Maaf, Aku Berutang Janji

Kekasihku sakit.

Ini bermula di akhir tahun, ketika kami berencana menyaksikan tahun baru masehi bersama. Sekilas badannya terlihat bugar dan riangnya masih terdengar. Ia sesekali berlari ke dalam rumah kala petir menggelegar, kadang pula menutup telinga jika mendengar ingar-bingar petasan yang meledak di udara. Dan padaku, ia masih suka bersandar, membiarkan dahinya yang lebar kutepuk pelan, lalu samar kudengar dadanya berdebar karena ketakutan akan suara-suara petasan yang menggelegar.

Subuh ini ia terbangun lebih dulu. Dikecupnya dahiku dan ketika aku belum juga terbangun, ia menepuk tangan dua kali, seperti memanggil burung merpati. Sekilas ia tampak sehat dan tak pernah alpa salat. Pagi itu kupandangi bola matanya membulat saat sedang bermunajat. Aku selalu suka di detik-detik selepas wudu ketika ia membiarkan wajah dan bagian depan rambutnya sedikit basah, di sana, di wajah itu, seperti terpahat sebuah senyuman hangat. Lalu ia mengajakku untuk ikut mendekat pada Tuhan.

Sekilas, tak ada gelagat ia tak sehat, pun tak kupunya sebuah firasat, kecuali hari ini, ketika kami duduk di jok belakang mobil untuk pergi ke suatu tempat di mana kami telah memimpikannya sekian bulan, dan ia mengeluh betapa pendingin mobil membuatnya gigil, namun tak kugubris keluhannya. Ia beberapa kali bertanya tentang ozon bumi, lapisan tempat tinggal kita, efek rumah kaca, dan setelah dijelaskan panjang lebar, ia malah memegang kepalanya sambil berujar ‘kepalaku pusing’. Kupikir ia pusing karena terlalu banyak mendengar informasi, jadi kami melanjutkan bersenda gurau, mengomentari segala pemandangan yang hadir di sekitar, dan hari itu, sedikitpun kami tak tertidur dalam perjalanan, tak seperti biasanya.

Sekilas ia baik-baik saja, serupa rutinitas yang dijalankan pagi hingga senja selama kebersamaan kami, di mana tawa dan canda selalu membabat habis ruang hampa, dan kami mendendangkan lagu-lagu kesukaan yang liriknya hanya dihafal setengah. Baru-baru ini kami sibuk menghafal lagu Let It Go dalam film Frozen. Ia suka sekali film itu. Ia sempat menggambarkan ilustrasi Anna dan Elsa untukku. Meski lelaki, katanya, film itu mengajarkan betapa cinta yang tulus dapat mengutuhkan siapa saja, tak harus dengan pacar, tetapi keluarga, anak, dan sahabat. Katanya, aku harusnya jadi periang seperti Anna, sekaligus menjadi Elsa yang mandiri. Katanya lagi, aku harus berhenti mengamuk dan emosional, katanya aku harus memiliki cinta yang mesti kubagikan pada semua keluarga. Ia terlalu banyak menuntut, tapi kuberikan juga sebuah anggukan, sebab aku mencintainya teramat dalam, dan akan kulakukan apa pun yang ia minta.

Hari ini sudah tahun baru, dan di dalam mobil ia masih mengejek dan meledekku tanpa jeri akan kumahari. Hanya sekilas, lalu raja siang mulai memanasi segala yang terperi ketika kami sampai di tujuan. Pintu mobil kubuka dan kubiarkan ia tertinggal, berharap ia akan mengejar dan memeluk punggungku, laiknya yang sudah-sudah. Tetapi masih hampa yang kurasa di balik tubuhku, kulepas sepatu ankle boots dan ketika aku leluasa berbalik, tak ada yang memeluk, dan kudapati di sana, di dalam mobil, tubuhnya tengah limbung. Matanya menutup, dan tangannya terkulai di ambang pintu. Hanya sekilas. Dan aku tahu, da yang tidak beres dengan kekasihku.

