My More Than Friend | #27


-->
 (Lupa harinya) 29 Agustus, kota hujan.

Dear my more than friend.
Aku mau kamu tahu kalau aku tulis surat ini untukmu. Sudah berapa lama kita berteman?
Aku sih lupa, tapi buatku kamu itu lebih dari teman, lebih dari sahabat. Kamu itu my more than friend.
Banyak banget yang udah kita lalui bertahun-tahun, sejak September 2010 sampai sekarang. Aku benar-benar jatuh cinta pada hatimu hei perempuan cantik. Ribuan kesalahan aku buat dan aku selalu kecewakan kamu, tapi kamu selalu siap menerima aku apa adanya, selalu mau terima aku lagi sebgai temanmu.
Kita sering banget berantem ya,
Aku pernah berbuat salah. Aku sering batalin janji ke kamu. Waktu itu aku janji mau main kerumah tapi tiba-tiba nggak jadi, aku batalin. Padahal semua orang rumah sudah menunggu kehadiranku. Serius, aku bukan sedang ingin mepermainkan kamu. Aku benar-benar membatalkannya karena suatu hal yang bahkan aku nggak bisa jelakan di surat ini. Dan sejak kejadian itu, kita menjauh, dan tak ada alasan yang bisa merekatkan hubungan baik kita.
Kamu pernah berbuat salah. Kamu kan tahu komitmen kita, kalau sedang kesal ya ungkapin langsung, jangan main belakang dengan menjelek-an kita di depan orang lain. Pertama kalinya aku kecewa karena kamu pernah kesal sama aku dan kamu cerita kepada orang (yang kebetulan) tidak suka padaku. Sejak itu aku dijauhkan di lingkungan kita, dan herannya kamu menjauh dari lingkungan kita.
Kita pernah berbuat salah. Saat kita tiba-tiba menjauh karena hal yang tidak tahu apa penyebanya, dan hampir dua semester kita tak saling menyapa. Aku semakin sibuk pada organisasi, dan kamu semakin sibuk pada pekerjaaanmu. Hilang komunikasi.
Mereka pernah berbuat salah. Saat aku terpancing beberapa teman untuk menjauhimu. Saat kamu akhirnya pernah membicarakanku di depan beberapa teman. Sekejap tembok besar memisahkan kita.
Sampai akhirnya kita kembali akur, yang aku pun tak tahu bagaimana bisa kita akur lagi.
Semua kenangan itu, cuma pernah aku alami bersama kamu. Melalukan banyak hal bodoh, hal jelek, hal yang bahkan orang lain tak mau lakukan. Hanya denganmu, aku sanggup berjalan yang jauhnya tak dapat diukur. Sanggup melakukan hal yang sebenarnya aku enggan melakukannya.
Kamu itu teman pertamaku dikampus, teman pertama yang membuatku semangat kuliah, teman pertama yang sanggup buat aku kecewa karena hal sepele, teman pertama yang bisa buat aku menolak mengatakan ‘tidak’, teman pertama yang menyadarkanku bahwa cita-cita bisa diraih dari tempat mana saja, teman pertama yang mengingatkanku utuk berdoa sebelum makan, teman pertama yang buat aku sadar oleh suatu hal tentang penjagaan diri melalui ceritamu tentang cincin gereja yang kau pakai… semuanya serba pertama bersamamu. Tapi kamu tidak pernah sadar ya, aku anggap kamu seperti sahabat. Aku rela kamu tak mau anggap aku siapa-siapa, tapi aku mau orang lain Tahu, kamu itu istimewa buatku.
Maafkan semua kesalahanku ya, aku tak bisa berjanji tak akan mengulanginya, tapi aku akan berusaha untuk memperbaiki kesalahanku.
Peluk cium,
Teman Pertamamu di kampus.

0 comments:

Post a Comment

Hi! Thank you for visiting my website. I hope you can enjoy read all about blog post here and lemme know your opinion! Please leave on the comments bellow :)