[01] Untuk Perempuan Pemilik Saadah


Halo, Ambu.

Lama sekali tak berkabar. Sedang apa kau sekarang? Aku dapat alamatmu dari catatan lama yang kau berikan dulu. Alamat itu kutemukan saat tengah membereskan laci meja belajar yang tak pernah kusentuh beberapa tahun terakhir. Rencananya, meja itu akan kubuang karena aku tak sanggup melihat melihat kenangan yang bertumpuk di dalam lacinya, tetapi kuurungkan niatku.
Sejak kutemukan alamatmu, kupikir, inilah saat yang tepat untuk berkirim surat. Maaf, jika surat pembuka ini terlalu panjang dan membosankan, sebab aku sudah lupa caranya berbasa-basi lewat serangkaian kata. Aku menuliskannya di tengah keramaian dan ini sulit sekali membuatku fokus. Meski kau tidak tanya atau tak mau tahu, aku mau mengabari kalau aku berada di salah satu jembatan jalan di wilayah Bogor. Kau pasti tahu di mana aku sedang berdiri, kau pernah sesekali menghabiskan waktu di sini, bukan? Tempat ini tak banyak berubah, hanya saja cat hijaunya kian usang dan pemkot kota tak berniat merenovasi ulang. Ah, semoga suratku ini tidak mengganggu jam makan atau aktivitasmu yang lain.
Begini, meski aku tak tahu apa kau masih mengingatku atau tidak, aku ingin sekali kita bernostalgia, mempertahankan sebuah kenangan agar ia tetap hidup dalam hati dan pikiran kita. Maka, melalui surat pertama ini, akan kuceritakan kau sebuah kisah masa lalu, tentang seorang perempuan yang sudah sangat kau kenali tapi mungkin telah dilupakan banyak orang, termasuk dirimu.
Perempuan itu kabarnya sudah mati, Ambu. Ia sempat jatuh bangun berjuang hidup di masa kanak-kanak, dituntut dewasa di usia yang masih belia, pernah juga mengalami masa kejayaannya, dan lain waktu ambruk begitu saja. Baiklah, surat ini akan jadi pemanasan otak yang ringan, barangkali kau lupa sama sekali tentang perempuan ini. Mari kita sebut saja dia, Zi.
Terakhir kulihat ia sedang berdiri di sebrang Mall Pangrango Bogor dan membiarkan tubuhnya kuyup terkena tampias hujan. Ahh, itu sudah lama sekali, seingatku di tahun 2013. Aku mengingatnya ; dia berdiri di sana selama dua jam, memandang gedung mall usang yang tak lagi berpenghuni. Entah apa yang dilihatnya, tapi pada sorot matanya bisa kutemui sebuah penyelasan. Ada air mata yang ikut luruh bersama tetes-tetes hujan di wajahnya. Aku paham, dia bukan memandang gedung tua itu, bukan juga melihat suatu objek. Dia, sedang menyesali sesuatu, dan kebetulan saja wajahnya menghadap gedung tersebut. Aku mulai menerka, ia seperti menyesal, marah, benci, sekaligus merasa kehilangan. Dia mungkin sedang menjerat lehernya dengan banyak pengandaian agar segala sesuatu yang sudah terjadi dapat diulang kembali.
Kelihatannya, perempuan itu sedang patah hati.
Beberapa kali klakson angkutan berbunyi di hadapannya, dan ada pengendara motor yang meneriaki untuk segera berteduh, tetapi Zi memilih bergeming. Ia sedang larut dalam rindu-rindu yang harus ia gugurkan sendiri. Ah, Ambu. Yang kulakukan saat itu pun ikut terdiam, tak bisa ikut campur, tak juga mengajaknya berteduh. Aku ingat saat itu sudah hampir sepuluh malam, dan dua orang polisi patroli mulai menghampiri Zi, lantas bertanya apa semua baik-baik saja, namun jawabnya; Bisa tembak saya? Ingin sekali mati.
Maaf Ambu, bukan mauku menakutimu. Tentu saja perempuan itu tidak ditembak mati. Polisi satu menyebrang jalan, membeli segelas, entah. Aku tak dapat menajamkan pandanganku karena hujan terlalu deras. Sedang polisi satunya hanya berdiri mematung menemani Zi, untuk beberapa menit. Begitu tahu perempuan malang itu sedang patah hati, dua polisi patroli memilih pergi meninggalkan Zi.
Ambu, itu adalah gambaran terakhir yang kulihat tentang perempuan itu, sebab setelahnya, keberadaan dia seakan bias, antara masih ada atau telah tiada. Tapi aku masih mengingat seluruh kejadian yang berkaitan tentangnya, dan kisahnya akan memudahkan kau untuk berpikir segala benang merah tentang kau, perempuan itu, dan juga aku. Jadi, bersiaplah, akan selalu kuceritakan padamu tentang Zi di setiap surat yang akan kukirimkan secara periodik.
Ambu, apa yang sedang kau lakukan sekarang? Maukah kau kabari aku? Anggap saja aku sedang merajuk dan berharap kau mau memaafkan kesalahanku. Kita bisa sesekali ngobrol di kafe kopi kesukaanmu di Bantarjati dan kalau kau tak keberatan, aku yang akan bayar semuanya. Cepat kabari aku, sedang apa kau di tempatmu.

Yours truly,
Uni

10 comments:

  1. mbak, ini cerita beneran ttg mbak uni kan?

    ReplyDelete
  2. Ceritanya bagus sekali.I Like.Ini cerita nyata ya?

    ReplyDelete
  3. jangan sedih, Uni. Tunggulah sejenak hingga lega hati. nulis Kopisusu saja yuk...

    ReplyDelete
  4. Tagnya sih fiksi. Based on true story?

    ReplyDelete

Hi! Thank you for visiting my website. I hope you can enjoy read all about blog post here and lemme know your opinion! Please leave on the comments bellow :)