[29] Terima Kasih

((Senin, 12 December 2022))

Hai, Uni.

Saat ini usia saya sudah tiga puluh, dan saya tak pernah alpa membaca surat-surat yang kau tuliskan sepanjang tahun 2015. Sedikit bersedih, ketika kau memutuskan untuk berhenti menuliskan surat untuk saya. Kau mau tahu, kenapa saya tak`pernah membalasnya, kecuali hari ini, setelah sekian lama? Baik, akan saya jelaskan.

Minggu lalu saya pulang ke Indonesia karena dipindahtugaskan sementara. Kau tahu? Indonesia, negara tercinta kita ini, sebetulnya baru saja bersenang-senang beberapa bulan lalu karena urusan bola. Akhirnya Indonesia menjadi tuan rumah piala dunia FIFA 2022. Iya, di Indonesia, bukan di Qatar –tersebab cuacanya yang panas tak memungkinkan untuk para pemain. Tetapi, setelah euforia itu usai, saya mendengar desas-desus tentang banyaknya yang berubah dari negara kita ini. Indonesia di tahun ini dalam masa yang sangat rumit, Uni. Begitu banyak benturan kepentingan antar kelompok nasionalisme dan liberalisme. Saya beberapa kali mendapat sapaan yang bertanya, dari golongan mana saya, dan beberapa kali pula pemikiran serta prinsip saya didebat. Negara ini mulai menutup mata dan membiarkan adanya perang saudara, permainan pikiran tentang kuat lemahnya suatu ideologi, munculnya banyak tokoh baru yang dipuja, dan berkurangnya tanaman hijau, membuat saya tiba-tiba menjadi tidak nyaman di sini.

Biar begitu saya lega, untuk sementara bisa bekerja di tanah air dan memilki waktu yang cukup untuk keluarga saya. Saya ingin sekali berkeluh kesah padamu, betapa melelahkan menjadi seorang abdi negara, tapi lelah itu berkurang ketika saya bisa bertemu kolega, serta bermain dengan kemenakan tersayang saya. Ah, ada yang perlu saya ralat tentang salah satu suratmu. Saya belum memunyai anak, tapi memang semua kemenakan selalu saya anggap anak sendiri. Kau tentu ingat, ini hari ulang tahunnya, dan ia telah berubah keinginannya, bukan lagi mainan. Dia meminta sketch book lengkap dengan alat lukis dan pewarna. Lukisannya semakin bagus dan sentuhannya begitu rapi, lalu ia menggambar apa saja mulai dari gambar-gambar yang tak dipahami sebelum dia menjelaskan bahwa itu gambaran semesta dan makhluk di alam lain. Hari ini, kami pergi bermain di taman kota sampai pukul sepuluh malam dan sesampainya di rumah, kemenakan saya beranjak ke kamarnya sementara saya menyempatkan menonton televisi. Seorang pembawa berita mengabarkan bahwa Indonesia kini resmi memiliki jet tempur sendiri bernama IFX (Indonesian Fighter Experiment) menyaingi pesawat tempur F-16 yang diproduksi sebanyak lima puluh unit. Ah, mau ada apakah di negara ini, Uni?

Usai menonton berita tersebut saya gegas beranjak ke kamar dan begitu membuka pintu, kamar saya sudah rapi, bersih, dan tidak saya temukan paspor pun buku koran bank yang saya taruh di ranjang. Kamar memang belum sempat saya bereskan sejak kali pertama datang ke sini. Sepertinya sehabis bermain dengan kemenakan, ART membereskan kamar tanpa seizin saya. Padahal semua orang tahu, saya tidak suka ada barang-barang yang disentuh tanpa izin. Maka, dengan sedikit gontai dan kantung mata yang berat karena kelelahan, saya mencarinya ke sana kemari, lalu terpaksa harus membuka laci meja belajar saya yang bewarna abu-abu.