Kepanikan mulai menjalar padaku, ada sesuatu serupa tanaman merambat dan tumbuh begitu cepat lantas melilit tubuhku. Aku merasa begitu kesulitan bernapas dan oh, Tuhan, seperti ada akar tanaman yang mencengkram kuat dan sulit sekali dibebat. Membuatku semakin susah untuk bertindak. Dan hanya berdiri mematung yang bisa kulakukan. Kami akhirnya berada di rumahku dan aku sempurna lumpuh. Kepanikan membunuhku lebih cepat, membuatku menduga-duga; telah terjadi sesuatu yang tak kuharapkan, telah ada sesuatu pada dirinya, sebuah penyakit yang nantinya, akan membuatku bersikap berbeda terhadapnya.

Sebab hanya tentang kehilangan yang meraung-raung dalam pikiranku, kini aku mulai membayangkan, kisah orang-orang terdahulu yang harus ditinggal pergi. Sungguh tak pernah kutahu, seberapa sedih saat Habibie ditinggal Ainun, atau ketika Thomas Raflesia ditinggal mati Olivia, istrinya. Atau, sesedih apa saat Elsa tahu Anna membeku, karena ulahnya? Aku juga lupa rasanya sebuah kedalaman duka saat mengucap 'turut berbelasungkawa' pada orang yang ditinggal mati keluarganya, kecuali hari ini, saat aku mulai meraba-raba tentang kehilangan, hari ini, suatu kejadian mendikteku tentang ketakutan. Ah kita memang tidak akan pernah tahu sakitnya kehilangan, sebelum merasakannya sendiri. Dan ketika kekasihku sakit, aku sungguh takut kehilangan.

"Kenapa menangis?" suaranya tiba-tiba mengejutkan lamunanku. Ia akhirnya sadar setelah dua jam kubiarkan beristirahat pasca sadar dari pingsan. Ada sebuah senyuman, yang terpahat seperti biasa, di gurat bibirnya. Kuseka air mataku dan ikut tersenyum, sebisaku. Ia sudah sadar, tetapi panikku belum juga menghilang.

“Aku tadi kenapa?” katanya lagi. Kali ini tangannya menyeka bulir bening yang mengalir di pipiku. Suaranya terdengar begitu pelan, tegas, sekaligus berusaha menyembunyikan kecemasannya. Akar-akar kepanikan yang tadi membuatku sesak, melonggar begitu saja dan langsung kuciumi dahinya beberapa kali.

Kekasihku, bersisian denganmu di sisi ranjang ini bisa membuatku gagal menyembunyikan gemetar.

Bibirku tak henti berkomat-kamit ayat per ayat dalam surah Al-Waqiah yang jika dalam keadaan sehat, dengan mudah mampu keksihku terjemahkan artinya tanpa harus melihat kitab. Perlahan gerak bibirnya mengikuti gerak bibirku, ia tentu tahu apa yang sedang kurapal. Syukurlah, doa-doa ini mampu menggebah seluruh rasa negatif yang mulai tumbuh di dalam kepalaku.

"Kenapa?" katanya dengan sedikit gemetar, tapi seperti berusaha menahan segala sakit yang sedang dideritanya. “Palaku pusing sekali, seperti ditusuk ribuan jarum, sekaligus dihantam palu berkali-kali,” katanya lagi. Kali ini aku betulan tersenyum, karena ia mampu menerjemahkan sakitnya dengan baik, dan aku jadi tahu seberapa sakit yang ia tanggung. Aku hanya memberi isyarat dengan menaruh telunjuknya di bibir, agar ia tak banyak berkata-kata, sementara deru napasku lebih bising dari suaranya. “Jangan banyak tanya dulu, ya.”

***

Kekasihku sakit. Dan tak ada yang bisa kulakukan selain menatap punggungnya yang naik turun seirama degub jantungnya. Kubiarkan ia tertidur dan masih saja kurapal doa-doa, berharap entah. Aku berjanji pada diriku, lain kali akan kubunuh rasa panik agar aku bisa sigap menolong kekasihku, tidak seperti tadi, malah hanya berdiam diri yang kulakukan di sepersekian menit.

