Saya Tidak Pernah Merasa bahwa Rumah Saya adalah Surga


Ada yang bilang, rumah adalah surga. Tetapi, saya tidak pernah merasa bahwa rumah saya adalah surga. Setiap hujan jatuh ke bumi, airnya akan mengetuk atap dan membanjiri seluruh ruangan. Ketika kami tambal, ia akan masuk dengan paksa lewat bawah lantai. Kami harus berkali-kali membuang hujan sebanyak dua puluh ember setiap kali mereka tiba. Lain lagi ketika matahari muncul, bagian belakang rumah rasanya -mungkin- seperti neraka hawiyyah yang jika bertaubat pun, panas tetap terasa.
Yang saya tinggali ini, adalah dua rumah tipe 21 yang digabungkan dan disekat menjadi lima kotak ruangan tanpa barang-barang seperti yang ada di rumah orang lain. Saya menganggap kotak yang kanan dan kiri adalah kamar, kotak tengah ruang tamu, yang belakang kamar mandi dan dapur. Tetap
i, tanpa diberi label ruangan pun, kotak hampa itu sama saja, bisa jadi apa saja. kami makan, tidur, menerima tamu, di kotak manapun yang sedang kami inginkan.
Dulu saya selalu mengeluh iri, betapa orang lain bisa memunyai rumah megah dengan furnitur mewah, sementara saya tidak. Namun, Ibu bilang, kami harus bersyukur karena rumah kami memiliki sesuatu yang tidak pernah dimiliki rumah manapun di perumahan ini –sebuah kebahagiaan, dan keterbukaan. Akan selalu ada saja yang datang ke rumah dan bercerita apa pun, atau ramai berkumpul di teras rumah sambil bercengrama, atau musafir entah yang izin menumpang istirahat sejam dua jam. Rumah ini punya caranya tersendiri untuk mendatangkan tamu. Bukan kemewahan, bukan kemegahan, tapi karena kelapangan hati pemilik rumahnya ; ibu saya.
Setiap bulan Ramadan tiba, bagi saya tak ada yang menarik di rumah ini selain kesenduan yang terlihat. Ibu akan memasak pukul tiga sore, karena menjelang magrib –ketika langit berwarna layung, ia akan duduk di depan teras memandangi bunga-bunga bougenville di halaman depan sambil menggumamkan salawat kecil dengan nada yang terdengar pilu di telinga siapa pun. Ibu menyukai teras dan senja karena, itu adalah tempat dan waktu terbaik untuk mengingat kenangan. Semua masakan ibu juga dibuat dari kenangan. Ibu suka sekali memasak makanan yang tidak saya sukai –walau saya akan memakannya. Setiap sahur dan buka, ibu akan memberi intro sebelum menyantap hidangan, “Ini adalah masakan kesukaan papamu.” atau, “Ini kesukaan kakakmu.” dan kesukaan semuanya –cucu, menantu, paman, tante, tapi ya hanya saya saja yang memakannya, bukan mereka.
Ketika malam, kami duduk di ‘kotak kanan’ sekadar membaca, sambil-lalu mendengar doa-doa tarawih melalui speaker surau yang bersahutan, merasakan hebohnya segerombolan bocah yang dengan riang berlari menuju musala terdekat. Lantas saling susul dengan suara letup-letup petasan yang mana semua riuh terdengar begitu jauh di luar rumah.
Hanya di rumah kami yang sunyi dan seakan tidak peduli akan bahagia Ramadan di luar sana. Tanpa papa, tanpa kakak dan keluarganya, tanpa televisi atau radio, hanya kami –Ibu dan saya.
Ramadan tahun ini tidak dimulai dengan baik. Di malam pertama sahur, ibu baru menyadari gas telah habis dan semua warung tutup. Kami terpaksa tidak sahur dan menjelang buka, ibu baru teringat kalau beliau lupa menyalakan magic-kom sehingga nasi tidak tanak dan kami berbuka dengan segelas sirup saja. Maka, di hari berikutnya kami bersiap lebih dini, mencari gas, berdua di ‘kotak belakang’ untuk memasak lebih cepat dari waktunya, lalu saat tidur di ‘kotak kanan’, kami malah bangun telat dan lagi-lagi, tidak sahur.
