Untuk Selamanya

Minggu, April 2013. Pukul 02:01

'Mita, terima kasih telah menjadi matahari pagi dan bulan di malam hari. Kamu sudah membuat hidupku indah. Mataku tertutup, tapi hatiku tidak, ia selalu terbuka untukmu,'

Aku masih berkemul di dalam selimut dan ponselku bergetar. Nomor Andre tertera di sana. Kukembangkan senyumanku saat membaca pesan darinya. Lalu aku kembali tidur.

Pukul 04:20

'Semoga amal baiknya di terima di sisi Tuhan, semoga segala kebaikannya semasa hidup menjadi jembatan untuk membawanya ke surga,'

'Kecelakaan tunggal, jam dua dia kayaknya ngebut. Motornya sekarang sedang di amankan di kantor polisi,'

'Mita... Yang kuat ya, banyak-banyak doa aja. Sekarang semuanya masih pada di rumah sakit. Kepalanya baik-baik aja soalnya helm masih di pakai, tapi badannya hancur. Istighfar Mita,'

'Mitaaaaaa yang tabah ya, kita semua juga nggak percaya tapi sekarang mayatnya ada di depan kita. Kita harus terima kenyataan,'

'Semoga menjadi pelajaran supaya kita nggak ngebut. Yang tabah semuanya,'

'Katanya sih kecelakaan, tapi anehnya... Motor dia baik-baik aja kok. Bahkan kaca spion nggak hancur. Lo dimana Ta?'

'Taaaaa. Ini gue Andre. Bangun dong. Lo mesti kesini. Dia kecelakaan. Badannya luka parah, ke baret-baret gitu. Katanya dokter keseret aspal. Yang sabar ya taa,'

Ponselku kembali berdering beberapa kali. Aku mulai membuka pesan masuk dari anak-anak teater.

Kabar duka yang begitu mengguncangku.

Aku terperanjat dan jantungku berdetak lebih cepat. Tanpa sadar mataku berkaca-kaca. Pukul empat pagi harusnya aku masih tertidur tapi banyaknya pesan masuk barusan membuatku gelisah. Kehilangan orang yang kita sayangi sungguhlah menyakitkan. Apalagi dia orang yang sangat baik. Orang paling baik yang pernah kutemui. Tuhan, mengapa kau mengambilnya begitu cepat? Harusnya orang yang selalu menebar kebaikan Engkau tahan dulu di bumi dalam waktu yang lama agar semua orang belajar darinya, bahwa melakukan kebaikan adalah hal yang menyenangkan dan mulia.

Dia mengalami kecelakaan tunggal jam dua dini hari. Sekarang hampir semua orang yang mengenalnya berada di rumah sakit, menjenguk dirinya untuk terakhir kali. Pesan masuk yang kubaca berikutnya mengatakan bahwa rumah sakit sangat ramai karena banyaknya orang yang mendatangi jenazahnya. Ada lebih dari dua ratus orang di sana. Aku menangis sejadi-jadinya.

Aku juga ingin sekali ke rumah sakit, melihat jasadnya untuk terkahir kali tapi aku tak bisa, tak ada yang mengantarku. Orang tuaku masih tertidur pulas. Banyak pesan masuk untukku sebab mereka tahu bahwa aku dekat dengannya. Dia adalah orang paling baik dan paling istimewa, sahabat bagi kami semua. Rasanya semua ini seperti mimpi. Tadi malam baru saja dia membuat acara dan aku menjadi salah satu pengisi acara. Dia bilang penampilanku bagus dan aku harus terus berkarya dalam bidang seni. Kami bahkan masih sempat melakukan sesi pemotretan, dia dan anak-anak makan camilan bersama, dan sekarang...

Sekarang Yoyo sudah menutup mata untuk selama-lamanya.

•••

Januari 2013. Pukul 09:15

"Kak Yoyo!"

