Gunting Batu Kertas

“Gunting batu kertas!,”
Aku memejamkan mata untuk sesaat. Aku harus menang. Pokokknya harus menang! Kubuka mataku perlahan. Tanganku mengepal erat, batu pilihanku. Di sebrang sana, sebuah tangan dengan kulit kecoklatan merenggangkan jemarinya, membiarkan telapak tangannya terkena sinar matahari, ia pilih
kertas.
“Aaaaaah sial! aku kalah lagi,” ucapku gusar. Pemilik tangan kecoklatan itu tertawa puas lalu tangannya segera mendarat di kepalaku, mengacak-acak rambut sebahuku.
“Yang kalah harus cari bintang laut lima buah,” teriakknya lantang, menggema di antara buih ombak yang menghantam karang bebatuan. Aku memanyunkan bibirku, segera ke sekitaran pesisir untuk mencari bintang laut sebagai hukuman
atas kekalahanku. Laut dan pantai selalu menyenangkan buatku. Aku tahu, wilayah air asin itu berbahaya. Aku selalu suka kehidupan di wilayah Singkawang ini, di mana terdapat pesisir pantai pasir panjang yang bisa menyebrang agar dapat ke pulau lumukutan, wilayah Kalimantan Barat. Di sana selalu banyak nelayan yang memelihara terumbu karang dan budidaya rumput laut, dan semua aktivitas tersebut membuatku senang.
Aku kembali memejamkan mataku, membiarkan telinga bekerja lebih banyak untuk mendegar suara ombak yang menghempas. Semua memoriku tersimpan di sini, di setiap jutaan butir pasir yang tersebar di laut paling indah, menurutku. Tenang, damai dan ingatan akan masa kecilku begitu kuat membekas dalam hati.
“Sudah lama ya, kita tidak betemu lagi,”
Aku membiarkan kelopak mata ini membuka, menatap suara di sebelahku. Suara si pemilik tangan kecoklatan.
“Iya bang. Sudah sepuluh tahun. Aku selalu ingat semua kenangan kita di sini,” ucapku sambil terus mengingat-ingat masa kecil kami yang selalu senang bermain ‘Gunting batu kertas’ di tepi laut ini. Kebahagiaan itu tercipta saat kami masih kecil, terkenang di sini, tapi itu dulu, sebelum akhirnya
aku pindah rumah ke luar kota karena urusan pekerjaan Ayahku.
“Abang akan menikah dik,” ucapnya sedikit parau. Aku
tersentak, sedikit tak percaya. Aku memutarkan kepalaku, ke arah orang yang baru saja mengucapkan sebuah kalimat yang membuat jantungku terasa seakan berhenti seketika. Dua muka saling menatap terdapat di sana. Mataku menjelajah jauh kedalam matanya. Mencari-cari kebenaran akan kalimat yang ia
ucapkan barusan. ‘Menikah? Secepat itu? 10 tahun tak bertemu ditukar dengan kabar pernikahan?’ batinku.
“hey! Ngelamun…” sebuah tangan menyapu lamunanku. Sontak aku mengalihkan pandanganku kearah laut lepas. Memandangi gulungan ombak yang siap menghantam batu karang. Udara sejuk yang beriringan dengan hangatnya sinar matahari mendekap tubuhku yang kini terasa lemas sesaat
setelah mendengar pemberitahuan akan pernikahan Dhani yang mungkin sebentar lagi berlangsung.
Sebuah lengan merangkul bahuku, mendorong badanku hingga menempel di sampingnya. Erat. Hela napas terdengar halus di telingaku.
“kamu nggak perlu khawatir, kita akan tetap seperti ini sampai kapanpun,” ucap Dhani lirih. Seulas senyum tersungging di mukaku.
Aku masih bisa tersenyum meski air mata nyaris meyentuh pipi ini. Kuat Mira! Kuat. Aku harus kuat. Aku yakin abang Dhani akan bahagia, walaupun sakit hati ini tak bisa di sembuhkan oleh apapun.
“Aku mau lihat undangannya, boleh bang?”
lirihku pelan. Dalam hati aku berharap semoga ia tidak menikah dengan Chantika, tetangga sebelahku dulu yang sangat centil dan norak. Aku tak pernah menyukainya sejak dulu. Bukan karena soal dia juga menyukai Dhani. Aku hanya berpikir dia tidak cocok untuk kujadikan sebagai teman. Dia tidak pernah berbakti pada ayah ibunda nya, tidak juga membantu membereskan rumah, malas madi. Aaaah itu dia
yang dulu. Entah seperti apa Chantika sekarang.