Di malam keempat Ramadan, ketika kami berbuka puasa di ‘kotak tengah’, ibu saya tiba-tiba bertanya ; kelak, ketika saya menikah nanti, akan tinggal di mana beliau. Apakah harus di Sukabumi tempat anak perempuannya, atau di Jakarta tempat anak lelakinya, atau di suatu tempat bersama saya, atau di rumah ini, sendirian. Dengan menyantap ayam rica-rica masakan ibu, dan memusatkan tatapan saya pada nasi –enggan menatap matanya, saya katakan padanya untuk tetap tinggal di rumah ini.
“Jangan begitu, berdoalah supaya kamu dan suamimu nanti, punya rumah yang lebih besar, lebih luas, lebih lengkap perabotannya, dan kamu tidak selamanya harus tinggal di sini. Apalagi, takutnya suami kamu nanti nggak betah di sini,” katanya. Masalahnya, walaupun saya mengatakan bahwa rumah ini tidak seperti surga, tidak indah seperti rumah lainnya, dan mungkin yang paling tidak sempurna di lingkungan ini, saya selalu punya alasan tersendiri untuk tidak meninggalkan rumah.
Saya teringat Ramadan di tahun 2000 dulu, ketika papa membawa kami ke rumah ini, mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja dan masa depan saya akan bahagia dengan tinggal di sini. Saya dan papa berebut memilih ‘kotak kiri’ untuk dijadikan kamar tidur, sementara kakak dan ibu bahagia sekali melihat halaman rumah dan membayangkan akan diisi oleh jenis tanaman apa saja nantinya.
Rumah ini belum jadi ketika kami berkunjung, masih berupa bangunan yang semennya belum mengering dan beberapa batu pondasi masih terlihat. Kami buka puasa pertama di rumah ini dengan segelas air mineral, lontong, dan gorengan. Saat itu, langitnya berwarna layung, warna yang, ibu saya mengingatnya sebagai warna kenangan. Terlebih, sebelum kepindahan terjadi, papa telah mendapat rumah yang lebih baik di surga sana bersama Allah, dan dimakamkan ketika langit tepat berwarna yang sama seperti hari ketika kami berbuka puasa di rumah ini.
Dan itulah alasan saya tidak pernah mau menginap lama di rumah orang, atau di-kost, atau mungkin pindah. Di hari keenam Ramadan, ibu memutuskan menetap di Sukabumi dan mengajak saya ikut, tetapi saya tak mau meninggalkan rumah. Rumah yang hanya berkotak-kotak ini memang bukan surga, tapi tempat perlindungan terbaik yang saya punya. Tempat menyimpan kenangan paling utuh selama belasan tahun. Tempat yang tetap bisa membuat saya bahagia meski hanya kesunyian yang dapat ditemui.
Dan entah sampai berapa Ramadan lagi saya dan ibu bisa berbuka pun sahur bersama di rumah ini sebelum salah satu dari kami menetap di rumah Allah. Mungkin kami masih bisa menjalankan ibadah puasa bersama selama tiga kali Ramadan, atau lebih sedikit, bisa jadi lebih banyak.
Berapa kali itu urusan nanti, yang penting sekarang, kami menjalankan Ramadan bersama di rumah yang apa adanya tetapi begitu saya cintai keberadaannya.

8 comments:

  1. Rumah memang kadang 'nggak terlihat' ya Uneh. Padahal itu anugerah terindah ya, karena di sana keluarga kita ada, dan di mana kita memulai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah iya benar banget he he he. Thanks for stopping by, Mak.

      Delete
  2. MasyaaAllah :)
    tetap bersabar mbak :)
    Baiti Jannati insyaAllah didunia maupun di akhirat nanti. aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiiiin, terima kasih sudah baca, kak.

      Delete
  3. Semoga Allah segera memberi rezeki rumah idaman Ibu Uni ya :)

    ReplyDelete
  4. subhanallah :') Semoga tetap selalu bersama dengan Ibu.

    ReplyDelete
  5. terimakasih bos infonya dan salam sukses

    ReplyDelete
  6. makasih gan tentang infonya dan semoga bermanfaat

    ReplyDelete

Hi! Thank you for visiting my website. I hope you can enjoy read all about blog post here and lemme know your opinion! Please leave on the comments bellow :)