Seperti Putri

Belajar adalah hal yang membosankan buatku. Apalagi aku tak punya teman dekat atau teman spesial di sini, di desa ini. Hanya ada nenek angkat yang selalu siap memberikan jawaban jika aku punya segudang pertanyaan. Desa ini sangat asri dan penuh sawah membentang luas. Ada sungai penuh batu cadas yang mengalir sepanjang desa ini. Aku bisa melihat matahari terbit dari garis horizon di belakang gunung saat kabut masih menyelimuti desa ini. Tapi aku jarang melihat matahari pergi di ufuk barat soalnya kata nenek udara selepas senja tidak baik untukku.
Sekolah masih berlanjut dan waktu rasanya berjaan sangat lambat. Aku mau melihat gemercik air di sungai dan ini sudah saatnya melihat beberapa salamander menggeliat di tepian sawah. Aku sudah bosan belajar.

"Vio! Coba jawab pertanyaan ibu,"

Eh? Aku menatap bu guru di depan kelas. Namaku disebut.

"Tadi ibu tanya apa?"

Kataku polos. Teman-teman di kelas tertawa serempak. Mereka tahu aku pasti sedang melamun. Itu kebiasaanku setiap aku sudah tidak fokus belajar.

"Semua teman-temanmu sudah menjawab. Apa mimpi terbesarmu Vio?"

Aku diam. Memainkan dua bola mataku untuk melihat ke kanan atas lalu kiri atas. Mimpiku ingin memegang salamander. Bisa melihat matahari terbenam. Atau mimpiku yang lain bisa mendengar suara jangkrik setiap malam. Ah ya, aku juga ingin punya umur panjang. Tapi selain itu, mimpi terbesarku adalah...

"Aku mau jadi puteri cantik bu!"

Seruku bersemangat. Tawa di ruangan kelas pecah. Memangnya tidak boleh ya, punya mimpi walaupun terlihat mustahil?

"Viona kan jelek bu!"

Arman mengejekku. Ia tertawa terpingkal-pingkal. Yang lain sahut-menyahut mengiyakan kalau aku jelek, gemuk, pendek, dan rakus. Hanya bu guru yang tidak tertawa. Matanya terpaku padaku lalu ibu guru menyuruh semuanya tenang. Aku memang gadis paling jelek di kampung ini. Aku sudah tidak tahu siapa ibuku. Dia meninggalkanku sejak aku lahir. Aku berjuang hidup sendirian, tapi tak masalah. Selama aku tak kehabisan makanan, aku akan terus hidup. Bu guru sekali lagi menyuruh anak-anak tenang. Mereka -teman-temanku masih saja menertawai impianku menjadi putri cantik seperti yang ada di cerita dongeng.

"Kalau gitu, gapai mimpimu Vio. Jangan berhenti berusaha sebelum impianmu tercapai,"

Aku mengangguk mantap. Hari ini juga, aku bisa membayangkan betapa cantiknya aku.

"Nggak mungkin, Vio! Kamu anak paling jelek hahahaha,"

Arman kembali mengejekku. Mereka teman-teman yang membosankan, terutama Arman. Cih. Lihat saja nanti.

•••

Aku datang lagi ke desa ini. Desa yang sudah membesarkanku. Desa yang menanam mimpiku untuk menjadi seorang putri. Aku menghirup oksigen yang tersebar gratis di desa ini. Segera aku menyusuri pematang sawah yang padinya mulai menguning. Ah, rindunya pada nenek. Sebelum aku bertemu nenek, kuhampiri salamander di ujung sawah. Aku mengamatinya menggeliat diantara tanah dan padi yang sudah merunduk. Petak-petak sawah di desa ini begitu luas, sejuk, dan aku senang pernah menjadi bagian dari desa ini. Aku menuju tepian sungai dan menemukan teman-temanku di sana, mereka sedang asyik bermain dan makan bersama. Ada Arman juga. Mereka berhenti melakukan aktivitasnya saat melihatku mendekat. Aku baru sekitar satu minggu menghilang tapi rasanya sudah bertahun-tahun tidak bertemu mereka.

"Kamu... Kamu Viona?!"

Arman bertanya padaku. Ditatapnya aku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kulemparkan senyumanku padanya.

"Kamu pikir aku siapa?"

"Cantik. Kamu cantik sekali. Kamu indah. Auramu begitu luar biasa,"

kurasa yang mengatakannya adalah alam bawah sadar Arman. Dia kan sering mengejekku. Jadi aneh kalau dia meujiku seperti itu. Dan tatapan mata Arman menyiratkan kekaguman mendalam saat melihatku.

