B E N C A N A

"Papa, bacakan dongeng yang seram dong," pintaku pada papa. Bola mata papa yang hitam mengerjap beberapa kali. Aku bisa merasakan papa menghela napas sejenak setelah matanya menatapku, anak semata wayangnya. Sudah pukul sembilan malam dan mungkin, papa kebingungan mengapa mataku masih segar.

"Yasmin kalau sama mama, setiap malam selalu dibacakan dongeng seram?" Dibelainya rambut hitamku dan papa menggeser tubuhnya ke tengah ranjang agar lebih dekat.

"Nggak pa, dibacain dongeng peri biar bisa bobok sendiri. Soalnya mama nggak pernah tidur sama Yasmin, mama tidurnya sama papa Toni."

Ups. Aku menelan ludahku sendiri setelah mengucap nama Toni. Sial. Aku pasti bikin papa sedih. Perceraian papa dan mama sudah hampir tiga tahun, tapi aku tahu, papa Toni sering berkunjung kemari. Sering bermalam, kadang tidur bersama papa. Sering berbicara dengan nada manja, dan hanya papa Toni yang pulang lagi ke rumah mama. Duh, apa pula arti perceraian? Aku tak mau tahu, bagiku perceraian itu menyebalkan karena aku terpaksa berpindah-pindah rumah sesuai jadwal. Hari ini, minggu ketiga di bulan pertengahan tahun, aku kali pertama menyebut nama ayah tiriku, kali pertama pula aku meminta dibacakan dongeng seram.

"Terus, kenapa malam ini mau dongeng seram?"

"Yasmin capek sama cerita peri, pa, bosan. Nanti, kalau Yasmin nggak bisa tidur, papa mau kan tidur sama Yasmin? Papa Toni aja, boleh tidur sama papa."

Aduh, kesebut lagi. Kututup mulutku, tapi mataku memohon manja. Papa tersenyum, tangan kanannya merangkul pundakku.

"Papa tak punya dongeng. Kamu tidur sekarang, besok saja minta dongeng dari guru sejarahmu itu, ya."

Aku mengendus kesal. Jawaban yang sama setiap malam bersama papa. Biar. Guru. Sejarah. Saja. Tapi karena tak mau mengecewakan papa, kupaksakan juga mataku untuk tertutup.

•••

Setiap kali tinggal di rumah papa, aku selalu mendapat jatah menonton film UP, Wall-E, District9, Narnia, kadang film Doraemon. Atau jika aku bosan menonton, aku pergi ke ruang baca papa dan membaca buku tentang alien, keanehan crop circle dan mahkluk lain selain yang ada di bumi. Seudahnya aku akan menceritakan kembali ke teman-teman di sekolah. Dari ceritaku, mereka mulai berimajinasi tentang kehidupan mereka di masa yang akan mendatang. Membayangkan mobil terbang, hujan uang, kamar yang bisa dibersihkan dengan sekali kedipan mata, teleportasi, hidup bergantung dengan kantong ajaib, atau melindungi diri dengan tongkat sihir macam punya Harry Potter, dan lain-lain.

Teman-teman percaya itu. Tapi aku tidak. Aku jenuh dengan semua itu. Dan cara untuk mengatasi kejenuhanku adalah semangat dalam pelajaran sejarah. Ya, alih-alih berkhayal fantasi dan membahas masa depan, aku lebih suka membahas masa lalu, segala hal tentang sejarah, dan tragedi yang terjadi di masa neneknya nenek dari nenek dan nenek moyangku. (Hampir) semua teman sekelas mengejek, mengatakan pemikiranku kuno. Hanya bu Baiduri yang semangat mentransfer ilmu sejarahnya padaku di dalam kelas, sementara yang lain memilih tidur ketika beliau mengajar.

"Buka halaman 192, Yasmin!" Bu Dina, guru Matematika yang sedang ada di depan kelas, menegurku. Aku tergagap membalikan halaman yang tebalnya nyaris 300 halaman.

"Kamu jangan bengong di kelas saya!"

