Dia dan Aku

Lewat. Begitu saja. Tanpa aksi tanpa reaksi tanpa basa-basi. Kamu lewat di hadapanku dua detik yang lalu dan aku masih terkesiap karenanya. Mata kita bersitatap, tapi mulut kita bungkam. Seolah ada lusinan selotip yang menempel pada bibir kita. Ah, bibirku lebih tepatnya. Aku bukan malu atau lidahku kelu, aku hanya bingung hendak ucapkan apa dan aku khawatir aku akan meracau dan berkata tak seronoh di hadapan teman-temanmu karena aku tak kuasa menahan kerinduanku. Dan kamu lihat Shinta, teman yang berjalan di sampingku saat kita bertemu? Dia sengaja merias diri secantik mungkin, dan sibuk membetulkan rambutnya yang tak kusut. Hanya demi dirimu, agar kamu melihatnya, agar kamu memberi komentar sedikit saja. Mengatakan kalau dia cantik, atau imut, atau rambut cokelatnya sangat indah, dan dia pasti akan kegirangan bukan main. Dia suka kamu.
Dia dan aku.
"Bengong sih Fi, jangan bengong lah. Makan itu ayam rica-ricanya, nanti keburu dingin,"
Shinta menegurku dan membuyarkan lamunanku terhadapmu. Aku mengangguk malas dan mulai menyendokkan makan siang yang sudah tersaji di hadapanku.
"Iwan ganteng ya, apalagi tadi pas dia lihat kita. Aku yakin dia itu kaget ketemu aku makannya sampai nggak ngomong apapun pas ketemu kita tadi. Aduuuh seharusnya dia kita ajak makan bareng saja ya,"
Glek! Aku tersedak. Sedikit mengeluarkan serdawa karena makanan yang terlanjur masuk meski belum terkunyah seluruhnya. Apa yang akan terjadi kalau sampai dia ikut makan bersama kami? Hah aku bisa mati di tempat, mungkin. Aku tak berani katakan pada Shinta bahwa aku juga menyukai Iwan, persahabatan kami akan lenyap begitu saja kalau dunia tahu ada dua sahabat yang mencintai orang yang sama. Aku kembali menyendokkan ayam rica-rica yang sudah mulai dingin dan kulihat wajah Shinta yang memasang mimik tak wajar. Matanya membelalak, bibirnya mengaga lebar, lidahnya sedikit menjulur dan hidungnya kembang kempis. Aku sedikit terkekeh, Shinta saat ini sama sekali tidak cantik. Kukibaskan telapak tanganku ke depan wajahnya tapi ia bergeming. Aku segera menoleh ke belakangku, mencari sumber keanehan siang ini. Kutemukan sosok Iwan dengan satu buket bunga mawar lengkap dengan kartu ucapannya. Dia menaruhnya ke meja makan kami. Tertulis namaku dan nama Shinta di kartu itu, lalu ia menaruh buket mawar tersebut di hadapan kami.
"Aku berat untuk mengucapkannya, tapi.. sebagai teman yang baik, aku hanya ingin mengucapkan semoga kalian berbahagia, semoga langgeng. Kudengar ini hari jadi kalian kan?"
Iwan angkat suara dan mataku ikut terbelalak. Shinta dan aku gelagapan, menggeleng bersama. Mungkin yang ada di pikiran Shinta adalah, ingin menjelaskan bahwa kami hanya sepasang lawan jenis yang bersahabat. Tapi aku ingin menjelaskan pada Iwan bahwa aku tak menyukai Shinta.
Aku suka padamu. Shinta suka padamu.
Sebelum aku atau Shinta menjelaskan, kamu terlebih dahulu meninggalkan senyum manismu lalu melangkah pergi. Tanpa permisi.

0 comments:

Post a Comment

Hi! Thank you for visiting my website. I hope you can enjoy read all about blog post here and lemme know your opinion! Please leave on the comments bellow :)