[11] (Dan) Menyimpan Semuanya Sendiri


Ambu, Zi ternyata masih hidup!

Dan ia kembali jatuh cinta!

Saat itu aku sedang berselancar di media sosial dan menemukannya tengah menulis sajak-sajak cinta hasil pemikirannya sendiri. Di foto yang terpampang, kulihat bola matanya berbinar dan tulang pipinya tak lagi menonjol. Ia terlihat begitu sehat meskipun matanya masih saja menyiratkan kesenduan. Aku mulai menelusuri segala hal tentangnya, dan aku berspekulasi bahwa ia sedang jatuh cinta, pada waktu yang benar, dengan orang yang salah. Tentu kau tahu, Ambu. Anak itu sulit sekali jatuh cinta dan ia baru saja patah hati, lalu menghilangnya ia selama dua tahun kuanggap dalam proses pemulihan. O, rupanya lelaki inilah yang menjadi obatnya sehingga Zi sudah mulai berani memunculkan keberadannya meski baru di media sosial. Kau mau baca sajaknya? Semoga kau tak tertawa selepas membacanya.

“Ada orang lain yang saya sukai. Orang yang padanya, saya tidak berharap sebuah balasan atau pengakuan. Orang yang padanya, mampu menghilangkan air mata dan menyembuhkan luka saya. Orang itu dekat, ada di sekitar kita, tapi bukan yang kalian duga. Orang yang terhadapnya, tak ada keraguan untuk mencurahkan segala gundah. Orang yang tidak akan pernah saya miliki, baik jasad maupun hatinya. Barangkali nanti, kalau ada orang lain dan saya terikat sebuah hubungan dengannya, hati saya tidak akan pernah bisa untuk orang tersebut, sebab sudah saya jatuhkan pada seseorang.”

Dan tulisan itu mengundang rasa penasaranku, membuatku ingin sekali mencari tahu. Ambu, mungkin kau bisa tebak siapa lelaki itu, melalui surat milik Zi, yang kemarin kulampirkan untukmu? Aku menemukan banyak informasi dari teman-temannya. Rupanya mereka bertemu di suatu acara.

Saat itu Zi seperti orang linglung yang baru keluar dari liang lahat. Ia seorang ambivert, tapi tidak pernah takut berada di keramaian, kecuali hari itu. Ia takut sekali, dan sorot mata tiap-tiap orang membuatnya ciut, kikuk, menjadi tidak nyaman dengan dirinya sendiri. Ah, ini bukan Zi yang kukenal, tapi patah hati mampu membuatnya merasa jadi orang paling rendah dan kepercayaan dirinya turun (dengan pengandaian kira-kira) menjadi sepuluh persen. Lalu lelaki itu datang menghampirinya. Zi menjabat tangan lelaki itu dengan sangat lama. Lama. Lama. Lama sekali, karena ia sedang berusaha membaca pikiran lelaki tersebut melalui sentuhan tangan, seperti yang biasa ia lakukan pada orang lain. Sayang, kepada lelaki itu, ia tak mampu membaca dan jabat tangan itu dilepas ketika lelaki itu duduk di sampingnya. Lalu mereka mengabaikan kerumunan dan mulai berbincang tentang apa-apa yang sudah pernah mereka bahas lewat chatting.

Ceritanya belum berakhir, Ambu. Belum juga dimulai. Sepulang dari sana mereka tetap bekomunikasi. Zi saat itu sudah berubah. Ia mulai membatasi lingkaran pertemanan, dan mulai menyaring segala sesuatu yang ia dengar. Ia mulai memilih siapa saja yang perkataannya harus ia percaya, dan pada lelaki itu, dia percaya, tak peduli meski lelaki itu berbohong atau berkata-kata manis hanya untuk menghiburnya, ia tetap percaya. Kau tahu, Ambu? Maka kisahnya dimulai setelah hari itu, dan semua perkataan lelaki itu seperti sebuah titah yang tidak dapat dibantah. Zi hafal semua pesan dan ocehan lelaki itu. Ia dengan sadar telah menjatuhkan hatinya pada lelaki itu.

Ah, Ambu.

Tentunya jatuh cinta tidak semudah yang kita bayangkan. Jarak mereka berdepa-depa entah berapa hasta, serta Tuhan mereka tidak sama. Zi tidak dapat berharap banyak, tapi ia belajar satu hal dari masa lalunya, bahwa cinta pada manusia, tak harus memiliki.

Rasa cintanya kali ini berbeda dengan yang dulu, berbeda, dan Zi tidak dapat menerjemahkan perbedaan itu. Tapi seperti yang sudah sudah, ia belajar dari masa lalu. Jatuh cinta secukupnya saja, sewajarnya saja. Demi semesta yang belum hancur karena kiamat, Zi jatuh cinta dan patah hati di waktu yang bersamaan. Dia tidak lagi berlebihan mengumbar rasa suka di depan banyak orang, tidak juga bercerita tentang perasaannya pada teman-temannya, dan tak pernah meminta pada Tuhan agar disatukan. Dia tahu ada tembok pembatas yang memisahkan mereka, meski ia ingat betul bahwa kata Tuhan, jatuh cinta adalah fitrah dan dan dalam kitabnya tak ada larangan untuk mencintai yang berbeda keyakinan. O, Ambu, sungguh malang nasib manusia. Perkara berdoa pada Tuhan yang mana, sejatinya adalah sebuah prinsip masing-masing, tapi tidak bisa bersatu dengan orang yang dicintai karena perbedaan itu, siapakah yang harus disalahkan, Ambu?

D, teman dekat Zi, pernah menemuiku dan membocorkan sebuah rahasia ; tentang Zi yang sedang jatuh cinta. Biarkan aku membocorkan rahasia ini padamu, Ambu. Katanya, Zi dulu selalu punya seribu alasan untuk mencintai. Tapi sekarang, ia tidak bisa memberikan satu pun alasan mengapa ia jatuh cinta pada lelaki tersebut. Sayangnya, begitu kutanya kenapa, temannya bilang, Zi hanya membungkam seraya berkata; biar aku saja yang tahu alasannya.

Ah, dadaku jadi ikut berdebar membayangkan Zi yang berseri-seri karena sedang jatuh cinta. Tapi Ambu, kusudahi dulu surat ini. Pintu rumahku diketuk dan ada seorang tamu yang mencari Zi.

Merely,
Uni

1 comments:

  1. Wah, kak. Lupa cerita sebelumnya. Hehehe. Maap.

    Berarti, orang yang awalnya bisa terbuka, menjadi tertutup sekali ketika sudah mengalami yang namanya patah hati. Bahkan, bisa menghilang dan gak ada yang tau dia ada dimana.

    Kalo udah sekali patah hati, berarti harus menunggu ada yang memperbaiki supaya bisa kembali kayak dulu lagi. Cuma, sekarang Zi tetep tertutup. Yang beda, dia udah gak ngilang lagi.

    ReplyDelete

Hi! Thank you for visiting my website. I hope you can enjoy read all about blog posts here and lemme know your opinion! Please leave on the comments bellow :)