"Yasmin lagi terjebak masa lalu, makanya bengong, bu!"

Yang barusan angkat suara adalah seorang teman lelaki yang duduk di pojok kanan kelas. Spontan sesisi kelas tertawa. Bu Dina segera menyuruh kami diam dan beliau mulai melanjutkan mengajar. Aku kembali melamun, otakku masih megingat pelajaran bu Baiduri dua jam lalu. Tentang sejarah salah satu bencana alam terbesar di dunia. Beliau menulis di papan tulis sebuh judul dengan huruf cetak kapital : BENCANA TERDAHSYAT MARTINIQUE, 1902. Kisah yang menyeramkan, sekaligus mengagumkan. Aku kembali mengingat ceritanya, yang serupa dengan cerita dalam buku milik Bu Baiduri yang kulihat sekilas. Bencana Martinique sama dengan bencana yang pernah terjadi di Sodom, dekat Yordania. Ya! Cerita tersebut ada saat 1800 sebelum masehi.

"Yasmin! Kalau tidak mau ikut kelas saya lebih baik keluar saja,"

DHEG! Ibu Dina kembali menegurku. Seisi kelas melihat dengan tatapan seolah akan melumatku. Aku berdiri, memutuskan keluar kelas karena pelajaran Matematika memang menyebalkan.

"Yasmin?"

Tepat saat kakiku selangkah meninggalkan ruang kelas, Ibu Baiduri ada di hadapanku. Aku tersenyum riang, menyalami punggung tangannya.

"Bu, Yasmin mau dengar sebuah cerita, bu. Yasmin nggak mau belajar matematika,"

"Dihukum lagi, ya? Yasudah sini ikut ibu. Ada cerita seru untukmu,"

Aku mengangguk. Bu Baiduri guru yang menyenangkan, tidak pernah memarahi anak yang melanggar aturan, tidak pernah berjarak dengan muridnya, dan selalu punya cara untuk membuat muridnya menjadi lebih baik. Kami menyusuri lorong panjang yang berakhir di aula kantin. Setelah memilih bangku duduk, bu Baiduri megeluarkan sebuah buku cerita penuh paragraf berjejer rapat di setiap halaman.

"Ingat tentang pelajaran tadi? Tapi, yang ibu mau ceritakan sekarang, tentang kisah sebelum 1800 sebelum masehi."

Aku mengangguk. Bu Baduri mulai membuka halaman demi halaman, menunjukkan gambar kepadaku. Lalu, beliau mulai bererita...

"Saat itu, ada Kaum Luth yang tinggal di wilayah Sodom - Gomora, terletak di sepanjang Israel/Palestina dan Yordania, dekat dengan Laut Mati. Dahulu, Kaum Luth itu sudah melakukan perbuatan aneh, yaitu melakukan hubungan seksual sesama jenis. Laki ke laki. Perempuan ke perempuan. Padahal, kaum sebelumnya tidak pernah melakukan itu. Di sana pun menganut sistem yang lemah kalah sama yang kuat, yang kuat akan merampas harta benda, dan jika ada tamu dari kota lain, mereka (kaum luth) akan melihat. Kalau tampan akan disodomi, kalau cantik akan di perlakukan sama oleh kaum perempuan. Kalau kaya maka harta diambil. Kalau menolak bakal dibunuh. Sehingga, Kaum Luth sudah rusak moralnya."

"Kemudian diutuslah (Nabi) Luth ke kaum itu untuk memberi peringatan bahwa perbuatan mereka sudah parah, dan bertugas memberi tahu supaya kembali seperti manusia yang bermoral. Akan tetapi, Kaum Luth itu malah marah. Bahkan mereka sampai mengatakan kalau mereka bakal mengusir Luth kalau masih memberi nasehat, mereka bilang, Luth itu hanya sok suci."