Aku sayang kekasihku, melebihi apa pun, siapa pun. Andai bisa kulakukan, aku rela menukar sehatku dengan sakitnya. Aku mau menanggung deritanya dan membebaskan ia dari segala keluhan. Biar saja kepalaku yang dihantam palu godam berkali-kali dan ia memiliki sehatku, andai saja bisa, tolong tukar posisi kami, Tuhan.

Aku tahu sejak hari itu, semuanya sudah berbeda. Ia tak lagi punya waktu luang untuk bersenda-gurau. Aku rindu hari-hari bebasnya yang bisa kuajak bermain dan pulang kapan pun kami mau. Aku masih berutang janji padanya. Tentang kue ulang tahun dengan tujuh lilin berwarna merah dan satu lilin berwarna ungu. Tentang kartu-kartu permainan Animal Caesar versi terbaru yang selalu kujanjikan untuknya tapi urung kubeli, tentang film-film animasi yang kami rencanakan untuk ditonton di bioskop tapi belum juga kesampian.

Aku seringkali berjanji padanya. Pernah suatu hari kami berjalan ke pusat perbelanjaan dan aku menjanjikan banyak hal. Lalu, katanya, “Kenapa nggak dibelikan sekarang?” Ia tahu pasti kalau aku memiliki cukup uang untuk membelinya, tetapi aku sengaja mengulur, biar esok, lusa, dan seterusnya, masih bisa kuajak bertemu dan bermain.

Aku sadar sekarang, betapa salah tindakanku. Betapa aku seringkali berjanji dan tidak bisa menepatinya. Sekarang keksihku sakit, dan ia tak punya cukup waktu untuk kuajak bermain, sehingga aku semakin sulit untuk melunasi semua utang janjiku.

Kekasihku, dia yang kucintai melebihi apa pun, siapa pun, adalah anakku. Anak lelaki yang paling hebat, paling cerdas, paling membanggakan, sekarang dia sakit. Maafkan aku, maaf untuk semua hal yang tidak lagi mampu kutuliskan. Semoga lekas sehat, semoga kembali menjadi anak cerdas.

______

Ps. Kalau aku masih diberi kesempatan untuk diperbolehkan lagi membawamu bermain, aku akan menepati seluruh janjiku. Ah, ini pun masih tentang janji yang belum bisa aku buktikan.

Comments

  1. tante yang baik menurutku, apapun itu yang namanya janji harus ditepati ya mbak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, iya. Akan ditepati. Terima kasih sudah baca :)

      Delete
  2. Terperi atau teperi?

    Masih ada typo, uni, tapi dikit kok :D

    Sempet kecele tapi sadar juga itu anak2 karena frozen dan kue ulang tahunnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah bagian mana? *brb revisi* Makasih sudah baca :')

      Delete
  3. Fiksi ya Un? Ternyata anak :'(

    Soal anak jangan ditanya, bener banget, kalo bisa tukar posisi kita orang tua rela menanggung semua sakit yang dirasakan oleh anak. Buruan punya anak dong Un! #eh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, ini orangtua betulan yang komen, hahaha. Gimana rasanya om kalo anak sakit? *culik Abel*

      Delete
  4. baca "dahi lebar" kenapa gw jadi kepikiran ke seseorang jago design ya?
    abaikan un...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Om... Bukan si jung :'( tapi iya sih dia kan jenong, ya. Ih kita jadi gagal fokus >.<

      Delete

Post a Comment

Hi! Thank you for visiting my website. I hope you can enjoy read all about blog posts here and lemme know your opinion! Please leave on the comments bellow :)

Popular posts from this blog

[BEAUTY CORNER - 02] Dewa Kelembapan, si Vaseline Petroleum Jelly

[Beauty Corner - 14] Nih, Lima Macam BB Cream yang Perlu Kamu Coba!

Lima Tempat yang Perlu Kamu Datangi Kalau ke Cibinong