Dopamin

Aku sedang bersama kamu tapi aku harus katakan sejujurnya, aku benci kamu. Kata dia, kamu itu menarik, cantik, tinggi. Cara tertawamu memikat, suaramu lembut, gerak-gerikmu gemulai. Otakmu cerdas, lugas, dan wawasanmu luas. Semua pria pasti suka padamu dan karena aku wanita, dua hal yang membuat aku benci padamu adalah : aku iri dengan segala kelebihanmu, dan aku iri dia yang kucinta selalu meyebut namamu dalam setiap cerita.
Tapi kita berdua dekat, saling berbagi, sering bersama. Dan aku harus memasang senyum paling manis agar kamu tak tahu kalau aku sangat membencimu.

Ini berawal dari pertemuanku dengan dia disuatu tempat. Aku tak dapat mengalihkan pandanganku dari dirinya dan mataku awas menatap matanya. Orang bilang, itu namanya cinta. Tapi aku tak mau mengaku itu cinta karena aku takut, rasa ini terlalu berlebihan. Untung saja aku bukan seseorang yang memiliki penyakit ingin memiliki seseorang seutuhnya. Bukan pula orang yang mau memonopoli dirinya agar hanya bersamaku. Aku hanya mengaguminya diam-diam. Dan saat aku dan dia mulai dekat, aku sadar aku cemburu. Dia selalu mengungkit namamu.

"Luar biasa deh orang yang bernama Kirana. Cantik, baik, aku senang akhirnya bisa temenan sama dia. Oya kalau kamu punya teman dekat?"

Dia, Daniel. Orang yang biasa saja tapi memiliki aura level seratus. Dimanapun dia berada, dia memiliki daya tarik tersendiri yag membuat orang lain menoleh dan memperhatikannya, termasuk aku yang perhatiannya sudah terpaku pada auranya. Matanya menatap lembut kearahku. Aku memalingkan muka, sebisa mungkin tak menunjukkan kebencianku pada orang yang dia sebut, kamu.

"Nggak ada. Aku nggak percaya pada siapapun. Cukup berteman, tapi nggak perlu berteman dekat. Kenapa, masalah buat kamu kalau aku nggak punya teman dekat?"

Dia menggeleng, tertawa dengan lepasnya. Ini bagian yang kusukai, tidak ada yang dia sembunyikan dariku. Tertawa sepuasnya, bertingkah sewajarnya. Dia... Ah dia sudah mencuri duniaku.

"Lucu ya. Kalau aku... Aku selalu berharap bisa menjadi teman dekat Kirana karena dia anaknya polos sekali,"

Aku tersenyum kecut, lalu mengangguk. Kan, kamu lagi yang dia sebut. Bahkan saat bersamaku dia tetap menyebut namamu. Matanya berbinar dan aku tahu, sorot mata itu tanda suka, bukan sekadar ingin menjadi teman dekat. Bagian lain yang membuatku benci kamu adalah, aku wanita yang tak cantik, bodoh, pemalas, mudah emosi, tak pernah percaya diri. Aku tahu aku tak cantik jadi aku tak pernah bercermin. Aku tahu aku tak pandai berdandan sehingga tak ada satupun alat rias yang biasanya merias wajah wanita lain. Aku tak punya wewangian, hanya mandi dua kali sehari dan rajin mencuci baju. Itu sebabnya aku benci padamu yang selalu dipuji cantik, wangi, dan katanya disukai banyak orang.

"Ceritakan lebih banyak tentang Kirana,"

Kataku kemudian. Sebenarnya aku malas menghadirkan kamu dalam obrolanku dengan dia tapi...

"Banyak. Dia teman paling cantik di antara wanita lain,"

"Kalau gitu, mulai besok aku akan berteman dengan Kirana. Siapa tahu obrolan kami nyambung,"

Aku berucap datar. Bisa kulihat Daniel mengerutkan dahinya membentuk garis lipatan-lipatan. Aku tak tahu mengapa dia seperti terheran-heran mendengar pernyataanku tapi sejurus kemudian dia tertawa terbahak-bahak.

"Silakan saja. Dia suka duduk melamun di kedai kopi sebelah utara dari taman kota. Biasanya dia melamun di sana dan selalu membawa satu buah roti rasa keju dan sekotak susu cair rasa cokelat. Kamu silakan temui dia,"

Daniel terlihat serius tapi senyumnya yang penuh karisma membuatku merasa dia tak serius dengan ucapannya. Aku semakin benci. Kesukaan kamu denganku sama. Roti dan susu, serta senang melamun. Ah mungkin kebetulan saja. Banyak kan kebetulan di dunia ini?