"Usirlah mereka (Luth dan para pengikutnya) dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri." *1*

"Terus, karena tidak bisa diingatkan, Luth merasa kesal. Kemudian beliau berpikir, satu satunya jalan yaitu memusnahkan orang-orang yang tidak bermoral ini. Luth pun berkata pada Tuhan,

"Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu." *2*

"Ya Tuhanku, selamatkanlah aku beserta keluargaku
dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan." *3*

"Lalu, atas permintaan tersebut, akhirnya disetujui Tuhan untuk dibinasakan. Diutuslah tiga orang malaikat yang menyamar menjadi lelaki tampan. Begitu malaikat datang ke Kaum Luth, mereka bertemu anak Luth di suatu tempat. Di sana para malaikat itu meminta izin untuk bermalam di rumah Luth."

"Sulit bagi Luth untuk menerima pemuda tampan karena bisa saja tamu itu akan disodomi oleh Kaum Luth. Dengan berat hati, Luth katakan kepada keluarganya untuk merahasiakan adanya tamu tampan ini di rumah mereka. Tetapi, istrinya malah membocorkan ke tetangga tentang adanya tamu tersebut. Jadilah para lelaki berdesak-desakan datang. Luth sudah mencoba untk menahan Kaum Luth agar tidak mengganggu tamunya, tetapi, tiga tamu yang sebenarnya malaikat itu, mengatakan pada Luth untuk membiarkan Kaum Luth masuk ke rumah."

"Nyatanya, ketika masuk ke rumah Luth, Kaum Luth dibutakan matanya. Sehingga mereka keluar rumah dan kalang-kabut berlarian tak tentu arah. Tiga pemuda tampan itu lantas bilang kepada Luth, agar segera berkemas dan mengabarkan pada keluarganya untuk pergi dari kota ini. Semua akan selamat, asalkan ketika berjalan tidak menengok ke belakang."

Cerita yang begitu menarik. Kupejamkan mataku, membayangkan jika aku di sana. Baru sebentar kututup mataku, sesuatu menghantam kepalaku.

"Aw! Sakit!"

Aku meringis. Kulit dahiku yang sebelah kanan sobek, darah segar keluar. Aku memungut benda yang yang sudah lancang menyobek kulitku. Tiba-tiba saja ada batu kerikil tajam, panas, berukuran sebesar tangan orang dewasa. Aku segera menutup mulutku, khawatir orang-orang kantin memarahi. Eh, tunggu.

Ini bukan di kantin sekolah.

Tiba-tiba saja aku ada di sini.

Aku berada di luar gedung sekolah. Entah di mana ini. Kususuri tiap-tiap rumah dan sampai di sebuah sungai. Kulihat tiga orang lelaki tampan ada di tepian sungai.

"Permisi," sapaku dalam bahasa inggris. Mereka menoleh, tapi tak menyahut. Kuberanikan diri melangkah mendekatinya. Tapi mereka mengabaikanku. Mereka berjalan cepat menuju suatu tempat. Kuikuti sambil berlari kecil, lalu semuanya menjadi gelap.

Tiba-tiba kembali terang, seperti sudah keesokan hari. Tiba-tiba lagi aku ada di beranda sebuah rumah, di tengah kerumuman orang yang tak kumengerti bahasanya.

Kusisir pandanganku sejauh mungkin, berusaha untuk mengenali tempat ini. Ada gunung dengan kerucut runcing di sebelah utara, dan pemukiman di sini sungguh aneh, tanpa atap segitiga dan tak ada jendela kusen pada umumnya. Keruman lelaki sibuk berdesakkan ingin memasuki sebuah rumah. Aku berjalan mengikuti seseorang yang mulai masuk ke dalam rumah. Lalu terdengar teriakkan.

Ada seorang Ibu keluar dari ruang tamu, mendatangi lelaki itu. Anehnya, ibu itu tidak melihatku. Kudengar teriakkan menyakitkan saat menyaksikan pemuda tampan yang kutemui di sungai, sedang mengusap mata setiap lelaki yang masuk ke dalam rumah. Langit saat ini tidak mendung, hanya angin kencang membuat sebagian pasir naik ke udara. Iya, pasir. Bukan tanah.

