Zina Mata

Padamu ; aku memuja.

Perihal apa-apa yang kau perbuat, aku anggap seperti nubuat. Segala bentuk ajaranmu tentang maksiat, aku tafsirkan sebagai munajat. Kau janjikan berkat dan aku merasa jadi manusia paling bermartabat. Inilah kita, yang memutuskan untuk bersahabat dan berhenti berdebat, tentang siapa yang sesat. Padamu, aku memuja ; tak peduli bahwa kau adalah laknat.

"Tapi jangan salahkan aku jika kamu masuk neraka," katamu begitu aku selesai bermain dengan pikiranku sendiri. Pandanganku menyapu seluruh tubuhmu, dan di tiap desahan napas aku berdoa agar bisa menjadi sepertimu ; yang cantik, mulus, semampai, tak ada cela sedikitpun.

"Aku tak akan masuk neraka," kataku yakin. Kau tersenyum, bergerak ke sana kemari dan sesekali tertawa disertai senandung kecil dengan suara menggoda. Kau mulai memanggil teman-temanmu, bergerak serempak dengan lincah di depanku, dan aku sempurna terbuai. Aku sudah lama mengenalmu dan begitu memujamu teramat dalam.

"Lihat, kau sibuk bersamaku dan melupakan salat dzuhur sampai isya,"

"Nanti aku salat setelah kamu pergi,"

"Lihat, kenapa kau berdandan sepertiku? Padahal kau tahu paha dan bahu wanita adalah aurat,"

"Teman-temanku memujamu. Aku juga mau mereka memujaku,"

"Kamu terkutuk. Padahal kamu tahu melihatku terlalu lama adalah zina mata,"

"Mataku diciptakan untuk melihat semua ciptaan Tuhan, temasuk kamu," kataku sambil menatapmu penuh keyakinan. Begitu, kan? Sebab aku tidak buta maka aku bebas melihat apa saja. Urusan berdosa atau tidak, aku bisa betaubat setelahnya. Padamu, aku melihat apa yang selama ini kucari. Meski kau bukan datang dari kalangan bidadari, bukan juga seorang permaisuri, dan tentu bukan dari golongan mucikari, kau serupa peri yang datang untuk membuat hidupku lebih berarti. Tapi perlahan raut mukamu sendu, dan tetes-tetes airmata mulai bertemu, membuatku kelu. Aku hendak menghiburmu tapi pintu kamarku terbuka, dan ibu memekik nyaring melihatku.

"Boy, ngapain kamu dandan ala-ala cewek Korea gitu? Kamu mau ganti kelamin?!"

Ah, laknat. Kuambil sarung dan menutup tubuhku sekenanya, lalu kututup laptopku terburu-buru,. dan terpaksa menunda tontonan video klip Hush-Hush milik Miss-A .

___________________

Ps :
1/ Total 316 words tanpa judul dan catatan kaki

2/ Cerita dituliskan untuk Prompt #69 Mff

4 comments:

  1. Hahahaha...

    JAdi inget komennya Daeng, di awal ngajakin ngomong serius, eh ternyata bercanda.

    Menurutku itu tetap salah satu teknik twist sih. Tinggal yg baca suka apa endak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya bikin twist ending mati, aku mau coba keluar zona nyaman. Dan gagal kayaknya :) thanks mak sudah baca.

      Delete

Hi! Thank you for visiting my website. I hope you can enjoy read all about blog post here and lemme know your opinion! Please leave on the comments bellow :)