penurut.”
“Dimana mereka,” bentakku. 
“Tenang, Ratna. Aku sudah mengantar mereka kembali ke rumahmu dengan selamat,”
Kata Arya Wiguna. Aku sedikit tidak yakin karena semua terlalu mudah.
“Kau tidak berbohong?” aku memastikan.
”Aku mungkin penjahat tapi aku bukan seorang
pembohong,” Arya Wiguna terdengar meyakinkan. Aku
mematikan telepon dan segera pulang ke rumah.
•••
Aidan, Arsya dan Aira duduk di meja makan, Bik Inah sudah menyiapkan makan malam. 
“Mamah dari mana saja?” Tanya si bungsu. 
“Maaf, mama terlambat menjemput kalian,” aku menciumi satu persatu kepala ketiga anakku.
“Kami di ajak Paman Gober, Mah. Katanya Mamah yang menyuruhnya untuk mengajak kami bermain di Kidzania.”
Arsya menjelaskan, dia tampak senang.
“Apa kita bersaudara dengan Donal Bebek, Mah?” sambung Aidan yang sepertinya merasa aneh dengan nama paman yang menjemput mereka. Aku hampir saja tergelak namun kutahan, 
“Memang itu namanya, kak. Dan tidak, kita tidak ada hubungan saudara dengan Donal Bebek. Kalian makan yang banyak yah,” 
Arya Wiguna ternyata punya hati, tapi memilih nama sebagai Paman Gober. Dude, please.
Sebuah sms kembali masuk saat aku baru akan beranjak tidur, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Suamiku sudah terlelap di sampingku. 
“Kau melakukan tugasmu dengan baik, tapi permainan kita belum berakhir. Ini hanyalah awal dari permainan yang ku rencanakan untukmu, agen rahasia Ratna Wijaya. PS: jangan lupa menonton reality show pagi,”


Keesokan harinya aku segera memutar Metro tv, berita
tentang Deni Setia Maharwan alias Rapi Mohammed Majip tertangkap. Aku tahu pria ini adalah seorang gembong narkoba kelas kakap yang tidak tersentuh hukum, saingan Arya Wiguna. Rupanya bos mafia itu berusaha menyingkirkan lawannya melalui informasi data kejahatan yang mampu menjerat Deni Setia Maharwan untuk hukuman yang sangat lama.
Aku belum tahu apa rencana Arya selanjutnya, tapi melalui sms semalam yang katanya hanya awal dari permainan yang dia rencanakan untukku, aku tahu aku harus bersiap untuk itu. Kali ini aku harus lebih mempersiapkan diri agar keluargaku tidak ikut terseret, mungkin juga aku harus memberitahukan jati diriku sebenarnya kepada suami dan anak-anak. Dan sampai saat itu tiba aku berjanji akan menjebloskan Arya Wiguna kembali ke penjara kali ini untuk seumur hidupnya.


Duet @naztaaa & @unidzalika

0 comments:

Post a Comment

Hi! Thank you for visiting my website. I hope you can enjoy read all about blog post here and lemme know your opinion! Please leave on the comments bellow :)