Ibu itu keluar rumah, kini sejajar dengan kerumuman di beranda. Seorang lelaki yang ada di depan pintu rumah menatap langit, tangannya merentang sedikit, mencoba membaca maunya angin.

Aku tak paham ucapan orang-orang ini, tapi mereka segera bergegas masuk ke dalam rumah.

Semua terjadi begitu cepat. Tiba-tiba saja sudah keesikan harinya. Dan tiba-tiba juga, terdengar suara ledakan yang memekakkan telinga. Disusul oleh guncangan besar, membuat tubuhku tak imbang berdiri. Aku gegas tiarap. Dengan jelas bisa kudengar suara muntahan mendidih dan disambut dengan teriakkan panik. Batu-batu datang dari entah mulai berjatuhan, menimpa siapa saja yang ada di sini, dan orang-orang berlarian kacau karena matanya buta. Aku hanya bisa menutup telinga, memejamkan mata, berdoa semoga aku selamat. Lalu semuanya gelap.

Ini aneh. Beberapa menit yang lalu begitu ramai suara-suara kesakitan. Kini, aku seperti berada di neraka tak berpenghuni. Aku merinding dan menggigil di saat yang bersamaan. Semuanya luluh lantak. Sejauh manapun mata memandang, semua bangunan runtuh, puingnya menyatu dengan tempatku berpijak. Seluruhnya diselimuti oleh debu hitam. Awan menggelap. Hujan abu. Tapi aku baik-baik saja. Aku menutup hidungku, bau belerang dan bau mayat begitu santer. Mayat-mayat bergelimpangan. Terbujur kaku, seperti patung dengan pose sesuai dengan aktivitas terakhirnya. Dan kulihat ibu itu berdiri mematung, ikut mati dalam bencana ini. Tapi tak kutemukan tiga pemuda tampan dan seorang bapak yang ada di depan pintu saat itu. Dan dalam keadaan tak siap, aku mengalami guncangan kedua. Badanku goyah, mataku terbuka lebar.

Aku tersentak kaget. Segera kuraba dahi kananku, tidak berdarah. Tidak gosong, tidak sedang tenggelam di lumpur panas. Hanya keringat yang bercucuran.

Ternyata, aku barusan bermimpi panjang.

"Yeh, kamu. Ibu bacain cerita kok malah tidur. Ini ibu lanjutin dulu ya, Yasmin. Habis ini kamu kembali ke kelas. Tidur di rumah aja, ya,"

"Nah, Keesokan hari saat fajar, semua keluarga Luth langsung berangkat, namun istrinya Luth jalan paling belakang, jalan pelan pelan, mengendap-endap, terus-menerus menengok ke belakang. Sebab sang istri mau tahu apa yang terjadi pada teman-temannya. Tak lama kemudian, terasa seperti gempa hebat, batu batu Sijjil yang panas mulai berjatuhan, sementara mata mereka buta. Tak ada yang bisa menghindar. Dan istri Luth tidak dapat terselamatkan karena tidak taat dengan perintah suaminya."

"Sudah, tamat. Semoga jadi pelajaran ya buat kamu. Ibu harus masuk kelas untuk mengajar,"

Di aula kantin ini, Bu Baiduri meninggalkan aku yang masih terbengong-bengong karena mimpiku yang terasa nyata. Aku harus segera pulang. Papa harus tahu cerita ini.

___________________________

P.s :

1. (QS. Al A’raaf, 7: 80-82)
2. (QS. Al ‘Ankabuut, 29: 30)
3. ( QS. Asy-Syu’araa’, 26:169)

Kisah Kaum Luth ini juga diceritakan dalam al quran yang ada di surat : Al-Arof, Al-Anbiyaa 74 & 75 , Asy-Syu'ara 160-175 , Hud 77 - 83 , Al-Qamar 33 - 39, At-Tahrim. Dan diadaptasi bebas oleh Uni Dzalika.

0 comments:

Post a Comment

Hi! Thank you for visiting my website. I hope you can enjoy read all about blog posts here and lemme know your opinion! Please leave on the comments bellow :)