•••

Hari-hariku semakin tersiksa karena aku semakin dekat bersama orang yang kucintai dan orang yang kubenci sekaligus. Ada rasa senang, bahagia, tapi juga dengki.

"Jadi kamu setuju kan? Perempuan bernama Kirana memang tidak ada duanya. Pandai merendah diri,"

Daniel kembali berbicara tentangmu di suatu sore. Aku sedang bersamanya di kedai kopi kesukaan kamu. Kumainkan empat jemariku dengan mengetukan ke meja secara berirama, seperti suara kumpulan kuda yang sedang berlari. Bosan. Kapan Daniel akan memujiku?

"Kalau gitu kenapa kamu nggak pacaran aja sama dia? Kenapa kamu terus-terusan memuji temanmu itu?"

Aku bersuara agak parau. Agak berat mengucapkannya tapi apa boleh buat. Percuma juga kalau aku menyukai dia padahal dia suka kamu. Suasana hening sesaat. Lalu Daniel menatapku serius.

"Iya, untuk itu aku mengajakmu kemari. Bagaimana? Apakah kamu bersedia menjadi... Emm... Pendamping hidupku, Kirana?"

Dia sodorkan kotak kecil berwarna merah dan didalamnya berisi cincin emas. Aku yakin itu asli. Kilaunya terlihat saat pertama kali dibuka. 'Kenapa dia sodorkan padaku, bukan kamu?'

"Kirana, tolong berhenti merendah diri. Berhenti tidak percaya diri. Kenapa kamu selalu menutupi kelebihanmu? Kamu cantik karena natural tanpa riasan, kamu pintar, dan kenapa kamu selalu menganggap kalau yang aku bicarakan adalah orang lain?"

"Eh?"

"Berhenti bercanda atau pura-pura tidak tahu. Lihat dirimu! Kamu terlalu menutupi kelebihanmu sampai-sampai kamu menganggap orang yang sempurna itu adalah orang lain,"

Aku tersentak oleh peryataannya. Aku ini kenapa? Aku percaya aku masih waras tapi aku sama sekali tak pernah menyangka bahwa kamu yang selalu disebut dirinya adalah aku.

"Namaku Ayu, berhenti menyamakan aku dengan Kirana temanmu itu,"

"Apa karena aku memuji seseorang bernama Kirana, kamu sampai tidak mengenali ciri-ciri yang kusebutkan untukmu? Hey sadarlah, nama lengkapmu Ayunda Kirana. Berhenti merendahkan dirimu sendiri!"

Aku terkesiap. Dunia seakan senyap, aku berharap sekarang juga aku lenyap dari kedai kopi yang lembab. O, rasanya mataku mulai berkaca-kaca karena aku tahu dia yang kusuka juga menyukai kamu, bukan aku. Nanti malam pasti mataku sembab.

"Jadi kamu sadar kan, aku suka kamu,"

Daniel menatapku tulus. Aku masih tidak percaya.

"Kenapa dia? Kenapa kamu suka seseorang yang aku rasa aku tak memiliki segala kelebian itu,"

"Percayalah Ayu, kamu itu harus percaya pada dirimu sendiri,"

Sore ini ada hal yang baru aku sadari. Ternyata kamu adalah aku yang selama ini tertimbun oleh kepalsuan. Kamu adalah aku yang selama ini aku benci. Kamu adalah aku yang sebenarnya tapi karena aku tidak percaya diri aku selalu menganggap kamu itu orang lain. Maaf, mungkin mulai sekarang aku akan belajar dulu untuk mencintai kamu sebelum mencintai dia. Karena kamu, lebih berharga. Aku terlalu sibuk mencintai dia sampai aku lupa untuk mencintai kamu sebagaimana semestinya.

Butuh waktu bermenit-menit bahkan hingga hitungan jam untuk menyerap semua ini sampai akhirnya aku mengambil cincin yang disodorkan Daniel. Hatiku lebih lega rasanya setelah Daniel menenangkanku dan menceritakan semua tentang kamu yang tak lain adalah diriku. Otak serta hatiku sekarang seperti mengalami dopamin -kebahagiaan sebenar-benarnya bahagia. Bahagia atas sesuatu yang baru saja kutemukan.

Aku rasa, aku bisa mencintai kamu dan dia diwaktu yang bersamaan.

•••

Comments

Popular posts from this blog

[BEAUTY CORNER - 02] Dewa Kelembapan, si Vaseline Petroleum Jelly

[Beauty Corner - 14] Nih, Lima Macam BB Cream yang Perlu Kamu Coba!

Lima Tempat yang Perlu Kamu Datangi Kalau ke Cibinong