[02] Aku Punya Kabar Untukmu

Selamat pagi dari Bogor, Ambu.

Belum mau membalas suratku? Aku tahu surat pertamaku sampai ke rumahmu di Brighouse, UK. Kurir pos mengatakannya padaku bahwa surat itu terkirim. Perihal sampai di tanganmu, sudah atau belum dibaca, itu urusan belakangan. Kurir sempat bertanya mengapa aku tak berkabar denganmu lewat Skype atau surel, tapi kukatakan padanya, begini adalah cara yang romantis. Sayangnya aku tak sabar menunggu balasanmu, Ambu. Aku terpaksa lebih dulu mengirimkan surat keduaku, dan semoga matamu masih sehat untuk membacanya.
Begini, Ambu.
Kemarin telepon rumahku berdering dan seseorang di sebrang sana mengaku, mencari Zi. Ia mengatakan kalau ia adalah bos yang pernah bekerja dengan Zi beberapa tahun lalu. Dia bilang, mencari Zi dan ingin sekali menyuruhnya kembali bekerja karena, perempuan yang tangguh dan ulet seperti Zi kini sudah langka sekali. Kukatakan padanya, aku tidak bisa berjanji akan menyampaikan pesan tersebut, sebab, aku pun tak tahu dia ada di mana sekarang.
Kau tahu ada di mana dia? Bosnya bercerita, dulu sekali, awal tahun 2010 (kalau ia tidak salah mengingat), Zi memulai bekerja di sana. Sebuah perpustakaan berukuran sedang yang memiliki banyak sekali buku berbahasa Inggris, lengkap dengan wifi dan ruang berpetak-petak untuk mengadakan acara. Zi suka berada di sana sejak perpus dibuka, dan pulang saat perpus tutup. Aku pernah membaca buku harian Zi, tentang betapa bahagianya ia berada di sana. Pernah sesekali ia merasa tersudut karena semua pegawai di sana non muslim kecuali dia, tapi toleransi mengutuhkan mereka. Ia juga pernah menuliskan, bahwa semuanya berawal dari sana, pengalaman baru yang tidak akan pernah ia dapatkan di tempat lain. Ia belajar banyak hal, bagaimana menata buku dengan baik, menyampul dengan sepenuh hati, menyortir buku yang baru saja datang dari Amerika, dan bagaimana mengajarkan anak-anak setempat untuk membaca. Ia menyukai momen-momen saat anak-anak mulai mengantuk ketika ia membacakan buku dongeng. Separuh bahagianya tercipta di sana, di perpustakaan itu.
Belakangan kutahu, terakhir dia di perpustakaan itu, ketika kali pertama ia membawa pacarnya ke sana, dan ada sedikit pertikaian, entah, lalu ia pulang. Lusa ia kembali ke perpustakaan itu, meminta maaf untuk hal-hal yang tidak dapat dijelaskan, kemudian ia berpamitan. Seorang rekan bertanya ke mana pacarnya dan mengapa tak menjemput, tapi ia hanya terseyum seadanya dan berkata kalau mereka telah berpisah. Sejak itu dia pergi, batang hidungnya menghilang begitu saja.
Ambu, jika suatu hari kau bertemu dengannya, sampaikan pesan bahwa orang-orang di perpustakaan itu merindukannya, dan suruh ia lekas kembali, jangan menghilang tanpa kabar, dan membuat jarak seakan ia sudah tidak lagi di muka bumi. Ah, sungguh sikapnya itu membuatku kesal. Kalau saja ia paham bahwa tindakannya sama seperti lepas dari tanggung jawab, pasti ia akan meminta maaf. Dia tahu itu. Dia benci lalai. Semoga Ambu belajar dari kesalahan Zi, agar tak lalai dari tanggung jawab. Semoga saja hidupmu yang sekarang jauh lebih baik dari Zi, ya.
Kusudahi dulu suratku, sebentar lagi aku akan turun di Jembatan Merah -tidak jauh dari stasiun, untuk membeli buah. Rencananya aku akan datang ke perpustakaan itu, hari ini. Dan sungguh canggung jika datang dengan tangan kosong, jadi kuputuskan untuk membeli buah. Kau tahu, pedagang buah di sini selalu jujur dan ramah, aku senang berbelanja pada mereka.
Sincerely,
Uni

4 comments:

  1. jadi malu liat tulisan yang bagus kaya gini
    di bandingkan tulisan saya yang masih ancur hehehe

    ReplyDelete
  2. Hmmm, pengen bisa buat tulisan kayak tulisan uni,hiks...
    @rin_mizsipoel

    ReplyDelete
  3. Un.. Testing, tes tes, Un. Cakep, Un, tes tes. I'm not robot. But, kamu tetap kece, eh tulisanmu.

    http://www.cewealpukat.me/

    ReplyDelete

Hi! Thank you for visiting my website. I hope you can enjoy read all about blog post here and lemme know your opinion! Please leave on the comments bellow :)