Yang abadi, bukan Edelweiss

"Hai Danu, apa kabar? Kudengar kamu akan ke Eropa?"
Sebuah pesan masuk melalui aplikasi whatsapp milik Danu.
Dari Yasmin.
Danu segera mengetik apa yang ada dalam pikirannya. Ia rindu pada sosok yang dicintainya selama enam tahun belakangan ini.
Dear kamu, yang hatinya tak lagi terpaut denganku.
Apakah wajah pria yang telah menggantikan posisiku itu bisa membuatmu tersenyum bahagia?
Aku sekarang bahagia, sekaligus sedih.
Aku bahagia, sebab semua impian yang pernah kita bicarakan bersama, satu-persatu menjadi kenyataan. Aku sungguh tak menyangka semua impianku berhasil kugenggam. Rasanya seperti mimpi. Aku bahagia, senang, dan bersyukur. Terimakasih untuk semua doamu dan berkat dukunganmu aku tak lagi takut melangkah menuju masa depan. Hanya saja aku sedih menyadari bahwa impian itu kulakukan sendiri, tanpamu. Aku juga tahu, kamu sudah mulai mencapai puncak kesuksesanmu. Itu artinya, kita sama-sama sedang berjalan menuju masa depan namun ke arah yang berbeda. Aku belum temukan wanita lain yang bisa menggantikanmu. Disini, yang cantik banyak. Yang cerdas, yang kaya raya, yang seperti model, yang pura-pura jual mahal, semua ada. Tetapi yang murah hati dan tulus, hanya dirimu. Aku tentu tak bisa membuatmu tetap bertahan bersamaku karena aku tahu kamu akan bersedih. Kalau kita terus bersama, kamu seperti sedang berjalan di bukit yang penuh dengan hamparan tumbuhan putri malu yang berduri. Sakit. Lebih baik begini kan? Kamu bahagia dengan pria itu dan aku bahagia melihatmu bahagia. Jadi saat kamu bertanya apa kabarku, jawabannya adalah, aku baik dan bahagia. Benar, aku mau ke Eropa. Tentu kamu masih ingat kan dengan mimpi kita untuk melakukan pejalanan bersama ke Eropa? Aku sudah belikan dua tiket. Untukmu dan untukku. Karena jika bukan kamu yang mendukungku, aku mana mau bersakit-sakit mencari uang. Meskipun semua dukungan dan doamu itu terjadi beberapa tahun yang lalu, bagiku doa-doamu terus membekas dalam hatiku dan akan selalu abadi.
Dan... Aku jadi teringat dulu saat kamu pernah bilang agar aku tidak boleh takut ketinggian dan harus melihat bunga abadi di puncak pegunungan. Kamu tahu? Aku sudah pernah melihat langsung bunga edelweiss di puncak pegunungan dan menurutku, yang abadi itu bunga dihatiku. Ia selalu bermekaran untukmu. Aku nyaris mencapai semua impianku, sekarang impianku yang belum terwujud adalah kembali menyatukan hati denganmu lalu kita...
"Danu? Kok typing lama banget. Apa kabar? Apa benar kamu mau ke Eropa?"
Lagi, pesan dari Yasmin masuk mendahului pesan yang akan Danu kirimkan. Danu terdiam sejenak. Lalu menghapus semua ketikan yang sudah ia tulis.
"Iya, aku ke Eropa bulan depan, urusan bisnis,"
Terkirim. Kurang dari tiga detik sebuah pesan masuk lagi. Seperti biasanya, Yasmin memang cepat sekali mengetik. Jari-jemarinya bahkan lebih lihai mengetik keyboard ponsel ketimbang keyboard laptop.
"Bulan depan? Syukurlah. Kalau begitu bisa ya kamu datang, dua minggu lagi aku akan menikah,"
"..."

0 comments:

Post a Comment

Hi! Thank you for visiting my website. I hope you can enjoy read all about blog posts here and lemme know your opinion! Please leave on the comments bellow :)