Pulang

PLOK!

Aku terbangun dengan jantung yang tersentak kaget. Aku terbangun karena banyak hal. Terbangun karena bus yang berhenti mendadak hingga membuat posisi dudukku bergeser sedikit ke depan. Dan parahnya, aku terbangun karena sebuah tangan nakal menempel tepat di dada sebelah kanan, plok! Sialan. Baru pukul sembilan malam orang yang duduk di sebelahku sudah berani macam-macam. Kuubah posisi duduk agak kedepan untuk membuat tangannya menjauhiku. Sialnya, tangan itu tidak berpindah tempat. Dan udara semakin sesak ditambah banyaknya penumpang yang membuatku muak. Tangannya lihai bergerak perlahan tanpa disadari penumpang lain. Tapi tentu saja aku merasakannya. Seperti ada puluhan laba-laba yang menggerayangi kemudian tangannya mulai mencekram kuat. Aku kesakitan.

"Turun di mana mas?"

Tanyaku lembut kepadanya. Pandanganku cepat berganti dari menatap wajahnya kemudian pakaiannya. Setelan kemeja abu-abu dengan tuxedo biru dongker dan celana bahan berwarna cokelat tua. Selera outfit yang sangat payah. Dia sedikit terkejut dengan teguranku tapi tangan sialan itu tetap saja tak lepas dari tempat semula, bahkan semakin kencang setelah mendengar suaraku yang serak basah.

"30 kilometer lagi saya turun. Mbak turun di mana?"

Katanya cepat disertai desahan pelan. Kakinya seperti gemetar dan aku bisa pastikan celananya basah.

"Saya juga turun 30 kilometer lagi. Mas tolong tang..."

Aku belum selesai bicara, knek bus datang menghampiri, meminta bayaran. Aku bersiap mengeluarkan uang tapi orang di sebelahku menahannya.

"Biar mas saja."

Dengan perlahan dia menjauhkan tangan kanannya dariku dan merogoh kantong celananya, membayar dengan uang pas. Knek pergi dan lelaki tersebut sigap melingkarkan tangan kirinya di bahuku, perlahan turun dan tangannya masuk melalui ketiak, kembali menyentuh dada bagian kiri, dengan cekraman kuat. Mungkin dia pikir aku yang berseragam sekolah adalah anak bodoh yang tak mampu berteriak meminta bantuan. Anak bodoh yang penurut diperlakukan apa saja. Oke, kita ikuti saja permainannya.

"Yuk turun, sudah sampai,"

Aku mengangguk. Dia mengelap keringat dengan telapan tangannya kemudian memasukkan tangannya ke saku celana. Dia berjalan seolah tak pernah terjadi apapun dan aku terus mengikutinya dari belakang.

"Kamu pulang ke arah mana, kok ngikutin mas?"

Aku diam. Bungkam. Penuh dendam. Tapi tetap tersenyum menggoda.

"Mau mampir dulu kerumah mas?"

Dia bertanya lagi. Aku berpikir cepat.

"Di rumah mas ada tanaman bunga terompet? Saya suka memandang bunga di malam hari,"

"Rumah mas luas, ada tamannya dan penuh bunga. Lagian mas sendirian kok, ayok mampir aja dulu."

Dia menarik lenganku.

•••

"Mas punya apa aja?"

Kataku merayu. Sudah dua jam aku di rumahnya dan laki-laki sialan ini sudah setengah tidak sadar, antara keletihan atau terlalu banyak meminum teh hangat yang kuberikan. Dia tak mampu berkata-kata. Hanya jari telunjukknya yang menunjuk ke tempat benda-benda mahal ditaruh. Aku tersenyum manis, segera menjauhinya. Dia sudah puas karena kemauannya terpenuhi. Aku tidak menjual diriku, hanya ingin membalas dendam tapi sialnya aku ikut menikmati.

Kubuka tas ranselku yang hanya berisi buku paket biologi, matematika, dan satu alat tulis. Kumasukkan satu emas batangan, laptop, ipad, tiga smartphone, jam tangan, dan tab ke dalam ranselku. Segera kurapikan kancing baju seragam putih dan meresleting kembali rok berwarna abu-abu yang sudah lecak. Aku harus segera pulang sebelum ibu khawatir.

Dua jam yang lalu sebelum kami masuk kamar, dia mengajakku keliling taman belakangnya. Rumahnya tidak besar tapi tamannya luas. Penuh bunga anggrek bulan dan sedap malam. Di pojok halaman, berjejer rapi bunga terompet berwarna kuning yang sedang mekar. Aku tersenyum senang. Dia segera ke kamar, aku izin ke dapur untuk membuatkannya teh. Dan dia meminumnya dengan sekali tegukkan.

Aku bergegas keluar rumah tanpa memedulikan lelaki yang kejang-kejang di dalam kamar karena minuman yang kuberikan tadi mengandung senyawa atropine, hyoscyamine dan scopolamine yang dapat menyebabkan hilangnya kesadaran, overdosis, dan kematian mendadak. Aku bukan pembunuh, aku hanya merebus bunga terompet yang ada di halaman belakang rumahnya.

Aku segera keluar rumah dan membiarkan gas terbuka dan kompor dalam keadaan menyala. Lalu hanya butuh 10 menit untuk memastikan rumahnya terbakar. Aku melangkah keluar gang, menyetop bus dan menuju 30 kilometer kearah yang berlawanan. Pulang.




Nb : diikutsertakan dalam giveaway @siputriwidi #ciumanuntukeros

Total : 641 words .

Comments

Popular posts from this blog

[BEAUTY CORNER - 02] Dewa Kelembapan, si Vaseline Petroleum Jelly

[Beauty Corner - 14] Nih, Lima Macam BB Cream yang Perlu Kamu Coba!

Lima Tempat yang Perlu Kamu Datangi Kalau ke Cibinong