“Justru itu. Undangannya belum jadi,”
sial. Air mataku tumpah, seiring dengan debur ombak yang gelombangnya terus saja berlomba-lomba menyentuh kaki kami. Aku tak bisa mendengar ucapannya. Terlalu sakit hati ini.
“Dik Mira… denger nggak abang ngomong apa?,”
“Ah? Iya bang? Kenapa?” ucapku panik yg disusul kepalaku yang kini terangkat usai pikiranku dihancurkan oleh sapaan Dhani.
“nggak.. nggak kenapa-kenapa kok,” senyum indah melukis wajah Dhani. Ia kembali mendorongkan kepalaku, menyandarkannya dibahunya yang lebar.
“Selamat ya bang, atas pernikahannya nanti…” ucapku yang kini berusaha menahan air mata yang kutakuti akan turun lebih derasnya lagi dari pelupuk mataku. Aku menutup erat kedua mataku. Berusaha menikmati waktu yang kian berjalan tanpa henti. Dhani mengecup lembut keningku saat aku masih
menutup mata. Menghantarkanku pada bayang cerita dibalik kedua mata yang kini telah terpejam.
“Dik Mira… kamu sudah ku anggap seperti adik sendiri. Akan kamu temukan jodoh yang lebih baik, dan kita berdua akan bahagia di dunia kita masing-masing. Aku akan tetap mencintaimu, tapi bukan dalam tali pernikahan,” entahlah kalimat Dhani buatku seperti sebuah kenyataan pahit, bukan
seperti sebuah nasihat baik. Sepuluh tahun aku menanti, berharap akan ada pinangan dan penyematan cincin di jari manisku, tapi semua harapan itu musnah seketika.
Aku segera mengusap air mataku. Bukan saatnya untuk bersedih. Kedatanganku kemari untuk mengenang masa kecil kami, masa lalu kami. Bukan untuk menangisi masa depan Dhani.
“Bang, sebelum abang nikah. Ayok kita main lagi seperti dulu, yang kalah harus ambil lima bintang laut!,” ucapku seolah-olah sedang riang gembira.
Dhani menatapku heran. Ia menaikkan alisnya sebelah. Tertawa, lalu kembali mengacak-acak rambutku seperti dulu.
“Kamu masih saja ya kayak anak kecil. Jangan-jangan nanti masih juga kayak dulu, kalah lagi hahaha,” ucap Dhani seraya menertawakan kekalahan tempo dulu.
“Bilang aja Abang takut lawan aku,”
“Eh siapa takut. Ayok” seru Dhani semagat.
“Gunting batu kertas!” Dua penampakan tangan yang berbeda terlihat disana, tangan dengan kulit putih memperlihatkan bentuk seperti gunting, sementara tangan dengan kulit kecoklatan memperlihatkan tangan yang melebar seperti kertas.
“Kan bener Abang kalaaahhh! Yeee ayo cepat cariin aku bintang laut bang,”
Dhani tertawa. Perempuan yang di hadapannya memang tak berubah, selalu saja menutup mata sebelum melihat hasil akhir permainan. Itu yang sejak dulu membuat Mira kalah, tapi untuk hari ini, ia berbaik hati mengulurkan telapak tanganya.
“Iyaa… eh tunggu,”
Dhani berhenti sebentar. Aku menunggunya dari belakang.
“Bagaimana kalau kita cari bintang laut bersama-sama saja?
Bisa jadi ini adalah momen terkahir kita, sebelum abang menikah dik,”
Aku mematung, menelan ludahku sendiri. Pahit sekali dia berkata seperti itu. Tapi dengan satu anggukan dariku, aku bahagia bisa melihat senyumannya. Karena cinta yang Dhani ajarkan padaku, tidak harus memiliki asalkan kita bisa bahagia melihat orang yang kita cintai. Dhani mengenggam tanganku erat. Seolah takut dan ingin menjagaku dari ombak yang menghantam kaki dengan keras. Ribuan pasir menyentuh lembut telapak kaki kami. Semilir
angin yang tiada henti menyejukkan dua orang yang sedang menari-nari kan matanya di hamparan pasir.
“Semoga kamu bahagia bang,”
ucapku mantap. Lalu dengan mudahnya bintang laut kami dapatkan di sekitar kaki kami berpijak.

Tulisan kolaborasi Ellya Anggraini dan Uni Dzalika

0 comments:

Post a Comment

Hi! Thank you for visiting my website. I hope you can enjoy read all about blog posts here and lemme know your opinion! Please leave on the comments bellow :)