Skip to main content

Bukan Kenyataan

Sehelai. Dua helai. Lama kelamaan menjadi sejumput rambut rontok yang ada di sekitar kamarku. Selalu begini setiap hari, setiap jam. Rambut hitamku yang paling kubanggakan kini hanyalah beberapa helai saja yang masih sanggup bertahan di kepala. Sisanya berguguran satu-persatu. Kupungut kumpulan helai rambut yang berjatuhan ke lantai kamaku, kugulung hingga menjadi gumpalan tebal dan kubawa keluar kamar.
"Rontok lagi?"
Ibu mengejutkanku. Ia melihatku membawa buntelan rambut yang hendak kubuang. Aku hanya mengangguk sambil memiringkan kepalaku ke kiri, meyakinkan kalau ini bukan hal serius.
"Kak Maya itu kayak orang sakit kanker ya, rambutnya rontok, terus nanti jadi botak,"
Kali ini Siena yang mengoceh. Aku hanya bungkam, sedang malas menanggapi.
"Hush adek, ngomongnya gak boleh gitu. Orang kanker itu rambutnya gak rontok. Rontok itu kalau lagi menjalani kemoterapi dek,"
Ibu menimpali.
"Kalau begitu, kakak pasti sedang kemoterapi kan,"
Dheg! Ucapan Siena barusan menamparku, seolah-olah aku ini memang sakit. Padahal, obat kemoterapi saja aku tidak tahu bentuknya seperti apa. Sebentar, obat? Ya... Ya... Aku memang mengkonsumsi obat-obatan anti depresan. Tapi itu bukan penyebab rontoknya rambutku kan?
"Periksakan saja ke dokter May, siapa tahu kamu kenapa-napa,"
Ibu mulai khawatir. Rontoknya memang tidak biasa. Sekali kusentuh, rambut yang ada dikepala pindah ke telapak tangan.
"Enggak apa-apa kok bu, cuma rontok biasa. Aku nggak berani kalau ke dokter bu, takut,"
Kataku santai. Aku sudah kembali dari dapur setelah membuang sejumput rambut rontokku. Ibu masih duduk bersama Siena di ruang keluarga dan aku menyusul.
"Terkadang, otak tidak bisa mendeteksi apa yang di rasakan tubuh. Otak kita sering berdalih bahwa tubuh baik-baik saja, padahal tubuh sedang menjerit kesakitan,"
Ibu mulai mengusap pundakku. Terasa dingin dan merinding saat tangannya menyentuh pundakku tapi aku membiarkannya.
"Besok aku ke dokter deh, tapi ibu temenin aku,"
Ibu mengangguk.
•••
"A... Aku nggak tahu dokter ngomong apa aja sama ibu. Mereka bicara berdua saja. Aku disuruh dokter langsung pulang saat itu. Hal yang dokter pun sepertinya nggak tahu, aku mengkonsumsi obat anti depresan,"
Saly, sahabatku duduk di hadapanku. Ia serius menyimak apa yang aku ucapkan barusan. Ini sudah seminggu sejak kepulanganku dari dokter. Kukeluarkan satu plastik obat anti depresan yang selama ini kupakai. Mungkin obat itulah yang membuat rambutku menjadi rontok terus menerus.
"Ibumu? Kamu ke dokter bersama ibumu?! Dokter pasti mengira kamu gila!"
"Tidak,"
"Kalau begitu, dokter pasti tidak berbicara dengan ibumu di dalam ruangan. Maya, coba kamu berhenti konsumsi obat ini, ya?"
"Nggak mau, nggak bisa. Aku selalu bisa berhalusinasi dan kondisi itu buruk sekali. Aku membayangkan ibu dan Siena yang menjadi jahat atau mati, aku bisa berbicara dengan almarhum kakekku, dan kalau tak minum ini, aku bisa melihat puluhan, bahkan ratusan makhluk halus di sekitarku,"
Aku mulai menangis. Saly berusaha menyentuh lenganku, ingin menghibur. Tanganya dingin dan sangat halus, senyumnya tipis seperti kabut yang aan menghilang.
Kumasukkan obat tersebut ke dalam tas dan aku menepis tangan Saly, meninggalkan dia yang masih terhenyak dengan peretmuan ini. Biarlah, aku hanya mau pulang kerumah. Saly juga tidak bisa membantuku.
Aku harus bagaimana? Mungkin Saly ada benarnya juga, aku harus berhenti memakai obat yang tanpa aturan dokter ini. Aku terus berpikir apakah harus membungnya aau tetap mengkonsumsinya. Ada kebimbangan tapi akhirnya telah kuputuskan. Sepanjang perjalanan aku mencari tempat sampah, kuberanikan diri ini untuk membuangnya. Aku akan berusaha menghadapi penyakitku tanpa obat-obatan ini. Harus! Tapi saat tempat sampah ada dihadapanku, semacam halusisani muncul. Aku urungkan niatku untuk membuangnya. Kumasukkan lagi obat tersebut kedalam tas dan melangkah lagi.
Aku melewati pemakaman keluarga lima meter sebelum sampai rumah dan melihat deretan nama yang tertulis di batu nisan. Nama ibu, nama Siena, nama Ayah, dan mbok Pinem. Kenapa ada nama mereka? Aku memegang kepalaku yang pusing, beberapa helai rambutku kembali rontok. Gigiku bergemeletuk kencang, tubuhku menggigil seketika. Nama mereka ada di sana, tertulis di atas nisan yang tertancap diantara gundukkan tanah merah yang selalu basah.
Ah! Aku pasti berhalusinasi lagi. Aku mempercepat langkahku, harus segera pulang. Aku harus minum obatku karena aku selalu salah membaca nama-nama di batu nisan tersebut setiap kali aku lupa meminum obat.
Aku sampai di rumah dan bergegas menuju kamar. Kulihat ibu sedang duduk bersama Siena di ruang keluarga. Aku mengusap rambutku dan lagi, beberapa helai rambut yang dikepala berpindah ke tangan.