Suara teriakan seorang perempuan begitu nyaring. Aku yang sedari tadi duduk di taman depan kantin ikut melongok, ingin melihat sosok yang di panggil dengan sebutan Yoyo. Kualihkan pandanganku dari makalah dan mencari tahu siapa Yoyo. Beberapa siswi kelas satu segera menghampiri Yoyo yang baru saja memarkirkan motornya. Ah sial. Hanya rambut gondrongnya saja yang terlihat. Dikuncir satu dan warnanya cokelat kehitaman. Menurutku, pasti dia bukan orang baik-baik. Jadi aku kembali menatap makalah untuk tugas presentasiku besok.

"Udah beres belum tugasnya?"

Aku menoleh ke sumber suara. Dia duduk di sebelah kanan dan ikut memperhatikan makalahku. Aku menggeleng. Tugas yang satu ini memang sangat sulit bagiku. Apalagi sekarang ini pikiranku sedang tidak fokus.

"Oya kak Andre, aku mau tanya dong,"

Tanganku dengan cepat menyimpan makalah ke dalam tas. Aku sudah bosan mengerjakan tugas. Andre hanya menaikkan alisnya.

"Syarat untuk masuk klub teater itu apa sih?"

"Hahaha, Mita mau masuk teater? Awas nanti jadi orang gila loh. Anak pintar kok masuk teater. Nggak ada syarat sih. Dateng aja ke markasnya. Mau gue temenin?"

Aku mengembungkan pipiku sambil menggeleng. Aku baru kelas dua dan Andre kelas tiga, dia seniorku di sekolah ini. Aku baru pindah ke sekolah swasta ini dan belum banyak teman yang kukenal. Kupikir akan bagus kalau kita gabung di salah satu klub, untuk menambah teman. Bukan tidak mungkin kan, anak baru bermain teater?

"Aku cabut ya kak kalau gitu, mau coba ke tempat teaternya dulu,"

Aku segera berdiri, melambaikan tanganku pada Andre. Dengar-dengar, banyak yang suka pada Andre tapi dia hanya menyukai seorang perempuan bernama Diana. Aku juga tidak tahu seperti apa rupa Diana tapi sepertinya orang yang sangat cantik. Sayangnya, menurut gosip yang beredar Diana menyukai orang lain, bukan pada Andre. Padahal Andre tampan, pintar, dan aku juga termasuk perempuan yang menyukainya.

Langkah kaki ini sudah membawaku di depan pintu tempat anak-anak teater latihan. Aku mengangkat tangan kananku untuk mengetuk pintu tapi pintunya terbuka lebih dulu.

"Eh? Cari siapa?"

Perempuan yang posturnya lebih kecil dariku menyapa. Rambutnya cepak tapi pakaiannya sangat feminin.

"Anu kak, mau gabung di klub teater,"

Kataku malu-malu. Yang di hadapanku hanya tersenyum dan membuka pintu lebar-lebar.

"Sini, masuk dulu. Nanti aku kenalin sama pengajar dan ketua klubnya. Dari kelas mana?"

"Ipa dua kak,"

Kataku masih malu-malu. Dia sedikt terkejut tapi senyumnya mampu menutupi rasa terkejutnya.

"Kenal sama Andre dong?"

"I... Iya kenal. Kenapa kak?"

"Nggak apa-apa. Soalnya Andre kan anak ipa juga. Kenalin, aku Diana. Mulai sekarang panggilnya Diana aja, jangan pake kakak. Yuk, masuk,"

Apa? Diana? Jadi ini Diana yang di perebutkan oleh Andre dan laki-laki lain? Tidak terlalu cantik, bertubuh mungil, tapi ramah.
Dia segera menarik lenganku. Di dalam ruangan semua orang melihat kami. Aku menelan ludah. Semoga aku tidak salah masuk klub. Tatapan mereka seolah akan ada satu saingan yang siap mereka jatuhkan. Aku duduk di hadapan mereka, memperkenalkan diri, dan hari ini juga aku tahu yang mana orang yang bernama Yoyo. Dia pengajar di teater ini, dan dari kelas yang sama dengan Diana. Semuanya ramah dan aku semakin betah dengan klub ini.

