Lebih Enak Mana, Lulus Duluan, atau Kerja Duluan?


Kemarin saya ketemu kawan lama. Sudah sejak 2010 berteman baik. Setahun setengah (2013-2014) nggak ketemu karena saya antara malu atau bete karena dia lulus lebih dulu, hahaha. Tapi karena Allah meridhoi pertemanan kami, ya tiba-tiba saja bisa ketemu kemarin, dan nggak ada momen awkward, malah langsung ngobrol. Dia baru selesai interview dan saya baru selesai mengurus surat cuti. Setelahnya kami pindah ke tempat makan untuk ngobrol banyak.

"Jadi," katanya memulai pembicaraan. "Menurut kamu lebih enak mana, lulus duluan, atau kerja duluan?"

Dia sedang cari kerja. Melamar ke mana-mana. Katanya, mencari kerja itu susah.

Di sisi lain, pada waktu yang bersamaan, saya, malah berhenti kerja, dengan mudahnya.

Sungguh, epik.

"Lulus duluan. Jadi tanggung jawabnya selesai satu persatu," jawab saya. Dia terlihat tidak setuju dan mengatakan kalau menurutnya, kerja dulu baru lulus lebih baik dan bisa membuat keadaan lebih settled. Kami punya jawaban yang berbeda karena keadaan kami bersebrangan -dia sudah lulus dan mencari kerja, saya berhenti kerja karena mau lulus. Lalu, dia terlihat berpikir sejenak dan kembali beropini.

"Hidup itu aneh ya, Dza. Kalau ingat zaman kita di kelas dulu, ada yang di kelas kemampuan belajarnya standar, sekarang bekerja di oil & gas. Ada yang berlomba-lomba lulus sampai dengan segala cara, sekarang jadi penangguran. Ada yang IPK 4 terus, sekarang memutuskan berumah tangga. Dan ada kamu, yang dulu aktif banget, sekarang terlihat nggak punya semangat sama sekali. Hidup itu, sungguh nggak terduga."

Saya mengangguk. Bukan mengaminkan. Tapi tanda setuju. Setelah dia bilang begitu, ingatan saya kembali ke masa di mana semangat saya padam total. Ibarat kayak arang yang udah kerendem air jadi disulut api pun nggak bakal nyala. Gitulah. Kemudian, tiba-tiba saja saya jadi mau mengungkit lagi yang sudah berlalu.

"Kalau aja dulu aku nggak memprioritaskan dia.. Kalau aja..."

Dan kami terus mengobrol membahas yang lalu-lalu dengan hati yang lebih lapang, sekadar nostalgia. Dilanjut dengan membahas pengalaman dia mencari kerja, kegiatan saya sekarang, mantan dia, yang saya cintai saat ini, dan, mengalir begitu saja. Saya cerita-cerita keresahan saya, karena benci dituntut banyak orang kenapa belum lulus. "Yang kuliah aku, yang bayar uang kuliah keluargaku, kenapa malah yang bukan bekepentingan sama sekali suka banget nuntut sih, risih," cerita saya waktu tetangga, tukang sayur, mamang ojek, tukang pulsa, abang angkot, penjahit langganan, dan semua yang berada di lingkungan saya, sibuk mempertanyakan kenapa saya belum juga lulus.

"Yaudah, santai aja," jawabnya lebih santai. Kami lantas beralih topik bahas soal interior kafe yang kami singgahi. Sekilas pertemuan ini klise dan cerita-cerita kami sekian jam seperti membosankan. Namun, dengan diingatkannya tentang yang dulu-dulu, dan kembali ingat perjuangan dia bantu saya urus beasiswa, urus kegiatan organisasi, urus ini-itu yang selalu ada dia, saya justru kembali bersemangat.
Saya tahu banget tentang diri saya sendiri. Bukan termasuk tipe yang akan bersemangat kalau dituntut. Bukan yang akan terpacu kalau dibanding-bandingkan. Bukan orang yang gampang galau atau iri kalau orang lebih hebat dari saya. Like, it's just me. Hanya saya dan biarkan saya yang menjalankan hidup saya.Tapi obrolan kemarin menghasilkan satu kesimpulan buat saya ;

Daripada maksain membakar arang yang basah, lebih baik menggantinya dengan arang baru.

Dan 'arang baru' tersebut sudah saya miliki, baru saja.