"Rontok lagi?"
Ibu mengejutkanku. Itu adalah kalimat pertama yang selalu diucapkan ibu kepadaku.
"Kak Maya itu kayak orang sakit kanker ya, rambutnya rontok, terus nanti jadi botak,"
"Hush adek, ngomongnya gak boleh gitu. Orang kanker itu rambutnya gak rontok. Rontok itu kalau lagi menjalani kemoterapi dek,"
"Kalau begitu, kakak pasti sedang kemoterapi kan,"
"Periksakan saja ke dokter May, siapa tahu kamu kenapa-napa,"
Kalimat percakapan barusan selalu sama, setiap harinya, setiap jam, setiap mereka melihatku. Aku malas menanggapi. Segera aku masuk kamar dengan segelas air putih yang kuambil dari dapur dan siap kuminum dengan obat anti depresan. Aku merebahkan tubuhku dan dalam keadaan setengah sadar aku terbayang-bayang dengan kecelakaan maut dua tahun lalu yang menewaskan seluruh kekuargaku, kecuali aku.
Ah! Halusinansi tentang kecelakaan itu sungguh meyeramkan. Kenyataannya, ibu dan Siena masih duduk manis di ruang keluarga kan.
Mataku terpejam, terlelap tidur.
•••

Comments

Popular posts from this blog

Perbedaan Vaseline Petroleum Jelly Arab dan Vaseline Repairing Jelly

Assalamualaikum, pembaca saya yang kritis dan setia :)


Setelah masuknya Vaseline Repairing Jelly secara resmi ke Indonesia, jadi banyak sekali pertanyaan yang masuk di line saya seperti, apa sih Perbedaan Vaseline Petroleum Jelly dan Vaseline Repairing Jelly. Pertanyaannya hampir serupa, tentang apa bedanya, tentang kenapa harga mereka berdua terpaut sangat jauh, tentang kenapa yang satu tidak ada iklan serta susah dicari tapi yang satunya ada iklan di tv dan mudah ditemukan barangnya, dan kenapa sih, kok beda sekali hasilnya walau dua produk itu bertekstur jelly yang kurang lebih memiliki manfaat sama?


Vaseline sendiri sudah klaim bahwa prduknya aman, dibuat melalui tiga tahap proses pemurnian yang dimulai dari menyingkirkan benda-benda kotor, sampai akhirnya terbentuk jelly yang tidak menyebabkan iritasi maupun reaksi alergi.





Which one you like the most, guys?





Barangkali kamu sedang mencari tahu, mana di antara dua produk tersebut yang lebih ampuh untuk mengatasi keluhanmu? Mana yang le…

[Beauty Corner - 14] Nih, Lima Macam BB Cream yang Perlu Kamu Coba!

Assalamualaikum!
Beberapa pembaca saya di Line dan e-mail mengirimkan pesan, meminta saya menuliskan tentang BB Cream yang ramah di kantong untuk mereka pakai. sebetulnya tidak bisa sembarang kasih rekomendasi karena aktivitas kita berbeda, jenis kulit juga berbeda, dan yang seperti ini tuh biasanya harus trial and errror untuk tahu apakah kamu cocok atau tidak.




BB Cream ini memang jadi booming sekali sejak ada K-Pop Wave di negara kita. Banyak juga kolega saya yang dulunya pakai Foundie, beralih ke BBC. Manfaatnya memang All in One, sih, ya... Konon, berdasarkan iklan-iklan pembuat BBC, itu tuh isinya sudah komplit ada Base + Foundation + Concealer + Sunblock + Moisturiser + Oil Control .


Well, segitu komplitnya hanya dengan cream yang cuma dipakai sebiji jagung tiap diaplikasikan. Karenanya, BBC lebih ringan di wajah, lebih ramah di kantong juga, jadi lebih praktis, ketimbang harus pakai kosmetik secara berlapis. :) Malah untuk beberapa BBC ada yang klaim bisa mencerahkan atau memutihk…

[BEAUTY CORNER - 02] Dewa Kelembapan, si Vaseline Petroleum Jelly

Hallo, Assalamualaikum teman-teman :)

Bagi saya, mengeluh adalah cara paling cepat untuk menghilangkan jenuh tapi sebetulnya bukan hal yang baik. Tapi enak. Tapi nyebelin. Dan di postingan kali ini saya akan berkeluh-kesah mengenai permasalahan kulit saya. Jadi, waktu itu saya mengecek kondisi kulit dan tipe kulit wajah saya ternyata kombinasi - minyak di T-zone. Namun, kulit tubuh kering kayak sisik ular, sampai rasanya kulit saya saingan sama kulit ular kobra yang belum ganti kulit. Plus misalnya kena sinar matahari, dia langsung bereaksi bintik merah, terbakar, agak kehitaman, kadang malah berdarah di bintik tersebut. (update : sejak 2016 kondisi kulit saya berubah jadi kering - sensitif). Lalu saya bingung, bagaimana cara mengatasi kulit kering berjerawat?





Permasalahan saya belum berhenti di sana. Kondisi bibir saya tuh ekstrim banget sih, suka pecah-pecah sendiri dan tiba-tiba berdarah ketika tersenyum, yang artinya sangat kekeringan. Banyak yang bilang karena saya kurang minum, pa…