•••

Jumat, April 2013. Pukul 09:15

Suasana paling ramai adalah saat beberapa siswa berburu makanan di kantin dan membicarakan hal sepele dengan teman-temannya. Aku duduk di kantin bersama Yoyo. Oh, dunia tidak perlu tahu kalau aku sekarang dekat sekali dengan Yoyo. Tidak, aku tidak menyukainya begitupun dia. Kami hanya berteman dekat dan aku merasa dia seperti kakak laki-laki untukku. Kami banyak berbagi soal tugas, makanan, berbagi cerita soal percintaan, keluarga, cita-cita, dan sahabat.

"Loh kok aku baru tau sih, tenyata kakak sama kak Andre teman dekat?"

Kataku sambil mengunyah bakso dan mie kuning bersamaan. Aku malas makan nasi di jam istirahat. Yoyo mengangguk.

"Cuma dia sibuk sama band-nya. Gue sibuk di teater. Jadi udah jarang nongkrong bareng. Terus beda kelas lagi. Dia ipa, gue ips. Omong-omong temen deket lo siapa Ta?"

Aku mengarahkan garpu ke arah Yoyo. Menunjukknya. Kami tertawa bersama. Yoyo adalah orang yang sangat baik. Semua orang di sekolah ini mengenalnya. Dia pernah datang pagi buta untuk membantu petugas membersihkan kelas. Dia juga pernah pulang malam untuk menemani jam kerja penjaga sekolah. Dia beberapa kali pernah bolos di jam sebelum istirahat, karena dia mau membantu ibu kantin untuk menyiapkan dagangan. Dia sering membawakan tas guru ke kelas. Semua orang mengenalnya. Anak berprestasi di kelas dan menjadi kebanggan para guru. Anak yang di cintai siswa hampir satu sekolah karena dia luwes dalam berbicara dan cara mengajarnya di teater membuat banyak orang yang jatuh cinta pada kebaikannya. Aku termasuk anak yang beruntung bisa dekat dengannya. Pernah beberapa kali aku kesal karena dia terlalu baik pada semua orang tapi dia lupa bahwa dirinya butuh istirahat, bahwa ada saatnya kita harus berkata 'tidak' dan terkadang menjadi orang baik itu tidak memberikan keuntungan penuh, menurutku. Tapi dia hanya tertawa, dan mengatakan bahwa semuanya dia jalankan dengan sepenuh hati.

"Kak Yo, aku udahan makannya. Balik ke kelas duluan ya,"

Aku mengeluarkan uang ribuan dari kantong baju dan aku melihat ada percikan saus yang menempel di rok abu-abu seragamku. Segera kuhapus dengan tisu yang tersedia di meja kantin.

"Paha lo berdarah?!"

Yoyo terkejut melihat saus yang ada di rok. Matanya membelalak dan seketika dia terdiam.

"Oh saos, gue kira darah. Akhir-akhir ini lagi parno sama darah. Sori Ta,"

"Aneh dasar. Saos doang kak. Yaudah nih nitip bayarin baksonya. Aku duluan ya,"

"Jangan lupa besok nampil di audit ya. Acara teater kita harus bagus!"

Teriak Yoyo penuh semangat. Aku mengacungkan jempolku dan segera berlari menuju kelas, karena di depan kelas ada Andre yang menungguku untuk mengobrol di menit-menit terakhir sebelum pelajaran di mulai. Aneh memang, tapi aku menikmati kedekatanku dengan Andre. Dari kejauhan kulihat senyum Andre merekah.

•••

Sabtu, April 2013. Pukul 20:29

"Bagus banget. Kamu memnag berbakat main teater Ta,"

Yoyo berbisik saat aku turun dari panggung. Suara tepuk tangan penonton masih terdengar ramai, menandakan kesuksesan penampilan anak-anak teater. Malam ini ada acara spesial di sekolah sebelum kami semua berlibur. Semacam makrab atau pensi tapi aku tidak ingat mana yang benar. Yang kupikirkan hanya bermain bagus. Hanya saja yang kusesalkan aku tidak melihat Andre menonton pentasku. Bagaimanapun juga dia adalah teman dekatku dan aku berharap orang yang kusuka menoton aku di panggung.