Laci itu sudah tak pernah saya buka sejak tahun 2013. Saya menyimpan banyak kenangan lama yang sudah tidak perlu diingat, tapi enggan dibuang, dan ketika membukanya saya refleks menutup hidung. Ibu yang baru keluar dari dapur melihat ulah saya dan mengira, saya menutup hidung karena debu yang berterbangan ketika laci itu terbuka. Tapi sejujurnya, saya menutup hidung karena takut ada bau yang menguar. Bau kenangan. Bau kerinduan. Bau masa lalu. Bau pafrum dia yang tiba-tiba saja, muncul keluar dari kertas-kertas yang ada di laci. Dan ada banyak kertas lain di dalamnya, lebih dari yang saya ingat.

Uni, malam ini, alih-alih mencari paspor, saya akhirnya menemukan surat-suratmu. Ada dua puluh sekian surat yang kau tujukan untuk saya. Uni, sejatinya surat itu tak pernah kau kirimkan ke Inggris. Surat-surat itu selalu kau taruh di laci setelah selesai menuliskannya, dan baru saya baca semuanya, malam itu juga. Dan, ah… saya seperti mengalami sebuah distorsi ; menyadari sebuah kenyataan bahwa Zi yang selalu kau ceritakan itu adalah saya di masa lalu. saya, sungguh lupa. Sungguh sudah tak ingat satu pun masa lalu saya. Saya bahkan lupa bahwa nama lengkap saya Zinnia Seruni Shahrazad. Semua rekan bisnis dan kantor menyebut saya Sasya, atau Ambu.

Uni, surat-suratmu membuat saya seperti dibawa lari ke masa lalu, melihat kembali bagian-bagian paling menyakitkan dalam hidup, dan membuat saya menyesal, mengapa dulu saya sebodoh itu menyia-nyiakan waktu. Ya, saya ingat di masa dulu ingin sekali ke Inggris, dan saya tak menyangka bahwa impian itu terwujud. Saya juga ingat dengan D, sahabat baik saya yang telah lama saya campakkan dan kami kehilangan kontak di masa ini. Mungkin, ia sudah menikah? Dan akan selalu ingat dengan Lelaki yang Selalu Menunggu Datangnya Fajar. Apa kabar dia, ya?

Jadi, terjawab sudah mengapa saya tak pernah membalas suratmu, ya karena ketika kau menuliskan itu, saya belum ada, belum ke Inggris, dan karena tak kau kirimkan surat itu. Memang, sejak kejadian menyakitkan itu, saya memutuskan menghilang dan mengganti lingkungan pergaulan, pertemanan, dan juga memutus kontak yang terkait dengan masa lalu.
Saya, Ambu, sudah membaca seluruh suratmu, dan sekaligus ingin menjawab bahwa Zi masih hidup, di dalam hati saya, di dalam pikiran teman-teman. Terima kasih telah mengingatkannya lewat surat-surat yang kau tuliskan.

Kau tahu? Surat-suratmu mengingatkan saya pada masa masa itu; pahit, getir, pedih, senang, dan bahagia, di mana perasaan itu sudah tak saya rasakan lagi sekarang ini.  Terima kasih (untuk kesekian kali saya mengucap terima kasih) telah menuliskan surat untuk saya, karena saya kembali menemukan saya yang dulu dan mulai sekarang, saya akan belajar mencintai diri sendiri, dengan kadar yang seharusnya. Serta tak lagi menyia-nyiakan waktu seperti saat saya muda dulu.

Saya sadar, begitu banyak tiap manusia yang belajar mencintai orang lain, berusaha dicintai, namun lupa untuk menghargai, pun mencintai dirinya sendiri. Saya paham, bahwa semua orang adalah berharga. Dan saya akan memberitahu pada semua orang, bahwa tiap-tiap dari mereka pantas untuk dicintai.

Tapi setelah ini, pertanyaan baru muncul dalam benak saya. Siapakah kau, Uni? Mengapa kau memunyai nama yang sama dengan nama tengah saya? Waktu saya bertanya, Ibu bilang tak ada satu pun teman yang masuk ke kamar bahkan membuka lacinya, selain saya.

Yang di dalam kepalanya berjejalan tanda tanya,
Ambu.

Comments

Popular posts from this blog

[BEAUTY CORNER - 02] Dewa Kelembapan, si Vaseline Petroleum Jelly

[Beauty Corner - 14] Nih, Lima Macam BB Cream yang Perlu Kamu Coba!

Lima Tempat yang Perlu Kamu Datangi Kalau ke Cibinong