Terselip Tawa di Senja yang Merenta

Langkah-langkah kecil Tania seolah mengajak bumi bernyanyi. Ada semangat besar yang sedang mengalir dalam dirinya. Ini karena kabar baik yang diterimanya kemarin sore. Dan pagi ini Tania akan menjemput impiannya. Tania lolos ujian untuk mendapatkan beasiswa yang selama ini menjadi cita-cita terbesarnya. Namun, ayah keberatan dengan pilihannya itu. Tania sebisa mungkin meyakinkan bahwa dirinya mampu untuk itu.
Tania bersenandung riang. Pagi ini ia benar-benar bahagia, membayangkan banyak hal baik yang akan terjadi setelah ini. Tania yakin sekali kalau beasiswa ini akan mengantarkannya pada masa depan yang menjanjikan.
Pagi ini ia jauh lebih riang, tidak lagi mengingat pertengkaran kemarin malam dengan ayahnya. Ia masih ingat kejadian kemarin malam, saat warna langit senja sudah tergantikan menjadi kelabu, saat itu pula Ayah diam seribu bahasa. Sore itu Tania dapat beasiswa tapi Ayah bersikeras melarangnya menerima beasiswa itu. Tania tak pernah tahu apa alasan Ayah melarangnya. Jika Tania lengah saat itu, bisa jadi Ayah segera merobek berkas yang ada dalam genggaman Tania. Tapi Tania tahu, bukan kebencian terhadap beasiswa yang ada dalam mata Ayah, Tania bisa lihat itu. Ada sorot mata seperti takut kehilangan. Segera Tania menangkap situasi tersebut.
“Tan, Ayah bukannya tak suka kamu pergi. Tapi kamu tahu kan, ayah khawatir sama kamu,” ibu mencoba memberi pengertian kepada Tania.
“Tapi Kak Selvi boleh kuliah di Australia. Kenapa aku enggak?” Tania masih berharap ayahnya memberikan peluang untuk impiannya.
Tania belum sepenuhnya mengerti tentang apa yang menjadi kekhawatiran ayahnya. Ia berbeda dengan Kak Selvi yang memang lebih mandiri. Kadang perlakuan tak adil kerap menyusupi pikiran Tania. Ia merasa bahagia tak boleh dimilikinya.
Tengah malam menyapa semesta Makassar. Tania tak juga bisa memejamkan matanya. Tetiba dering telepon di ruang tengah mengejutkannya. Berkali-kali. Tak juga ada yang menjawabnya. Tania beranjak dari tempat tidur. Melangkah malas menuju ruang tengah.
“Halo,” Tania menyapa si penelepon. Tania tahu betul itu suara Tante Ria di Jogja. Ia mencari ayah, mengabarkan bahwa eyang putri di Jogja sakit keras. Tadi, Tante Ria sudah mencoba menghubungi ayah di telepon genggamnya, tapi tak juga medapat jawaban.
Sedih, sedih sekali. Itu yang dirasakan Tania. Artinya, mereka mengharuskan Ayah untuk datang ke Jogja. Padahal minggu ini juga Tania harus mendapatkan kepastian untuk mengambil beasiswa itu atau tidak.
Malam semakin larut. Mata Tania masih juga tak mau terpejam. Ia terus berpikir solusi terbaik baginya dan juga Ayahnya. Lalu, saat cahaya bulan masuk melewati celah- celah jendela kamarnya, saat itu pula ide cemerlang ia dapatkan. Tania segera tersenyum, menutup matanya dan berharap Ayah akan menyetujuinya. Malam itu, ia janji tak akan mengecewakan ayahnya.

“Tania! Pagi-pagi kok melamun,” seseorang dengan jaket casual dan celana tiga perempat menghampiri Tania. Laki-laki itu membawa sebuah berkas dan duduk di sebelah Tania. Pagi ini sungguh cerah. Langkah kaki Tania sudah berhenti di gedung kantor imigrasi sejam yang lalu.
“Eh, Bang fahmi. Abang mau buat passport juga?” Suara Bang Fahmi mengejutkannya. Ia memang sedang memikirkan kejadian kemarin malam, tentang nasihat Ibu, ucapan Ayah, telepon dari tante Ria, dan ia juga teringat dengan ka Selvi. Ah ya, ia memang jarang berkomunikasi dengan ka Selvi, tapi bang Fahmi yang bertugas di kantor imigrasi ini, selalu mengabarkan pada keluarga Tania tentang Kak Selvi. Sudah 4 tahun mereka menjalin asmara.
“Haha. Heh, Tania, untuk apa aku membuat passport? Sini berkasmu, biar kuurus. Oh ya, selamat ya atas beasiswa itu. Kamu hebat”
“Terima kasih. Nggg… Tapi Bang, Tania takut semua ini akan gagal karena ayah tak meyetujuinya,” Tania menghela nafas panjang.
“Kamu tenang aja. Serahkan semua sama Tuhan. Terjadi atau tidak, semua adalah kehendak-Nya. Jadi jangan kamu jadikan beban,” Bang Fahmi menyisakan senyum teduhnya.
Jantung Tania berderap kencang mendengar kalimat Bang Fahmi. Ada ketakutan sekaligus kepasrahan yang mulai tersemat. Ia mencoba menenangkan dirinya.
“Segala keputusan yang terjadi adalah yang paling tepat untuk kamu saat ini. Dan semua akan memberikan pelajaran berharga,”
seakan tahu pertanyaan Tania, Bang Fahmi melanjutkan nasihatnya.
Tania mengangguk. Ia pastikan langkah gontainya kali ini akan lenyap.
Berhari-hari Tania mengurus kekurangan dokumen-dokumennya. Tania pulang, membawa berkas yang sudah 95% lengkap. Tinggal satu, surat pernyataan orangtua yang harus ia lengkapi. Tania melafal semua doa yang sekiranya bisa memudahkan ia menggapai impiannya.