"Kamu harus terus asah kemampuan kamu, nanti pasti kamu sukses di bidang akting,"

Yoyo kembali berujar. Aku hanya tersenyum. Aku dan teman-teman lainnya membuka kostum panggung dan begitu selesai aku segera keluar. Mau mencari Andre.

"Mita mau kemana? Foto-foto dulu sini. Main keluyuran aja,"

Diana menarik lenganku. Kuturuti kemauannya dan Yoyo bilang bahwa kami harus berpose sebanyak mungkin. Baru tiga kali foto aku segera pamit mencari Andre. Entahlah, sepertinya aku jadi semakin menyukai dirinya dan berharap bisa bertemu dia malam ini, seblum liburan berlangsung .

"Nggak bisa tinggal di sini dulu Ta, sebentar aja. Nanti lo nggak akan bisa ketemu gue lagi loh. Selamanya nggak akan bisa. Plis sekali ini aja bareng-bareng dulu sama anak-anak teater,"

Yoyo memohon. Aku hanya mengerutkan dahiku. Menganggap sepele ucapannya. Buatku saat ini, aku harus temui Andre untuk membuktikan apakah perasaanku tepat. Tentunya aku bisa bertemu Yoyo kapanpun aku mau karena sebagai sahabat, kita selalu menyiapkan waktu, iya kan?

"Nggak bisa kak Yoyo, besok-besok aja kita janjian ketemuan ya. Ada hal penting yang mau aku urus,"

Aku melangkah pergi keluar aula. Tapi tangan Yoyo menahanku. Ada getaran aneh saat dia menggenggamku. Dia menatapku sangat lama. Tatapan yang tidak pernah dia lakukan kepadaku selain hari ini. Tatapan tanpa berkedip dan tajam seperti sedang menguliti kulitku. Jantungku berdegup kencang. Tatapan apa ini? Seolah tatapan ketakutan akan kehilangan, tatapan sayang, dan... Tidak. Aku tidak cantik, mana mungkin dia cinta padaku. Aku menepis tangannya dan segera berlalu. Dan aku tak pernah menyadari bahwa ini adalah malam terakhirku bertemu dengan Yoyo.

•••

Minggu, April 2013. Pukul 01:50

Pukul dua dini hari jalan raya tidak terlalu ramai oleh kendaraan. Jadi tidak akan ada yang menyadari kalau seorang lelaki yang sedang mengendarai motor matic dijegat oleh orang yang membawa senjata tajam. Tidak jelas ada berapa orang, yang pasti saat itu lelaki berambut gondrong segera memberhentikan motornya, mengeluarkan dompetnya dari saku celana, hendak menyerahkan harta yang ia punya kepada preman tersebut. Dia tidak begitu jelas melihat wajah para preman yang menghadang jalannya. Ada sekitar dua atau tiga orang yang lalu-lalang di sekitar jalan tersebut tapi tak terlalu menghiraukan urusan lelaki gondrong ini.

"Kenapa lo nggak kapok-kapoknya sih Yo, udah gue bilang jauhin Mita!"

Lelaki berambut gondrong itu batal mengeluarkan dompetnya. Dia tahu, mereka bukan preman yang akan meminta hartanya. Lelaki yang dikenal dengan sebutan Yoyo membuka kaca helm full face-nya, dan turun dari motor.