"Kamu... Seperti putri,"

Arman seakan merayu. Aku tersipu malu. Kutatap pantulan diriku di bawah air sungai yang beriak. Ada kilauan seperti pelangi saat aku menatap diriku sendiri. Mataku berbinar indah, warna kulitku tidak lagi jelek. Secantik itukah aku sekarang?

"Aku... Aku punya mimpi untuk menjadi putri cantik. Aku senang, kalau kamu bilang aku seperti putri, berarti mimpiku telah kuraih,"

"Bagaiama kamu bisa secantik ini? Kamu kemana saja selama seminggu ini, Vio? Bu guru pasti senang kalau melihatmu secantik ini. Hey, Vio yang jelek sekarang cantik banget!"

Arman kembali mengomentariku. Aku juga lupa, aku kemana seminggu ini? Aku hanya ingat pesan nenek kalau nanti aku akan merasa kesepian dan lebih baik aku mengurung diri di suatu tempat. Nenek juga pernah bilang, kalau aku sudah bisa berpikir dewasa, aku bisa menjadi gadis remaja yang cantik. Lalu aku pergi pada malam hari dan sebelum pergi aku berdoa ingin menjadi putri cantik. Aku seakan hilang ingatan setelah aku mengurung diri, tapi aku masih bisa mengingat rasa sakit yang dialami tubuhku kemarin ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku tiba-tiba mengalami sakit luar biasa pada badanku, seperti membengkak, susah bernapas, dan tertidur sangat lama. Begitu terbangun aku sudah menjadi cantik seperti ini.

"Aku... Aku pulang dulu, aku mau ketemu nenek,"

Betul, nenek pasti bisa menjawab pertanyaanku ini. Nenek pasti bisa menjelaskan kenapa terjadi perubahan pada diriku. Iya, aku mau jadi putri. Tapi kenapa aku bisa jadi secantik ini? Kutinggalkan teman-temanku dan segera mencari nenek. Aku kembali melewati salamander yang terdiam menatapku. Mungkin dia heran juga kenapa aku berubah seperti ini.
Kutemukan nenek sedang mengelola benang sutra bersama adik-adikku. Nenek paling pandai menenun kain. Ia sedikit terkejut dengan kedatanganku dan aku takut-takut menghampirinya.

"Ini aku nek, Viona. Aku berhasil meraih mimpiku nek!"

Dengan antusias aku berujar dan nenek tersenyum melihatku.

"Nah, apa kubilang, lemparkan cita-citamu ke atas langit. Biarkan ia di tempat yang tinggi, lalu ketika kamu selesai melemparkan cita-citamu, biarkan ia menggantung. Dan kamu harus mulai membuat tangga untuk mengambilnya. Tangga adalah proses menuju sebuah kesuksesan. Tidak ada mimpi yang tidak bisa diraih jika kamu niat dan bersungguh-sungguh untuk meraihnya. Kamu cantik, Vio. Seperti putri kerajaan,"

"Aku tahu nek. Aku tidak punya cita-cita tinggi menjadi jutawan, atau kolektor salamander, atau juragan sawah. Aku hanya ingin cantik, dan dihargai oleh semua orang. Aku hanya ingin orang lain bisa memaknai hidup dengan melihatku,"

Nenek tersenyum mendengarkanku, tapi bisa kulihat nenek mengeluarkan air mata di ujung matanya.

"Nah, manfaatkan dirimu sebagai putri cantik. Ubah dunia dan jadilah makhluk yang berguna bagi dunia,"

Aku mengangguk mantap. Segera aku keluar rumah setelah berpamitan dengan nenek. Aku sekarang sudah meraih mimpiku, dan aku masih ingin melemparkan cita-citaku yang lain ke atas langit sana.

•••

"Mama look! I see a butterfly here. So beautiful she is. So many colours on her wings. Look mama!"

Aku mendengar seorang anak manusia berkata pada orang yang lebih besar darinya. Dia tak menyentuhku, hanya memandangiku dan sibuk mengarahkan sebuah benda besar dengan lensa yang tertuju padaku. O, aku baru tahu kalau warna yang ada di sayapku begitu mengagumkan di mata manusia, aku tak pernah bisa melihat kecantikanku, keindahan sayapku, tapi aku tahu bahwa aku bisa meraih mimpiku. Aku saja bisa, apalagi kamu.

•••

0 comments:

Post a Comment

Hi! Thank you for visiting my website. I hope you can enjoy read all about blog posts here and lemme know your opinion! Please leave on the comments bellow :)