Belajar Menghargai

Aku pernah menjadi pembawa acara salah satu kegiatan Pertukaran Budaya antara Indonesia dan Australia dimana bahasa pengantarnya menggunakan bahasa Inggris. Peserta berjumlah 45 orang, dan tim Australia berjumlah sembilan orang, empat laki-laki, lima perempuan.
Saat tim Australia mendapat giliran untuk mengenalkan budaya mereka, mereka mengajarkan kami beberapa kosakata Australia dan membagi-bagikan biskuit berbentuk Kangguru dan roti dengan selai yang mereka bawa dari Negaranya. 
Dengan sumringah, aku dan para peserta acara menerima makanan tersebut. Berhubung aku dalam keadaan berdiri dan ada di depan sebagai pembawa acara, aku dengan jelas dapat melihat raut muka para peserta yang duduk dihadapanku saat mencicipi roti tersebut. Semuanya tersenyum, semuanya memegang roti di tangannya, dan semua peserta mengunyahnya dengan sedikit anggukan, menyatakan kalau roti tersebut enak. Lalu tiga orang Australia menghampiriku dan bertanya kepadaku.
"Bagaimana, rasanya enak tidak?" Yang bertanya ini namanya Miss Kim, dan aku mengangguk sambil mengunyah, melakukan hal yang sama seperti para peserta.
"Rasanya enak, aku baru pertama kali mencoba selainya, tapi kalau boleh jujur, sedikit asin ya."
Ucapku dengan sopan.
"Iya, memang rasanya asin selai ini. Selai ini khas di Australia. Kamu mau tambah?" Michael bertanya padaku. Aku menggeleng pelan sambil tersenyum.
Well, roti itu sejujurnya 'aneh' . Aku tidak bilang tidak enak, hanya sedikit aneh. Selai-nya itu berwarna hitam pekat dan rasanya asin bukan main. Seperti terlalu banyak margarin dan garam di dalamnya, dan kalau kita memakan roti itu satu saja, pusing dan ngilu tersa di gigi karena 'terlalu asin' . Lalu dari situ aku dapat mengambil kesimpulan.
Bukan kami (Orang Indonesia) suka berbohong, tapi kami mengerti caranya menghargai. Mana mungkin kita menolak pemberian seseorang. Aku salut pada para peserta yang sanggup menghabiskan makanan yang sebenarnya kurang mereka sukai. Ada juga yang memasukkannya ke dalam tas agar terlihat sudah habis. Ada yang memakannya cepat-cepat lalu minum air mineral hingga tiga gelas. Ada yang sambil menahan tangis memakannya. Terlihat kan, terkadang berbohong untuk kebaikan itu baik. Dengan kami berbohong bahwa rotinya enak, orang Australia pun merasa senang dan merasa di hargai.
•••
Begitulah, semestinya dalam kehidupan sehari-sehari kita juga harus bisa menghargai perbuatan orang lain meskipun kita kurang sukai. Menghargai hasil jerih payah orang lain, menghargai semua perbuatannya. Dan aku yakin efeknya tidak akan buruk saat kita berbohong demi menghargai tindakan seseorang. Baiklah, mulai sekarang ayo kita belajar menghargai siapapun. Bisa dimulai dari menghargai masakan orang rumah, atau menghargai pekerjaan bibi di rumah, atau menghargai supir angkutan umum, dsb.
•••
Semua peserta serempak menjawab rotinya enak saat aku bertanya setelah sesi istirahat selesai. Tim Australia senang mendengarnya dan mereka bilang kapan-kapan akan membawakan lebih banyak selai untuk kami. Lalu saat kegiatan berakhir, aku menghampiri tim Australia tersebut dan Mr.Ros dan Miss.Kim berbisik pelan padaku sambil terheran-heran.
"Kamu tahu nggak, kalau kami pergi ke Negara lain dan mengenalkan selai ini, banyak yang tidak suka karena rasanya terlalu asin. Beberapa Orang Australia bahkan banyak yang tidak suka loh, termasuk saya tidak terlalu suka, tapi Orang Indonesia ini lidahnya bagus sekali, suka pada selai ini. Kamu mau selainya? Aku bisa berikan kalau kamu mau."
"......"
Ternyataaaa!!

0 comments:

Post a Comment

Hi! Thank you for visiting my website. I hope you can enjoy read all about blog post here and lemme know your opinion! Please leave on the comments bellow :)