"Ya ampun Ndre, lo kan tau. Mita itu cuma anak didik gue di teater. Lagian, emang dia siapa lo? Dan lo nggak berhak ngatur hidup orang, suka-suka gue kalau mau dekat sama Mita,"

Mata Yoyo tajam menatap Andre tapi intonasi suaranya tetap tenang. Andre dan Yoyo tahu, mereka sama-sama menyukai perempuan yang sama, padahal Andre teman yang paling dekat dengan Yoyo dan paling mengerti satu sama lain. Mereka sudah bersama-sama sejak kelas satu. Semua orang tahu mereka adalah dua lelaki tampan dan paling baik di sekolah. Tapi sudah beberapa bulan hubungan mereka renggang, sejak Andre mulai membuat band indie dan Yoyo menjadi pengajar teater. Tak ada masalah serius selain jarak yang membuat mereka jadi jarang bersama-sama. Tetapi sejak kedatangan Mita di sekolah mereka, hubungan mereka semakin rengang karena telah memiliki perasaan yang sama untuk Mita.

"Sialan lo! Bunuh aja sekarang!"

Andre lepas kontrol, ia melemparkan ponselnya ke dada Yoyo. Menyuruh dua rekannya segera bertindak. Seseorang di sebelah kanan Yoyo segera menancapkan celurit ke perut Yoyo. Menyayatnya tiga kali. Seorang di sebelah kiri dengan sigap menusuk perutnya dengan pisau bermata tajam tapi berukuran kecil. Semua tusukan tepat mengenai perutnya, apalagi Yoyo hanya mengenakan kaus oblong. Yoyo tak sempat berteriak, semua terjadi terlalu cepat, matanya membelalak, tubuhnya ambruk kebelakang, menimpa motornya. Perih. Dalam keadaan sadar ia bisa melihat usus dua belas jari miliknya keluar berhamburan dari perutnya. Bajunya bersimbah darah. Andre dan dua rekannya segera berlalu meninggalkan Yoyo di tengah jalan dalam keadaan sekarat. Matanya mulai berkunang-kunang tapi ia masih bisa melihat orang-orang di sekitar jalan hanya memperhatikan, tak berani menolong. Bahkan dua meter dari lokasi kejadian seorang satpam sekolah yang mengenal Yoyo ikut menyaksikkan namun mereka semua enggan menolong, takut menjadi saksi. Mereka takut polisi akan mengubah status mereka dari saksi menjadi tersangka.

Yoyo dengan jelas melihat darahnya tumpah ruah ke jalanan. Napasnya tersengal-sengal dan perlahan dadanya sesak menghirup udara. Ia meringis kesakitan, matanya basah dan badannya menggigil. Tangan kirinya memegangi ususnya yang keluar begitu saja. Samar-samar ia masih melihat orang yang melihat kejadiannya bergegas pergi. Yoyo tersenyum. Sulit sekali mencari orang baik di dunia ini. Kebaikan yang datangnya dari hati, akan tulus melakukan apapun untuk menolong orang lain. Tapi Yoyo tidak akan meminta belas kasihan. Dalam sisa napasnya ia mengambil ponsel milik Andre yang tadi dilemparkan ke dada Yoyo. Ia mengetik satu pesan singkat untuk Mita.
Lalu matanya tertutup.
Untuk selamanya.

Comments

  1. cerpennya keren, ceritanya bagus. ga nyangka kalo yg bunuh ternyata si andre

    ReplyDelete
  2. Bagus ceritanya :)

    Aaaak endingnya nyesek..
    Ternyata yang ngirim SMS itu Yoyo, bukan Andre..
    Andre jahat banget huwaaaaah T_T

    ReplyDelete
  3. Owalah, ini untuk menghindari komentar tidak jelas ya...

    Keren, ane aja udah lama gak buat cerita (fiksi). Tapi semoga aja ane masih bisa ngasah.

    Lanjutkan karya2nya..!!

    ReplyDelete

Post a Comment

Hi! Thank you for visiting my website. I hope you can enjoy read all about blog posts here and lemme know your opinion! Please leave on the comments bellow :)

Popular posts from this blog

[BEAUTY CORNER - 02] Dewa Kelembapan, si Vaseline Petroleum Jelly

[Beauty Corner - 14] Nih, Lima Macam BB Cream yang Perlu Kamu Coba!

Lima Tempat yang Perlu Kamu Datangi Kalau ke Cibinong