Sampai di rumah, ayah telah menunggunya di ruang tamu. Bersama ibu. Di meja tamu tergeletak satu amplop tiket perjalanan. DEG!! Aliran darah Tania melesat cepat ke ubun-ubun. Tangannya mendadak dingin.
“Dek, besok pagi kita bertiga akan berangkat ke Jogja. Kamu siap-siap ya. Eyang putri kangen sekali sama kamu,”
ayah merangkul Tania lalu mengelus kepalanya. Tania membenamkan wajahnya.
“Tapi, Yah.. Besok hari terakhir mengumpulkan berkas beasiswa. Dua hari lagi akan ada briefing,” suara Tania menahan sesak di dadanya.
Ayah menghela nafas. Memapah Tania duduk di sebelahnya.
“Mungkin ada kebahagiaan lain yang Tania akan dapatkan di sana. Sesuatu yang bisa Tania bagi dengan eyang putri,” senyum ayah tak juga mengusir kalut yang membelenggu Tania.
Bergantian kalimat-kalimat Bang Fahmi berkeliaran di benak Tania. Entah apa yang harus dilakukannya untuk menenangkan dirinya sendiri. Apakah aku akan benar-benar menemukan bahagia di Jogja? Tania bergumam.
“Kamu nggak mau lihat tiketnya dulu, sayang? Ayah sangat senang kalau kamu mau menerimanya” Ayah kembali berujar membuyarkan lamunan Tania tentang kalimat bang Fahmi.
“Uhmm.. Yah aku perlu istirahat dulu, aku butuh waktu untuk memikirkannya. Aku masuk kamar dulu ya Ayah”
Dengan hormat Tania berdiri. Matanya berkaca-kaca, ia harus segera ke kamarnya sebelum Ayah dan Ibu melihatnya menangis. Tapi Ibu buru-buru berteriak, sedikit panik Ibu memanggil Tania.
“Tunggu Tania, jangan masuk dulu!”
Terlambat. Tania sudah di dalam kamar. Pintu tertutup dan air matanya tumpah.
Namun di sela-sela isak tangisnya, Tania sadar ia tak sendirian di kamar. Ada sosok yang sudah lama tak ia jumpai tapi selalu terbayang wajahnya. Di kamarnya ada Eyang, sosok yang dikabarkan sedang sakit di Jogja.
“E…ey… Eyang?! Eyang kenapa bisa ada disini?! Katanya Eyang sakit?!” Tania bertanya.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Di luar kamar Ayah dan Ibu mengetuk pintu kamar. Sebelum pintu dibuka, Eyang langsung memeluk erat Tania, cucu kesayangannya yang sebentar lagi akan pergi jauh karena program beasiswa itu.
“Iya Tania… Eyang sakit. Kata dokter, Eyang ada kelainan darah… Sudah 3x cek lab,hasilnya positif semua.. Eyang sedih sekali, ternyata eyang positif berdarah ningrat. Hehehe, jangan menangis Tania-ku, Eyang bukan sakit parah.”
Pintu terbuka, Eyang melepaskan pelukannya.
“Loh, Jadi?! Eyang apaan sih?! Jadi bukan sakit sungguhan?! “
Semua dalam ruangan itu tersenyum. Ayah memberikan amplop tiiket perjalanan kepada Tania. “Makannya coba kamu buka dulu tiket ini,” ujar ayah. Tania masih tidak mengerti. Memang keyakinan Tania sempat meluruh. Ia sudah tak lagi berharap banyak untuk bisa ke Jepang. Namun ketika ibu mulai banyak bertanya dan meminta Tania memperlihatkan seluruh berkasnya, tak ada sedikit pun rasa curiga dalam diri Tania. Ia hanya ingin menunjukkan kepada ibu bahwa dirinya bersungguh-sungguh untuk memeluk impian itu.
Ternyata kemurahan hati ibu cukup membantunya meluluhkan hati ayah. Meyakinkan ayah bahwa Tania bisa mandiri dan bertanggung jawab. Mata Tania berkaca-kaca membuka amplop tiket yang tadi ditunjukkan ayah. Ibu pun menyerahkan dokumen yang telah dilengkapi sesuai permintaan Tania waktu itu. Ia bisa berangkat tepat waktu, sesuai yang dijadwalkan. Tania menghambur ke pelukan ibunya. Tania salah sangka, mengira bahwa semua akan berakhir menyakitkan.
Kini Tania tahu, bahwa setiap perjalan yang menoreh luka sekali pun bisa menghadiahkan tawa. Bahkan lebih sempurna dari yang dibayangkannya. Tuhan hanya ingin memberi waktu kepada orang-orang yang menyayangi Tania untuk bisa menikmati kebersamaan dengannya.
Sebelum jeda mengambil alih semuanya. Sebelum Tania diburu-buru oleh rindu. Senja yang semakin renta menyaksikan tawa dan haru Tania saat itu. Semangat menggebu pun mengalir di sekujur tubuhnya, diantara bahagia orang-orang tercintanya.

Kolaborasi Wulan Martina dengan Uni Dzalika
Published with Blogger-droid v2.0.10

0 comments:

Post a Comment

Hi! Thank you for visiting my website. I hope you can enjoy read all about blog post here and lemme know your opinion! Please leave on the comments bellow :)