Penghormatanku

Suasana duka menyelimuti kediaman salah satu keluarga di perumahan elit kawasan Gunung Putri, Bogor. Ada cemas, duka, dan air mata yang berlinang pagi ini. Cuaca di luar mendung, bahkan sisa-sisa genangan air bekas hujan semalam masih ada di sepanjang jalan perumahan.
Lala sahabatku, terpaku melihat kedaan tersebut.
Apalah daya kami. Hanya dapat menatap dari kejauhan rumah tersebut. Aku sibuk memandangi wajahku yang memantul dari air yang beriak di jalanan tepat di depan rumah. Tak ada yang berbeda, aku masih langsing, masih lengkap anggota tubuhku, masih sehat. Berbeda dengan sahabatku Lala yang gemuk, besar, berbadan hijau dan bermata merah.

"Aku sudah jadi pembunuh. Aku sungguh menyesal."

Ucapku pelan sambil terus memandangi wajahku. Lala masih diam, bergeming. Di rumah duka, silih berganti kerabat dan keluarga menyalami pihak yang ditinggalkan.
Aku sungguh kalut melihat pemandangan di depanku, melihat seorang Ibu muda menangis karena kehilangan putri kecilnya semalam.
Aku juga tak mengerti kenapa. Aku menyukai keluarga ini. Mereka ramah, baik, santun, dan putri itu... Viona namanya. Aku suka bermain dengan Viona. Bermain dengannya di siang hari, Menemaninya tidur di malam hari, dan ia selalu senang melihatku, selalu tertawa sambil menunjukan kepada Ibunya kalau ada sedikit memar yang yang membuat gatal di kulitnya.
Aku sebentar lagi juga akan menjadi seorang Ibu. Aku mengandung. Ada bayi-bayi mungil yang selalu membutuhkan nutrisi dan asupan agar mereka sehat. Dan nutrisi itu hanya bisa kudapatkan dari Viona.
Tapi pagi ini, menyaksikan duka dan kelam pada keluarga Viona, aku sadar. Aku sudah melakuka sesuatu yang fatal setiap harinya.

"Memang apa yang kamu lakukan padanya, Quita?"

Lala angkat bicara. Aku terhenyak. Menghela nafas sejenak, dan menutup mataku. Membayangkan apa yang pernah aku lakukan terhadap Viona.

"Aku hanya menempelkan probosis (mulut) ku pada lengan Viona. Lalu merobek lembut kulitnya hingga menemukan urat darah, dan menghisapnya. Aku juga mengeluarkan air liur yang mengandung antikoagulan untuk mencegah darah yang kuhisap akan membeku. Hanya itu. " desahku pelan.

"Iya, kamu Pembunuh Quita. Tak bisakah kau seperti Suamimu yang hanya memakan sari bunga?"

Lala menatapku tajam. Mau bagaimana lagi, itu harus dilakukan agar anak-anakku tumbuh sehat. Aku menggeleng pelan. Aku tahu mungkin baginya aku kejam, tapi mana bisa aku seperti Lala yang hanya makan dari tempat kumuh dan sari buah-buahan.
Aku berpikir cepat. Aku sungguh sayang pada keluarga Viona. Aku segera menuju ruang belakang rumahnya, dimana ada bak berisi air yang lama tak terkuras. Aku harus melahirkan bayi-bayiku disana. Sebagai bentuk penghormatanku pada Viona, kupersembahkan bayi-bayiku untuk keluarganya agar mereka senang dan tidak merasa sepi atas kepergian Viona.
Iya, tidak akan sepi. Jumlah anakku 300 ekor, berupa jentik yang mungil dan bersemangat untuk hidup.


P.s. Beberapa kutipan di ambil dari www.http://id.m.wikipedia.org/wiki/Nyamuk


Published with Blogger-droid v2.0.10

Comments

Popular posts from this blog

[BEAUTY CORNER - 02] Dewa Kelembapan, si Vaseline Petroleum Jelly

[Beauty Corner - 14] Nih, Lima Macam BB Cream yang Perlu Kamu Coba!

Lima Tempat yang Perlu Kamu Datangi Kalau ke Cibinong