Terima kasih, Indra. Kamu sudah menarik saya keluar dari kenyamanan di Dunia Maya, dan telah menyeret saya untuk kembali mengurus tanggung jawab saya di Dunia Nyata. Saya masih harus ketemu Echa, Adeh, Ambon, Adi, Bebek, Hambali, Toni, Yogi, dan Andre. Kalian penyemangat saya. Semoga lain waktu, Allah mempertemukan kita semua, duduk satu meja di waktu bersamaan.

_________

"It so good, to have you around." -Miley Cyrus, True Friend.

20 comments:

  1. Tetangga memang, kadang suka rese.

    Ayo. Semangat, Uni.
    Mari sama-sama selesaikan Skripsi. :))

    Sepertinya gue juga harus punya 'arang baru'.
    Terima kasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, baru baca tulisan sendiri. Poin pentingnya malah nggak tersampaikan ; bahwa Tuhan selalu punya rencana baik untuk kita semua. Makasih kak, udah baca. Ayo sulut terus semangatnya ~~

      Delete
  2. Unehhhh, semangat terus yaaahhh :-* Uneh pasti bisaaaa \o/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaaak makasih Mak. Semangat ga semangat, sekarang aku udah usaha lebih kenceng lagi.

      Delete
  3. Wah, aku juga dulunya tipe orang yang menganggap bahwa lulus duluan itu penting sekali, un :P tapi hidup memaksa ke jalan lain, hahaha. Cuma sekarang, aku nggak menyesal sama sekali kerja di tempat yang sekarang :P ketemu keluarga baru :)

    Semangat ya, un. Selama masih ada kesempatan, jalan terus. Jangan belok-belok. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Intinya ga menyesal dengan apa yg sedang atau telah kita jalanin ya? Makasihhh, komennya membahagiakan, amiiin!

      Delete
    2. Hahaha, ya begitulah kira-kira, un :P jangan menyesal. Kalo menyesal, cuma bikin semuanya runyam :P kalo sesuatu itu kurang baik, ya perbaiki. #EdisiBijak2015

      Delete
  4. Setelah baca ini aku ngerasa kalo kita punya seidikit kemiripan nasib tapi di waktu yg berbeda hehehe. Wes pokoknya uni kudu strong! Semangniiii :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oya? Mirip di bagian mana? Share dong, berbagi pengalaman biar aku bisa belajar juga :)

      Delete
  5. Saya juga sempat cuti kuliah dan terjun di dunia kerja. Sekarang berhenti kerja dan beresin kuliah. Ada perbedaan besar setelah memilih untuk "berhenti sejenak".

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ih kita sama, ya :( Pilihan untuk berhenti dari hal yang sedang kita kerjakan itu, kadang menyulitkan. Tapi semoga segalanya dimudahkan Tuhan :)

      Delete
  6. ada keperluan masing2 kali ya mana yg harus didulukan.. kalo aku sih secara pribadi harus lulus dulu, dari keluarga juga pengen lulus kuliah dulu baru cari kerja yg bener..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener kak, tergantung keperluan dan prioritas. Sekaranf prioritas aku nikah, eh, maksudnya lulus :))) hahaha. Ayo semangat untuk menyelesaikan tanggung jawab :)

      Delete
    2. aamiin,, semoga segera dipertemukan dengan jodoh, Uni :)

      Delete
  7. Urusan pribadi diribetin banyak orang malah bikin down sih. Etapi, emang dunia ini kadang aneh. Temen yang dulu kayaknya bersinar banget, sekarang hilang. Dunia ini emang ajaib ya Uni.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, ini setuju banget. Dunia emang ajaib. Ada yang dulu tenggelam, sekarang sukses, ada yang hidup gayanya selangit sekarang gatau ke mana. Yang penting selalu bersyukur dalam kondisi apa pun, deh :)

      Delete
  8. Mending lulus dulu terus liburan dulu baru kerja, kerjanya liburan juga #eh :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, saya kebalik, liburan sambil kerja, lulus kelupaan :(

      Delete
  9. IMHO, kadang kalo yang biaya kuliahnya pake uang sendiri, kerja duluan itu penting, sih. Ya... nggak harus kerja, yang penting bisa menghasilkan gitu. :)

    Kayaknya gue juga udah terlalu keasyikan sama dunia maya. Jadi lupa kalo dunia nyata gue harus dipertanggungjawabkan juga. :')

    Yo, semangat, Un! :D

    ReplyDelete
  10. wah kayanya w k sindir tuh dza, yg kemampuannya standard, abis ketemu siapa mang dza.. hahaha

    ReplyDelete

Hi! Thank you for visiting my website. I hope you can enjoy read all about blog posts here and lemme know your opinion! Please leave on the comments bellow :)